TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Honeymoon - Manis


__ADS_3

Gemerlap Singapura di malam hari tentu membuat sepasang suami istri itu tak henti berdecak kagum, terlebih bagi Nora yang baru pertama kali mengunjungi negara ini.


Hya, ini untuk pertama kalinya. Mungkin papa dan Zain sudah sering terbang keluar, akan tetapi tidak dengan dirinya pun mama Kenia.


Jemari tangannya masih bertaut, sambil menikmati gedung pencakar langit yang tinggi dan lampu-lampu kota yang menarik dari atas, Devano sama sekali tak membiarkannya lepas meski sekadar beberapa menit.


Terus mengungkungnya dengan cinta dan buaian paling indah, sentuhan yang memabukkan sekaligus membuat candu.


"Besok kita ke rumah om Alex, Elle pasti seneng ketemu sama kamu." ucap Devano,


"Iya, besok kita belanja dulu. Harus bawa sesuatu ke sana, gak mungkin tangan kosong." usul Nora, Devano pun setuju lalu dengan gerakan slow motion meraih pinggang Nora dari belakang, dan menenggelamkan hidung mancungnya di ceruk leher milik sang istri.


"Ishhh.. Dev! ini masih terlalu sore." protesnya dengan pipi merona. Namun, bukan Devano jika menyerah, jemarinya terus menyusuri setiap inci tubuh sang istri hingga di detik terakhir mulai menyingkap dress milik Nora.


Spontan Nora langsung menginjak kaki Devano hingga suaminya itu meringis bingung.


"Kok di injek sih sayang, sakit tau." keluhnya, Dev sama sekali tak menyadari kesalahan yang membuat Nora menajamkan mata.


"Jangan gila, ini di balkon hotel. Malu kalau sampai di lihat orang," desisnya kesal. Lalu menghentakkan kaki dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Devano. Dev hanya mengu lum senyum melihat tingkah istrinya saat sedang marah, menurutnya terlihat sangat sangat manis.


Gegas ia menyusul Nora yang sudah berbaring di ranjang membelakanginya, dengan sigap tangannya meraih tubuh mungil itu hingga ia berhasil mengungkung Nora.


Nora terperanjat, tak menyangka jika Devano secepat kilat menyusulnya bahkan kini sudah menguasai tubuhnya.


Sesaat kedua mata itu beradu, saling memperlihatkan gelora dalam diri.


"Mau sekarang, hm?" bisiknya pelan, sapuan hangat napas Devano berhasil membuat pipi Nora bersemu merah. Bukan hanya itu, jemari tangannya mulai bergerak. Menyusuri garis wajah Nora dengan lembut.


Nora mengangguk saja, tak kuasa menolak karena semua berjalan di luar kendalinya. Cinta Devano yang besar selalu menerbangkannya ke awan bersama nikmat yang melenakan.


Harus diakui, Devano memang hebat! berhasil membuatnya jatuh cinta berkali-kali setiap hari.


Selamanya dan berharap cinta akan selalu seperti ini, Manis dan sangat manis.


Paginya, Nora bangun dengan tubuh teramat letih setelah semalaman Devano menghujaninya berjam-jam, belum lagi tadi pagi sudah mendapat serangan fajar seketika membuat tubuhnya lemas tak berdaya.


Ia hendak bangun, tapi sepertinya tenaga di tubuhnya tak dapat berkompromi alhasil ia kembali merebahkan diri sambil menunggu Devano membuka mata.


"Sayang, maaf membuatmu kelelahan." Saat Devano membuka mata, mendapati Nora kembali terlelap. Jemarinya tergerak menyusuri wajah lembut istrinya, menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Nora.


Kecupan singkat ia daratkan, lalu kembali meraih tubuh sang istri dalam rengkuhan.


Nora bukan terbangun, ia justru semakin lelap. Padahal matahari mulai merangkak naik dan mereka belum sarapan.

__ADS_1


Saat membuka mata, Nora merasakan lapar luar biasa, ia kemudian meraih ponsel diatas nakas dan seketika matanya membulat sempurna karena hari sudah mulai siang.


"Dev, bangun!" ia mengguncang bahu Devano agar lekas bangun.


Namun, bukan bangun Devano malah menarik kembali tubuh Nora hingga terjatuh tepat di dadanya.


"Ishhhh, Dev udah siang, aku laper." gerutunya sebal.


Devano pun langsung bangkit dan melihat jam, pantas saja Nora lapar. Ini bahkan sudah hampir jam makan siang.


"Kita mandi dulu, ayo." ajaknya kemudian bangkit.


Nora menurut saja, dengan langkah tertatih ia mengekor Devano yang sudah masuk ke kamar mandi lebih dulu.


Apakah bulan madu kali ini akan terus ia habiskan di dalam kamar, tidur, mandi dan melakukan apapun berdua?Mungkin terasa sangat manis.


Duh apaan nih otak, traveling mulu! batin Nora seraya memukul kepalanya sendiri.


"Mikirin suami ganteng ya?" seloroh Devano membuat seketika lamunan Nora buyar.


"Ish mulai deh, narsis." desisnya.


"Iyain aja kenapa? sekali-kali bikin orang seneng, hmm." Ia baru akan memakai kaos oblongnya, sementara Nora harus berulang kali menelan saliva kasar.


Bukan, bukan pertama kali! Bahkan untuk kesekian kali, ia masih saja malu melihat tubuh suaminya.


***


Devano membawanya keluar untuk sarapan di restoran hotel. Namun, begitu sampai ia dibuat takjub karena Devano sudah menyiapkan kejutan romantis untuknya.


"Kapan kamu menyiapkan ini semua?" tanya Nora terheran-heran.


"Apa yang gak bisa aku lakukan sih sayang, hmm."


Nora tersenyum saja, lalu memilih duduk meraih sebuket bunga yang bertengger diatas meja.


"Buatku?" tanyanya seraya mencium wangi bunga itu.


"Iya, yang ngasih nggak dicium, mau dong dicium."


"Enggak," desisnya, "Aku laper."


Mendengar kata lapar membuat Devano terkekeh, "Laper karena kehabisan tenaga, kasian sekali istriku." ia pun ikut duduk di depan Nora. Segala jenis makanan terbaik hotel ini tersaji. Nora semakin tak sabar untuk sarapan.

__ADS_1


Selesai makan, Ia mrmbawa bunga itu dan terus menciuminya. Hari ini mereka berencana mengunjungi kediaman om Alex.


Orang suruhan om Alex sudah menyediakan mobil untuk menjemput kedatangan mereka.


Benar saja, sampai di rumah om Alex, pria baya itu menyambutnya dengan sumringah.


"Jadi ini yang namanya Nora, yang sudah menculik hati ponakan om sampai tergila-gila mau nikah muda." ledek om Alex.


"Ish, apaan sih om. Dilarang buka kartu." desis Devano, lain halnya dengan Nora yang tersipu mendengar penuturan om Alex, tiba-tiba matanya memindai mencari sosok Elleona.


"Wah, sayang sekali Elle sibuk pemotretan. Dia nitip salam untuk kalian." ujar om Alex.


Nora mengangguk paham.


"Anak itu, sok sibuk sekali. Tidakkah bisa meluangkan waktu menyambut tamu penting," gerutu Devano.


Tante Lana yang baru pulang shopping menyambut kehadiran Devano dan Nora dengan sumringah. Ia langsung memeluk Nora layaknya putri sendiri.


"Maafin tante ya, ga dateng ke pernikahan kalian. Waktu itu barengan sama acara perusahaan. Mana kalian nikahnya dadakan."


ucap Lana, Nora hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Tante juga turut berduka, kamu yang sabar ya sayang." ia mengusap lembut bahu Nora.


"Iya tante, tak apa. Hanya saja Nora selalu merasa bersalah karena kehilangan Dera." ucap Nora, Lana pun langsung meraihnya dalam pelukan.


Devano, ia baru saja dari teras mengobrol dengan om Alex. Masuk ke dalam rumah dan melihat suasana haru. Istrinya menangis di pelukan tantenya, seketika alisnya mengkerut.


"Kenapa sayang?"


Nora langsung melerai pelukan dan mengusap pelan sudut mata yang berair, "Gak papa, tante Lana buat aku terharu."


Sorenya, Elle pulang ke rumah langsung bereuforia ketika mendapati Devano dan Nora ada, ia langsung memeluk keduanya.


"Maaf- maaf, aku sibuk dan baru pulang tak menyambut kalian." ucap Elle merasa bersalah.


"Kau selalu begitu Ell, tak pernah ada waktu buatku." Devano terkekeh memukul pelan bahu Elle.


"Hm, aku hanya menyibukkan diri." Tiba-tiba wajah Elle berubah murung.


"Dia habis putus Dev, dari pacarnya." tutur Lana dari arah dapur membawa beberapa camilan ke ruang tamu.


"Putus, bukannya kalian terlihat sangat manis?" tanya Nora penasaran.

__ADS_1


"Ya begitulah resiko pacaran sama cowok yang lebih muda." terang Elle.


Deg!


__ADS_2