
Kartina sadar betul dengan apa yang di ucapkannya tentang kecocokan itu, kareana Sean nyatanya memang punya hubungan darah dengan Naira,
Tapi itu malah menjadi tanda tanya besar di hati Lena Audia, "Apa maksud mamah bicara begitu?" tanya Lena sambil menatap tajam pada Sean
"Ya, kamu bisa melihatnya sendiri kan, mereka sangat akrab,, bagaimana kalau dia kamu jadikan pengawalmu saja, biar dia bisa sekalian jagain Naira juga kalau kamu sedang ada urusan, bagaimana?" tanya Kartina
Lena sekarang memang tidak menggunakan jasa pengasuh anak untuk menjaga Naira, karena dia masih merasa mampuh untuk mengurus Naira sendirian, terlebih Naira adalah putri Sean, jadi kasih sayang Lena yang selama ini tidak sampai ke pada Sean itu, semuanya teralihkan kepada Naira,
"Tapi aku tidak memerlukan itu bu, aku sedikit risih jika harus di kawal seseorang seperti sebelum sebelumnya, dan juga aku masih bisa menjaga Naira sendiri" ucap Lena
"Ayolah, ini bukan untukmu, tapi untuk Naira" ujar Kartina berdalih, sebenarnya yang dia pikirkan bukan untuk salah satu dari mereka, tapi untuk Semuanya
"Baiklah kalau begitu, kalau itu baik Menurut mamah, Lena ikuti saja saran mamah" ucap Lena
"Nah gitu dong," ucap Kartina, diapun mengalihkan pandangannya pada Sean "Man, kamu mulai sekarang kawal nona Lena dan Naira ya, ikuti mereka kemanapun" ucap Kartina
Sean pun sedikit terkejut karena dia tidak terlalu mendengarkan obrolan mereka yang memang sedikit pelan itu tadi
Sean memang sangat ingin selalu dekat dengan mereka setiap saat, tapi rencana itu nanti setelah dia bisa memulihkan wajahnya kembali,, Sean juga berpikir tidak mungkin menolak perhatian dari ibunya ini, dan Sean pun langsung mengangguk
"Kalau boleh tau, Siapa namanya mah,?" tanya Lena yang memang tidak curiga dengan panggilan Kartina pada Sean sebelumnya
"Panggil saja dia 'Man' " ucap Kartina
"Man?, manusia berarti, kalau pake pak, jadi pakMan, Baiklah Aku panggil dia Paman saja" ucap Lena polos
Kartina langsung mengerutkan keningnya karena merasa tidak senang mendengar panggilan Lena pada Sean
Sean apa lagi 'Kualat kamu Len, masa suamimu sendiri kamu panggil Paman' gumam hati Sean, tapi dia sedikit tersenyum mendengar itu, Sean masih merasa kalau Lena memang masih sepolos dulu meskipun sekarang dia adalah dokter handal,
"Tidak, jangan pake pak,, Man saja" ucap Kartina
"Tidak sopan mah"
"Pokonya tidak boleh panggil pak, oke?" ucap Kartina kekeh
"Kenapa mamah memaksa sekali?, Baiklah Oke" ucap Lena mengalah
Sean pun hanya tersenyum di balik maskernya mendengar perdebatan yang tidak berfaedah itu
~
__ADS_1
Setelah hari menjelang pagi, Sean pun mengikuti Lena untuk keluar Ruangan dengan tetap membawa Naira di pangkuannya, karena Lena tentunya harus pulang dulu sebelum dia bertugas,
"Naira, kamu turun, kasian om nya berat, kamu kan sudah besar sekarang" ucap Lena
"Tidak mau, Om kan kuat gendong Naira sampai lumah, tidak sepelti mamah, Iya kan om?"tanya Naira menatap wajah Sean
Sean pun hanya mengangguk
"Pak, maksudku Man, apa sejak lahir kamu tuna wicara?" tanya Lena yang mengira Sean beneran gagu, karena dia memang belum pernah mendengar Sean bicara di hadapannya
Sean dalam hati ingin sekali langsung tertawa, tapi dia menahannya, dan dia hanya menggelengkan kepala saja
"Oh pantesan bisa dengar, biasanya kalau gagu dari lahir, pendengarannya juga kadang bermasalah, apa kamu pernah mengalami kecelakaan?" tanya Lena lagi,
Sean pun menganggukan kepala
"Oh" sebelumnya Lena tidak pernah langsung seakrab ini dengan Anak buah Agam yang sebelum sebelumnya pernah mengawalnya juga, tapi Lena merasa heran dengan pria satu ini, dia langsung merasa nyaman begitu saja , 'Kenapa aku banyak menanyainya ya?, aneh, seperti sudah kenal lama saja' pikir Lena
Mereka pun berjalan keluar berdampingan, dan sesekali terdengar tawa kecil dari Naira, karena Lena juga sesekali mengusilinya, dan tak ayal Sean pun di buat tersenyum karena 2 wanita imut ini
Setelah sampai di depan mereka pun masuk ke mobil Lena, Sean duduk di kursi bagian depan dengan Lena, tentulah dengan Naira yang duduk di pangkuannya, Lena juga tidak protes Soal Sean yang duduk di depan
Setelah beberapa menit berjalan mobil Lena pun akhirnya sampai di depan Rumahnya Lena, "Sudah sampai sayang, ayo turun dari omnya," ucap Lena ke Naira
"Naira,,, jangan gitu, kalau ada yang lihat Om nya masuk ke rumah mamah, nanti mereka pikir itu ayah mu, turun ya!" ucap Lena membujuk
"Bialin ya om ya," ucap Naila polos
Sean pun menggelengkan kepalanya, karena dia juga masih menghargai setatus sosial Lena yang sekarang adalah single parent, meskipun secara harfiah Lena bukan ibu biologis dari Naira
"Yaaa, kenapa Om?" tanya Naira
"Naira, Om kan tugasnya hanya berjaga di luar, jadi tidak boleh masuk ke rumah" ucap Lena menjelaskan
"Kenapaa??" tanya Naira lagi
Lena pun sampai menghela nafasnya, dia bingung menjelaskannya bagaimana
"Kalau Om gak masuk, Naila tunggu mamah di luar saja dengan om" ucap Naira menambahkan
"Tidak bisa gitu dong Nay, kamu harus mandi, kamu nanti bau kalau tidak mandi" ucap Lena
__ADS_1
"Bialin" ucap Naira acuh tak acuh
Sean pun sampai bingung dengan gadis di pangkuannya ini, karena dia tidak mau lepas darinya sekarang
Lena menghela nafasnya lagi "Hhhhuuuh, baiklah tapi untuk kali ini saja ya, Om mu boleh masuk kedalam" ucap Lena mengalah
Lena sebelumnya memang belum pernah memasukan seorang pria ke rumahnya, meskipun Reno juga sering mengantarnya pulang kesini, dia juga paling hanya sampai mengobrol di teras rumahnya saja, Lena sangat menjaga baik imagenya
"Yeeee"
Sean pun hanya tersenyum, Dia merasa punya dukungan penuh dari putrinya ini
Mereka pun segera turun dari mobil dan langsung melangkah masuk kedalam Rumah Lena, Sean pun memperhatikan setiap sudut halaman Rumah Lena yang lumayan Asri itu, meskipun rumahnya tidak terlalu besar, tapi semuanya tertata rapih dan nampak enak di pandang,
Lena pun segera membuka kunci pintu Rumahnya itu dan langsung melangkah masuk, "Silahkan masuk, maaf Rumahnya memang tidak terlalu mewah, tidak seperti Rumah nyonya mu" ucap Lena,
Rumah ini memang di beli Lena dari gajinya sendiri, dia memang tidak mau di belikan rumah oleh Kartina
Sean pun segera membawa Naira masuk ke dalam
"Sudah sampai, ayo turun, kasian omnya biarkan omnya duduk dulu, kamu itu kan sudah berat sekarang" ucap Lena
"Iya"
Naira pun segera di turunkan Sean ke lantai, dan tanganya pun langsung di raih Lena
"Ayo kita mandi" ucap Lena sambil menuntun Naira untuk masuk ke ruang tengah rumahnya
Tapi yang tidak di Sadari Lena, Naira juga menuntun Sean untuk masuk, dan tentu saja Sean pun tidak bisa menolak nya, jadi mereka pun masuk kedalam dengan bergandengan tangan, Merekapun sampai di depan pintu kamar Lena, diapun melepas tangan Naira, dan membuka kunci kamarnya juga
Setelah berhasil, diapun menoleh lagi pada Naira, tentu saja Lena sedikit terkejut karena Sean juga ada di belakangnya sekarang
"Kamu, kamu mau apa ikut masuk juga?, kenapa tidak menunggu di kursi saja, tidak sopan", ucap Lena yang sebenarnya sedikit takut
Sean pun mengangkat jari tanganya yang di pegang erat oleh Naira itu, dan tentu tangan Naira juga sedikit terangkat
"Ya ampun Nay, kenapa kamu tidak melepaskan omnya, ayo lepas" ucap Lena yang meraih tangan Naira yang memegang jari tangan Sean itu
Dan Naira juga melepaskanya, dan diapun langsung di gendong Lena "Kamu nakal ya" ucap Lena
"Man, Kamu tunggu di luar saja" ucap Lena pada Sean
__ADS_1
Sean pun hanya mengangguk dan segera bergegas keluar Rumah, waluapun sebenarnya Lena hanya menyuruhnya keruang tamu
Sean tersenyum senyum sendiri karena merasa dia memang sekarang Hanya orang Asing saja, tapi dia tetap merasa ada kebahagiaan tersendiri saat Dia berada di dekat mereka