TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Over Protektif


__ADS_3

Arfandi pun menatap wajah Kartina yang nampak menikmati momennya itu


Mungkin keadaan sekarang adalah puncak dari masa masa bahagia untuk Kartina, dia sudah mendapatkan semua yang dulu selalu dia angankan, anak, menantu, suami, serta cucu pun sudah berkumpul di istana megahnya itu


Tapi tidak banyak Orang yang tau, kalau Kartina dulu pernah mengalami hal yan paling sulit di dalam hidup nya, yang mungkin tidak semua orang sanggup bertahan di kondisi Sepertinya


Dia pernah kehilangan putra, kemudian di tinggal suami tanpa kabar yang jelas, dia pernah jatuh, dia pernah terpuruk,, dia juga pernah tidak punya apa apa, karena hampir semua aset yang dia punya saat itu dia pertaruhakan demi mencari putra tercinta nya, ya itu Arman Arfandi alias Sean,,


Dan mungkin memang inilah balasan dari semua kepedihan itu, dan sekarang hari hari yang indah pun siap dia jalani dengan putra, menantu, cucu, dan juga Suaminya, bisa di bilang kebahagiaan nya sekarang adalah kebahagiaan yang sempat tertunda



Hari demi hari, bulan demi bulan, Sean juga menjalani hari yang tenang bersama seluruh keluarga nya,


Perut Lena pun semakin hari semakin membesar saja, dan tidak terasa kandungannya pun kini sudah menginjak di usia sembilan bulan


Pagi ini, Seperti biasa Sean mejalanakan Rutinitas barunya, Sean setiap pagi selalu membawakan sarapan untuk Lena ke kamarnya, karena itu memang permintaan Lena Tempo hari


"Pagi sayang," ucap Sean sambil masuk dan menutup pintu dengan kakinya


"Pagi suami romantis ku" ucap Lena tersenyum


Sean juga tersenyum padanya dan terus melangkah menghampiri Lena yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur nya, dia sudah mengenakan Stelan dokter nya lagi, ya itu jas putih dan kerudung putihnya


"Kamu mau kemana?, apa tidak bisa istirahat total dulu dari tugasmu bulan bulan ini, perutmu sudah semakin besar sayang" ucap Sean yang melihat istrinya sudah rapih


"Aku masih kuat kok sayang, masih banyak orang yang membutuhkan tenaga ku di rumah sakit, tidak apa ya, bayiku juga senang menemaniku menolong orang" ucap Lena


"Iya, tapi kandungan mu ini, kalau tidak salah sudah masuk ke sembilan bulan kan??, Ayolah, apa salahnya istirahat dulu, aku mencemaskan keadaan mu dan bayimu juga" ucap Sean mencoba membujuk


"Ayolah suamiku, aku bosan jika harus berdiam diri di rumah, itu sedikit jenuh" ucap Lena kekeh


"Kamu memang bandel, ya sudah, sekarang kita sarapan dulu, baru aku antar kamu ke tempat tugasmu" ucap Sean


"Iya, terimakasih, O yah, ngomong ngomong, kamu semalam tidur di kamar Siapa?" tanya Lena


"Rania" ucap Sean


"Oh, berarti malam ini tidur di sini ya?" uca Lena


"Tentu saja" ucap Sean


"Baguslah" ucap Lena


"Aku sudah tidak tega melihat mu, tapi kenapa kamu masih bersemangat sekali untuk melakukan nya,??" tanya Sean


"Kan sudah ku jelaskan beberapa kali, kalau berhubungan di usia tua kandungan itu bisa mempermudah proses persalinan nanti" ucap Lena


"Tidak paham aku, juga kenapa kamu ingin melahirkan secara normal?, itu kan resiko nya tinggi, kamu pasti tau itu, kenapa kamu tidak operasi Caesar saja, itu bisa sedikit meringankan rasa sakit mu kan, dan juga waktunya bisa kita rencanakan dengan baik, kalau normal kan tidak tentu kapan dia mau keluar" ucap Sean


"Sayang, aku ingin melakukan itu karena aku ingin jadi ibu seutuhnya, ingin bisa merasakan rasanya melahirkan seperti ibu ku melahirkan ku, dan katanya kalau lahiran normal itu bisa memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak, dan aku menginginkan itu" ucap Lena


Sean pun menghela nafasnya "Baiklah, Terserah kamu saja, kamu memang tidak mengerti kekhawatiran ku" ucap Sean


"Semuanya akan baik-baik saja sayang, kak Rania juga dulu melahirkan normal, dan buktinya tidak ada masalah dengannya" ucap Lena


"Baiklah, baik,, ya sudah sekarang sarapan yah, kurasa aku tidak akan bisa merubah pendirian mu itu" ucap Sean


"Iya" ucap Lena


Sean pun segera menyuapi istrinya lagi dengan sepenuh hati,,


Lena juga seperti biasanya sangat lahap di suapi sarapan oleh Sean

__ADS_1


Dan setelah Lena membereskan sarapanya, Sean pun segera memapah Lena untuk segera turun dan berpamitan pada Kartina dan Arfandi yang di ruang makan,


Setelah itu mereka pun segera naik ke mobil Sean, dan segera berangkat


Sean selalu melajukan mobilnya perlahan saat mengantar Lena ke tempat tugasnya, dia memang terlalu mengkhawatirkan Lena


"Sayang, bisa lebih cepat sedikit tidak, sudah siang ini" ucap Lena


"Tidak, aku tidak mau terjadi apa apa dengan bayiku, jadi jangan protes, ya, yang penting sampai" ucap Sean


"Selalu saja begitu, aku jadi sering telat tau, malu kan sama tim ku yang lain" ucap Lena mengeluh


"Aku tidak peduli dengan timu atau siapa pun, kalau ada yang menegurmu karena kamu datang terlambat, bilang saja padaku, kalau perlu aku akan ambil alih rumah sakit itu" ucap Sean


"Gini nih, yang tidak Kusuka dari kamu, apa apa beli, apa apa ambil alih, ini soal tanggung jawab sayang, bukan soal materi" ucap Lena sedikit memanyunkan bibirnya


"Iya Iya maaf, aku salah," ucap Sean, dia pun berfokus kembali menyetir


Lena juga hanya memperhatikan trotoar jalan yang sedang mereka lalui, "Stop Stop," ucap Lena tiba tiba


Sean pun sedikit kaget dan langsung mengehentikan mobilnya "Ada apa sayang?, apa kamu mulas, apa kamu akan melahirkan?, apa, apa, yang harus kulakukan??" tanya Sean sedikit panik


"Tidak,, aku cuma mau cilok" ucap Lena menunjuk ke arah pedagang cilok yang ada di trotoar jalan


"Ya Ampun Lena, ku pikir ada apa, kita cari di tempat yang lebih nyaman saja ya, jangan di sini" ucap Sean


"Aku maunya itu,, kamu mah ih" ucap Lena manyun


"Apa itu keinginan bayimu lagi???" tanya Sean


Lena pun langsung mengangguk manja


"Hhhh, ya sudah, aku akan membelikannya" ucap Sean


"Bang, cilok" ucap Sean


"Berapa pak" tanya pedagang yang sudah sedikit tua itu


"Berapa ya,?" ucap Sean bingung, dia tidak tau seberapa banyak yang Lena inginkan


"Goceng pak" ucap Lena dari belakang Sean


Seketika Sean pun menoleh "Ya ampun, kenapa kamu turun?, kam tunggu saja di mobil" ucap Sean langsung memapah Lena


"Tidak mau" ucap Lena


"Ya Tuhan, kanapa istriku jadi pembangkang seperti ini" ucap Sean


"Apa???, tidak suka??" tanya Lena


"Suka, aku tetap suka" ucap Sean sedikit menekuk wajahnya


Setelah pesanan Lena di kemas Sean pun segera membayar nya


"Apa ada uang kecil pak, saya baru turun ini" ucap pedagang itu karena uang yang di berikan Sean pecahan 100ribu


"Uang kecil, tidak ada bang, ukuran nya sama semua, sebesar itu" ucap Sean asal


"Maksudnya nominalnya pak" ucap pedagang itu kesal


"Ya Sudah jangan di kembalian, bapak bagi bagi ciloknya saja sama orang sekitar sini, nanti di tambahin lagi uangnya sama suami saya" ucap Lena


"Oh iya, makasih bu, akan saya bagikan" ucap penjual cilok tersebut

__ADS_1


Sean pun langsung melirik Lena lagi "Apa ini keinginan bayimu juga?" tanya Sean


"Ini keinginan si abang, supaya dia bisa cepat menghabiskan jualannya, ya bang ya" ucap Lena


"Baiklah," ucap Sean datar


"Cilok, cilok, sok siapa yang mau cilok kesini saja, gratis, ayo" teriak Lena


Sean langsung menepuk jidatnya sendiri "Astagfirullah, sampai segitunya" gumam Sean pelan


Setelah ciloknya habis, Sean pun segera membayar semuanya, dan juga menambahkan uang pada abangnya, dan Setelah itu, mereka pun segera masuk lagi ke mobil Sean


"Katanya tidak mau telat, kenapa harus bantu jualan dulu" keluh Sean


"Tidak papah, sedikit membantu orang itu kan baik,, juga kan kamu bisa ambil alih rumah sakit kalau aku di tegur" ucap Lena datar


"Ya baiklah, ini memang bukan soal tanggung jawab, tapi soal materi" ucap Sean membalikan perkataan Lena sebelumnya


Lena pun hanya tersenyum mendengarnya, dan mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka yang tinggal beberapa puluh meter lagi itu


Setibanya di tempat Lena bertugas, Sean langsung turun dan membantu Lena untuk turun juga


"Aku bisa sendiri sayang," ucap Lena


"Tidak, aku bukan membantu mu, tapi membatu bayiku" ucap Sean


"Oh, jadi gitu ya sekarang, jadi mulai tidak peduli pada ibunya?" tanya Lena


"Salah lagi aku!,,, Iya aku membantu keduanya" ucap Sean


Setelah Lena turun, Sean pun segera memapah Lena lagi untuk masuk ke rumah sakit


"Sayang, bisa tidak kalau tidak terlalu begini, aku tidak selemah itu" ucap Lena yang sedikit risih dengan perlakuan Sean yang terus memapah nya berjalan


"Aku tau kamu kuat, tapi...."


"Len,, Lena" triak Gina dari pintu masuk Rumah sakit, kemudian dia pun bergegas menghampiri Lena dan Sean


"Len, aku nunggu kamu dari tadi lho, baru nongol aja, udah siang juga" ucap Gina


"Apa kamu tidak Lihat hah??, Lena sedang hamil besar, masih untung dia datang juga" ucap Sean membela


"Iya sih" ucap Gina


"Sudah, jangan di dengarkan Gin, aku telat terus juga karena suamiku ini nih, khawatir nya terlalu berlebihan" ucap Lena melirik Sean


"Len, aku hanya tidak mau kamu dan bayimu kenapa napa, itu saja" ucap Sean


"Ya tapi tidak perlu sampai over protektif juga kan?" ucap Lena


Sean pun menghela nafasnya "Iya, Baiklah, aku salah lagi,, Gin, jaga dia yah, awas kalau sampai Lena kenapa napa" ucap Sean


"Iya Iya tuan Dampar, aku akan menjaganya selalu" ucap Gina Sambil sedikit bercanda


Sean pun segera melepas Lena bersama Gina, dan dengan berat hati membiarkan mereka masuk ke rumah sakit


"Apa aku terlalu lebay ya??" gumam Sean sambil melihat punggung Lena


"Menurut ku tidak tuan, Anda sangat menjaga istri anda, dan itu wajar saja menurut ku" ucap Yuda dari belakang Sean


Sean pun menoleh pada Yuda dan satu Rekanya "Begitukah??, Tapi aku tidak meminta pendapat mu, juga kenapa masih di sini?, Nona Lena sudah masuk, cepat kawal" ucap Sean


"Oh iya, saya lupa tuan," ucap Yuda, dia pun segera bergegas masuk untuk mengawal Lena

__ADS_1


Sementara Sean segera naik ke mobilnya lagi, dan segera melajukannya untuk pergi ke kantor KARTIN_corp dengan kecepatan normal, karena memang sudah tidak ada Lena lagi di mobil itu, jadi dia tidak perlu berhati-hati lagi


__ADS_2