
Sean pun membawa mereka semua untuk ke tempat yang di instruksikan pak Harjo, dan tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di sebuah kantor urusan agama kota B
"O yah, apa kamu belum membeli cicin untuk nikahanya,?" bisik Lena
"A iya, aku lupa, kalian turun saja dulu, aku akan mencarinya" ucap Sean
"Baiklah, usahakan ukuranya sama persis dengan ini" ucap Lena memperlihatkan cicin nikah yang dari Sean juga
Melihat itu Sean jadi teringat Cicin nikahnya juga, diapun melihat jarinya sendiri, dan memang tidak ada cincin di jarinya itu 'Harusnya cicin yang sama ada pada jariku juga kan, tapi kenapa aku tidak melihatnya semenjak aku sadar di pulau BB, kamana cincin itu?' pikir Sean
"Hey, kenapa melamun, apa kamu keberatan membeli yang seperti ini?, kalau kamu merasa begitu kamu beli yang biasa biasa saja, dan juga aku tidak minta model, yang penting ukuranya saja sama" ucap Lena
"Oh, Iya," ucap Sean, dia melamun bukan masalah tidak sanggup membeli cicin yang sama, tapi sedang mengenang pasangan cincin itu yang tidak di temuinya di jarinya
Setelah keluarga Lena turun, Sean pun kembali melajukan mobil untuk mencari toko perhiasan terdekat, dan dia pun segera membeli 2 buah cicin simpel dengan bertahtakan berlian kecil yang cantik, dan tidak kalah bagus dari yang sebelumnya, dia juga mengambil uang Kes untuk mahar Lena
Setelahnya, dia pun langsung bergegas kembali untuk melaksanakan akad nikah yang di inginkan Lena, mereka pun segera masuk ke dalam kantor, dan segera melakukan prosesi akad,
Setelah mereka di sahakan saksi mereka pun segera keluar dari kantor UA Itu,
Terlihat Lena yang menitikan Air dari sudut matanya dengan membawa 2 buku nikah di tanganya, hingga sampai mobil pun air matanya itu masih terlihat merembes keluar
"Len, kamu kenapa menangis terus, bukan kah ini yang kamu inginkan, ada apa?" tanya bu Naya
"Tidak Apa mah, Lena hanya sedikit terharu" ucap Lena
"Ya Sudah, kita pulang sekarang" ucap bu Naya
Sean pun sadar kalau seperti ada pikiran yang sedang mengganggu Lena, sayang nya dia tidak bisa menebaknya sekarang, mata batinya sedikit tumpul karena kepekaanya memang tidak pernah di latih lagi selam dia kehilangan ingatan
"Pak, Mah, Lena harus kembali lagi ke kota J Setelah ini, tidak papa kan?" ucap Lena
"Tidak papa Sayang, pergi saja, mamah tau kamu punya tanggung jawab di rumah Sakit kan?" tanya Bu Naya
"Iya mah" ucap Lena
Sean pun segera mengantar kembali orang tua Lena ke rumahnya, dan Setelah itu Sean pun membawa Lena kembali menuju ke kota J lagi, namun yang jadi perhatian Sean adalah Lena yang tak henti-hentinya menitikan Air mata sepanjang perjalanan dengan terus melihat 2cincin yang tersemat di jari manisnya sekarang
Sean pun menghentikan sejenak mobilnya di pinggir jalan
"Kenapa berhenti?" tanya Lena
"Dokter Lena, kalau kamu merasa pernikahan ini hanya jadi beban, kenapa harus tetap di lakukan??" tanya Sean
"Bukan begitu, aku hanya teringat kembali pada seseorang yang pernah menyematkan cicin yang sama di jariku ini, aku tidak menganggap ini beban, karena mungkin ini sudah jadi jalan takdirku yang harus tetap ku jalani, mungkin aku harus melepas satu cicin ini, aku merasa sangat bersalah jika harus memakai keduanya sekaligus" ucap Lena
__ADS_1
"Dokter, jika melepas cincin itu terlalu berat, kenapa harus di paksakan, biarkan cincin itu tetap tersemat di jarimu, aku yakin orang yang pernah memakaikan cincin itu, tidak akan keberatan jika harus ada satu cincin lagi yang mendampingi nya di sana" ucap Sean
"Apa menurutmu begitu?" tanya Lena
"Ya, kurasa cicin itu malah akan senang karena tidak sendirian lagi" ucap Sean asal
"Memangnya cicin ini hidup apa" ucap Lena
"Bukan cincinnya yang hidup, tapi kenangannya, sudahlah, hapus air matamu, atau aku yang akan merasa terus bersalah pada dokter" ucap Sean
"Iya, terima kasih, kamu memang mirip dwngan dia yang bisa dan selalu menenangkan ku di setiap ada keraguan di hatiku" ucap Lena
"Baiklah, aku juga tidak akan keberatan jika kamu mau menganggapku dia yang kamu Maksud" ucap Sean
"Itu tidak mungkin,,, sudahlah, ayo jalan" ucap Lena
"Baiklah" Sean pun kembali melajukan mobilnya lagi, dan Lena juga perlahan mengehentikan tangisnya
Tidak terasa merekapun akhirnya kembali memasuki kota J saat hari beranjak sore, dan Sean pun membawa mobilnya menuju ke Mansion ibunya lagi, karena Lena juga tidak bilang dia ingin kemana, karena sepanjang perjalanan Lena hanya terlihat melamun
"Sudah samapi dok" ucap Sean
Lena pun langsung tersadar dari lamunanya "Sampai di mana?" Lena pun langsung memperhatikan ke luar mobil, "Kenapa kita ke Mansion?" tanya Lena sedikit gugup
"Dokter tidak bilang mau kemana kan, jadi aku ajak kesini saja, memangnya kenapa kalau kesini?" tanya Sean
"Baiklah, bisa di atur," ucap Sean yang juga sebenarnya ragu untuk memberi tau ibunya soal ini
Mereka berdua pun akhirnya turun dari mobil dan melangkah bersamaan menuju ke teras Mansion
"Kamu kenapa ikut kemari, buaknya tugasmu jaga di depan?" ucap Lena pada Sean yang juga berjalan di sampingnya
"Aku harus memastikan kalau dokter Lena sampai di depan pintu dengan selamat, bukannya apa apa, sekarang bu dokter ini kan istriku?" ucap Sean mesem
"Mamamaaaaah" triak Nayra yang melihat Lena pulang dan langsung berlari kecil menghampiri nya "Mamah Dali mana, kenapa tinggalin Nayla nya lama?" ucap Nayra
Lena pun langsung menyambut Nayra dan langsung menggendongnya "Maaf sayang, kemarin mobil mamah mogok di kota BG, jadi mamah menginap di sana, kamu tidak Nakal kan?" tanya Lena
"Tidak, Nayla Baik" ucap Nayra
"Kamu tidak dapat masalah di sana kan Len?" tanya Kartina yang beranjak dari kursi teras dan mengikuti Nayra
"Kemarin ada masalah sedikit sih mah, tapi tidak papa kok" ucap Lena tidak terlalu menjelaskan
"Syukurlah, apa kalian memang sedekat ini sekarang" ucap Kartina yang melihat Sean sedang mengisengi Nayra yang di pangkuan Lena, dan berada sangat dekat dengan Lena
__ADS_1
"Hah??, ti tidak mah kami tidak dekat" ucap Lena sedikit gelagapan
"Kamu sana pergi ke depan, kenapa kamu masih di sini" bisik Lena yang takut di curigai
Sementara Sean tidak terlihat risih, "Tidak papa, ibu tidak akan curiga, aku pengawalmu kan" bisik Sean
dan 'Haciuuuhhh' "Aduh Ini sangat menggangguku" gumam Sean
"Kamu kenapa Man, apa kamu tidak enak badan?" tanya Kartina
"Iya sedikit bu" ucap Sean
"Oh, kalau gitu kamu istirahat dan minum obat di dalam sana, apa perlu ibu panggilkan dokter?" ucap Kartina
Lena pun sampai bingung 'Apa mereka seakrab ini,?, kenapa mamah sangat perhatian padanya?, apa mamah juga merasa kalau Dampar sangat mirip putranya?' pikir Lena
"Tidak perlu panggil dokter lagi, kan dia sudah ada di depanku" ucap Sean
"Ihh, apaan sih, aku dokter bedah, bukan dokter ingus" ucap Lena sambil melangkah menjauh dari Sean karena takut di semprot lagi oleh bersin Sean,
Dia pun mendekat pada Kartina untuk menyalaminya
"Ya Sudah ayo masuk, ibu suruh Darmi siapin Air hangat untukmu nanti" ucap Kartina
"Baik, terima kasih" ucap Sean 'Haciuuuhhh' Sean mengosaok hidungnya
Mereka pun segera melangkah memasuki Mansion dan duduk di sofa, Kartina dan Lena duduk bersebelahan dengan Naira di pangkuan Lena, sementara Sean tetap berdiri mendalami karakternya
"Dia tidak henti-hentinya menanyakan mu terus malam tadi, mamah sampai khawatir padamu, takutnya Nayra merasakan kalau ada apa-apa denganmu" ucap Kartina
"Sungguh?, Nayra khawatirkan mamah ya?" tanya Lena pada Nayra
"Iya, nay khawatir" ucap Nayra yang mungkin sudah ada ikatan batin dengan Lena
"O yah Man, Ada kue di mobil untuk Nayra, aku lupa bawa tadi, tolong ambilkan gih" ucap Lena
"Siap bu dokter" ucap Sean, dia pun langsung beranjak dari sana
"Mah, kenapa mamah terlihat sangat baik pada Dampar?" tanya Lena
"Dampar siapa?" tanya Kartina Heran
"Itu yang mamah panggil Man itu nama Aslinya Dampar, aku melihatnya di kartu identitas nya" ucap Lena polos
"Oh, ya mungkin" ucap Kartina belum mau menjelaskan,
__ADS_1
Kartina dan Lena pun kini punya rahasia di hati masing-masing yang sebenarnya saling berkaitan,, jelas namun rumit