TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Isi Tenaga


__ADS_3

Aya pun langsung memeluk Sean yang baru datang itu


"AA, kata ibu AA meninggal, makanya AA tidak pernah kemari lagi" ucap Aya smbil menitikan Air matanya di pelukan Sean


(AA\=Kakak)


"Tidak, AA belum meninggal Ay, AA hanya lupa pulang saja" ucap Sean juga membalas pelukan Aya


"Apa Ibu dan bapak masih di perkebunan?" tanya Sean


"Iya A" ucap Aya yang perlahan melonggarkan pelukannya


"Terus Teteh Teteh kamu pada kemana?" tanya Sean


"Teh Isna masih sekolah A, teh Aca juga masih kuliah" ucap Aya


"Oh, mereka belum pulang ya?, sudah hampir Lima tahun AA tidak bertemu kalian, mereka juga pasti sudah bertambah besar seperti kamu ya," ucap Sean sambil menyeka air mata di sudut mata aya


"Iya A" ucap Aya


"Ya Sudah, apa boleh AA menunggu mereka di dalam?", Tanya Sean


"Eh Iya A, boleh, ayo masuk" ucap Aya


Merekapun langsung masuk ke rumah itu, "Teh Lena dan Teh Rania mana A??, kok mereka tidak ikut AA?" tanya Aya


"Ada, mereka di kota J, AA memang tidak mengajak mereka kesini, soalnya kakak juga tidak akan lama di sini, AA datang kesini sebenarnya ada urusan mendadak, tapi nanti kalau urusan AA sudah selesai, AA pasti akan ajak mereka ke sini lagi" ucap Sean


"Oh, Iya A" ucap Aya


Sean pun menunggu ibu dan Ayah angkatnya pulang dari perkebunan dengan duduk dan mengobrol dengan Aya di ruang tamu,


Dan beberapa saat kemudian yang di tunggu sean pun datang juga


"Arman!!!,, apa itu kamu??" tanya bu Ika yang sampai ternganga melihat Sean yang sekarang duduk di Sofa ruang tamu rumahnya itu


Sean pun segera berdiri dan menghampiri orang tuanya yang baru masuk itu "Iya bu, ini Arman" ucap Sean sambil memberi salam pada Bu Ika


Bu Ika pun langsung memeluk Sean dan bahakn sampai menangis karena merasa tidak percaya putranya yang sudah lama tidak ada kabarnya kini dia ada di pelukanya, putra yang pernah dia besarkan, dan putra yang sangat dia rindukan


"Arman, kamu darimana saja Nak?, kenapa kamu baru kembali sekarang?" tanya Bu Ika sambil memeluk erat putra angkatnya itu


"Iya maaf bu, Arman sebelumnya memang lupa jalan untuk pulang, makanya Arman baru kembali sekarang" ucap Sean asal


Mereka berpelukan hingga sampai beberapa saat, itu menandakan kalau mereka memang saling merindukan satau sama lain, setelah bu Ika melepaskanya, Sean juga memeluk pak Kadi sejenak


"Syukurlah kalau kamu hanya lupa, setidaknya kamu masih bisa kembali sekarang" ucap Pak Hardi sambil menatap lurus wajah Sean dengan berkaca kaca


"Ayo ayo masuk Arman, Ibu akan memasak makanan kesukaan mu, pasti kamu sekarang lapar kan?" tanya Bu Ika sambil menyeka air matanya sendiri


"Iya, aku memang sedikit lapar Bu" ucap Sean tersenyum

__ADS_1


"Baiklah, Ibu akan segera masak yang banyak untuk mu" ucap bu Ika juga sedikit tersenyum


"Baiklah, Arman tunggu, O yah bu, apa kang Ujang masih bekerja di perkebunan ibu??" tanya Sean


"Iya masih, dia di luar sekarang, dia sedang menurunkan sisa panen dari mobil di depan" ucap Bu Ika


"Oh, Baiklah, aku ingin bertemu dengannya dulu bu" ucap Sean


"Ya Sudah sana, temui saja di luar, ibu akan masak makanan untuk mu dulu" ucap Bu Ika


"Baiklah, masak makanan enak seperti dulu ya bu" ucap Sean sambil tersenyum, dia memang sudah merindukan rasa masakan rumahan yang sangat Khas buatan Bu Ika, rasa yang tidak akan dia temui lagi di belahan bumi mana pun


"Iya, tentu saja Arman, ibu akan masakan yang spesial untuk mu" ucap Bu Ika


"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di luar bu" ucap Sean


"Ya Sudah sana kalau kamu tidak mau bantu ibu" ucap Bu Ika


Sean pun Hanya tersenyum, bukannya dia tidak ingin bantu, tapi dia ingin segera melaksanakan maksudnya untuk bertemu dengan kang Rawing untuk mencari jawaban dari rasa kepenasarannya


Jadi diapun segera keluar untuk menemuinya,


Di luar, kang Rawing terlihat bsedang fokus menurunkan beberapa barang dari atas mobil bak terbuka milik orang tua angkatnya, dan Sean pun segera menghampirinya


"Kang ujang" sapa Sean


Seketika kang Rawing pun langsung menoleh ke asal Suara


"Iya kang, aku baru saja sampai" ucap Sean


Kang Rawing pun segera mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sean


"Akang tidak sangka bisa melihat Aden lagi, Soalnya akang pernah dengar kabar kalau aden kecelakaan dulu" ucap kang Rawing


"Iya kang, aku beruntung masih di percayai hidup sampai sekarang Kang" ucap Sean


"Oh, syukurlah," ucap kang Rawing


"O Iya kang, aku sedikit ada perlu ke akang, apa saya boleh mengganggu waktunya kang??" ucap Sean


"Boleh boleh den, sebentar, akang bereskan ini dulu, tangung soalnya sedikit lagi" ucap Kang Rawing


"Oh ya sudah, kalau gitu Saya tunggu akang di teras Rumah" ucap Sean


"Iya den" ucap Kang Rawing sedikit manggut


Sean pun berbalik ke teras Rumah untuk menunggu kang Rawing di kursi teras, sementa kang Rawing segera meneruskan pekerjaannya lagi


"Teh nya den" ucap salah satu asisten rumah yang menaruh 2 cangkir teh di meja samping Sean


"O Iya, terima kasih bi" ucap Sean, dia pun langsung menyambut cangkir teh itu untuk segera meneguk seduhan daun teh hangat itu, suasana pedesaan pun menjadikan teh itu terasa begitu nikmat untuk Sean

__ADS_1


Setelah Beberapa saat kang Rawing pun menghampiri Sean


"Sudah beres kang?" tanya Sean basa basi


"Iya sudah den" ucap Kang Rawing


"Oh ya sudah, duduk kang," ucap Sean


"Iya den" ucap kang ujang alias kang Rawing, diapun segera duduk di kursi teras yang lain


"Sebenarnya saya mau tanyakan sesuatu pada kang ujang" ucap Sean, diapun mengeluarkan bungkusan kain putih yang selalu di bawanya itu


Isi Bungkusan itu tidak lain adalah sepasang cincin besi kursani yang sudah kehilangan efek magis nya, yang satu adalah cincin yang di berikan oleh kang ujang saat Sean berhasil mengalahkannya dalam duel, yang satu lagi dia ambil dari tangan Goma saat Sean berhasil mengalahkannya juga


Sean pun segera membuka bungkusannya "Soal Ini kang, apa cicin yang sudah mencapai batas seperti ini masih bisa di pulihkan lagi kekuatan nya??" tanya Sean


"Ya ampun den, ini cincin dari akang ya??, kenapa jadi gosong begini den?" tanya Kang Rawing keheranan karena melihat cincin itu sudah hitam dan gosong


"Iya kang, cincin ini ikut terbakar bersama ku di kecelakaan pesawat yang menimpaku itu kang, kalau saja tidak ada kedua benda ini, mungkin aku juga sudah hangus seperti cincin ini dulu" ucap Sean


"Begitu ya, coba saya lihat den" ucap Kang Rawing mengambil bungkusan dari tangan Sean itu dengan hati hati


Kan Rawing pun mulai mengambil salah satu cincin itu dan memperhatikan nya sejenak, dia juga memejamkan matanya untuk merasakan energi dari cincin tersebut dengan kepekaan batinnya, sebagai orang yang pernah mendalami ilmu kebatinan tingkat tinggi, kepekaan insting kang Rawing tentunya berbeda beberapa level di atas kemampuan Sean,


Karena mata batin Sean juga hanya terbuka setengah nya saja, Sean memang melarang kang Rawing membuka semua mata batinnya, karena dia tidak ingin Sampai bisa melihat penampakan mahluk halus kalau mata batinya terbuka seluruhnya


Sean memang hanya membutuhkan kepekaan itu untuk memperdalam ilmu bela dirinya saja,


"Akang rasa ini masih bisa di pulihkan den, tapi akang harus membawanya ke hulu sungai untuk membasuhnya dengan air murni yang baru keluar dari puncak gunungya langsung den" ucap Kang Rawing


"Begitukah??, kalau begitu Saya akan antar akang ke sana" ucap Sean


"Baiklah, apa kita akan langsung pergi sekarang den?" tanya Kang Rawing


"Lebih cepat lebih baik kang" ucap Sean


"Baiklah" ucap Kang Rawing


Merekapun segera berdiri dari duduknya


Namun tiba-tiba ibu Ika muncul dari pintu Rumah "Arman, maknannya sudah siap, mari makan!,, kang ujang juga ayo makan sama-sama kang" ucap bu ika


Sean dan kang Rawing pun sekilas saling menatap


"Sepertinya harus isi tenaga dulu kang" ucap Sean


"Akang juga sependapat den" ucap Kang Rawing tersenyum


"Ya sudah kalau gitu kita makan dulu kang" ucap Sean


"Iya den, siap" ucap Kang Rawing

__ADS_1


Mereka pun segera masuk kedalam Rumah untuk makan Sore, karena waktu makan siang juga memang sudah lewat


__ADS_2