TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Rayuan Pagi


__ADS_3

Sean merasa akan sulit membujuk Lena kali ini, tapi Sean tidak berniat pergi kemana mana, atau membuka kamar lain untuk dirinya, diapun mendudukan dirinya dan bersandar ke pintu kamar Lena,


Dia berniat menunggu Lena sampai dia membuka pintunya sendiri tanpa bicara, 'Mungkin Lena akan membukanya kalau mengira aku tidak ada' pikir Sean


"Aku akan menunggumu di sini sampai kamu membukanya Sendiri" gumamnya



Beberapa saat berlalu, Sean yang memang merasa lelah karena seharian menemani Nayra jalan jalan pun perlahan sampai tertidur di depan pintu kamar Lena itu, tapi Lena tidak kunjung membukakan pintu untuknya


.


Di sisi lain Rania dan Tiara yang sudah selesai mengobrol juga memasuki Resort dan langsung menuju ke kamar Rania, sebelum masuk dia menoleh pada pintu kamar Lena, dan melihat ada orang yang bersandar di pintu kamarnya itu


"Ya ampun Arman, sampai segitunya dia, pasti dia tidak berhasil membujuk Lena itu, dia memang lemah kalau urusan merayu, pandainya hanya menggoda orang supaya kesal" ucap Rania


"Kasian juga melihat dia seperti itu,, Aku jadi merasa bersalah melihatnya seperti itu, kok dia segitunya ya??" ucap Tiara menatap Iba pada Sean yang tidur bersandar ke pintu itu


"Kamu masuk kamar ku duluan, aku akan coba bantu selesaikan masalah mereka" ucap Rania


"Baiklah, semoga berhasil?" ucap Tiara


Rania pun melangkah dan menghampiri Sean yang tertidur di pintu kamar Lena itu,, dan Rania segera mengetuk pintu kamarnya 'Tok'tok'tok',,


Saking lelapnya, Sean tidak breaksi apapun saat Rania mengetuk pintu yang ada di belakangnya


"Apa lagi?" triak Lena dari dalam


"Ini aku Len,, Rania" ucap Rania


Setelah Rania menjawab kalau itu dirinya, barulah Lena terdengar membukakan kunci pintu kamarnya, dan langsung membuka pintunya


Alhasil tubuh Sean yang bersandar di pintu itu pun langsung terguling ke dalam, dan 'Guprak' "Aduuuhhh," lirih Sean sedikit kaget karena tubuhnya tiba-tiba terjungkal kebelakang


Rania yang melihat itu pun langsung ingin tertawa,, tapi dia menahannya dengan menutup mulutnya sejenak, dia juga merasa sedikit kasihan padanya jadi tidak tega jika harus menertawakan nya


"Ya Ampun maaf,,, maaf aku tidak mbangunkanmu dulu Arman," ucap Rania sambil terus menahan tawanya, dan mencoba membantu Sean bangkit untuk duduk di lantai


Lena juga sebisa mungkin menahan tawanya supaya tidak pecah, dia berusaha bersikap biasa biasa saja meskipun dia ingin tertawa juga,, "Biarin saja kak Ran, jangan bantuin dia" ucap Lena sedikit memanyunkan bibirnya


"Kamu jangan keterlaluan gitu dong Len, kasian suamimu, dia sampai tertidur di depan pintu lho tadi" ucap Rania


Sementara Sean yang masih belum mendapatkan semua kesadarannya pun hanya terduduk di lantai dengan wajah sedikit bingung sambil mengucek matanya


"Biarin, Siapa suruh dia bohongin Lena" ucap Lena ketus


"Len, dia jarang berbohong dengan ucapannya, dia akan memilih bungkam daripada harus membohongimu,, kamu juga pasti tau sifat suami mu itu kan??" ucap Rania membela


"Betul betul, betul itu Len,, dengerin tuh kakakmu, kak Ran ini memang sangat tau aku, jadi terharu aku," ucap Sean sambil meraih punggung tangan Rania dan menggosokannya ke pipinya


"Hey, jangan genit genit,,, ingat, kak Ran sekarang istri orang, lepaskan!!! ucap Lena ketus


"O Iya maaf maaf Ran, aku lupa" ucap Sean langsung melepas nya, dan dia juga segera berdiri dari duduknya, dan sedikit menepuk nepuk bagian belakangnya


"Len, Tiara memang bertemu Arman di tempat temannya itu, tapi mereka memang tidak ada janji sebelumnya, karena yang di maksud teman Oleh suamimu itu adalah orang-orang Tiara juga, betul kan Arman?" tanya Rania


"Iya,, betul itu, kak Ran ini memang selalu benar,,, gitu Len, jadi kita memang kebetulan bertemu, sama sekali tidak pernah janjian" ucap Sean sedikit menyenggol kan bahunya kepada Lena, dan dia juga merasa sedikit unggul dari Lena karena di bela Rania


"Tapi tetap saja kamu sengaja dekat dekat dengannya tadi" ucap Lena berbalik ke dalam kamarnya lagi dengan malas, tapi dia tidak menutup pintunya


Sean pun langsung memberi senyuman pada Rania, "Terimakasih Ran, kamu sudah membantuku, setidaknya aku tidak harus tidur di luar malam ini" ucap Sean

__ADS_1


"Sama sama, sisanya kamu selesaikan sendiri saja, aku tidak bisa membantu lebih," ucap Rania


"Siaaap, biar ku bereskan" ucap Sean memberi hormat pada Rania


"Ya Sudah aku kembali ke kamar ku kalau gitu" ucap Rania


"Iya selamat malam Ran, sekali lagi terimakasih" ucap Sean tetap dengan senyum di bibirnya


"Iya sama sama" ucap Rania, diapun segera berlalu dari depan kamar Lena itu


Dan Sean juga segera masuk ke kamarnya sebelum Lena menguncinya Lagi,


Diapun menghampiri Lena yang sudah tiduran membelakanginya, Sean pun duduk di pinggiran tempat tidur di sisi lain Lena


"Len, jangan ngambek lagi, aku minta maaf, aku memang salah" ucap Sean mencoba bernegosiasi


Tapi tak ada jawaban dari Lena


Sean naik ke tempat tidur dan mendekati Lena, dia menycolek colek pelan pangkal lengan Lena


"Jangan ganggu, Lena mau tidur" ucap Lena masih ketus


"Oh, baiklah, selamat tidur" ucap Sean, dia pun menghela nafasnya dan juga segera masuk ke dalam selimut, dan merebahkan badannya menyamping menghadap ke punggung Lena yang membelakangi nya, dia juga tidak berani mengganggu Lena yang sedang sensitif itu, jadi diapun memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu tadi,


.


.


Keesokan harinya, Sean bangun pagi seperti biasanya, dan juga di peluk Lena seperti biasanya, dia pun sedikit merasa heran, "Bukannya semalam dia masih marah ya??" gumam Sean


"Sayang,,, bangun,,, sudah subuh" ucap Sean pelan


Lena pun mulai mengernyitkan dahinya dan perlahan membuka matanya


"Iya"


"Apa kamu sudah memaafkan ku?" tanya Sean


"Belum,,, Lena belum memaafkanmu karena kakak belum merayuku semalam" ucap Lena dengan tidak merubah pelukanya


"Bagaimana caranya merayu mu Len??, aku belum mahir merayu dokter sepertimu" ucap Sean


"Pikirkan saja Sendiri" ucap Lena


Sean tertegun sejenak, dia mencoba mengingat bagaimana biasanaya suami menenangkan istri yang marah, tapi yang dia tau biasanya istri orang lain akan mereda ngambeknya kalau di kasih transferan buat shoping,


"Aku akan transfer uang ke Rekening mu sesuai dengan yang kamu minta, Terserah mau berapapun,,, bagaimana, apa kita bisa baikan sekarang??" ucap Sean


"Iiiihh, bukan itu, kakak harus merayuku dengan Kata kata Romantis" ucap Lena memukul dada bidang Sean


"Itu, itu sulit sekali Len, aku tidak bisa,," ucap Sean


"Aku tidak mau tau, atau Lena akan tetap marah kalau kakak tidak berhasil merayuku" ucap Lena


Sean berpikir keras untuk bisa merayu seperti yang di harapkan Lena "Apa kamu tau, palu yang bisa bikin nyaman?" tanya Sean


"Gak nyambung, suruh ngerayu, malah nanyain palu" ucap Lena


"jawab dulu" ucap Sean


"Mana Lena tau"

__ADS_1


"Ya palukanmu ini Len" ucap Sean langsung tertawa kecil


"Oh jadi kamu gombal ceritanya, garing sekali,,, itu tidak termasuk rayauan, jadi masih belum bisa Lena maafin" ucap Lena


"Gagal ya??, apa ya aku bingung,, O yah Len kamu itu ibarat permata, mungil namun indah dan berharga, kamu juga seperti cabai Rawit, kecil namun mempunyai rasa yang berkesan" ucap Sean


"Iiiihhhhh, kenapa ujungnya gak enak, berarti kak Sean anggap Lena pedas dong?" tanya Lena


"Makanya maafin dulu, nanti aku bilang kamu seperti bayi kelinci, kecil lincah dan lucu" ucap Sean


"Enggak, itu enggak enak juga, kenapa harus ada lincahnya??" tanya Lena


"Iya yah, tapi kamu kan lincah" ucap Sean


"Lincah apanya??, aku kalem gini orangnya" tanya Lena


"Kalem di luar, lincah di tem...."


"Udah udah,,, jangan di lanjutin,, kamu memang selalu berpikiran nakal, iiih" ucap Len mencubit Sean, karena dia sudah bisa menebak perkataan Sean selanjutnya itu


"Jadi di maafin enggak nih?" tanya Sean


"Iya Iya, Lena maafin, tapi jangan dekati Tiara lagi" ucap Lena


"Len, apa aku boleh jujur?" tanya Sean


"Jujur apa?, jangan bilang kalau kak Sean menyukainya" ucap Lena ketus lagi,


"Bukan itu,,, jujur aku masih butuh bantuan Tiara untuk mengungkap Siapa dalang di balik kecelakaan ku, dan penculikan Nayra juga, rasanya sulit jika aku harus mencari nya sendirian saja, aku memerlukan informasi darinya" ucap Sean


"Jadi dengan kata lain kamu tidak bisa jika tidak bertemu denganTiara lagi??" tanya Lena


"Hanya sampai aku bisa mengungkap semuanya" ucap Sean


"Baik, Lena izinkan, tapi hanya partner sementara, ingat, tidak lebih" ucap Lena


"Iya Iya sayang, terimakasih, kamu memang rawitku yang manis" ucap Sean mengecup kening Lena


"Mana ada rawit manis" ucap Lena


"Ada" ucap Sean


"Tidak ada, itu mustahil, walaupun menanam pohonya pake pupuk pemanis buatan juga tidak akan manis rasanya, udah ah kita bangun, sudah mau pagi ini" ucap Lena


"Baiklah rawit manisku" ucap Sean


"Gak enak ih dengernya, orang lain manggil kesayangan itu dengan Honey, atau baby gitu, masa ini rawit" ucap Lena


"Engga ah, mending rawit saja, panggilan seperti itu sudah di pakai banyak orang" ucap Sean sambil merangkul tubuh Lena yang sudah terduduk itu, dan menempelkan pipinya di pipi Lena


"Enggak ih apaan, kalau di dengar orang Lena bisa malu tau," ucap Lena


"Panggilan itu hanya berlaku di kamar saja" ucap Sean


"Masa?"


"Iya lah,,, o yah, apa kamu mau aku gendong lagi ke kamar mandi?" tanya Sean


"Tidak perlu Lena bisa sendiri, kalau di gendong lagi nanti di suruh gendutan lagi" ucap Lena


"Oh, Baiklah kalau tidak mau" ucap Sean melepaskan pelukannya

__ADS_1


Mereka pun segera beranjak dari tempat tidur untuk melakukan rutinitas pagi mereka seperti biasanya, dan hari ini mereka berencana untuk segera pulang kembali ke kota J


...~°~...


__ADS_2