
Tidak terasa hari pun mulai beranjak siang, setelah makan siang, Dokter Lena pun sudah di tunggu oleh serangkaian Operasi di ruangan bedah siang ini
Dan tentunya Sean kebagian tugas untuk mengasuh Nayra, jadi diapun membawa Nayra ke Mansion Kartina, karena biasanya Lena akan melakukan operasi selama berjam-jam, dan dia tidak tau harus membawa Nayra kemana selain ke Mansion, itu supaya dia tidak jenuh menunggu
"Neneeeeeek" triak Nayra pada Kartina yang kebetulan sedang duduk di sofa ruang tengah, diapun berlari ke arahnya
"Hallo Sayang" Kartina pun langsung menyambut cucu kecilnya itu dengan langsung menggendongnya
"Nenek Nay mau main dengan Anju" ucap Nayra
"Baiklah, nenek akan panggil Anju ke sini ya, sebentar, nenek Telpon dulu mamahnya" ucap Kartina sembari mengeluarkan ponselnya, dan diapun menghubungi Aruna dan memintanya untuk ke Mansion, karena kebetulan mereka tinggal di komplek yang sama, karena Kartina juga yang menghadiahi mereka sebuah rumah seharga puluhan miliar pada Agam saat mereka menikah
Tidak Butuh waktu lama Aruna pun datang dengan Anju ke Mansion dan langsung menghadap Kartina "Siang nyonya, Siang Master" Sapa Aruna
"Iya silahkan duduk," ucap Kartina "Tuh Anju sudah datang, cepat ajak dia ke sini" ucap Kartina
"Iya" Nayra pun langsung turun dari pangkuan Kartina dan menghampiri Aruna yang masih menggendong Anju
"Ayo anju cepat tulun kita ke nenek" ucap Nayra
Aruna pun tersenyum dan segera menurunkan Anju "Sana main dengan Nona kecil" ucap Aruna
Nayra pun langsung meraih tangan Anju yang memang masih kecil, usianya baru sekitar 2 tahunan "Ayo kita ke nenek" ucap Nayra
"Neneek" ucap Anju menghampiri Kartina
"Sepertinya Nayra sudah pantas punya adik" celetuk Sean yang melihat keakraban mereka
Kartina yang sudah menggendong Anju pun langsung tersenyum "Memang sangat pantas, bukan kah kamu dulu juga berjanji memberikan 2cucu sekaligus pada ibu, tapi nyatanya cuma satu" ucap Kartina
"Iya maaf bu, ada sedikit gangguan teknis soalnya kan" ucap Sean menggaruk belakang kepala
"Segera perbaiki, dan lanjutkan rencananya, O yah, kita besok langsung terbang ke negeri ginseng untuk segera memulihkan wajahmu, Ibu sudah sehat sekarang, ibu tidak Rela jika Lena harus di boyong orang Lain" ucap Kartina
Sean pun langsung tersenyum "Tidak akan bu, ibu tenang saja" ucap Sean
"O yah?, PD sekali, apa kamu tidak dengar Lena kemarin bilang akan menikah?" tanya Kartina
"Dengar, makanya aku percaya diri" ucap Sean
"Maksudmu?, apa kamu kenal dengan calonnya Lena itu?" tanya Kartina
"Tentu saja kenal, karena itu memang aku bu" ucap Sean
"Sungguh?, jadi maksudmu Lena sudah tau dirimu sebenarnya?" tanya Kartina
__ADS_1
"Belum sih bu, dia tau nya aku masih Dampar, Soalnya dia sempat melihat kartu identitas ku yang masih atas nama Dampar, O yah bu, apa nanti bisa sekalian mengurus kartu identitas ku yang lama?" tanya Sean
"Begitu ya, itu masalah gampang, yang penting pulihkan dulu wajahmu kan?" ucap Kartina
"Baiklah," ucap Sean
Mereka pun menemai para bocah cilik bermain di ruangan itu, sambil sesekali mereka juga mengobrol ringan
Dan setelah hari beranjak Sore Sean pun kembali membawa Nayra ke rumah Sakit lagi, karena Sean memang tidak memberitau Lena kalau dia ke mansion Kartina, dan takutnya Lena mencari cari mereka
Mereka pun segera sampai di depan Ruangan dokter lagi "Mamah Lena mana ya, apa dia sudah di dalam?" tanya Sean pada Nayra
"Mana Nay tau, kan Nayra barengan papah dari tadi" ucap Nayra
"O Iya yah, papa lupa, Nay coba cari kedalam saja" ucap Sean
"Iya" ucap Nayra yang langsung berjalan ke pintu dan di ikuti Sean, diapun langsung membuka kan pintu untuk Nayra dan Nayra pun masuk
"Tidak ada pah, mamah belum kembali" ucap Nayra
"Oh, ya sudah, kita ke ruangan bedah mamah saja, apa kamu tau?" Tanya Sean sambil menutun kembali Nayra untuk jalan
"Nayla tau" ucap Nayra
Mereka pun segera kembali ke lift dan turun ke lantai 2 rumah Sakit, Nayra terus berjalan jingkrak-jingkrak di lantai lorong rumah sakit itu, dengan tangannya yang terus di pegangi Sean,
"Itu mamah pah," Nayra pun langsung melepaskan diri dari Sean "Mamaaah" teriak Nayra yang langsung berlari ke arah Lena yang jaraknya lumayan cukup jauh
Sean pun mengikutinya sambil sedikit berlari, dan ketika Nayra tepat di persimpangan lorong, tiba tiba ada sebuah blangkar dorong yang mengarah persis ke arah Nayra
Sean pun sadar kalau Nayra akan tertabrak belangkar itu "Nay awaaaass" Sean pun seketika langsung sigap dan merangkul Nayra untuk melindunginya dan ''Braaaaakk" tubuh Sean yang mendekap Nayra pun langsung tertabrak blangkar itu
Dan belangkar yang di dorong perawat itu pun langsung berhenti sesaat setelah menabrak Sean cukup keras
Lena yang juga melihat kejadian itu pun sontak kaget dan berlari ke arah Sean dan Nayra "Nayraaaaaaaa" teriak Lena sambil berlari,
"Man kamu tidak papah???" tanya Lena panik "Hati hati dong sus" triak Lena kepada beberapa perawat yang mendorong belangkar itu
"Iya maaf dokter, kami tidak memperhatikan jalan" ucap Salah satu perawat itu dengan ekspresi bersalah dan kaget juga
"Nay kamu tidak papah sayang?" tanya Sean
Nayra yang menangis karena kaget pun menggelengkan kepalanya "Tidak" ucap Nayra
"Syukurlah" ucap Sean
__ADS_1
Lena pun juga memeriksa Nayra, tapi memang dia tidak kenapa kenapa, dia pun mulai memperhatikan Sean "Man, tanganmu berdarah, sini aku lihat" ucap Lena yang melihat Tangan Sean berdarah di balik tangan kemejanya, itu karena terkena sudut tajam dari belangkar itu
"Oh ini, seperti nya tidak papah, ini tidak sakit" ucap Sean
"Tidak ini harus segera di obati, nanti bisa infeksi, Gin kamu tolong carikan kasa, alkohol, dan obat luka ya, kasian dia" ucap Lena
"Baiklah tunggu sebentar" ucap Gina yang beranjak dan sedikit panik juga
"Man kita duduk dulu di sana, ayo" ucap Lena sambil memegangi pangkal lengan Sean untuk membantu nya berdiri
"Baiklah" ucap Sean yang juga memperhatikan lukanya dengan tetap menutun tangan Nayra untuk tetap di sampingnya
Mereka pun segera duduk di kursi panjang lorong itu "Haduh ini ada ada saja, coba aku lihat dalamnya ya" ucap Lena sambil membuka kancing kemeja hitam di tangan Sean
"Aduhh, sepertinya ini lumayan dalam lukanya, apa mending di jahit saja man" ucap Lena agak panik, dia dokter dan sudah terbiasa menangani luka, tapi kalau khawatir seperti ini dia bisa gugup juga
Sean pun menyeka lukanya sedikit dengan tangan
"Jangan pakai tangan, Haduh kamu ini, ada kumannya nanti dari tanganmu" ucap Lena
"Dokter, ini hanya sedikit terkelupas, tidak perlu panik, dokter Lena ini kan sudah biasa berhadapan dengan luka, kenapa harus sepanik ini?" ucap Sean yang memang menyadari kepanikan Lena
Lena pun terdiam sesaat, dia juga merasa aneh kenapa kekhawatirannya begitu berlebihan seperti ini pada pria ini, 'Apa ini karena aku merasa kalau Dampar itu dia?' gumam batin Lena
"Ti tidak, aku aku tadinya khawatir pada Nayra, jadi kebawa ke kamu juga" ucap Lena sambil mencoba menenangkan dirinya
"Tidak perlu khawatir dokter, ini di obati obat luar juga cepat sembuh seperti nya", ucap Sean
"Ini ini Len, sudah ada" ucap Gina yang tiba tiba muncul membawa kotak obat
"O yah sini" ucap Lena
Diapun segera membuka kotak itu dan mengambil kapas dan alkohol terlebih dulu, dan mulai menyeka darah dan membersihkan nya
"Papah,,, papah tidak akan meninggal kan?" ucap Nayra yang melihat Sean terluka sambil menangis
Sean dan Lena pun malah tersenyum mendengarnya
"Tidak dong sayang, ini hanya luka kecil" ucap Sean sambil mengelus kepala Naira dengan tangan satunya,
"Aku terkadang merasa heran, kenapa Nay bisa sedekat ini dengan mu, semacam ada ikatan di antara kalian, entah itu kebetulan atau tidak, aku juga merasakan hal yang sama dengan Nay, aku juga tidak tau alasanya apa" ucap Lena sambil membalut luka Sean dengan sangat telaten
"Aku juga merasa begitu" ucap Sean tersenyum
"Ya, memang aneh, sudah selesai, semoga cepat kering lukanya" ucap Lena
__ADS_1
"Boleh aku berpendapat Len, kalian So sweet tau, cuma yang tidak di sangka kenapa kalian nikahnya diam diam, mencurigakan sekali" ucap Gina yang memang sudah tau karena kejadian sebelumnya di depan pintu ruangan dokter