
Keesokan paginya mereka terbangun dengan keadaan masih saling memeluk satu sama lain di balik selimut, dan masih dengan keadaan tampa penghalang sedikitpun di antara Lena dan Sean
Sean pun serasa enggan melepaskan Lena dari pelukannya itu
"Sudah subuh, kita bersihkan diri dulu" ucap Lena yang masih di peluk Sean
"Oh, Baiklah" ucap Sean yang sebenarnya masih ingin meminta perpanjangan waktu,
Setelah mereka membersihkan diri dan sudah merapihkan diri mereka lagi, Sean pergi ke musholla yang tidak jauh dari rumah Lena, dan setelah Sholat, Sean pun kembali ke rumah Lena lagi dan langsung ke kamar putri kecilnya
"Pagi sayang, apa kamu ngompol lagi?" tanya Sean yang menghampiri Nayra yang masih menggeliat karena baru saja terbangun
"Tidak, Nay tidak mau di malahi mamah" ucap Nayra
"Baguslah, kamu mememang Putri papah yang pintar,, sinih, Ayo Kita olah raga lagi, mau tidak??" tanya Sean
"Mau mau, Nay mau olah laga" ucap Nayra yang langsung bangun dan masuk ke pangkuan Sean
"Baiklah, kita cuci mukamu dulu" ucap Sean yang langsung membawa Nayra ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya
Setelah itu mereka pamit ke Lena yang sedang membantu bi Ratmi di belakang, dan mereka pun segera berjalan-jalan di kawasan rumah Lena seperti sebelumnya, dan setelahnya mereka berolahraga ringan lagi di teras Rumah
Dan Setelah mereka sarapan Sean pun mengantar Lena dan Nayra ke rumah Sakit
"Len, aku langsung berangkat ke bandara sekarang, ibu mungkin sudah menunggu ku di sana" ucap Sean
"Iya hati hati, jaga ibu dengan baik" ucap Lena yang matanya memerah, saat ini dia merasa terkenang kembali saat Sean nya berpamitan untuk pergi keluar negeri Tempo hari, dan hingga kini dia tidak kunjung ada kabar menurut nya
"Nayra, kamu jaga mamah baik baik ya, jangan biarkan dokter Reno mendekati mamah lagi, karena sekarang mamah Lena sudah miliknya papah" ucap Sean
"Siap pah, Nayla ngelti" ucap Nay polos
"Bagus, Nayra memang Putri pintarnya papah" ucap Sean sambil mengecup kening Nayra
Dan Lena pun segera menyalaminya, Sean juga mengecup kening Lena
Dan Sean pun segera pergi dari hadapan Lena dengan anak buah Agam yang menjemputnya, sementara Yuda dan satu Rekanya di tugaskan Sean untuk memantau Lena diam diam
Sean pun langsung ke bandara internasional kota J untuk melakukan penerbangan bersama ibunya
Sean pun sudah di tunggu ibunya di sana
__ADS_1
"Bu" Sean menyapanya
"Arman, apa kamu sudah pamit ke Lena?" tanya Kartina
"Tentu bu" ucap Sean yang mulai melangkah bersama ibunya menuju ke jet pribadi milik Kartina
"Apa kamu tidak akan trauma naik pesawat lagi?" tanya Kartina
"Tidak bu, untuk apa aku takut, walau pun Arman takut mati, tapi yang namanya maut tetap akan menjeput Arman jika sudah saatnya kan,, meski pun Arman tidak naik pesawat" ucap Sean
"Syukurlah kalau kamu punya pemahaman seperti itu, ibu sudah memastikan ke amanan pesawat oleh ibu sendiri, dan yang ikut kita sekarang juga adalah orang-orang yang sangat ibu percaya, dan sudah ibu periksa langsung oleh ibu juga, ibu tidak mau ada penyusup lagi seperti waktu kepergianmu Tempo hari" ucap Kartina meyakinkan Sean
"Baiklah, Ibu juga jangan cemas, Tuhan selalu menyayangi ibu kan" ucap Sean tersenyum
"Iya, ibu juga yakin itu" ucap Kartina juga tersenyum ke arah putranya,
Mereka pun segera naik ke kabin jet pribadi Kartina itu, dan perlahan pesawat pun bergerak dan mulai melaju di landasan pacu hingga perlahan roda pesawat pun terangkat dari landasan dan segera mengudara menuju cakrawala
Di dalam pesawat
"Arman, apa yang akan kamu jelaskan ke Lena nanti saat wajahmu kembali pulih" tanya Kartina
"Entahlah, aku juga tidak tau, tapi Arman menebak kalau Lena juga sudah merasa kalau Arman memang Arman, mungkin Arman hanya tinggal tampil di depan nya nanti, dan menjelaskan kalau yang bersamanya sebelumnya memang Arman" ucap Sean
Sean pun sedikit pucat mendengar hal itu, "Bu, sebenarnya Arman punya rahasia dengan Lena" ucap Sean
"Benarkah, rahasia apa?, jangan bilang kalau kamu sudah menyentuh Lena sebelum akad lagi, itu tidak boleh Arman, secara adat ikatan kalian itu sudah terlepas oleh waktu" ucap Kartina
"Mungkin yang ibu bilang tidak salah, tapi Arman sudah meminang Lena lagi di depan orang tuanya" ucap Sean
"Apa????, kamu benar benar gila Arman, ini sudah kedua kalinya kamu melakukan hal itu pada Lena, kamu anggap apa ibumu ini, kenapa kamu tidak pernah memberitau ibu" ucap Kartina sambil memanyunkan bibirnya tanda dia memang marah
Sean pun meraih tanganya, "Iya bu, maaf, ini juga sebenarnya tidak ingin Arman lakukan, tapi ini keadaan yang memaksa kita melakukanya, waktu Lena bertugas di kota BG Tempo hari, Reno memang berniat buruk pada Lena, dan Arman bisa mencegahnya, hanya saja terjadi kesalah pahaman antara aku dan Lena, jadi Lena menuntut Arman untuk segera menikahinya, dan Arman juga sempat bermaksud untuk memberitau ibu, tapi Lena melarangnya karena Lena masih mengira kalau Arman orang lain, dan dia merasa sangat tidak enak kepada ibu" ucap Sean menjelaskan
"Begitukah, baik, ibu bisa menerima alasan mu, tapi kalian harus tetap menikah lagi di depan ibu, ibu tidak mau tau" ucap Kartina
"Siap, mau berapa kali lagi pasang cincin pun Arman siap, mau sampai jari manis Lena di penuhi oleh cicin pun Arman tidak keberatan, Asalkan ibu senang" ucap Sean
"Kamu ini, selalu bisa saja menggoda orang,, Dan jangan lupa, cepat berikan ibu cucu lagi" ucap Kartina
"Itu lebih siap lagi bu," ucap Sean tersenyum
__ADS_1
Setelah menempuh penerbangan yang berjam jam lamanya, dan merekapun kini sudah terbang jauh dari langit negri seribu pulau, dan kini merekapun sudah memasuki langit negri gingseng yang di tuju oleh mereka, dan segera merekapun mendarat di Bandara internasional Incheon yang merupakan salah satu bandara terbesar di Asia, dan terbesar di negara itu
Sesampainya di bandara merekapun melanjutkan perjalanan dengan kereta expres hingga 2 kali, barulah mereka sampai di salah satu kelinik plastic surgery terbaik di negara itu
Dan merekapun segera melakukan prosedur untuk membuat jadwal oplas, dan setelahnya mencari hotel untuk mereka tempati di kota itu
Keesokan harinya barulah mereka kembali ke klinik untuk memenuhi jadwal kunjungan mereka, dan Setelah Sean melakukan prosedur pembedahan dan perbaikan jaringan kulit wajahnya, Sean pun harus memasuki tahap pemulihan dan tetap berada di ruang rawat klinik itu, hingga berhari hari dan Bahakan harus berminggu-minggu lamanya
.
~
Sementara itu di bagian bumi lain, di negri yang jauh dari negri tempat Sean berada, Terlihat seorang dokter nan cantik sedang berjalan menyusuri lantai rumah Sakit dengan di temani gadis kecil, dan satu dokter wanita yang setia di sampingnya
"Len, suamimu kabur kemana sih, ini sudah lebih dari seminggu aku tidak melihat Batang hidungnya, apa dia benar benar orang baik Len" celetuk Gina pada Lena
"Diamlah, kamu tidak perlu tau dia kemana, yang pasti dia sedang melakukan tugasnya, itu saja yang perlu kamu tau, jangan anggap dia aneh-aneh" ucap Lena ketus
"Ya kan kali aja dia berbohong padamu Len, dia mungkin mendekati mu hanya ingin enak enak saja, dan setelah itu diapun pergi dan menghilang tanpa kabar, kalau istilah sekarang sih ngeghosting gitu Len, sudah Deket, sudah sayang, eh malah ninggalin tampa kabar" ucap Gina
"Sembarangan saja kamu bicara Gin, bisa gak sih kamu tidak bicara ngawur semenit saja Gin,, aku sangat percaya padanya, toh dia juga pergi dengan mamah" ucap Lena
"Hati hati lho" ucap Gina
"Ah sudah ah, males aku ngobrol dengan mu" ucap Lena malas
Mereka pun berjalan menuju ke ruangan dokter tempat mereka biasa mempelajari kondisi pasien yang akan dan sesudah melakukan operasi, dan ketika Lena membuka pintunya, salah satu dokter rekan Lena pun langsung menoleh ke Lena dengan wajah yang pucat
"Dokter Lena, akhirnya kamu datang juga, ada kabar buruk Len" ucap Dokter Nida yang langsung menghampiri Lena yang baru datang itu
"Kabar buruk apa, coba jelaskan perlahan, jangan panik gituh, atur nafasmu dulu" ucap Lena yang melihat kepanikan dari dokter Nida
Dokter Nida pun menuruti Lena untuk mengatur nafasnya, dan perlahan dia pun tenang "Dokter Lena, pasien yang menjalani operasi kemarin meninggal, dan pihak keluarga tidak terima dengan meningalnya pasien itu, dan mereka bilang akan menuntut pihak rumah sakit, dan dokter yang menangani nya Len, bagaimana ini?" ucap Dr Nida sambil memegangi tangan Lena
"Bagaimana mungkin?, operasi nya berjalan baik, dan pasien kemarin juga dalam kondisi yang stabil di ruang ICU, jadi itu tentunya jelas bukan Faktor kelalayan penanganan rumah sakit kan?" ucap Lena
"Itulah Len, aku juga tadi sudah mencoba memjelaskan pada mereka, tapi pihak keluarga tetap bersikukuh ingin menuntut kita Len" ucap Dokter Nida
"Baiklah, biar aku sendiri saja yang coba jelaskan pada mereka, kamu ambilkan saja berkas laporan hasil operasi kemarin yang kita buat, untuk bukti menjelaskan kepada mereka" ucap Lena
"Itu dia yang bikin aku panik sekarang, laporan itu tidak ada, aku sudah mencarinya dari tadi, aku yakin kemarin menyimpannya di rak, tapi aku sudah mengacak ngacak rak tapi tidak kunjung ketemu juga laporannya" ucap dokter Nida dengan tetap memegangi tangan Lena karena gugup
__ADS_1
"Apa???, hilang?, bagaiman mungkin bisa hilang??" ucap Lena juga sedikit kaget
...~°~...