
…
Keesokan paginya Sean pergi ke markas Redbear pagi pagi sekali, dia langsung menuju ke tempat Roland yang di tahan di salah satu ruang tahanan yang ada di marakas itu, begitu dia sudah berada tepat di depan pintu masuk, Sean pun langsung mendengar percakapan Antara Tiara dan Roland di ruangan itu jadi diapun berhenti sejenak untuk sekedar ingin tau apa yang sedang mereka bicarakan
"Ra, jujur aku dari dulu sangat menginginkan mu" ucap Roland
"Cih,,Omong kosong apa yang kamu bicarakan itu" ucap Tiara ketus
"Ra, apa kamu tidak menyadarinya, atau kau sengaja tidak mau peduli kalau aku menyukai mu, katakanlah, apa kurangnya aku di matamu, kenapa dari dulu kau selalu menghindar dari ku??" ucap Roland yang sekarang bersandar di dinding ruang tahanan
"Suka katamu, setelah kau mempermainkan sahabatku, berani sekali kau bilang suka padaku, apa kau pikir aku wanita bodoh, jika kau ingin tau apa kurang mu, kau tidak ada bedanya dengan semua orang yang ada di Organisasi ini, bahkan lebih buruk" ucap Tiara sedikit meninggikan nada bicaranya
"Jadi artinya kau menyukai pria yang seperti si bedebah Sean Itu??" tanya Roland dingin
"Sekali lagi kau berani panggil dia bedebah , aku akan masuk untuk menghajar mu!!" ucap Tiara
"Lakukan lah, aku akan merasa senang di pukul olehmu, walaupun itu menyakitkan" ucap Roland
"Kau memang menyebalkan, kau sudah mebodohi Rania, Sekarang mau membodohiku dengan rayuan menjijikan mu itu, jangan harap aku akan termakan bualan mu" ucap Tiara
"Jujur,, Aku menikahi Rania bukan karena keinginan ku, tapi itu semua adalah keinginan kakak mu, percaya atau tidak, aku hanya pernah menyentuh Rania satu sekali saja, tapi kakakmu sudah sering menyentuh Rania saat dia tidak sadar" ucap Roland jujur
"Omomg kosong, Terus saja kau membual, aku tidak akan mpercayai sedikitpun kata kata.....
Sebelum Tiara menyelesaikan ucapannya, Sean yang sangat geram dengan perkataan Roland barusan pun langsung membuka kunci pintu sel tahanan Roland, dia tersulut emosinya karena mendengar Rania sudah di lecehkan oleh Leon
Tanpa basa basi Sean pun menghampiri Roland yang masih bersandar lemas di dinding,
"Ma mau apa kamu??" ucap Roland kaget
"Mau apa kau Bilang!!!!" Sean langsung saja memukuli Roaland yang sudah tidak bisa melawan itu
'Buk buk buk buk' "Aaa, aaa," hanya rintihan itu yang terdengar di dalam jeruji, Sean terus meluapkan emosinya pada tubuh Roland itu, dia terus menedng Roaland Yang sudah meringkuk di lantai
__ADS_1
Setelah puas menendang Roland Sean mencengkram erat kerah baju Roland dan menariknya kasar "Apa Kau Anggap Rania itu mainan yang bisa kamu pinjamkan pada orang lain sesuka hati mu, kau benar benar biadab Roland, kau memang pantas di hajar sampai mati" ucap Sean sangat marah, dan lanjut memukulnya lagi
"Ampun,, ampun,, tolong ampuni aku,, ini semua Rencana Leon, aku hanya orang kepercayaan nya saja" ucap Roland mencoba meminta belas kasihan, karena dia sudah benar benar babak belur sekarang
"Ternyata mudah sekali untuk membuatmu mengaku,"
ucap Sean
Tiara yang di belakang Sean mendekat dengan geram karena Roland menyebut nama kakaknya "Jangan bicara omong kosong, ini msalahmu, jangan melimpahkannya kesalahanmu itu pada kakaku" ucap Tiara juga ingin memukul Roland yang sudah babak belur itu
Tapi Sean langsung menahanya "Sudah Ra, kalau dia di pukul lagi dia akan benar-benar mati," ucap Sean menghalangi pergerakan Tiara
"Tapi aku harus memberi nya pelajaran juga, aku tidak terima kakakku di bawa bawa dalam masalah ini" ucap Tiara
"Ra, kakakmu memang terlibat dengan ini semua, termasuk kasus kecelakaan yang ku alami dulu, aku tau kakak mu masih menyimpan dendam padaku, dan sangat masuk akal jika dia juga ingin mempermainkan Rania, karena dia memang sangat terobsesi dengan Rania sejak dulu,, jadi aku akan menangkapnya dan menghajarnya juga walau pun aku harus di benci olehmu Ra, aku tidak peduli" ucap Sean, dia pun langsung keluar dari tempat penahanan Roaland itu
Tiara pun mengikuti langkah Sean itu di belakangnya "Sean, Sean, tunggu sebentar, aku yakin Roland hanya memfitnah kakaku saja, itu hal yang tidak mungkin dia lakuan, bukan kah dia cacad, mana mungkin dia bisa melakukan hal seperti yang di sebutkan Roland" ucap Tiara
"Paman mu Agam hanya mematahkan satu tangan dan satu kakinya saja, bukan berarti dia tidak akan sembuh kan,, juga yang membuat masalah dari kakakmu itu bukan tangan atau kakinya, tapi pemikirannya yang cukup cerdik, kalau kau tidak mau membantuku untuk menangkapnya, tidak apa, aku bisa sendiri melakukanya" ucap Sean tanpa menghentikan langkah kakinya, dan diapun segera ke luar dari gedung Redbear itu
Sean pun segera masuk ke mobilnya lagi "Mungkin sedikit sulit untuk bisa menangkapmu Leon, tapi bukan berarti itu tidak bisa" gumam Sean
Sean pun mengendarai mobilnya untuk kembali ke Mansion, dia ingin mengganti mobil Koenigseggnya itu dengan mobil Wrangler Rubicon, dia berniat pergi ke kota G untuk menemui kang Rawing di desa tempat ibu dan ayah angkatnya tinggal, karena di sanalah Sean bertemu dengan guru spiritual yang memberikannya ilmu kebatinan dan memberikan benda bertuah yang bisa melindungi dirinya itu dulu,,
Sean ingin mencari tau apa kah kekuatan benda bertuahnya itu masih bisa di pulihkan lagi atau tidak, karena Sean berpikir setajam apapun insting yang di milikinya sekarang, bukan hal yang mudah jika dirinya harus menghindari ratusan butir peluru dari anak buah Leon jika mereka menembak bersamaan, karean mereka memang cukup banyak dan bersenjata lengkap, jadi dia merasa butuh perlindungan ekstra untuk jaminan keselamatan dirinya di situasi tersulit
Sean masuk kedalam mansion untuk berpamitan terlebih dulu pada Lena dan ibunya
"Kamu sudah pulang lagi Sayang" sambut Lena yang duduk di ruangan keluarga dan melihat suaminya sudah kembali lagi, padahal belum terlalu lama dia pergi
"Iya Len, O yah, sebenarnya aku akan pergi ke desaku setelah ini, ada hal yang harus ku urus di sana, tidak apa kan?" ucap Sean
"Benarkah, kalau gitu aku ikut ya sayang, sudah lama aku tidak bertemu dengan ayah dan ibu angkat mu di sana" ucap Lena
__ADS_1
"Tidak Len, aku kesana mungkin hanya sebentar saja, malam harinya juga mungkin pulang lagi kemari, takutnya kamu hanya akan cape di jalan, jadi lain kali saja ya Len" ucap Sean
"Yah, sayang sekali, padahal Nay belum pernah kita ajak kesana kan" ucap Lena kecewa
"Len, aku ingin menyelesaikan dulu masalah yang ada di sini, aku pergi kesana ingin menemui kang Rawing untuk meminta bantuannya,, jika semua masalah nya sudah selesai, aku pasti akan mengajak Kamu dan Nay untuk berkunjung kesana" ucap Sean
"Oh, ya sudah kalau gitu," ucap Lena cemberut
"Jangan cemberut gitu dong sayang, masalah yang ku hadapi sekarang ini mungkin tidaklah mudah, kamu di sini saja baik baik yah, aku mohon pengertian dari mu,, O yah Ibu di mana Sayang?" tanya Sean sambil mencubit lembut pipi Lena
"Ibu di belakang dengan Nay" ucap Lena
"Oh, ya sudah aku pamit dulu ke ibu" ucap Sean, diapun segera bergegas menghampiri Kartina dan Nay yang berada di area belakang mansion Untuk pamit
Setelah Acara pamitan selesai, Sean pun segera pergi dengan mengendarai Jeep Rubicon berwarna putih miliknya, dia pergi hanya Seorang diri tanpa di di dampingi anak buah Agam atau anggota Redbear, Sean hanya menyuruh Agam dan anak buahnya untuk meningkatkan keamanan di Mansion selama dia pergi
.
…
Hampir setenga harian Sean memacu Mobilnya di jalanan Raya, hingga akhirnya mobil Sean pun kini sudah mulai menapaki jalanan menanjak yang mengarah ke pegunungan yang ada di kota G itu, jalanan itulah yang harus Sean lewati supaya dia sampai ke desa tempatnya di besar kan dulu
Dan Akhirnya Sean pun sampai di desa tempat kedua orang tua angkatnya tinggal, dia pun menghentikan mobilnya di pinggir jalanan desa, tepat di depan sebuah Rumah yang berukuran lumayan besar untuk ukuran di pedesaan, itulah rumah orang tua angkat Sean yang di tujunya
Rumah itu juga di belikan Sean untuk mereka, Setelah dia bertemu Kartina di kota B, dan setelah dia resmi jadi pewaris tunggal perusahaan KARTIN.corp dulu, karena rumah yang lebih dulu di huni mereka sebelumnya, itu jauh dari kata Layak
Dan semenjak Sean memfasilitasi Ibu dan ayah angkatnya untuk membuka perkebunan, hidup mereka pun cukup makmur di desa ini, dan kang Rawing yang sebelumnya pernah berselisih dengan nya pun kini jadi anak buah orang tua angkat Sean untuk mengawasi perkebunan
Sean pun segera melangkahkan kakinya untuk memasuki pekarangan rumah itu, dan bergegas menuju ke pintu Rumahnya
Sean pun segera mengetuk pintunya "Assalamualaikum" ucap Sean memberi salam
Tidak berselang lama seorang gadis belia pun langsung membukakan pintu Rumahnya untuk Sean, gadis itu terlihat sedikit kaget saat memperhatikan kalau yang di depan pintu rumahnya itu adalah Sean, dia menatap Sean dengan ekspresi tidak percaya
__ADS_1
"Kak Sean???" ucap Gadis yang baru berusaia sepuluh tahunan itu
"Aya, iya, ini kaka,, kamu sudah besar ya sekarang?," ucap Sean sembari tersenyum pada adik bungsunya yang dulu sangat lengket pada Lena sewaktu dia kecil, Lena memang sempat berkunjung ke desanya ini sebelum mereka menikah, dan saat mereka masih menganggap diri masing masing itu hanya berteman saja