TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Mencair


__ADS_3

Mereka semua pun akhirnya masuk kedalam mansion dengan Sean tetap memapah kedua orang tuanya dari belakang,


Meskipun Arfandi sangat segan untuk masuk ke rumah mewah itu, tapi dia tetap masuk kedalamnya karena dorongan dari Sean


Sean mengarahkan mereka ke sofa mewah yang ada di ruang tamu, dan mendudukkan Kartina dan Arfandi bersebelahan di sana


Mereka masih terus terisak, karena tangisan mereka memang belum mereda


Sean pun berlutut di depan ibunya "Bu, apa kamu mau hidup bersama ayah lagi?" tanya Sean mewakili Arfandi


"Tentu saja sayang, bukan kah dia Ayahmu juga" ucap Kartina


"Baguslah, tapi aku mau kasih sedikit saran pada ibu, kalau ibu ingin dekat dengannya, ibu harus jaga dompet ibu" ucap Sean


"Apa maksudmu??" tanya Kartina bingung


"Apa ibu tadi bawa dompet tadi?" tanya Sean memastikan


"Ada" Kartina pun langsung merogoh saku mantelnya, namun dia tidak menemukan apapun di sana "Kurasa ibu lupa menaruhnya" ucap Kartina


"Ayah, keluarkan dompet ibu" ucap Sean


"Apa yang kamu katakan, mana mungkin aku melakukan itu pda ibumu" ucap Arfandi


"Keluarkan saja" ucap Sean kekeh


Arfandi pun juga langsung mengecek mantelnya, dia pun memang menemukan sesuatu di sana kemudian mengeluarkannya, dan itu memang adalah sebuah dompet kulit wanita bermerek berwarna coklat tua, yang tidak lain adalah dompet Kartina


Arfandi pun langsung gelagapan sendiri, bertahun-tahun jadi pencopet membuat tanganya selalu replek mengincar dompet, dan Bahakan saat dia tidak fokus pun tanganya masih bisa mencuri


"Kok bisa ada padamu" tanya Kartina Heran


"Maaf Tina, kurasa kau harus memotong tanganku, tanganku memang suka bergerak sendiri" ucap Arfandi


Sean pun langsung menepuk jidatnya nya sendiri dan sedikit menggelengkan kepalanya "Haduuuhh,,, Sudah sampai ketahap seperti itu ya?, ini akan sulit di mengobati mu" ucap Sean


"Apa maksud kalian, aku tidak mengerti" ucap Kartina kebingungan, dia memang belum tau kalau Arfandi adalah seorang pencopet tingkat dewa, dia bisa mengambil dompet dari saku seseorang dalam hitungan detik, bahkan tanpa harus melihat target nya


"Soal itu akan ku jelaskan nanti saja,," ucap Sean, dia menoleh pada Arfandi "Kalau kau memang ayahku, berusahalah untuk merubah kebiasaan mu itu, atau aku akan sangat merasa malu" ucap Sean


"Aku aku akan berusaha" ucap Arfandi juga "Maaf Tina, ini dompetmu" ucap Arfandi menyerahkan dompet di tanganya pada Kartina,


Kartina pun langsung menerimanya dengan sedikit kebingungan "Apa Ayahmu seorang pesulap??" tanya Kartina polos

__ADS_1


"Ya kurang lebih begitu" ucap Sean yang langsung menahan senyumnya dengan menghalangi bibirnya oleh kepalan tangan seperti menahan batuk,, dia memang tidak bermaksud menjelaskan nya saat ini pada Kartina apa pekerjaan ayahnya di negara T, Karena dia takut itu malah akan merusak momen


Rania Tiara dan Lena yang masih menangis di belakang Sean pun langsung merasa ingin tertawa menyimak obrolan mereka itu, tapi tentunya mereka sebisa mungkin menahan nya, karena itu masih dalam suasana sendu, Rania pun sampai membuang muka hanya untuk sekedar tersenyum


"O yah, Arman, bagaimana caranya kamu bisa menemukan Ayahmu di sana??" tanya Kartina


"Aku hanya menemukan nya di jalan, jadi aku bawa saja, karena kupikir ibu akan senang melihatnya" ucap Sean asal


"Dasar anak durhaka, dia itu ayahmu, bukan barang" ucap Kartina yang mulai merasa mereda dari harunya


"Tapi itu memang faktanya bu,, Sebenarnya aku dapat informasi dari Goma soal ayah yang berada di negara T, aku tidak memberitahu ibu sebelumnya karena takut itu hanya bualan Goma saja," ucap Sean


"Oh, pantas saja kamu meminta foto Ayahmu dengan alasan yang tidak jelas" ucap Kartina


Mendengar nama Goma, Mata Arfandi yang tadinya sayu pun mendadak menyala tajam "Goma??, dimana dia sekarang??, dia Harus membayar semua ini" ucap Arfandi sedikit menaikan nada bicaranya


"Aku sudah memenjarakannya, aku juga sudah memukulinya" ucap Sean


Tiara yang mendengar ayahnya di sebut sebut pun merasa tidak enak hati pada Arfandi, dia langsung mendekat dan 'Bruuukk' Tiara langsung berlutut dihadapan Arfandi dengan menundukkan kepalanya "Maaf, aku benar-benar minta maaf padamu untuk ayahku" ucap Tiara dengan gemetaran, karena dia memang merasa sangat takut untuk mengakuinya, karena dia merasa ikut bersalah juga


"Apa maksudmu menantuku??" tanya Arfandi heran,dia memang belum tau Tiara itu siapa


"Dia adalah putri dari Goma" ucap Sean


Jelas Tiara pun langsung menangis mendengar bentakan dari Arfandi itu, meskipun dia tidak merasakan sakit dari cengkraman keras tangan Arfandi, karena dia memang memaki cincin kursani, tapi dia merasa takut kalau hubungannya dengan Sean akan terancam


"Anda tidak perlu melimpahkan kesalahan Goma pada putrinya, dia tidak tau apa apa saat kejadian tempo dulu, mungkin saja dia masih di susui ibunya saat ayahnya mencelakai mu" ucap Sean


"Tapi, tapi kenapa harus Putri Goma??" tanya Arfandi sedikit menurunkan tensi nya


"Takdir" ucap Sean


"Takdir seperti apa?, kamu masih memiliki wanita seperti mereka, tapi kenapa harus menikahi dia?" ucap Arfandi, yang di maksud Arfandi mereka adalah Rania dan Tiara


"Dengarkan dan coba renungilah, Kalau takdir tidak menikahkanku dengannya, aku tidak akan Sudi untuk menemui ayahnya di dalam penjara, karena aku tau dia pernah berbuat hal yang buruk padamu, dan kalau aku tidak pernah lagi bertemu dengan Goma, aku tidak yakin bisa dapat informasi kalau Anda masih hidup di negara lain darinya, dan mungkin kepulangan mu hari ini hanyalah mimpi semata, apa menurut mu takdir itu salah??" ucap Sean


Arfandi pun benar benar di buat merenung oleh perkataan Sean itu, dan diapun perlahan melonggarkan cengkraman tanganya dari bahu Tiara


"Aku mohon Imran, jangan luapkan emosi mu pada Tiara, dia tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatan yang di perbuat ayahnya, dan sebenarnya, akulah yang meminta Arman untuk menikahinya" ucap Kartina sedikit membela Tiara


Tentu saja Arfandi pun semakin luluh karena nya "Ma maaf nak, ayah tidak bermaksud kasar padamu, kamu memang tidak tau apa apa soal masalah aku dan Ayahmu, tidak sepantasnya aku menyalahkan mu,, maaf" ucap Arfandi sedikit merasa bersalah karena melihat Tiara menangis cukup deras, dia mengira cengkraman tanganya lah yang menyebabkan Tiara seperti itu


"Tidak, ayah mertua tidak perlu minta maaf, akulah yang harusnya meminta maaf" ucap Tiara yang sedikit merasa lega karena Sean bisa berhasil meredam emosi dari Arfandi

__ADS_1


"Tidak apa, kamu memang tidak salah" ucap Arfandi sedikit mengelus kepala Tiara


"Terimakasih, ayah" ucap Tiara langsung menyeka air matanya


"Tapi , apa benar kamu yang menyuruh Arman beristri banyak?" tanya Arfandi sedikit tertarik dengan pernyataan Kartina tadi


"Ya, aku memang menyuruh Arman untuk menikahi mereka semua,, aku pernah merasa sangat kesepian hidup di rumah besar ini saat kalian tidak ada di sisiku, dan aku hanya ingin rumah ini ramai oleh cucu dan menantu saat Arman kembali padaku sebelumnya, tapi aku sadar kalau aku hanya punya satu putra," ucap Kartina


"Kamu punya kesetiaan yang teramat sangat, tapi kenapa mengajarkan hal seperti itu pada putramu?" ucap Arfandi sedikit tidak habis pikir


Kartina pun langsung tersenyum bingung, karena dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu


"Benarkan?, aku ini hanya mencoba berbakti pada wanita yang melahirkan ku, sebagai anak yang baik aku harus menuruti ibuku untuk menikahi mereka, bukan semata-mata karena aku pria berhidung belang" ucap Sean merasa ada pembelaan dari ibunya


Arfandi pun langsung meraih kuping Sean yang masih berlutut di depan kartina , dan langsung sedikit memelintir kupingnya itu


"Tapi tetap saja kamu yang mendapat untung banyak kan, sedangkan mereka merugi" ucap Arfandi sedikit gemas mendengar pernyataan anaknya itu


"Aw Aw, itu sakit, aku ini putra yang baik, kenapa harus di jewer segala, lepaskanlah" ucap Sean sambil memegang tangan ayahnya yang menjewer telinganya itu


Lena dan Rania yang masih stay di belakang Sean pun sedikit terhibur juga oleh tingkah Ayah dan anak itu, meskipun mereka tadi sempat ikut tegang juga saat Arfandi marah, Nayra juga Sampai ketakutan dan terus memegangi kaki Rania tadi


Arfandi pun mulai memperhatikan gadis kecil yang berada di dekat Rania itu "Apa gadis kecil itu cucuku?" tanya Arfandi sambil melepaskan kuping Sean


"Ya,, dia memang cucumu,, dia adalah putri pertamaku, namnya Nayra Arfandi putri, Putri dari Rania Radita, ada namamu di namanya, karena ibu yang memberikan nama itu padanya, dia lahir saat aku kehilangan ingatan ku, jadi aku tidak bersamaan juga saat dia lahir, sini sayang" ucap Sean langsung meraih tangan kecil Nayra


"Cantik sekali, persis seperti ibunya, sinih, sama kakek" ucap Arfandi mengulurkan tanganya pada Nayra


"Tidak mau, Nay maunya sama papah" ucap Nayra, dia merasa takut dengan Arfandi, karena dia memang asing untuk nya,


"Dia Kakek mu sayang, dia ayahnya papah" ucap Sean menjelaskan


"Tapi Nay maunya sama papah, tidak mau sama Kakek itu" ucap Nayra


"Mungkin dia memang belum mengenalku, tidak perlu di paksa" ucap Arfandi


Suasana di ruangan itu pun mulai sedikit mencair sekarang, Suasana yang tadinya mengharu biru pun jadi terasa mulai menghangat, dengan obrolan yang mulai bersahutan dari mereka yang ada di sana, Rania Lena dan Tiara juga sedikit menceritakan tentang diri mereka pada Arfandi, supaya mereka bisa sedikit lebih akrab dengannya


Arfandi juga mengesampingkan dulu pembahasannya tentang Goma , dia juga tidak mau merusak Suasana hangat kekeluargaan semacam itu dengan membicarakan masalah,


Dia sudah sangat lama memimpikan momen seperti itu terjadi di kehidupan nya, dan itupun terwujud sekarang


Wajah Arfandi pun nampak sumringah di kala dia bisa menyaksian wajah Kartina yang tersenyum, putra yang tertawa, menantu yang saling bercanda, dan cucu yang begitu menggemaskan ada di depan matanya

__ADS_1


__ADS_2