TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Hancur Bersama


__ADS_3

Sean pun tidak bisa berbuat banyak untuk saat itu, jika dia bergerak mungkin Dewi akan benar-benar menembak kepala Lena


"Wi, aku mohon, singkirkan benda itu dari adikmu" ucap Sean mencoba membujuk


"Diam, kamu sudah merenggut semua kebahagian yang ku punya, dan sekarang kau harus merasakan hal yang sama, melihat orang yang di sayangimu mati di depan matamu, maaf" 'Duarrr' Dewi pun benar-benar menekan pelatuk pistol yang mengarah ke kepala Lena itu


"Mmmm" Lena pun langsung jatuh terkulai lemas di atas sofa itu


Sementara Dewi langsung mundur beberapa langkah, dia sedikit tidak percaya kalau dia sudah menembak adik iparnya


"Lenaaaa", Sean pun langsung reflek meloncati sofa, dandia langsung menyangga dan memeluk erat tubuh Lena itu "Sayang, bertahan lah" ucap Sean yang merasa sangat syok melihat istrinya yang terkulai lemas di dekapannya itu, Sean akan merasa sakit jika melihat Lena terluka sedikit saja, apalagi sekarang dia di tembak oleh seseorang, itu sama saja dewi sudah menembaknya juga


"Keterlaluan kau Dewi" gumam Sean dengan tidak melepaskan pelukannya pada Lena


"Maaf, selamat tinggal Arman" Dewi pun mengangkat pistolnya lagi dan membidikannya ke kepala Sean


"Sean Awas, dia akan menembak mu" triak Tiara yang memang belum tau kalau Sean sudah mendapatkan kekebalanyalagi


Reflek Dewi pun menoleh pada Tiara yang akan menembak ke arahnya, dan Dewi juga langsung mengarahkan senjatanya itu pada Tiara, dam 'Duarrr, duaaarr' dua bunyi ledakan pun terdengar nyaris bersamaan


""Aaa"" rintih singkat dua wanita itu, karena mereka merasa peluru sudah menembus ke badan mereka, dua tubuh wanita yang saling menembak itu pun perlahan melemas, dan mereka sekilas melihat luka yang di hasilkan oleh peluru dari masing masing senjata api yang di lontarkan mereka,


Tiara terkena tembakan di dada atas sebelah kiri nya, dan diapun seketika ambruk ke lantai


Sementara Dewi tertembak di bagian perut Sampingnya, dia sedikit mundur ke belakang nya dan ambruk dengan bersandar ke dinding


"Tiara" Agam langsung panik melihat Tiara yang tenayata bisa tertembus oleh peluru dari Dewi , Agam langsung menghampiri Tiara dan menyangga kepalanya, karena dia tidak mengira Tiara akan tumbang dengan hanya satu tembakan saja, sebab yang Agam tau kalau Tiara kebal terhadap peluru sebelumnya


Sementara Sean tidak memperdulikan mereka yang saling menembak, Karena asumsinya meskipun Tiara itu tertembak dia tidak akan terluka, yang dia pedulikan Sekarang hanyalah Lena yang berada di dekapanya saat ini "Len aku mohon Bertahanlah, sayang, aku mohon jangan berakhir seperti ini, aku mohon" ucap Sean gemetaran dengan matanya yang berkaca-kaca, dia merapatkan pipinya pada kepala Lena


"Mmmmmmm mmm mm"


Tiba tiba Sean mendengar suara lain dari Lena, seketika Sean pun melonggarkan dekapannya pada Lena, dan Sean baru sadar kalau Lena masih membuka matanya dan lekas mendongak menatap wajah Sean


"Len, apa kau baik baik saja Sayang??" tanya Sean Heran, kdia yakin kalau tadi Dewi benar benar menembak Lena


Lena pun menggelengkan kepalanya


Sean pun segera membuka lakban yang menutup bibir Lena,


Dan seketika tangis Lena pun langsung pecah "Kak Sean,,,,, Lena takut" ucap Lena sambil menangis,


Sean juga langsung membuka ikatan di tangan Lena


Dan Lena pun langsung memeluk Sean dengan posisi masih duduk di sofa


Sean membalas memeluk Lena dan mengusap kepalanya "Bagaimana bisa Len??" tanya Sean tidak percaya sekaligus senang


Lena pun mengangkat telapak tangannya "Mungkin karena ini" ucap Lena memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jemari tanganya


Sean pun langsung memperhatikan cicin kursani berwarna kuning di jari Lena itu "Kamu dapat dari mana cincin ini" tanya Sean Heran


"Tiara yang memberikannya padaku, aku tadinya ingin membuang cincin ini, tapi tiara bilang kalau cicin ini bisa melindungi ku dari orang jahat, dia juga bilang kalau ini cincin mu, jadi aku memakainya" ucap Lena sambil terisak


"Tiara???" Sean pun baru mengerti, dan diapun langsung memperhatikan Ruangan yang sedari tadi tidak di perhatikannya, karena dia terlalu khawatir pada Lena

__ADS_1


Dia pun sudah melihat dewi bersandar di tembok dengan darah mengalir dari perutnya, dan satu wanita lagi yang sedikit agak jauh dari dewi, badanya sudah di sangga oleh Agam


"Jadi Tiara yang memberikannya padamu?, syukurlah kau tidak papa Len, tapi Tiara tertembak Len, apa boleh aku melihat kondisinya" ucap Sean sambil terus memeluk Lena


"Iya" ucap Lena mengangguk kecil


Sean pun mengecup kepala Lena sekilas dan kemudian beranjak dari duduknya Untuk melihat kondisi Tiara saat ini


"Ra, apa kamu bisa bertahan??" tanya Sean sambil merendahkan badanya untuk melihat kondisi Tiara yang terlihat masih sadar


"Se Sean, aku sudah melakukan hal yang Benar kan?" tanya Tiara


"Iya Ra, aku mohon kamu Bertahanlah, kita akan segera membawamu ke rumah sakit," ucap Sean


Tiara pun tersenyum "Tidak perlu, kurasa waktuku tidak akan lama lagi, aku hanya ingin bilang padamu, kalau aku sangat mencintaimu, tapi kurasa Lena memang lebih berharga bagimu daripada aku, jadi aku tidak salah jika memberikan cincinmu itu padanya kan?,, Andai aku bisa terlahir kembali ke dunia ini, aku tidak ingin terlahir dari keluarga penjahat lagi, aku ingin menjadi orang baik, dan bisa hidup bersama dengan orang sepertimu" ucap Tiara dengan air matanya perlahan menetes di pipinya


"Jangan bicara sembarangan, kau orang baik Ra, aku yakin kamu masih bisa bertahan, kamu pasti kuat, Agam cepat bawa dia" ucap Sean


"Baik tuan," ucap Agam sambil mencoba mengangkat tubuh Tiara


"Jangan terburu-buru, aku punya satu kejutan lagi untukmu Arman, lebih baik kita mati bersama di sini" ucap Dewi menggunakan sisa tenaganya untuk mengambil sesuatu dari sakunya


Sean pun langsung menoleh pada Dewi, dia melihat tangan Dewi memegang sebuah alat seperti remot, tapi hanya ada beberapa tombol saja di alat itu


"Dewi, apa kamu berniat menghancurkan markasku ini?, jangan bilang kalau kau sudah memasang peledak di gedungku ini?" tanya Leon yang masih terkapar di lantai


"Ya, kau memang benar Leon, aku sudah muak dengan markas nerakamu ini, aku tidak lebih dari seorang budak di tempat ini kan?, jika aku mati, kau juga harus mati Leon" ucap Dewi yang sudah terlihat lemas


Sean pun mengerti kalau benda yang di pegang dewi itu adalah alat pemicu bom, yang mungkin Dewi sudah menyimpan peledak di ruangan itu juga


"Dewi, kita masih bisa memperbaiki kehidupan mu, aku mohon kau jangan berpikiran pendek, kembali lah ke keluarga kita, aku akan tetap mengganggap mu kakaku walaupun kau sangat ingin membunuhku, aku mohon wi," ucap Sean membujuk


Jarak antara Sean dan Dewi lumayan cukup jauh, jadi dia tidak yakin bisa menghentikan jari Dewi untuk menekan tombol itu, di sepersekian detik dia merasakan hawa ketakutan yang pernah dia alami di pesawat beberapa tahun silam , 'Apa kejadian itu akan terulang lagi,?, apa aku akan mati bersama Lena di sini?' pikir Sean


Namun saat dewi hendak memecet tombolna tiba tiba ada sebuah kaki yang tiba tiba menendang tanganya itu, alhasil benda itupun terlempar dari tangan Dewi


"Aahh" lirih Dewi


"Lenaaa jangggaaaan" teriak Sean pada Lena yang menendangkan kakinya pada tangan Dewi, Sean sampai memejamkan matanya karena takut ada ledakan yang terjadi saat Lena melakukannya, tapi Sean tidak mendengar sesuatu seperti ledakan


"'Apa???,,, aku hanya bermaksud membuang benda itu dari tanganya saja, apa salah?" ucap Lena polos


Sean pun membuka mata dan langsung menatap wajah istrinya itu, "Len, kau sudah dua kali membuatku hampir mati jantungan" ucap Sean


"Memangnya benda apa sih itu, kenapa kalian takut dengan benda kecil ini" Lena berniat mengambil pemicu yang terlempar dari tangan Dewi itu di lantai,


"Cukup Len, jangan sentuh benda itu" ucap Sean


"Oh, Oke" ucap Lena sedikit bingung


semua yang ada di Ruangan itu pun sampai mati kutu oleh aksi Lena itu yang bisa saja membuat mereka hancur, dan mati di sana


Sean segera bangkit dan menghampiri Lena "Kau ini bandel sekali jadi istri", ucap Sean sambil menangkup wajah Lena dan mengecup Bibirnya sekilas, dia benar benar cemas setengah mati karena sudah menyangka Lena akan meninggalkanya selamanya di sini


"Sudah kubilang kamu jangan keluar rumah, masih saja keluar, lihat kan, inilah jadinya" ucap Sean memarahi Lena

__ADS_1


"Maaf, Lena fikir tidak akan apa apa, soalnya Lena pergi dengan kak Rania" ucap Lena


"Apa Rania juga ada di gedung ini,??" tanya Sean


"Iya, dia di kamar bawah" jawab Lena


"Ya Sudah, kita jemput dia untuk pulang secepatnya, o yah Len, apa aku boleh membawa Dewi pulang" tanya Sean melirik ke arah Dewi yang sudah tidak berdaya itu


"Dia hampir menembak Mati Lena, kenapa harus menolong nya" ucap Lena


"Dia hanya salah paham padaku Len, dan aku harus meluruskan semuanya, aku mohon, dia kakakku Len" ucap Sean


"Baiklah, terserah" ucap Lena


"Terimakasih" ucap Sean


Sean pun segera mengangkat tubuh Dewi dan menggendongnya untuk pergi dari ruangan itu


"Jadi kalian akan pergi meninggalkan ku," tanya Leon yang masih tergeletak lemas


"Kau harus hancur bersama markasmu ini Leon,,, Len, ambil benda itu dan jangan memencet tombolnya sebelum kita berada di luar" ucap Sean


"Oh, Baiklah" ucap Lena sedikit bersemangat


"Tidak, jangan lakukan itu padaku" ucap Leon mencoba bangkit,


Sean pun menghampirinya lagi dan langsung menginjak dadanya " Leon, kau sudah membuat kakaku jadi orang jahat, kau sudah hampir membunuh aku dan istriku, dan sudah menodai martabat Rania, hukuman yang paling pantas untuk mu hanya lenyap dari muka bumi ini bersama bisnismu" ucap Sean dengan menginjak keras dada Leon


Leon pun Hampir kehabisan nafas karenanya


Setelah itu Semua orang yang ada di Ruangan itu pun turun dan meninggalkan lantai itu, kecuali Leon dan para anak buahnya yang belum tentu bisa melarikan diri, Sean membiarkannya di Ruangan itu


"Tidak, jangan tinggalkan aku Tiara" triak Leon saat mereka meninggalkannya


Semua orang pun tidak ada yang mempedulikanya, dan Sean pun segera bergegas mencari Rania dengan tetap membawa tubuh dewi di pangkuanya, dan setelah Rania bergabung bersama mereka, mereka pun segera keluar dari gedung itu dan langsung berjalan menuju ke dermaga,


Setelah mereka semua di dermaga Sean pun menoleh pada Lena "Len, bukankah kamu penasaran dengan benda di tanganmu itu?, Sekarang kita sudah di luar, jadi kau bebas menekan tombol yang mana saja" ucap Sean


"Memangnya apa yang akan terjadi dengan benda sekecil ini, bikin penasaran saja" ucap Lena, diapun membuka penutup transparan nya dan segera menekan tombol tombol yang ada dia sana


Alhasil, 'Buuuuuuuuummmm, duaaarr duarrr , buuum' terdengar bunyi ledakan keras dari arah belakang mereka, itu adalah bunyi ledakan dari gedung markas Leon yang barusan mereka tinggalkan


Lena pun cukup kaget mendengarnya dan langsung melemparkan benda di tanyanya itu "Aaaawww, Kak Rania, suara apa itu?, Lena Takut" ucap Lena langsung memeluk Rania yang berdiri di sampingnya dengan memejamkan mata, dan dia tidak berani menoleh ke belakang


"Itu bunyi dari tombol yang kamu tekan Len" ucap Sean langsung tersenyum


Setelah markas Leon itu hancur, Sean, Agam + anak buahnya, Lena, Rania, Tiara, dan Dewi pun segera meninggalkan pulau itu, dengan menaiki beberapa Speedboat dan perahu motor untuk kembali ke daratan kota J lagi, dan pada akhirnya Leon pun hancur bersama bisnis terlarangnya itu,


...~•~...


...End...


(Kedepannya mungkin akan ada cerita poligaminya, jadi boleh lanjut, boleh juga Sampai di sini baca ceritanya,, terimakasih sudah mampir di karya recehku ini🙏😊)


Mampir juga ke:

__ADS_1



Terimakasih😊


__ADS_2