
Pulau pribadi milik Leon pun kini membubungkan asap pekat yang cukup tebal, asap itu menandakan kalau Markas Leon memang sedang di lalap api sekarang
Semua yang ada di perahu sejenak menatapi pulau yang baru saja mereka tinggalkan, di lautan Luas yang sedang mereka arungi ini, mereka punya Suasana hati yang berbeda-beda di tiap sanubari mereka
Begitu pun Lena yang duduk di kursi Speedboat di sisi Rania, perasaan sekarang cukup campur aduk, antara lega, takut, dan merasa sedikit bangga pada dirinya karena dia tidak mempan peluru, dia merasa tidak percaya kalau dia sudah mengalami kejadian hal semacam itu di hidup nya, dan sangat bersyukur dia tidak Samapi meninggal di pulau itu,, tapi tetap saja Lena merasa sedikit sakit di bagian yang terkena peluru di dahinya, dan mungkin Lena akan sedikit trauma jika melihat senjata api lagi
"Sakit sekali" ucap Lena sambil menyentuh dahinya sendiri
Sementara Sean duduk dengan tetap menyangga tubuh dewi yang sekarang sudah tidak sadarkan diri,
"Sakit ya??, Kita periksakan lukamu ke dokter, takutnya ada luka dalam Len" ucap Sean
"Iya" ucap Lena
Sementara Agam dan Tiara berada di perahu yang Lain, Tiara juga sudah tidak sadarkan diri di dekapan Agam sekarang
Setibanya mereka di dermaga kota J, merekapun segera mealariakn semua orang yang terluka ke ruamah sakit, termasuk Tiara dan Dewi, dan mereka pun segera mendapatkan penanganan darurat
...°°°°...
Di ruang pemeriksaan luka ringan
"Bagaiman keadaanmu sayang??" tanya Sean yang memeriksakan Lena di rumah sakit yang sama
"Tidak apa apa, hanya lecet sedikit, tidak akan infeksi" ucap Lena sambil meraba keningnya yang di tempeli perban kecil
Sean pun menghampiri Lena yang sudah terduduk di kasur pemeriksaan itu, Sean pun meraih kedua tangan Lena, "Maaf Len, ini semua masalahku, tapi jadi kamu yang jadi korbannya" ucap Sean
"Tidak Arman, ini semua salahku, Leon mengancamku akan membunuh papahku kalau aku tidak menurutinya untuk membawa Lena padanya" ucap Rania yang merasa bersalah
"Tidak apa, Aku mengerti Ran," ucap Sean menoleh pada Rania di belakanganya
"Len, jika kamu tidak papah, Kita Pulang Sekarang ya, kamu istirahat di rumah saja" ucap Sean
"Iya" ucap Lena
"Ran, apa kamu mau sekalian ku antar pulang??" tanya Sean
"Tidak perlu,, aku akan menemani Tiara dulu di sini,, aku ingin memastikan kalau operasinya berhasil" ucap Rania
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa apa, kamu kabari aku ya, anak buah Agam juga akan ada yang bertugas di sini, kalau kamu perlu apa apa, kamu bisa langsung minta bantuan saja pada mereka" ucap Sean
"Iya terimakasih," ucap Rania
Sean pun segera membatu Lena untuk turun dari ranjang pemeriksaan, dan kemudian menggandengnya untuk segera pulang
.
Setibanya Di Mansion, Kartina pun langsung menghampiri Lena, "Lena, kamu tidak apa apakan sayang?,, Agam bilang kamu di culik Leon, apa Benar??" tanya Kartina yang merasa khawatir
"Iya mah, tapi Lena baik baik saja kok," ucap Lena
"Syukurlah kalau begitu sayang" ucap Kartina langsung merangkul pundak Lena dan memboyongnya untuk duduk di sofa
"Dewi dan Tiara terluka bu, mereka berdua tertembak, dan sekarang mereka sedang di tangani di ruamah sakit" ucap Sean
__ADS_1
"Tiara??, kenapa dia bisa tertembak, bukan kah kamu pernah bilang kalau dia kebal peluru??" tanya Kartina
"Sebelumnya memang iya, tapi sumber kekuatanya sudah dia berikan pada Lena, kalau tidak, mungkin Lena lah yang sekarang di rawat di ruamah sakit, aku tidak bisa bayangkan kalau itu sampai terjadi" ucap Sean
"Begitu kah??, untunglah,, terus kenapa Dewi juga tertembak di tempat Leon?, apa dia ada hubungan dengan Leon?" tanya Kartina
"Iya,,, dia masih menyimpan dendam pada Arman, dan dia bergabung dengan Leon, entah bagaimana caranya dia bisa bertemu Leon" ucap Sean
"Dewi Dewi, kenapa kau mengikuti jejak Ayahmu yang jelas jelas malah merugikan dirinya sendiri" gumam Kartina
"Ya,, kurasa kita harus merangkulnya, kita Harus tunjukan kalau kita peduli padanya sebagai keluarga" ucap Sean
"Ya, mungkin harus nya begitu, ibu akan jenguk dia kesana,, tapi mungkin besok ibu akan menjenguk nya, sekarang sudah terlalu petang,, ya sudah bawa istrimu istirahat saja ke kamarnya sekarang, kasian dia" ucap Kartina
"Iya bu" ucap Sean, diapaun segera menggandeng Lena Untuk pergi ke kamarnya
.
Setibanya di kamar, Lena mulai merasakan perasaan yang sebelumnya dia rasakan, ya itu mual saat berdekatan dengan Sean "Uuu" Lena langsung menutup mulutnya , dan segera melepaskan diri dari gandengan Sean menuju ke kamar mandi, dan "Howek, howek" Lena mengarahkan mulutnya ke wastafel dan menyalakan krannya, tapi memang hanya Saliva saja yang keluar
"Sepertinya kamu harus di periksa lagi Sayang" ucap Sean yang berdiri di pintu kamar mandi
"Iya, panggilkan saja dokter nya kemari, Lena sangat mual sekali ini, tidak biasanya" ucap Lena, dan saat dia menatap lagi wajah Sean mualnya pun kembali dia rasakan "Huwek"
Sean pun tidak tega dan segera menghubungi dokter pribadi Ibunya,
Setelah mengubungi dokter dia duduk di sofa untuk menunggu Lena keluar dari kamar mandi, meskipun tidak terdengar lagi suara mual dari Lena, tapi Lena masih belum keluar
"Sayang, apa kamu baik-baik saja??" tanya Sean dari sofa
"Aneh" gumam Lena "Sayang, boleh kah aku memintamu keluar dulu" ucap Lena dari kamar mandi
"Apa kau yakin?" tanya Sean
"Iya" ucap Lena
"Baiklah, kalau perlu apa apa kamu panggil aku" ucap Sean
"Iya" ucap Lena dari kamar mandi
Sean pun segera keluar dari kamar Lena dan menunggu dokter pribadi Kartina di Ruangan bawah Mansion
Setelah Sean keluar, barulah Lena keluar dari kamar mandi, dan memang tidak ada mual yang di rasakannya, jadi diapun berjalan menuju ke tempat tidurnya dan membaringkan dirinya di sana
.
Beberapa saat kemudian, sang dokter yang Sean tunggu pun akhirnya tiba, dan Sean langsung menyuruhnya untuk memeriksa Lena di kamarnya
"Silahkan bu dokter, istri saya ada di dalam" ucap Sean membukakan Pintu kamar Lena
"Iya terimakasih pak Araman" ucap Dokter itu sambil sedikit tersenyum
Dokter itu pun masuk dan di ikuti oleh Sean juga di belakangnya
Lena yang masih berbaring pun menoleh pada Sean dan dokter yang baru masuk itu, seketika mual nya pun kambuh lagi, "Sayang bolehkah kamu tunggu di luar saja" ucap Lena
__ADS_1
"Oh baiklah" ucap Sean, dia pun berbalik lagi ke pintu masuk, dan keluar dari kamar Lena
Diapun duduk di sofa yang tidak jauh dari kamar Lena,
Dan Kartina pun datang menghampiri Sean yang duduk di sofa, "Kenapa Lena Arman??" tanya Kartina
"Entahlah, dia sedari pagi mual mual terus, mungkin dia masuk angin atau apa" ucap Sean
"Begitukah??" Tanya Kartina sedikit mengerutkan dahinya "Kalau gitu ibu akan melihat pemeriksaanya" ucap Kartina
"Dia tidak mau ada orang lain bu, Arman juga di usir olehnya" ucap Sean asal
"Tidak apa, ibu sangat penasaran" ucap Kartina, sambil berbalik dan menuju ke kamar Lena, dan dia pun segera masuk kedalam
Sementara Sean duduk lagi dengan tenang di sofa itu, "Penasaran apa, ibu aneh, sakit ya sakit kan" gumamnya
Tidak berselang Lama, Kartina dan dokter pribadinya pun keluar dari kamar Lena, dan Kartina langsung menghampiri Sean dengan wajah sumringah "Coba tebak, istrimu kenapa?" ucap Kartina sambil tersenyum
"Mana Arman tau, Dokter winda yang memeriksanya, bukan aku kan" ucap Sean
"Selamat pak Arman, nona Lena hamil" ucap dokter Winda
"Apa?!?!!??,hamil, apa benar bu???" tanya Sean langsung terperanjat
"Iya, dia hamil, makanya dia mual mual terus, tapi menurut Lena dia selalu merasa mual jika melihat mu" ucap Kartina
"Ah ibu ini bercanda saja, mana ada orang hamil seperti itu bu, memangnya wajahku semenjijikan itu, itu tidak mungkin,,, sudahlah aku mau melihat calon bayiku, dan calon ibunya" ucap Sean sambil beranjak dari duduknya, dia sangat bersemangat untuk pergi ke kamar Lena
Sean pun langsung membuka pintu kamar Lena, kemudian masuk ke dalam
Dan saat Lena melihat Sean masuk lagi, "uwu,", Lena langsung menunjukkan kalau dia mual lagi
"Selamat sayang, Akhirnya, ada Dede bayi juga di perut mu" ucap Sean sambil tersenyum
"Kamu keluar, aku mual jika melihatmu, uwu" ucap Lena
"Masa gitu Len, aku mau menengok calon bayi kita" ucap Sean
"Aku mohon keluarlah, ini sedikit menyiksa sayang,,, uwu" Ucap Lena sambil terus menahan mualnya dengan tangan
"Oh, baiklah kalau gitu, nanti aku kemari lagi kalau kamu sudah tidak mual lagi" ucap Sean, diapun dengan berat hati berbalik dan keluar dari kamar Lena, padahal dia ingin merayakan kehamilan Lena itu dengan memeluknya
.
Di luar kamar
"Gimana, benar kan??" tanya Kartina
"Sepertinya begitu, tapi kenapa bisa begitu, apa ini hanya kebetulan??" tanya Sean
"Mungkin ini bawaan bayinya pak Arman, kadang orang hamil itu aneh aneh bawaanya, ya meskipun kejadian seperti nona Lena ini sangat jarang terjadi" ucap Dokter winda
"Mana boleh begitu, bagaimana kalau aku ingin menengok bayinya nanti??,, kalau memang itu benar bawaan bayi, kapan biasanya fase seperti itu berakhir??" tanya Sean
"Biasanya ngidam itu akan bertahan 2 sampai 3 bulan ke depannya dalam fase itu, kadang juga bisa lebih" ucap dokter Winda
__ADS_1
"Apa,??, 3 bulan Dok???, yang benar saja, bagaiman jika aku merindukannya??" ucap Sean sambil mengerutkan keningnya