
Sementara itu di halaman sebuah Rumah kecil semi permanen, terlihat seorang gadis belia dan ibunya yang sedang menjemur ikan di halaman Rumah itu, dia sibuk membolak balik ikan untuk di awetkan, di atas alas bambu di bawah terpaan sinar matahari yang begitu terik di siang ini,
"Rumi,, kamu diemin Albi sana, dia tidak mau diem kalau Kansa yang jaga, suruh Kansa yang kemari bantuin ibu" ucap bu Ratna yang mendengar putra bungsunya menangis terus di dalam rumah
"Iya" ucap Rumi yang segera masuk kedalam Rumahnya
Di sela-sela aktivitasnya mebalik ikan, bu Ratna melirik ke kejauhan ke arah Jalanan yang mengarah ke arah rumahnya, dia sedikikit heran melihat orang-orang yang berkerumun dengan di dominasi oleh orang-orang yang berpakaian hitam hitam, mereka semua berjalan persis ke arah rumahnya dan beberapa orang dari mereka juga menatapnya lekat kepadanya dari kejauhan
Bu Ratna pun merasa tidak enak hati melihat gerik orang-orang itu
"Pak ayo masuk rumah, sepertinya ada bos Rentenir yang datang kemari" ucap bu Ratna pada pak Yunus yang sedang memperbaiki jala
"Memangnya kenapa bu, kita kan sudah membayar hutang kita, apa ibu sudah ngutang lagi??" tanya pak Yunus
"Tidak, aku tidak pinjem uang lagi, mana ada aku ngutang, uang dari Dampar yang sisa memperbaiki rumah itu sudah cukup untuk melunasi hutang kita" ucap bu Ratna
"Ya Sudah, tidak perlu takut kalau tidak punya kan?" ucap Pak Yunus
"Tapi mereka hanya menatap ke rumah kita saja pak, ibu mau masuk saja ah, aku tidak mau ada urusan lagi dengan lintah darat,, kalau bapak tidak mau masuk, bapak ladeni mereka saja kalau mereka benar-benar kemari" ucap bu Ratna yang segera masuk ke dalam rumah kecil itu
Tidak lama rombongan Sean pun kini sudah berada di depan rumah sederhana yang sudah terlihat di renovasi itu, tapi tetap saja masih tidak nyaman jika di lihat oleh mata Sean
Sean pun memperhatikan setiap sudut rumah yang pernah dia tempati sebelumnya itu, dan dia mendapati Pak Yunus yang sedang fokus merajut jalanya di bale samping rumah
Sean pun melangkah dan menghampiri pak Yunus
"Pak Yunus" sapa Sean
Pak Yunus pun seketika menoleh kepada pria tampan bersetelan kemeja elegan dengan rambutnya yang di siaiar rapih itu, "Ada apa ya pak, apa anda mau cari istri saya, Sebentar ya pak, saya panggilkan dulu" ucap pk Yunus yang langsung beranjak dari duduknya, dia sama sekali tidak mengenali wajah Sean sekarang
Tapi Sean langsung meraih tangan pak Yunus, dan langsung mencondongkan badanya untuk mencium tangan pak Yunus
Pak Yunus pun sampai terkesima karena tangannya yang hitam akibat terbakar sinar matahari itu di cium oleh pria yang berpenampilan elegan ini
"Saya Arman pak Yunus" ucap Sean tersenyum
"Arman Siapa pak?, spertinya bapak ini salah mengenali orang, saya rasanya tidak pernah bertemu bapak sebelumnya" ucap Pak Yunus
"Pak Yunus, ini aku Dampar" ucap Sean
"Dampar,????" pak Yunus pun menatap lekat wajah Sean yang tidak terlihat sama seperti sebelumnya "Anda Tampan sekali pak Arman, apa lah ini wajah asli anda" ucap Pak Yunus yang sudah mulai ingat kalau Nama Asli Dampar adalah Arman
"Tidak perlu panggil saya pak Arman, panggil saya seperti biasanya saja pak, Dampar" ucap Sean
"Iya Iya, kamu Dampar ya, Rumi pasti senang ini" ucap Pak Yunus segera beranjak ke pintu Rumahnya dengan girang "Rumi, Rumi, buka pintunya nak, ini kakak mu datang" ucap Pak Yunus sambil menggedor pintu rumahnya, bu Ratna memang menguncinya karena takut kalau Sean adalah Rentenir yang akan merayu mereka untuk pinjam uang lagi
__ADS_1
"Aduuuuuuh,, ini kenapa pintunya di kunci segala, bu, buka pintunya, ini Dampar yang datang" ucap Pak Yunus
Dan setelah nama Dampar itu di sebut, barulah Rumi membuka pintunya "Mana?, di mana Kak Dampar pak??" tanya Rum terlihat sumringah sambil memperhatikan ke kerumunan dan kesetiapal orang yang ada di halaman, Namu dia tidak menemukan sosok pria yang mempunyai bekas luka bakar di wajahnya
"Mana pak, apa bapak bohongi Rumi??" ucap Rumi langsung memurungkan wajah
"Kakak mu yang Itu Rumi" ucap Pak Yunus menunjuk dengan ibu jarinya pada Sean
Rumi pun menoleh pada satu pria yang terpisah dari kerumunan itu dan memperhatikan wajahnya, "Bapaaaaak, kenapa bohongi Rumi?, Rumi bukan anak kecil pak, Rumi kenal kak Dampar" ucap Rumi kecewa
Sean pun tersenyum dan menghampiri Rumi "Cabi, apa kamu sudah sembuh sayang?" tanya Sean sambil mengusap kepala Rumi
"Kakak ini siapa?, kenapa tau nama panggilan ku" tanya Rumi heran
"Siapa lagi yang suka memanggilmu begitu kan, aku kakak mu, Dampar!!" ucap Sean
Rumi pun langsung memperhatikan wajah Sean dengan Sangat teliti, tapi tidak ada bekas luka sedikitpun di wajah Sean sekarang, dia hanya melihat wajah yang tampan dan mulus, tidak ada bintik hitam dan putih atau setitik pun bekas luka
"Kakak jangan bohong, Rumi sangat kenal dengan kakaknya Rumi" ucap Rumi
"Kamu yang bohong, kalau kamu kenal kakakmu, harusnya kamu juga mengenali ku" ucap Sean
Rumi pun termenung sejenak, dan mengingat kalau Suara itu memang suara kakaknya "Apa benar kakak ini kak Dampar?, kenapa sekarang jadi tampan begini??" tanya Rumi sambil terus memperhatikan wajah Sean
"Apa kakakmu ini harus tetap buruk rupa?,, baru kamu akan menganggap aku ini kakakmu?" ucap Sean malas
"Cabi, anggap saja aku masih buruk rupa seperti dulu, tutup matamu dan beri pelukan pada kakakmu ini" ucap Sean
Rumi pun menurut dan langsung memeluk Sean "Rumi, Rumi sangat kangen kak Dampar, kenapa perginya lama sekali" ucap Rumi dengan sedikit malau malu, karena dia belum terbiasa dengan penampilan Sean yang jauh berbeda dari sebelumnya itu
Sementara di kerumunan ada Wanita yang seperti sedang kebakaran jenggot, dengan menatap tajam pada Sean "Awas kamu, kenapa harus ada acara peluk pelukan segala?" umpat Lena
Rania pun tersenyum "Len, jangan gitu, bagaimana pun juga adik itu mungkin sudah membantu banyak hal untuk Seanmu kan, kamu harusnya berterimakasih padanya" ucap Rania mencoba mendinginkan Lena
"Iya sih, kenapa bukan Lena saja ya yang merawat kak Sean yang terluka dulu, aku kan dokter" ucap Lena malas
"Sudah sudah, ayo kita ke sana, kita berhutang terimakasih pada mereka kan?" ucap Rania
"Baiklah" ucap Lena, dia memang cenderung kekanak kanakan saat di situasi tertentu, beda dengan Rania yang selalu bersikap lebih dewasa darinya, dan karena itulah Lena selalu nyaman dengan sosok Rania yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri ini
Rania, Lena, dan Nayra pun menghampiri mereka
"Pak, bu" sapa Lena dan Rania serempak menyapa pak Yunus dengan mengangukan kepala, dan memberi salam pada Bu Ratna
"Kalian cantik cantik Sekali, apa kalian saudaranya nak Dampar?" tanya bu Ratna yang juga masih sedikit tidak percaya kalau pria yang bersama Rumi sekarang adalah Dampar
__ADS_1
"Bukan Bu, Yang pendek imut itu namanya Lena, dia istriku, sementara yang Tinggi putih ini namanya Rania, dia ibu dari anaku" ucap Sean memperkenalkan mereka
"Kamu punya dua istri Dampar?" tanya Pak Yunus
"Satu kok pak" ucap Sean
"Satu gimana, jelas jelas ini 2" ucap pak Yunus
"Kan sudah kubilang, Lena memang istriku, dan yang di sebelahnya itu ibu dari anaku" ucap Sean keukeuh dengan penjelasanya, Karena dia merasa tidak enak jika menyebut Rania itu dengan panggilan mantan
"Kamu Ini, terus apa bedanya?, intinya tetap sama kan? ada ada saja kamu" ucap pak Yunus yang mengira kalau Sean bergurau
Sean pun hanya tersenyum bingung "Ya maksud ku.......
"Lebih tepatnya saya ini mantan istrinya pak, dan kebetulan saya sudah melahirkan putrinya ini" ucap Rania menjelaskan dengan menepuk bahu Nayra yang di depannya
"Begitukah?, Cantik sekali putrimu Dampar," ucap bu Ratna sambil menurunkan badanya agar sejajar dengan Nay, dan meraih tangan imutnya "Siapa namau sayang" tanya Bu Ratna
"Nayla" ucap Nay Singkat
"Nama yang lucu, Tapi kalian kok bisa akur gini ya?" tanya bu Ratna bingung sendiri
"Ya begitulah, akan teramat panjang kalau harus di bahas sejarah nya bu" ucap Sean asal "O yah Cabi, bukan kah kamu ingin bertemu dengan dokter yang mengobatimu sebelumnya?" tanya Sean pada Cabi yang masih di sampingnya
"Iya kak, apa dokter itu juga datang kemari?" tanya Rumi
"Kebetulan dia ada di depan mu, dia kakak ipar mu juga, dokter Lena" ucap Sean
"Benarkah??" Rumi pun langsung mendekat ke hadapan Lena "Benarkah kakak dokter Lena itu?" tanya Rumi
"Iii Iya Rum" ucap Lena ragu
Rumi pun langsung memeluk Lena juga "Terimakasih dokter Lena,, Rumi tidak tau apa yang akan terjadi pada Rumi kalau tidak ada dokter Lena, Rumi tidak sangka kalau yang membatu Rumi adalah kakak Rumi juga" ucap Rumi dengan mata berkaca-kaca
Lena yang tiba tiba di peluk Rumi pun sedikit kaget "Ii itu memang sudah tugas kakak, Rumi,,,,, harusnya kakak yang berterimakasih banyak padamu, karena kamu sudah merawat suami kakak saat dia terluka" ucap Lena yang juga balas memeluk Rumi
"Tidak perlu terimakasih, dia kakaknya Rumi juga" ucap Rumi
Rumi memang satu satunya di rumah ini yang selalu siap siaga mengurus keperluan Dampar saat dia terluka, karena pak Yunus dan bu Ratna memang punya kesibukannya masing masing, jadi mereka tidak bisa terlalu fokus untuk mengurus Dampar sepulang Dampar dari Puskesmas setempat
Rumi melepas pelukannya dari Lena dan meraih tangan Lena "Kak Lena, apa kakak tau, Rumi sangat mengagumi dokter seperti kakak ini, Rumi juga bercita cita ingin jadi dokter seperti kakak"ucap Rumi
"Kalau gitu kamu harus belajar dengan giat, dan teruslah kejar cita citamu itu, dengan begitu kakak yakin kamu pasti bisa mewujudkan cita-cita mu" ucap Lena
"Iya" Rumi pun memeluk Lena lagi
__ADS_1
Sean pun tersenyum memperhatikan mereka yang berpelukan itu, tinggi badan Rumi telihat hampir sebanding dengan Lena meskipun Rumi itu masih remaja, karena Lena memang mempunyai postur tubuh yang tidak terlalu tinggi