
Setelah Acara Anniversary itu Selesai, tamu undangan pun satu persatu pulang, begitu juga Rania yang merasa sedikit sesak di sepanjang acara,
Sementara Sean berkumpul lagi dengan Randi dan Arni
"Keren acara lu, nanti gue ikutin ah di Anniversary gue" ucap Randi
"Huuu, So soan mau bikin acara kayak gini, kredit Rumah juga masih belum kelar kelar" ucap Arni
"Sayang, jangan buka kartu di sini dong, aduuuuhhh" ucap Randi menggaruk belakang kepalanya
"Apa Kalian mau langsung pulang ke kota B ?" tanya Sean tersenyum
"Rencanya sih iya, tapi ini sudah malam, tapi ya mau bagaimana lagi" ucap Randi
"Mending besok saja kalian pulang, aku pesankan kamar saja untuk kalian di hotel ini, gimana??" tanya Sean
"Boleh boleh, ideu bagus tuh" ucap Randi bersemangat
"Iiih, kamu Tu malu maluin sayang" ucap Arni pada Randi "Maaf ya bos, anak buah mu ini memang tidak punya sopan santun" ucap Arni sedikit tidak enak
"Santai saja Ar, kamu tidak tau saja, kalau kita pernah gila bareng dulu, dan lebih malu maluin lagi" ucap Sean
"Wah lu jangan ceritain itu sekarang dong, malu dong gue" ucap Randi
"Iya Iya, ya sudah kita langsung pesan kamar saja, Aku juga mau nginep di sini kayaknya" ucap Sean
"Asiiiik, doble date, nanti koling koling ya, siapa yang mainnya paling lama" ucap Randi
"Iiiiiiihhh, apaan sih, gila kamu ih, sembarangan saja bicara mu itu" ucap Arni sambil mencubit perut Randi
"Aw aw Aw,,, sakit sayang" ucap Randi
Sean dan Lena pun hanya mesem saja melihat tingkah mereka, dan mereka pun segera bergegas untuk memesan kamar untuk mereka
Dan segera ke kamar Hotel untuk bermalam di sana
.
~
Sementara di tempat Lain, di ruangan sebuah klab yang remang, terduduk seorang pria bermantel hitam dengan sebuah Serutu di mulutnya yang sedang di nyalakan oleh seorang wanita malam
"Bos, pria itu benar benar masih hidup, dan tanpa kekurangan suatu apapun" ucap seseorang yang baru saja datang ke ruangan itu, dia juga duduk di kursi paling dekat dengannya, dan meletakan jasnya di sana" ucap pria itu
"Dia memang selalu beruntung, tapi kita lihat saja, sampai di mana batas keberuntungan nya itu, aku ingin mlihat dia cacat seumur hidupnya, dan merasakan apa yang ku rasakan setelah dia mematahkan lengan dan kaki ku," ucap Pria itu
"Ya, kita tentu akan membuat dia merasakan cacat seumur hidup" ucap Roland
"Jangan sebut aku Leon jika tidak bisa melakukan apa yang ku inginkan, aku tidak akan berhenti sampai aku bisa melihat dia hidup seperti itu" ucap Pria itu yang tidak lain adalah Leon
"O yah, istrimu terlihat sangat cantik menggunakan gaun itu, aku ingin menyentuhnya Malam ini, jadi buat dia tidak sadar seperti biasanya" ucap Leon
"Kurasa lebih tepatnya dia istrimu, bukan istriku, Kenapa lu ketagihan menyentu wanita itu, apa enaknya meniduri wanita patung yang tidak breaksi apapun saat dia di sentuh, bahkan saat dia sadar pun aku tidak merasa ada kepuasan setelah bermain denganya, meskipun dia memang cantik, tapi aku masih lebih puas bermain dengan pecun yang kita pelihara" ucap Roland
"Diamlah, aku menyuruh mu menikahinya hanya supaya aku bisa menyentuh nya, bukan untuk membandingkan dia Dengan pecunmu di sini, dia berbeda" ucap Leon
"Baiklah, aku akan tetap ikuti permainan mebosankan mu ini, sampai kapan pun" ucap Roland tersenyum, mereka pun segera beranjak dari ruangan itu, dan bergegas pergi ke rumah di mana Rania tinggal
Leon adalah putra dari Goma, atau kakak dari Tiara yang sangat terobsesi pada Rania, Karena menurut nya Rania itu satu satunya wanita yangembuat dia penasaran, karena dia teramat susah di taklukkan olehnya, tidak seperti wanita lain yang bisa dia dapatkan dengan mudah hanya dengan mengimingi mereka uang,, tapi Rania memang bukan wanita seperti itu, dan Rania sangat membenci Leon setelah Sean mengungkap semua kebusuakan Leon pada Rania dulu, Leon memang menjadikan wanita hanya sebagai pemuas nafsu sesaat nya saja, dan juga Sean mengungkap cara cara licik Leon untuk mendapatkan Rania,
Termasuk menyingkirkan siapapun pria yang berani dekat dengan Rania, Sean juga pernah hampir beberapa kali di celakai Leon, meskipun pada dasarnya Leon tidak pernah menggunakan tanganya sendiri, karena dia memang hanya bisa bersiasat, dan sama sekali tidak bisa bertarung,
__ADS_1
Dan Sean pernah mematahkan tangan dan kakinya setelah dia berani menculik Rania dulu, dan juga memasukannya ke penjara, namun dia bisa berhasil mencelakai Sean terakhir kali dengan rencana ekstrim itu
Dan Roland adalah teman sekaligus tangan kanan Leon di dalam dunia bisnis gelap, mereka dulu berjaya sampai akhirnya Leon harus di penjarakan Sean, ,, dan sekarang mereka meneruskan kejayaan mereka setelah Leon betrhasil keluar dari penjara berkat Roland , mereka memang partner yang saling menguntungkan, jika Roaland berkemampuan pisik yang hebat, Leon lebih ke pemikirannya yang menakutkan
.
~
Keesokan paginya di sebuah kamar hotel nan mewah terlihat Lena yang masih memeluk suaminya di tempat tidur, dan dia dia sudah terbangun lebih dulu
Perlahan diapun mendekatkan bibirnya pada telinga Sean yang masih terlelap "Bangun sayang, kita mandi" bisik Lena di telinganya
Seketika Sean pun membuka mata dan langsung menoleh ke wajah istri imutnya itu, "Sudah subuh ya?" ucap Sean sambil memeluk lagi istrinya
"Iya, ayo bangun" ucap Lena
"Apa tidak ada perpanjangan waktu?" tanya Sean asal
"Tidak, ini sudah subuh sayang, ayo bangun, kita mandi" ucap Lena
"Baiklah" Sean pun mengecup kening Lena dan kemudian bangkit untuk mengikuti Lena ke kamar mandi
.
Setelah mereka keluar Hotel, mereka pun segera kembali Ke mansion Kartina lagi
"Pagi bu" Sapa Sean pada Kartina yang duduk di depan meja makan
"Pagi sayang, kebetulan sekali ibu mau sarapan, apa kalian sudah sarapan?" tanya Kartina
"Belum bu, Arman Sengaja tidak sarapan di hotel, rasanya ingin sarapan pagi bareng ibu di sini" ucap Sean
Mereka pun segera mengambil sandwich sebagai sarapan pagi mereka
"Oh iya bu, Kantor sekarang di atur siapa?" tanya Sean
"Tadinya Mamah suruh bi Irna yang handel, tapi bi Irna suruh ifan yang pegang sementara, ya walupun dia sebenarnya belum bisa di andalkan, tapi bi Irna juga yang mengontrol dia kali kali kesini, itung itung Irfan belajar mungkin" ucap Kartina
"Oh,, kalau gitu Aku akan melihatnya hari ini" ucap Sean
"Aku ikut sayang" ucap Lena
"Boleh, O yah kamu kapan rencana tugas lagi, atau mending kamu punya rumah Sakit sendiri, biar kamu yang mengatur sendiri, dan kamu tidak harus di atur atur orang lain" ucap Sean
"Tidak Sayang, Lena belum siap, Lena masih perlu banyak belajar kan" ucap Lena
"Baiklah, selama kamu belajar, aku akan membangunkan Rumah sakit yang besar untukmu" ucap Sean
"Tapi.....
"Tidak ada tapi tapian" ucap Sean "Betul kan bu?" tanya Sean pada Kartina
"Iya, ibu sangat setuju, reputasi mu cukup bagus di kedokteran, dan keluarga kita juga Belum punya rumah Sakit pribadi, jadi apa salahnya membangun rumah Sakit atau membelinya untuk kamu kelola kan?" ucap Kartina
Lena pun hanya tersenyum Bingung, karena menurutnya itu sedikit berlebihan
Setelah Mereka selesai sarapan, Sean dan Lena pun segera bersiap dan langsung berangkat menuju ke kantor Kartin.corp,
Dan mereka berdua pun sampai di gedung kantor KARTIN_corp pusat setelah beberapa saat Sean memacu mobil Koenigsegg nya, merekapun segera memasuki lobi dan langsung ke meja resepsionis dengan Lena yang terus menggandeng tangan Sean
Beberapa karyawan yang belum tau kalau Sean sudah kembali pun sontak tercengang dan keheranan, karena melihat pemimpin terdahulu mereka tiba tiba kembali setelah sekitar 4 tahunan di kabarkan meninggal karena kecelakaan
__ADS_1
"Dina, apa ifan ada di ruangannya?" tanya Sean pada salah satu resepsionis
Dina dan 2 rekannya pun hanya tercengang dan membelalakkan matanya pada Sean
"Pa pa pak direktur??, Anda pak direktur kan??" tanya Dina sampai tergagap karena sedikit kaget melihat wajah atasan yang sangat baik pada semua pekerja itu
"Iya, Saya akan menemui ifan, apa dia ada??" tanya Sean basa basi
"A ada pak direktur, mari saya akan antar" ucap Dina
"Tidak perlu, saya bisa sendiri, kalau gitu saya langsung naik saja" ucap Sean
"I Iya pak direktur, silahkan" ucap Dina yang masih tidak percaya
Sean yang di gandeng Lena pun segera berlalu dari hadapan sang resepsionis
"Apa aku sedang bermimpi?" tanya dina pada Rekanya sambil melihat kearah perginya Sean
"Ku rasa tidak, itu sepertinya memang benar benar pak direktur" ucap Rekanya
"Iya, tidak mungkin mirip, kalau dia hanya mirip mana mungkin dia tau namaku dan pak ifan" ucap Dina
"Iya"
.
Sementara itu Sean dan Lena pun sudah sampai di lantai tertinggi di gedung KARTIN.corp ini, dan segera menuju ke Ruangan Presdir
Dan saat mereka sampai di depan meja semi lingkaran yang di diami elisa, dia pun langsung berdiri dari kursinya untuk menyambut Sean, dia pun menghampiri Sean lalu sedikit membungkukkan badan padannya
"Pak direktur, kenapa anda tidak kasih kabar dulu kalau hari ini akan ke kantor
"Aku hanya berkunjung saja elisa, belum berniat untuk memegang kendali kantor lagi, saya ingin bertemu Ifan, apa dia ada?" tanya Sean
"Kak Arman?, apa itu kamu?????" tanya Intan yang tiba tiba berdiri dari meja Asisten yang tidak begitu jauh, dia memamng belum dapat kabar kalau Sean kembali karena dia tidak di undang ke acara kemarin
Intan pun langsung melangkah menghampiri Sean dengan tatapan seperti melihat hantu saja,
Sean pun menoleh "Intan, kamu di sini?" tanya Sean
"Benar benar kak Arman" Intan pun langsung saja memeluk Sean tampa memperdulikan Lena yang masihenggandeng Sean, "Kak Arman kemana saja?, Intan kangen banget Kenapa kakak baru muncul, Intan pikir kak Arman enar benarsudah meninggal" ucap gadis cantik yang berambut panjang, dan mempunyai gigi kelinci yang unik itu
Lena yang melihat Suaminya tiba tiba di peluk orang lain pun sedikit tidak Rela
"Hey Hey, kenapa main peluk peluk segala, dia suamiku??" ucap Lena yang seperti kebakaran jenggot
"Tidak apa Len, dia sepertinya memang merindukan ku" ucap Sean yang diam saja di peluk oleh Intan
Lena pun langsung mencubit tangan Sean "Apa Kamu tidak menghargai aku sedikit pun?" ucap Lena sambil cemberut
Sean pun sadar kalau Lena sedang salah paham sekarang dan belum mengingat siapa yang memeluk Sean itu, diapun mencoba melepaskan pelukan Intan dan meraih pundaknya
"Len, apa kamu tidak kenal dia siapa?" tanya Sean
"Tidak, memangnya kenapa kalau Lena kenal, kamu jangan Deket Deket dia ih sayang" ucap Lena benar benar di buat cemburu, dan menarik tangan Sean dari Intan
"Len, dia putrinya bi Irna, intan, masa tidak ingat" ucap Sean
"Intan?? maksudnya adik sepupumu??" Tanya Lena
"Iya kak, masa kak Lena lupa sama Intan Yang imut ini" ucap Intan dengan tersenyum
__ADS_1