TANTE Kesayangan Tuan Muda

TANTE Kesayangan Tuan Muda
Serpihan kaca


__ADS_3

Hallo Readers sayang, maafin Author jika terselip kisah Karin di tiap part, semoga nggak bosen ya🤗


Karin


Saat mendengar hal yang paling menyakitkan, ia masih bertahan di depan pintu, terlebih saat menyadari Alan mengunci pintunya dari dalam membuat emosi sekaligus rasa sakit datang bersamaan, hatinya luruh terhempas bersama serpihan kaca yang rusak.Pupus sudah!


"Ikut saya." Aldo berjongkok tuk kemudian mengulurkan sapu tangan kepada Karin, membiarkan gadis itu mengusap air mata terlebih dahulu.


"Tap.." tertahan karena kini tangan Aldo membekapnya.


**


Malam mulai menjelang, setelah beberapa jam menuruti Karin keliling jalanan Jakarta tak jelas akhirnya ia melihat gadis itu berhenti menangis dan sudah bisa menguasai diri.


"Saya tahu perasaan kamu, rupanya takdir Tuhan memang indah ya, saya bahkan tak perlu membuat sekenario, Tuhan sudah membantunya." desisnya dingin.


"Maksud kamu?"


Aldo menghela napas sejenak, "Pak Alan sudah biasa seperti itu, jadi yaaah..." ia tak melanjutkan kalimatnya, memilih mengedihkan bahu sebagai lanjutan dan membiarkan Karin berfikir sendiri.


"Kamu cinta sama pak Alan?" ia menggeleng, respon impuls yang spontan.


"Bagus, batalkan saja pernikahan itu." membuat Karin kesekian kali tersentak.


"Hah?" go to the hell.


Tentu saja Karin memikirkan hal apa yang akan terjadi setelahnya, bisa saja Alan ataupun Carley langsung membunuhnya terlebih saat ini undangan sudah di sebar. Sungguh, karma dan kesialan yang datang sekaligus.


"Antarkan aku pulang." ucap Karin akhirnya menyerah.


"Oke, tapi jika kamu berubah fikiran, aku bisa membantumu membatalkan pernikahan itu, tanpa membuat dirimu malu." ucapnya begitu santai. Karin hanya mendelik, ia belum bisa berfikir apapun saat ini.


***


Sementara Devano ia menjalani harinya dengan bahagia bersama Nora, meskipun usia mereka berpaut tapi hati mereka bertaut. Nora sadar, bahkan sangat sadar jika dirinya kini jatuh cinta kepada Devano.


Kamu adalah hal terindah dalam hidupku, iya dan tak terbantahkan.


Yang jadi masalah saat ini adalah ketika tante kesayangannya menolak ide gila Devano untuk menjodohkan Alfin dan Karin.


"Kamu gak tau gimana Alan, bahaya! lebih baik gak usah ikut campur urusan mereka, biar Karin bisa nentuin sendiri jalan hidupnya." Tau jika akan mendapat perdebatan dari sang istri, lebih baik ia bungkam, tak cerita dan menyerahkannya pada Ziando.


"Kamu gila, Dev! gimana kalo Alan sama papanya nyerang mama Karin."


"Aku gak maksa mereka! Aku cuma kasih pilihan ke dia." santainya, kemudian menyigar rambutnya yang basah. Ia bahkan belum sempat menyisir rambutnya yang berantakan selepas mandi tadi.


"Gimana kalo yang di posisi Karin itu kamu sayang, coba deh! kamu belum tau seperti Alan aja udah kabur ke pelukan cowok lain loh, inget kan."


"Ingetlah, cowok itu kan kamu." desisnya sebal. Namun, Devano malah terkekeh, teringat saat Nora menangis di taman karena dijodohkan dengan Alan, membuatnya sangat-sangat bersyukur. Karena sejak kejadian itu, seolah keberuntungan terus berpihak padanya.

__ADS_1


"Nah, gimana coba perasaan Karin. Dia bakal nikah sama laki breng sek kaya Alan. Terlebih dia sendiri yang memergoki Alan main sama wanita lain, yah walaupun nggak secara live sih."


"Jadi Karin diselingkuhi? gila bener-bener gila, bilang dong dari kemarin." gerutunya, membuat Devano gemas sendiri, "Gimana mau bilang kalo kamunya aja udah gagal paham, hmm." sembari mengusap pipi seputih su su milik Nora ia mengerlingkan mata.


"Lagi yuk?" kata simple yang membuat pipinya langsung merona.


Wait, lagi?


Devano langsung mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala, kening, pipi, hidung dan terakhir di bibir semanis madu milik Nora.


Ia harus bersabar menanti kurang lebih dua bulan lagi untuk perencanaan bulan madunya, paling tidak setelah Devano lulus sekolah dulu. Hya, dua bulan waktu yang lama tapi juga akan terasa singkat. Ketika ada beberapa agenda di depan mata, dan besok tak terasa adalah hari pernikahan Alan dan Karin, belum lagi pernikahan saudara kembarnya Zain, yang juga akan segera dilaksanakan.


"Apa ini?" tanya Nora tak mengerti, lagi-lagi Devano membelikannya gaun. Padahal gaun-gaun pemberian Devano masing sangat-sangat bagus.


"Buat acara besok, ke pernikahan Karin." selorohnya menahan senyum.


"Katanya mau bantuin Karin sama Alfin, kok malah dateng ke pernikahan Alan sama Karin, aku gak ngerti deh sama kamu, Dev!"


Devano pun menceritakan semua rencananya besok, awalnya ia mengangguk paham. Tapi saat tahu, Devano akan membuat masalah dengan Alan ia menggeleng keras.


"Kamu gila, Alan bakalan murka kalo kamu berencana nyuruh Alfin bawa kabur Karin."


"Ia gak akan punya muka bahkan tuk sekedar marah." bisiknya sebelum menenggelamkan diri di da da milik Nora hingga membuatnya bergumam tak jelas, "Hmmmptsss..."


"Come on baby," bisiknya dengan mata menahan, saat di bawah sana meronta ingin segera terlepaskan.


Jelas ia tak punya kekuatan menolak, meskipun fikirannya berusaha mengelak, kenyataan respon tubuhnya selalu berkhianat.


Otaknya terus merekam jejak saat kedua peluh saling membasahi, tuk kesekian kali bibirnya bergumam pelan tanpa sadar. Menikmati setiap ritme permainan Devano yang tak akan pernah ada habisnya, membuatnya candu, dan selalu candu.


Kamu adalah karya terindah Tuhan, yang melenakan🖤


Keduanya terlelap, Nora memejam dalam rengkuhan nyaman tangan Devano, tanpa terusik sedikitpun, tubuh yang lelah dan tempat persinggahan yang nyaman membuatnya lebih dulu terpejam ditemani usapan lembut jemari Devano di rambutnya, membawanya pada mimpi paling indah.


***


Esoknya, mereka bangun pagi sekali. Lepas sarapan langsung bersiap untuk datang ke acara pernikahan Karin.


Sepuluh menit berlalu, Devano masih setia menunggu kerempongan istrinya.


Namun, bibirnya tak henti mngukir senyum kala melihat pantulan wajah bidadari di cermin. Sungguh indah ciptaan Tuhan!


"Sudah, Dev! Ayo berangkat." lamunannya buyar seketika saat melihat Nora si pemilik hatinys sudah siap dengan berbalut gaun berwarna navy, sangat cantik dan elegan.


"Hmm." ia mengulurkan tangan dan langsung disambut dengan senyum, mereka berjalan menuruni tangga dengan tangan Nora melingkar erat di lengan Devano. Benar-benar best couple idola Maya dan bik Liam.


Mobil sport hitam mengkilat bahkan sudah siap, mereka masuk dengan Ziando yang duduk di kursi kemudi. Sementara Devano duduk dibelakang, bersama istri kesayangan.


"Jalan, Zi." perintahnya, sebelum Ziando benar-benar melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah keluarga Aldeva.

__ADS_1


Sementara di kamar, Karin tengah memandang pantulan wajahnya di cermin, sembari sesekali menyusut sudut matanya yang terus berair.


"Aku kuat, aku bisa! tapi jika ada pilihan lain hari ini, aku tak ingin menikah dengannya." gumamnya pelan.


Sambil membawa amplop pemberian Aldo, ia melangkah keluar. Terlebih ijab qabul akan segera di mulai.


Alan membenahi jassnya dan mengulurkan tangan kepada Karin, "Senyumlah." titahnya. Namun, Karin sudah tak lagi perduli, bahkan tak menyambut tangan Alan.


"Kamu kenapa?" namun, tak digubris oleh Karin.


"Apa pengantin sudah siap?" tanya penghulu sebelum acara sakral ijab qobul dimulai, sementara di sudut kursi tamu, tampak Alfin, Ziando, Devano dan Nora.


"Siap." ucap Alan yakin, dengan tangan bergetar ia melempar amplop coklat berisikan foto tak senonoh Dasinta dan Alan. Ia bangkit, "Saya gak bisa menikah dengan Alan." kemudian melangkah pergi dengan air mata berderai.


"Susul dan amankan, biar aku dan Zi yang tahan Alan disini." titah Devano, dan di angguki oleh Alfin.


"Bo doh! kalo begini siapa yang malu, dasar anak breng sek." Carley memukul rahang Alan hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


"Semuanya bubar!" teriak Carley penuh amarah, saat banyak tamu undangan berkasak kusuk membicarakan Alan, sementara mamanya Karin terlihat sangat syok. Hingga berulang kali mengusap dadanya sebelum akhirnya pingsan.


"Seharusnya pengalaman cukup menjadikanmu tau diri, Alan Carley!"


"Ngapain kamu kesini, hah!" Desisnya emosi.


"Tentu saja menertawakan kebodohanmu, apa lagi? apa kamu berharap aku dan istriku datang untuk menikmati pernikahanmu, Ck! menyedihkan!" ucapnya menekan kata istri sembari merangkul pinggang Nora.


"Istri?" tanyanya tak percaya.


Alan semakin terlihat bodoh saat ini, ia telah melukai permata karena tergoda wanita second seperti Dasinta. Sudah merenggut kepolosan Karin, sekarang? ia bahkan mematahkannya hingga hancur lebur.


Karma dibayar tuntas!


***


Nora membuat mamanya Karin sadar, dengan dibantu para tetangga yang ikut mengoles minyak angin di area hidung juga kening. Berharap wanita paruh baya itu lekas sadar.


Sementara Alan, ia sudah pergi dengan segenap rasa malu dan salah yang kian menyeruak, kebodohan berulang-ulang yang tak pernah ia sadari.


"Kar, kamu dimana sekarang?" gumamnya mengerang frustasi.


"Tante tenang ya, kuasai diri, dan jangan berfikir macam-macam dulu." ucap Nora, "Karin mana? Karin anakku mana?" ia memandang sekeliling, tapi tak menemukan sosok Karin disana.


"Karin aman bersama teman saya, tante!" Devano buka suara.


"Tante harus kuat, demi Karin!" ucap Nora mengusap pundak mamanya Karin.


Setelah dirasa lebih baik, Nora dan Devano pamit pulang, tentu saja setelah menjelaskan keberadaan Karin dan apa yang dilakukan putrinya tersebut.


Bersambung🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2