TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Anak kita


__ADS_3

Setelah tahu dirinya hamil, Nora sangat berhati-hati dalam segala hal. Ia tak mau kehilangan anak untuk kedua kalinya, meski sedang hamil, tapi kali ini Nora hampir tak merasakan keluhan apa-apa. Hanya saja, porsi makannya meningkat dua kali lipat. Mual ketika dekat dengan Devano pun masih bisa diatasi dengan adanya minyak angin di tangan.


"Aku curiga, jangan-jangan anak kita laki-laki, makanya kamu nggak mau deket-deket sama aku." ucap Devano. Namun, dengan tersenyum menggoda.


"Mungkin saja, dia cemburu sama ayahnya."


"Karena ayahnya terlalu mencintai mamanya." sahut Devano.


Brushh, pipi Nora langsung memerah mendengar penuturan Devano. Obrolan-obrolan ringan itu selalu berhasil mengubah mood- nya menjadi lebih baik. Meski berjarak, tak membuat keduanya tak lagi romantis, mereka punya cara tersendiri untuk mengungkapkan kasih sayang.


"Dev, sini sayang?" panggil Nara kala melihat Nora tak ada disisinya. Hya, Nora sedang tidur di kamar.


"Iya, ma." Devano melangkah mengikuti mama Nara yang membawanya berjalan melewati ruang demi ruang, sepertinya sedang mencari tempat teraman untuk bicara. Kini ibu dan anak itu sedang berada di ruang baca, ruang yang semenjak Devano menikah jarang sekali ia masuki.


"Ngomong apa, ma? kenapa ajak Devano kesini?" tanya Devano penasaran, ia tak bisa menebak dari raut wajah sang mama. Yang jelas, sudah pasti saat ini mama Nara akan membicarakan hal yang sangat penting, kalau tidak! Mana mungkin ia diminta masuk ke ruang baca yang terletak jauh di paling ujung kamar bawah.


"Begini sayang, mama lagi bahagia."


"Ada apa, ma! Happy bener, iya tahu mama bahagia mau punya cucu kan?" tebak Devano, Nara pun mengangguk.


"Mama minta rahasiakan dulu sayang," tutur Nara lembut, Devano jadi penasaran.Lalu duduk dan mendengarkan sang mama dengan serius.


"Nora hamil anak kembar, tapi dokter Maura meminta mama merahasiakan sampai dia melewati semester pertama."


Mata Devano membulat seketika, "Kembar ma?" tanyanya lagi tak percaya, Nara mengangguk dengan mata berbinar.

__ADS_1


Devano langsung luruh ke lantai sujud syukur, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jelas tidak mungkin mamanya berbohong, akhirnya ia akan menjadi seorang ayah, tangisnya pecah saat itu juga.


"Dev, mau jadi ayah lagi ma?" pemuda itu tak kuasa menahan tangis bahagianya, hingga tak bisa berkata-kata, ingin sekali langsung memeluk Nora. Tapi sayang, permintaan mama untuk merahasiakan demi kesehatan Nora agar tidak banyak fikiran membuatnya hanya bisa menahan diri.


Kini keduanya keluar dengan raut wajah bahagia, dan untuk sementara waktu, hanya mama dan Devano yang tau detail kehamilan Nora.


***


Bangun tidur, tak melihat suami di sisinya. Mendadak Nora menjadi mellow, padahal jika dekat pun Nora harus siap dengan minyak angin. Akan tetapi jikalau jauh, rasanya ada yang hampa di hati.


"Dev," ia bangkit dan melihat kamar mandi, lalu balkon kamar. Tak ada suaminya disana, gegas Nora turun dan melihat mama Nara dan suaminya tertawa. Ada rasa hangat melihat mereka saling bercanda, "Kok jadi kangen mama ya." gumamnya pelan.


Nora menuruni tangga, menghampiri suami dan mertuanya. Sore hari, ia membantu Nara dan bi Liam juga Maya memasak di dapur.


"Kamu pengen makan apa sayang, biar mama masakin. Orang hamil harus makan banyak, apa maunya bilang, biar Devano sama mama turutin."


"Mungkin belum kali ya, cucu-cucu oma memang pintar." puji Nara, langsung menutup mulutnya, beruntung Nora gak menyadari perkataannya.


"Iya, ma. Nora bersyukur banget. Hamil kali ini sama sekali nggak rewel."


Greppp! Tiba-tiba Devano memeluknya dari belakang hingga berhasil membuatnya tersentak.


"Ada kejutan," tutur Devano, bersama dengan itu muncul mama Kenia bersama Maura.


"Apa sayang," tanyanya meski lamgsung meraih botol minyak angin di saku. Belum sempat menjawab, mama Kenia dan Maura sudah muncul.

__ADS_1


"Surprize...."


Baru saja ia merasa kangen, kini mama Kenia sudah berada di hadapannya bersama saudara iparnya, Maura. Kali ini tampak raut bahagia terpancar di wajah iparnya. Nora bernapas lega, jikalau benar hubungan Zain dan Maura sudah membaik.


"Selamat atas kehamilanmu, sayang." peluk cium Kenia pada putri kesayangannya, pun juga dengan Maura yang langsung ingin meminta id injak kakinya agar lekas menyusul.


"Selamat dan bahagia selalu, Nora!" ucap tulus Maura.


"Selamat buat kamu juga, baik-baik sama kak Zain." bisik Nora pada Maura.


Makan malam dengan formasi lengkap, karena Shaka dan Zain juga menyusul bersama dengan pulangnya papa Bayu dari kantor Aldeva.


***


Hari demi hari Nora lewati dengan penuh keceriaan, hingga tak terasa kehamilannya sudah menginjak tiga bulan. Masa-masa nyidam yang tak begitu merepotkan sudah hampir usai, berharap Nora selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.


Siang hari di kampus Devano, Seseorang menepuk pelan pundaknya.


"Hai cowok pemes SMA Tunas Bangsa." Sapaan yang berhasil membuat Devano kaget. Lantaran yang ia tahu, tak ada anak SMA Tunas Bangsa yang satu fakultas dengannya.


"Lo siapa?" tanyanya menaik turunkan alis.


"Gak penting gue siapa, nih!" Cewek berambut pirang itu menyodorkan beberapa undangan ke tangannya.


"Bye, jangan lupa datang!" ucapnya melambaikan tangan sebelum melangkah pergi, setelah gadis cantik itu hilang. Devano mulai berfikir.

__ADS_1


"Dia siapa?"


__ADS_2