TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Kakak Pertama


__ADS_3

Sean pun makan bersama keluarga angkatnya di sore itu, kang Rawing juga ikut serta di acara makan dadakan itu, momen makan seperti itu cukup Sean rindukan, karena dari kecil mereka selalu makan bersama seperti itu, hanya saja dua adiknya yang lain tidak bisa hadir karena mereka masih berada di pusat pendidikan nya masing-masing


Setelah mereka menyelesaikan acara makannya, Sean dan kang Rawing pun segera pamit keluar dan segera masuk ke mobil Wrangler Rubicon milik Sean, dan Sean juga segera melajukannya ke arah pegunungan terdekat untuk pergi ke hulu sungai yang tidak terlalu jauh dari pemukiman desa itu


Setibanya di dekat puncak, Sean dan kang Rawing pun turun dari mobil dan mereka masih harus berjalan melewati jalanan setapak di antara rimbunnya pepohonan pinus, dan semak belukar pun harus mereka lalui untuk sampai ke tempat yang di maksud oleh Kang Rawing, kang Rawing juga memetik beberapa jenis bunga yang di temuinya di sepanjang perjalanan mereka


Hingga Akhirnya merekapun tiba di sebuah sumber mata Air yang ada di gunung itu, air air yang keluar dari selah selah bebatuan kecil itu membentuk sebuah kubangan yang tidak terlalu besar, kira kira hanya berdiameter 1,5 meter saja, dan airnya terus mengalir ke aliran sungai ke bawahnya tanpa henti


Kang Rawing pun segera menebar bunga di kubangan mata air yang sangat jernih itu,dia membacakan ayat-ayat yang tidak bisa di dengar jelas oleh Sean, dan diapun mulai membuka helayan kain putih yang membungkus sepasang cincin besi kursani itu,


Dia mengambil 2 cin cin itu, dan membasuhnya satu persatu, dan perlahan tetapi pasti, cincin cincin yang hitam legam itu pun mulai menampakan warna aslinya, yaitu warna besi hitam yang sedikit mengkilat, dan yang satu lagi berwarna kuning keemasan


Cicin yang dari kang Rawing adalah cincin yang berwarna hitam mengkilat, sementara yang Sean rebut dari tangan Goma adalah yang berwarna keemasan, sama persis dengan yang di pakai oleh Tiara


Tidak lama kang Rawing pun menghentikan basuhnya pada cincin itu Setelah keduanya benar benar kembali ke warna aslinya, dia pun membacakan beberapa ayat lagi untuk memulihkan kekutan dari sepasang cicin itu,


"Alhamdulillah den, kekuatan cincin nya tidak terlalu sulit untuk di pulihkan" ucap kang Rawing


"Benar kah??, syukurlah kalau begitu" ucap Sean merasa senang karena kekuatan cincin nya bisa kembali lagi


"Ini den, ambilah" ucap Kang Rawing


"Apa akang tidak membutuhkan salah satunya" ucap Sean


"Untuk Apa den, akang sudah bukan jawara lagi sekarang, akang ingin menikmati ketenangan hidup seperti sekarang ini dari dulu, hanya saja hidup akang sebelumnya terlalu pedih den, makanya akang bertekad untuk menjadi kuat dengan cara memperdalam ilmu kebatinan ini, tapi sekarang kehidupan akang kan sudah lebih baik, jadi akang sama sekali tidak perlu barang bertuah seperti ini lagi sekarang, juga Aden kan nanti perlu kekuatan extra untuk melawan musuh Aden yang sekarang kan" ucap Kang Rawing


"Iya kang, akang memang selalu bisa menebak masalahku, kalau begitu terimakasih banyak untuk bantuan akang, saya bisanya hanya merepotkan akang saja" ucap Sean tersenyum malu malu, diapun segera menerima sepasang cincin itu lagi di tangannya


"Tidak perlu sungkan Den, kalau saja dulu Aden tidak mengalahkan Saya dalam duel, mungkin saya masih hidup sebagai jawara di jalanan, dan merasa kalau diri paling kuat den, dan pastinya banyak hal negatif yang akang masih jalanai, sekarang akang sudah punya pandangan lain tentang ilmu yang akang kuasai, akang ingin ilmu yang akang punya itu bisa membantu orang lain juga,, supaya akang bisa menebus semua kesalahan akang di masa lalu den" ucap Kang Rawing

__ADS_1


"Iya kang, saya salut dengan pemikiran akang yang seperti itu, ibarat kata akang mungkin sekarang sudah berisi tapi malah merendah, seperti ilmu padi kang," ucap Sean


"Kamu bisa saja, akang belum sampai ketahap itu den, O yah, ini sudah sore, kita langsung kembali saja ke desa" ucap Kang Rawing


"Iya kang, Mari" ucap Sean mempersilahkan kang Rawing untuk jalan terlebih dulu


Dan mereka pun segera berjalan menuju mobil Sean lagi, dan Sean segera membawa kang Rawing untuk kembali ke pemukiman penduduk lagi


Sesampainya di rumah orang tua angkat Sean lagi, mereka pun turun dari mobil dan langsung berjalan masuk ke pekarangan Rumah


"O yah, gimana kondisi perkebunan sekarang kang", tanya Sean


"Lumayan meningkat pesat den, di beberapa tahun belakangan ibu dan bapak Aden sudah membuka beberapa lahan perkebunan baru, ya bisa di bilang kalau perkebunan sekarang sudah lebih maju dari sebelumnya den" ucap Kang Rawing


"Syukurlah kalau begitu" ucap Sean


"Iya Den" ucap Kang Rawing


Sean pun langsung melihat ke arah pintu itu, Sean pun melihat dua gadis manis yang sekarang berdiri di sana, gadis yang satu mengenakan seragam sekolah menengah atas dengan jilbab toska di kepalanya, dia Isna, adik ke dua dari Sean,, sementara yang satu lagi berpakaian casual dengan sweter rajut dan bawahan jeans kulot, dan jilbab hitam terbalut di kepalanya, dia Aca adik pertama Sean, mereka memandang ke arah Sean dengan ekspresi yang kaget


Sean pun semakin mendekat ke Arah mereka "Aca, isna, kalian sudah Pulang ya??" ucap Sean


Dua gadis itu pun mendekat dan langsung memeluk Sean secara bersamaan "Kak Sean!!, kak Sean kemana saja??, kenapa baru pulang sekarang, Kami sangat rindu" ucap Aca sambil menjatuhkan air matanya


"Iya, kakak kenapa baru pulang?" ucap Isna juga menimpali dengan menitikkan air mata rindunya juga


Sean juga sedikit terharu karena mereka samasekali tidak berubah, dan tetap menganggap nya sebagai kakak pertama mereka


"Iya Iya maaf, kakak memang sedikit lupa jalan pulang selama beberapa tahun belakangan, dan kakak sebelumnya tinggal cukup jauh di luar pulau, kakak baru ingat pulang sekitar sebulan yang lalu, kebetulan baru bisa kemari sekarang" ucap Sean sambil menepuk nepuk punggung adik adiknya itu

__ADS_1


Mereka pun cukup erat memeluk Sean saking rindunya pada satu satunya kakak laki-laki yang mereka punya itu,


Sean pun jadi berpikir tidak enak jika langsung pulang malam ini juga, setidaknya dia menginap satu malam untuk mengobati rasa rindu semua keluarga angkatnya itu, dan sejujurnya Sean juga sangat merindukan mereka


"Sudah sudah, ayo kita masuk dulu, kalian baru pulang juga kan?, simpan dulu tas kalian" ucap Sean


Sean pun mengajak mereka masuk dengan tidak melepaskan tanganya dari pundak mereka


"Kalian sudah pulang ya, gimana, kaget tidak melihat kakak kalian pulang??" tanya pak Hardi


"Keanap bapak tidak langsung beritahu kami kalau kakak pulang" ucap Isna sedikit terisak


"Kalian kan sedang sekolah, kalau di beri tau nanti kalian malah bolos kan" ucap Sean


"Iya,, tapi setidaknya aku tidak akan ikut kegiatan dulu tadi, dan bisa pulang lebih awal" ucap Aca


"Iya Iya, kalian kan sudah pulang sekarang, jadi apa bedanya" ucap Sean


Mereka pun segera melangkah ke arah sofa ruangan dan duduk dengan tetap berdekatan


"Teh Lena kemana ka?, kenapa tidak kak Sean ajak kesini, aku juga sudah ingin bertemu dengan kak Rania, dengan Nayra juga" ucap Aca


"Iya, maaf, kakak memang tidak mengajak mereka, O yah Kamu sudah tau soal Nayra??" tanya Sean


"Sudah kak, Pas kak Rania melahirkan kami juga pergi ke kota J untuk melihatnya" ucap Aca


"Ooh, berati kalian lebih dulu tau soal Nay daripada kakak Ya," ucap Sean


"Iya, mungkin sekarang Nay sudah besar ya, pasti dia lucu" ucap Isna

__ADS_1


"Ya memang dia sangat lucu sekarang, kakak akan ajak mereka berkunjung kemari lagi nanti, sekarang memang kakak sedang ada masalah yang harus di selesaikan terlebih dahulu di kota J, baru kakak bisa tenang" ucap Sean


__ADS_2