
Setelah Sean selesai Sarapan, diapun ke kamar Lena untuk meminta izin keluar sebentar dengan Ayahnya,
Sean pun melangkah menghampiri Lena "Kamu sedang apa?" tanya Sean yang melihat Lena sednag memainkan gawainya
"Ah, tidak, aku hanya melihat lihat perlengkapan bayi saja, lucu lucu" ucap Lena
"Begitu ya, O ya Lena, ayah mengajaku untuk pergi keluarga sebentar, kalau kamu perlu apa apa kamu panggil Bu Darmi saja, Ya" ucap Sean
"Oh, ya sudah pergi saja," ucap Lena
Sean sedikit merendahkan badanya dan langsung mengecup perut Lena "Lindungi mamah dulu ya, papah mau keluar sebentar" ucap Sean pada perut Lena
"Iya papah, pergi saja, debay akan lindungi" ucap Lena menirukan suara anak kecil
"Bagus, bayi pintar" ucap Sean tersenyum dan menoleh pada Lena
Lena juga tersenyum pada Sean
Dan setelah itu Sean pun segera beranjak dari kamar Lena, dan segera bergegas ke garasi Mansion bersama Ayahnya
Begitu sampai di area garasi yang luas, Arfandi pun langsung tercengang melihat deretan mobil mobil mewah terparkir di garasi itu "Waw, ini semua koleksi ibumu?" tanya Arfandi
"Iya, ini hobi ibu saat aku belum bertemu dengannya, tapi semenjak kepulangan ku yang pertama, mobilnya tidak nambah lagi, jadi malah aku yang nambahin" ucap Sean
"Mamahmu itu, benar-benar, aku salut" ucap Arfandi
"Kalau yang putih ini mobilku, aku membelinya sebelum aku kecelakaan beberapa tahun lalu, terlihat masih baru kan,, kurasa saat kepergianku yang kedua itu, ibu sangat merawat mobilku ini dengan baik" ucap Sean
"Aku benar-benar seperti sedang bermimpi sekarang, seorang yang terlantar, dengan hidup yanh tidak menentu seperti ku, kini pulang ke istana megah kalian, aku jadi sedikit minder pada ibumu" ucap Arfandi
"Aku juga tidak jauh berbeda dengan mu dulu, karena aku juga dulu pernah merasa begitu" ucap Sean
Sean pun segera membuka pintu mobilnya untuk Arfandi, dan mereka pun segera masuk ke dalam mobil Sean,, Sean pun segera melajukan mobil koenigsegg nya dan meninggalkan Mansion, Sean mengendrai mobilnya itu menuju ke lapas tempat dimana Goma di tahan,
.
…
Di lapas
Arfandi dan Sean duduk di salah satu meja di ruangan yang memang di peruntukkan untuk pengunjung tahanan, Mereka menunggu Goma yang sedang di jemput petugas untuk ke ruangan itu
Dan tidak Lama, Goma pun di bawa petugas memasuki ruangan itu dengan tangan di borgol di depan, dan diapun segera di dudukan berhadapan dengan Arfandi dan Sean
"Apa kabar kawan lama?, apa kau masih mengenaliku?" tanya Arfandi
"Tentu saja, kau tidak banyak berubah, putramu ternyata bisa menemukan mu juga" ucap Goma
"Ya, mungkin untuk hal ini aku harus sedikit berterimakasih padamu, tapi bukan berarti urusan kita selesai setelah aku kembali, masih ada yang harus ku perhitungkan dengan mu" ucap Arfandi
"Mau apa lagi?, apa kau tidak melihat tubuhku yang kurus ini, apa kau masih mau membuat ku lebih menderita lagi daripada ini" ucap Goma
"Ya, kurasa aku tidak akan bisa berbuat sesuatu padamu di sini, tapi bukan berarti aku tidak akan membuat perhitungan, jika tidak padamu, berarti putrimu yang harus menanggung nya" ucap Arfandi menggertak
__ADS_1
Seketika wajah Goma pun langsung pucat mendengar hal itu, karena pikiran nya langsung menghawatirkan Tiara
"Ini urusan kita berdua, jangan bawa bawa putriku dalam urusan ini" ucap Goma
"Mau bagaimana lagi, dia sekarang ada di rumahku, jadi aku akan bebas menyiksanya kapan saja kan, apa kau ingin melihat kondisi putrimu sekarang??, dia sangat menyedihkan" ucap Arfandi membual
Sean pun hanya menyimak obrolan mereka saja, dia tidak tau apa tujuan Arfandi menemui Goma sebenarnya
"Ja jangan, aku mohon, aku sangat menyayanginya, urusan ini cukup aku yang tanggung sendiri, jangan sakiti putriku, aku mohon" ucap Goma menundukan kepala di atas meja pada Arfandi
"Aku tidak menyangka, kau ternyata begitu menyayangi putrimu itu, tapi jika kau ingin aku tidak menyakiti putrimu, kepalamu tidak cukup rendah untuk memohon padaku" ucap Arfandi
Goma pun sangat mengerti dengan perkataan Arfandi itu, jadi dia turun dari kursinya dan langsung bersujud di lantai di depan Arfandi, "Aku mohon, kau boleh melakukan apapun padaku, tapi jangan biarkan putriku menanggung kesalahan ku, aku mohon, aku mohon, jangan menyakiti nya," ucap Goma bersungguh-sungguh, dia mengira kalau gertakan Arfandi itu benar benar sudah di lakukannya
"Cium kaki ku, maka aku tidak akan menyentuh putri mu lagi" ucap Arfandi
Goma memang sangat menyayangi Tiara dari pada putra putrinya yang lain, dia memang Putri kesayangan nya, dan tentunya tidak ingin melihat dia tersakiti sedikit pun, jadi diapun tidak ragu untuk melakukan yang Arfandi minta, karena dia tau kemampuan Arfandi berada di atas putrinya, jadi dia pikir tidak mungkin Tiara bisa melawan Arfandi, dia pun segera mendekati kaki Arfandi dan langsung mencium sepatu yang di gunakannya
Arfandi pun tersenyum angkuh, sebelumnya dia berpikir akan sulit untuk membuat Goma bersujud di kakinya, tapi itu ternyata sangat mudah
"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, aku mau lihat keadaan putriku sekarang" ucap Goma
"Arman, perlihatkan padanya keadaan putrinya sekarang" ucap Arfandi
Sean sedikit bingung permainan apa yang ayahnya mainkan itu, karena setau Sean, Tiara sedang berbelanja bahan untuk membuat kue, dan dia tidak Apa Apa, "Apa Anda yakin?" tanya Sean
"Lakukan panggialan video padanya" ucap Arfandi
"Baiklah" Sean pun segera memanggil nomor Tiara
📲" Hay, ada apa sayang?,, apa mau pesen sesuatu sekalian" ucap Tiara di panggilan video yang terlihat masih di dalam super market
"Tidak, Ayahmu ingin melihatmu" ucap Sean
📲"Ayah??, kamu pergi ke lapas??, kenapa tidak memberi tahu ku" ucap Tiara
Sean pun memperlihatkan ponselnya pada Goma yang masih terduduk di lantai di depan Arfandi
Goma pun melihat kalau putrinya baik baik saja di layar ponsel Sean, dia bebas dan bahkan terlihat ceria
📲"Ayah, apa kabar,?" tanya Tiara
"Kau baik baik saja Ra?" ucap Goma yang malah balik bertanya
📲"Baik, kenapa memang?" tanya Tiara
"Tidak, tidak papah, ayah hanya merindukan mu, mungkin karena beberapa hari ini kamu tidak mengunjungi Ayah" ucap Goma
📲"Iya nanti aku kesana, tapi Sekarang aku sedikit sibuk, jadi sudah dulu ya, dah" ucap Tiara
"Ya sudah" ucap Goma
Tiara pun mematikan panggilannya.
__ADS_1
Arfandi pun hanya terus l tersenyum melihat Goma yang khawatir pada putrinya itu "Aku hanya melakukan simulasi, bagaimana seandainya kamu mendengar orang yang paling kamu sayang itu di sakiti, dan aku yakin kamu sedikit tau rasanya sekarang kan, harus nya kau juga sedikit tau perasaan Istriku saat dia tau kau mencelakai ku" ucap Arfandi
Goma pun hanya tertunduk meratapi kesalahannya di masa lalu itu, hanya karena ego dan Iri, dia bisa mencelakai temannya sendiri, "Maaf,, Imran" ucap Arfandi
"Arman, kita pulang sekarang" ucap Arfandi, diapun langsung beranjak dari duduknya
Sean juga berdiri dan segera mengikuti Ayahnya melangkah, tapi Arfandi sejenak menghentikan Langkahnya "Satu lagi, kau pasti tau aku sangat tidak suka menyakiti perempuan, jadi aku pastikan menantuku aman di keluarga ku, meskipun dia adalah putri mu" ucap Arfandi
"Terima kasih, aku sangat percaya itu" ucap Goma
Arfandi pun meneruskan langkahnya lagi, dan segera pergi meninggalkan Lapas dengan di ikuti Sean di belakangnya
…
Mereka pun segera kembali lagi ke Mansion Kartina, dan kebetulan mereka pulang bersamaan dengan para wanita yang baru pulang berbelanja juga
"Lho Arman, kalian darimana?" tanya Kartina
"Ayah mengajaku Jalan jalan" ucap Sean
"Di ajak ke supermarket tidak mau, mungkin dunia pria memang berbeda dari dunia wanita, jadi pasti tempat yang di datangi kalian juga berbeda" ucap Kartina
"Ya begitulah" ucap Arfandi
Kartina dan Arfandi pun segera melangkah masuk kedalam Mansion lebih dulu,
Sementara Sean Rania dan Tiara masuk belakangan, karena Sean membantu mereka membawa barang belanjaan mereka sebagian
"Apa Ayahmu melakukan sesuatu pada Ayahku" tanya Tiara sedikit menghawatirkan ayahnya
"Tidak, mereka hanya sedikit berbincang saja" ucap Sean
"Begitukah, syukurlah kalau begitu" ucap Tiara merasa lega
Mereka pun segera mengikuti para orang tua untuk masuk ke Mansion, Sean pun langsung membawa belanjaan mereka ke pantry
Dan para wanita pun segera memulai aksi mereka untuk membuat adonan kue, dengan di bantu beberapa asisten rumah juga, Sementara Sean dan Arfandi menonton kesibukan mereka itu sambil duduk santai dan menikmati secangkir kopi di sofa
Arfandi pun terlihat senang melihat aroma kekeluargaan yang kompak dari para wanita, yang sibuk dengan tugasnya masing-masing itu
Sementara Sean hanya menertawakan Rania Dan Tiara yang terlihat kaku melakukan tugas yang di berikan Kartina pada mereka, bahkan Rania terlihat sedikit lebih kacau daripada Tiara
"Kelihatanya Yang dua ini di manja dari lahir" ucap Arfandi memberikan komentarnya
"Kurasa begitu, Rania memang lemah kalau di urusan dapur" ucap Sean
"Kalau yang di atas gimana?" tanya Arfandi
"Maksudmu Lena?" tanya Sean memastikan
"Siapa lagi" ucap Arfandi
"Bisa di bilang kalau Lena orangnya cukup mandiri kalau menyangkut urusan Rumah, meskipun usianya lebih muda daripada Rania dan Tiara, dia lebih pandai kalau soal urusan dapur,, dia terlahir dari keluarga yang sederhana, tidak seperti mereka yang serba kecukupan dari lahir, jadi mungkin Lena sudah terbiasa melakukan kegiatan rumahnya sendiri,, tapi intinya mereka memang punya kelebihan mereka masing masing, Rania punya kemampuan di bidang bisnis properti, kalau Tiara, ya Anda tau sendirilah, dia hobinya memukuli orang dari kecil seperti ayahnya, jadi bisnisnya juga tidak jauh jauh dari bidang itu," ucap Sean
__ADS_1
"Ya, memang cukup menarik untuk di bahas, aku jadi ingat masalalu ibumu, Lena itu kurang lebih seperti ibumu, dia juga terlahir dari keluarga sederhana, tapi Sekarang benar benar kehidupannya berubah 360° kan, mungkin ini juga buah dari kesabaran dan kerja keras ibumu selama ini,, dan aku juga yakin kalau putraku ini memiliki kelebihan, ya itu pandai merayu dan pandai membual di depan mereka kan??, makanya istri mu pada akur akur gitu" ucap Arfandi
"Tidak juga, Anda terlalu memuji, justru itu adalah kekurangan ku, meskipun putramu ini lumayan tampan, tapi aku tidak bisa merayu wanita,, dan putramu ini juga lumayan lama menjomblo dulu,, kalau soal mereka bisa akur, itu lain lagi ceritanya,, Rania dan Tiara memang sahabat dekat dari dulu, kalau Lena, dia dulu adalah bawahan Rania, dan yang membuat Lena akur dengan Rania, itu karena menurut Lena Rania punya jiwa yang besar, dan itu membuat Lena menjadikan Rania panutannya, itu yang ku tau tentang Mereka" ucap Sean