TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Menggerutu


__ADS_3

Pagi harinya semuanya sudah bersiap siap untuk pulang, Sean Lena dan Rania juga menyempatkan diri untuk berpamitan pada Rumi dan keluarganya terlebih dulu, dan setelah itu mereka pun segera meninggalkan Resort untuk menuju ke bandara kota PP, karena mereka memang akan segera terbang kembali ke kota J


"Asiiiik, kita pulang naik kapal telbang lagi" ucap Nayra girang


"Iya sayang, kita pulang lagi, horeee" ucap Lena juga


"Ya Sudah, kita langsung naik saja" ucap Sean


"Ayo ayo pah, kita naik" ucap Nayra menghampiri Sean dan menuntunnya ke Arah pesawat pribadi itu


Seperti biasa, para ibu hanya mengikuti langkah mereka dari belakang, di iringi belasan pengawal yang terdiri dari anak buah Agam dan beberapa Anggota Redbear yang mengantar mereka ke bandara


Mereka pun Akhirnya masuk ke kabin mewah Jet pribadi itu lagi, seperti sebelumnya, Rania duduk di kursi pesawat biasa dengan Nayra, karena Nay Ingin melihat pemandangan dari atas lagi


Sementara Sean Dan Lena duduk di sofa elegan kabin, Dan pesawat pun segera lepas landas Dari bandara kota PP, dan mengudara menuju ke kota J Lagi


.


.


Setelah Beberapa jam penerbangan, mereka pun akhirnya segera mendarat di kota J lagi, mereka sudah di tunggu oleh Anak buah Agam yang menjemput mereka di luar bandara,


Agam Sekarang memang lebih fokus menjaga Kartina seperti dulu, dia sekarang tidak banyak terlibat dengan urusan Sean, karena dia tau tuanya yang sekarang bukan tuanya yang lemah seperti dulu,, jika itu dulu, dia pasti akan ikut kemanapun Sean pergi


Mereka pun mengantar Rania ke rumahnya terlebih dulu,


Di dalam mobil,


"O yah kak Ran, Nayra boleh kami bawa menginap ke Mansion tidak??, mamah sudah sedikit merindukannya" ucap Lena


"Iya,, boleh Len, bawa saja, Nay juga sudah lama tidak menginap di neneknya" ucap Rania


"Iya, Nay mau menginap" ucap Nayra


"Baiklah kalau begitu, kita akan ke rumah Nenek" ucap Lena


Setelah mengantarkan Rania sampai ke kediamanya, Sean Lena dan Nayra pun segera pulang ke mansion,


.


Setibanya di sana,, mereka pun segera menghampiri Kartina yang duduk bersantai di gazebo pinggir kolam, dia sedang menikmati secangkir teh hangat nya dengan sebuah laptop di meja yang di depannya


"Neneek, Nay pulang" ucap Nayra yang digendong Sean


"Eh,, cucu nenek sudah pulang, Sini sayang, Nenek kangen sekali" ucap Kartina beranjak dari duduknya dan mengambil alih Nayra dari pangkuan Sean dan langsung mencium pipi lembut nya


"Nay juga kangen nenek" ucap Nayra


"Mah" Lena menyalami Kartina


"Gimana liburanya, seru tidak sayang?" tanya Kartina


"Tidak, Nay di culik tante jahat Nek" ucap Nayra mengadu


"O yah??, apa benar itu Arman?" tanya Kartina terkejut, dia memang tidak dapat kabar tentang hal itu


"Iya bu, itu terjadi karena aku lengah menjaga Nayra" ucap Sean

__ADS_1


"Bagaimana bisa?, buakan kah anak buahmu ada bersama kalian??" tanya Kartina


"Mereka tidak mengandalkan pisik bu, tapi trik, dan ada musuh yang tidak mau menampakkan dirinya di balik kejadian itu, Dan Arman yakin dia jugalah yang berhsil menyelundupkan penghianat di antara anak buah Agam waktu kecelakaan Arman beberapa tahun lalu" ucap Sean


"Begitu kah?, ibu ingin melihat orang seperti apa dia, kamu harus mencarinya dengan serius, ibu tidak ingin keluarga kita terus di bayang bayangi bahaya di setiap waktunya, temukan dia segera" ucap Kartina


"Arman juga berpikir begitu, tapi cukup sulit untuk menemukan nya tanpa ada sedikit pun petunjuk," ucap Sean


"(S) pasti bisa mbentumu kan?" ucap Kartina


"Ya kuahrap begitu, aku masih belum mendapatkan bahan untuk di selidiki S, hanya ada bhan mentah saja,, dan sekarang rencana Arman hanya ingin menyelidiki seseorang yang Arman curigai dulu" ucap Sean


"Siapa dia?" tanya Kartina


"Arman masih belum terlalu yakin, jadi Arman belum bisa mengatakan nya pada ibu," ucap Sean


"Baiklah, lakukan apapun yang bisa di lakukan" ucap Kartina


"Baik bu, Arman akan serius mencarinya,,, O ya Len, kamj juga untuk sementara waktu jangan kemana mana dulu, Aku sarankan kamu juga resign dulu dari tugasmu di rumah sakit, aku takut kamu juga di incar seseorang" ucap Sean


"Tapi kan Lena punya tanggung jawab untuk......."


"Len, bagiku tanggung jawab mu tidak lebih penting dari keselamatan mu, aku mohon, demi aku, demi Nay juga,, beritahu Rania juga kalau Nayra juga akan di sini lebih lama demi keselamatannya" ucap Sean dengan tatapan yang cukup dalam pada mata Lena


Lena pun menghela nafasnya "Baiklah" ucap Lena


"Maaf Len, aku bukan ingin mebatasi duniamu, aku hanya tidak mau terjadi sesuatu apapun pada kalian., itu saja" ucap Sean


"Tidak perlu minta maaf, aku sangat mengerti keputusan mu itu" ucap Lena tersenyum


.


.


"Pagi pak direktur" sapa Elisa mengangguk pada Sean yang Aru datang


"Pagi Elisa" ucap Sean juga sdikit tersenyum


"Pagi kak Arman, kenapa baru datang ke kantor di jam segini??, malas sekali" ucap Intan menyapa Sean yang baru hadir di lantai teratas gedung Kartin.corp itu


"Iya, kakak baru kembali dari luar kota, apa Ifan ada??" ucap Sean


"Ada di dalam, masuk saja" ucap Intan melirik pintu ruangan direktur


"Nanti saja, aku akan keruangan teman ku dulu" ucap Sean


"Oh Baiklah" ucap Intan


Sean pun segera bergegas keruangan Sandri yang dia sediakan khusus untuknya di lantai itu juga, Sean pun segera membuka pintu ruangan Sandri tanpa mengetuk nya


Alhasil Sandri yang di depan komputer nya pun sedikit kaget karena Sean membuka pintu ruangan tiba tiba, dia bahkan sampai menumpahkan Teh dari botol yang sedang di teguknya ke bajunya, "B B bos, tumben Anda kemari" ucap Sandri sedikit segan


Sean pun tersenyum pada sosok pria yang sebaya dengannya itu, pria unik sekaligus jenius yang berkacamata bulat itu mengibas ngibaskn kemejanya yang basah terkena tumpahan teh itu


"Aku ada perlu dengan mu secara langsung" ucap Sean melangkah kehadapan pria yang selalu memberikannya informasi itu


"I Iya, bos, silahkan duduk" ucap Sandri

__ADS_1


"Aku ingin kamu menelisik ponsel ini, ada nomor pribadi di dalam ponsel ini yang ingin ku ketahui dengan jelas nomor si penelpon yang selalu menyembunyikan Nomornya itu, apa bisa kamu menemukannya?" tanya Sean


"Baik, akan ku coba sebisaku untuk menemukannya" ucap Sandri mengambil ponsel yang Sean ulurkan padanya


Sean pun segera duduk di kursi lain yang tidak jauh dari tempat Sandri menjalankan tugasnya, di depan beberapa perangkat pendukung ini lah Sandri selalu terfokus dan mengirimkan informasi untuk Sean,


Setelah Beberapa saat sandri menghubungkanya dengan perangkat lunaknya, nomor itu pun berhasil di identifikasi, dan sebuah nomor yang di inginkan Sean pun kini sudah bisa di lihat


"Ku rasa ini Nomornya Bos" ucap Sandri


"Apa kau yakin itu nomornya private yang terakhir kali menghubungi ponsel itu,??" tanya Sean


"Aku yakin, cuma ini nomor yang di private di ponsel ini" ucap Sandri


"Baiklah, sekarang kita coba lihat, apa kau bisa bersembunyi lagi dariku?,, segera cari di mana lokasinya sekarang" ucap Sean


Sandri pun segera memprosesnya lagi, dan sayangnya hasilnya tidak sesuai dengan yang Sean hadapkan, karena nomor itu tidak aktif sekarang, dan sandri hanya menemukan jejak terakhirnya di bandara kota PP juga, "Sepertinya Nomornya di matikan bos" ucap Sandri


"'Dimatikan??, Haah Siaal,,, pantau terus nomor ini, aku yakin dia masih akan menggunakannya lagi,,," ucap Sean


"Baik bos, akan ku awasi terus, apa perlu aku menyadap nomor nya juga" sahut Sandri


"Jika bisa, lakukan saja, ku rasa itu lebih bagus untuk memantau pergerakan nya, dan mungkin saja kita akan menemukan sebuah bukti, jadi lakukan apapun untuk menemukan orang itu" ucap Sean


"Siap bos" ucap Sandri


"Awas saja kau, sebentar lagi kau pasti akan ku temukan, kau tidak akan bisa bersembunyi lebil lama lagi dariku, dan segera lihatlah, apa yang bisa ku perbuat pada orang yang sudah berani mengusiku" ucap Sean menggerutu


Sean pun iseng-iseng meminta nomor ponsel Roland pada Tiara, kebetulan dia juga memilikinya, jadi segera Tiara pun mengirimkan kontaknya pada Sean,


Sean langsung membandingkan Nomor yang di Terimanya dari Tiara itu dengan nomor hasil penelusuran Sandri di layar


"Ternyata bukan nomor dia, kenapa aku merasa sedikit kecewa?, harusanya aku merasa lega untuk Rania kan?" gumam Sean sedikit menyeringai


"Ya Sudah, kalau begitu aku keruangan ku dulu, kalau ada informasi apa apa, segera hubungi aku, atau kirimkan apapun petunjuk yang kamu dapatkan" ucap Sean


"Baik bos" ucap (S)


Sean pun segera pergi dari ruangan Sandri dan masuk keruangan Presdir, dan tentunya ifan yang tadinya fokus ke layar di depanya pun langsung melihat ke arah datangnya Sean


"Kak Arman, kapan kembali dari pulau BB?" tanya Ifan sedikit merasa Senang


"Aku baru sampai, dan langsung kemari" ucap Sean yang langsung mendudukan dirinya di sofa ruangan itu


"Oh, Kak, aku mau sedikit curhat boleh??" ucap Ifan


Sean sedikit menghela nafasnya "Aku sedang punya masalah, gak ada mood juga dengerin curhat,, kamu juga paling mau bahas soal Tiara kan?" ucap Sean


"Iya,,, kak Arman tau saja, dia susah sekali jika ku ajak makan" ucap Ifan


"Baiklah, Nanti aku ajak dia makan Siang bareng" ucap Sean sedikit malas


"Sungguh, Baiklah kalau begitu, terima kasih" ucap Ifan


"O yah Ifan, apa ada masalah serius di perusahaan?" tanya Sean


"Tidak ada kak, semuanya masih berjalan dengan baik, semuanya masih bis ku handel" ucap Ifan

__ADS_1


"Baguslah, kalau begitu aku mau istirahat sebentar, capek sekali rasanya badanku, bangunkan aku kalau waktu makan siang tiba" ucap Sean yang langsung beranjak ke ruang istirahatnya


"Baik, tentu saja" ucap Ifan tersenyum


__ADS_2