
Pagi hari di SMA Tunas bangsa, seperti biasanya geng Devano, barisan para pemuda tampan berjalan dengan wajah cool, melewati koridor kelas, di tambah satu wanita cantik, Aruna Clara yang kini bergabung menjadi squad mereka.
Sembari menunggu jam pelajaran dimulai, ketiga cowok tampan bersama Clara kini sedang berdiri di koridor depan kelas.
"Pagi, Dev!" sapa Karin tiba-tiba, "Hmm." sahut Devano cuek.
"Udah sembuh lo? Alfin bilang lo sakit, sampai kemarin gak masuk?" tanya Clara, "Iya, Clar. Tapi udah sembuh kok gue, maaf ya gara-gara aku kalian sampe keliling mall."
"Lain kali kalau mau pulang dulu, bilang." Ketus Devano, "Biar gak bikin orang repot," sambungnya penuh tekanan. Karin hanya tersenyum masam, jangankan untuk meluluhkan es gunung di hadapannya, menjadi bagian dari temannya saja ia tidak masuk dalam daftar kriteria.
"Sorry ,Dev! gue beneran gak tahan sakit, next janji gue gak akan kaya gitu lagi."
Sementara Alfin masih terdiam, enggan berkomentar. Bahkan gadis di hadapannya itu tak menyapanya tuk sekedar say hello, padahal jelas tadi malam Alfin merepotkan diri menyambangi rumahnya. Memastikan keadaan Karin, apakah ia baik-baik saja?
"Hmmm," Sahutan Devano membuat Karin benar-benar putus asa, persetan dengan apa yang Alan lakukan padanya nanti, ia menyerah. Benar-benar menyerah.
Berfikir sejenak, lalu Karin menarik lengan Devano, " Gue mau ngomong penting, boleh?" Izinnya tapi dengan tangan menarik lengan Devano, masih ada waktu dua puluh menit sebelum masuk kelas.
"Ngomong aja disini." titah Devano, Karin menghembuskan napas kasar, " Enggak Dev, gue maunya berdua, nggak jauh kok, disitu doang." tunjuk Karin pada tempat yang lebih sepi dari kerumunan para siswa. Devano menatap Karin tajam, lalu akhirnya mengiyakan.
"Jangan bilang mau nembak Devano." Cibir Abiyan, langsung mendapat cubitan dari Clara, seolah isyarat kepada Abiyan bahwa jangan ikut campur urusan mereka.
Dua insan itupun akhirnya menjauh dari pandangan Abiyan, Alfin juga Clara. Sementara Alfin mendekus sebal, lalu memilih masuk ke dalam kelas.
"Kenapa ya tu anak." gumam Abiyan yang melihat keanehan di diri Alfin, "Ehm, cemburu kali." celetuk Clara.
"Ish kok cuek gitu sih." gerutu Abiyan, "Hoho, kita kan cuma pura-pura Bi, lupa?"
"Yaudah, jadi pacar gue beneran sih Clar, gimana?"
Clara mencebik, lalu bangkit berdiri dengan menatap Abiyan kesal, "Ogah, lu mau nembak cewek apa tanya jawab soal? gak ada romantis-romantisnya." gerutu Clara kesal, gegas masuk kelas menyusul Alfin dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Yah, ngambek!" gumam Abiyan.
__ADS_1
***
"Lo mau ngomong apaan? cepetan gih, gue gak punya banyak waktu buat nanggepin omongan lo." ketus Devano, dengan sorot mata tajam, dan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Karin menghembuskan napas kasar, lalu menatap Devano sekilas. "Gue tahu, lo kesal banget sama gue, gara-gara sikap gue kemarin-kemarin yang terlalu over. Gue cuma mau minta maaf, plis maafin gue! Karenaa gue butuh temen kaya lo." jelas Karin, namun melihat wajah Devano yang biasa saja dan masih cuek tanpa ekspresi membuatnya tersenyum masam.
"Gue mau kita temenan, Bisa nggak? Elo sikapnya ke gue biasa aja, nggak dingin." pinta Karin memohon.
Devano menautkan kedua alisnya, "Udah gitu doang?" tanyanya tanpa senyum.
"Gue gak biasa ramah sama cewek, terlebih itu elo!" Devano membalikkan badan, meninggalkan Karin sendiri lalu masuk ke dalam kelas.
Hening, sesampainya di kelas. Bahkan saat Devano mendudukkan bok*ngnya di kursi samping Alfin, sahabatnya itu memilih diam menyibukkan diri.
"Kenapa lu, Fin?" tanya Devano, yang merasa sikap Alfin kali ini beda dari biasanya.
"Gak papa, Dev!" sahutnya tanpa menoleh, hingga membuat Devano yakin bahwa sahabatnya itu sedang bermasalah.
Hening, begitulah suasana kelas saat ini. Terlebih saat guru mengikrarkan ulangan dimulai. Mereka pun fokus mengerjakan soal-soal. Latihan soal yang akan melatih mereka untuk menghadapi ujian akhir kelulusan tiga bulan lagi. Ya tiga bulan lagi, waktu mereka yang tersisa di SMA Tunas bangsa. Setelah itu, mungkin mereka akan meniti mimpi dan cita-cita masing-masing.
Tiba-tiba Devano teringat akan keputusan orang tuanya semalam yang ingin menikahkan ia dan tante Nora satu minggu lagi. Sungguh indahnya jika itu terjadi, satu rumah dengan tante kesayangannya dengan semangat setiap pagi, serta senyum menyambut saat pulang. Tiba-tiba tanpa sadar Devano tersenyum tipis.
"Devano?" Panggil ibu guru di depan sana, namun sepertinya Dev terlalu asik dalam dunia halunya sampai tak menyadari bu guru di depan sana menatap ke arahnya, heran.
"Devano Aldeva!" ulang bu guru dengan nada tegas dan lebih tinggi, seketika Devano terkesiap, "Eh, iya bu!" sahutnya, terlambat bahkan seisi kelas pun turut melihat ke arahnya penasaran.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya bu Guru, Devano tersenyum masam. Antara malu juga kesal, tapi ia harus mempertahankan wibawanya sebagai murid berprestasi.
"Senyum kan ibadah bu!" Alibinya, dengan tangan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Masalahnya kamu senyum-senyum sediri Devano, kenapa?"
"Ya karena ibu gak mau di ajak senyum," celetuknya hingga berhasil membuat seisi kelas riuh. "Sudah-sudah, sekarang kumpulkan hasilnya ke meja depan." titah sang ibu guru, lalu kembali ke kursi duduknya, sembari mengeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
**
"Gue mau nikah," cerita Devano saat selesai bermain basket bersama teman-temannya, kini tinggal tiga cowok tampan itu berada di tepi lapangan, istirahat.
"What!" celetuk Abiyan langsung dibekap oleh Devano, "Jangan frontal, ini rahasia." ujar Devano.
Tangannya merangkul pundak Alfin dan Abiyan, sembari duduk ia bercerita.
"Tadi malam gue ngelamar tante Nora, tapi malah mau dinikahin segera."
"Lo serius sama tante lo, Dev?" tanya Alfin, Devano pun mengangguk, "Dua rius malah." gumamnya.
"Gak pengen cari yang lebih muda?" Devano langsung menggelengkan kepala.
"Gapapa sih, tante Nora juga masih muda, wajahnya aja babyface. Mana ada yang tau kalau lebih tua, ya kan Dev!" ucap Abiyan.
"Selamat, kita sebagai sahabat lo cuma bisa doain yang terbaik, tiga bulan lagi, waktu kita sama-sama, mungkin setelah itu kita akan jarang kaya gini lagi. Dev, meskipun elo muda tapi lo harus bisa jaga tante Nora dengan baik, selain cantik dia juga banyak yang suka, termasuk Alan Carley." ucap Alfin, mereka bertiga pun berpelukan.
Karena sahabat sejati itu mendukung, bukan menikung! Sahabat itu yang selalu ada bukan yang tiba-tiba ada..
"Gue sayang kalian." aku Devano, sembari mengeratkan pelukannya ke bahu sahabatnya.
"Kita juga, kita selalu doain yang terbaik buat lo, " ucap Alfin dan Abiyan serempak.
***
Matahari hampir tenggelam, bersamaan dengan keluarnya gadis berparas cantik keluar dari kantor Aldeva group. "Masih jam segini, masih terlalu siang untuk pulang ke rumah." gumam Nora sembari melihat jam di pergelangan tangannya. Nora sudah memutuskan untuk tinggal di rumah kembali, terlebih sekarang ia sudah dilamar. Dan setelah menikah nanti, mungkin ia akan tinggal bersama Devano, Nora pun memanfaatkan waktu terbaik bersama keluarganya sebelum akhirnya ia ikut tinggal di rumah keluarga Aldeva.
Melihat jalanan sepi membuat Nora lebih leluasa mengendarai mobil sportnya, ia melesatkan diri menuju taman tempat biasa ia meluapkan segala keluh kesah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Nora berjalan menyusuri taman, lalu duduk di sebuah kursi. Kursi dimana ia sering duduk berdua dengan Devano.
"Hallo Nora sayang, sepertinya kita memang ditakdirkan berjodoh hingga harus bertemu disini." ucap seorang pemuda yang baru saja datang dengan seringai lebar.
__ADS_1