TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Sebuah Pelukan


__ADS_3

Keesokan Harinya, Sean dan keluarga pun segera bersiap untuk pulang kembali ke negaranya, mereka segera meninggalkan hotel yang di tinggali mereka di kota Bangkok,, da segera bertolak ke bandara kota tersebut untuk melakukan penerbangan dari sana


Hingga tibalah saatnya Arfandi harus berhadapan dengan pesawat pribadi yang bertuliskan Nama istrinya di badan pesawat nya


"KARTIN??, Apa , apa pesawat ini milik ibumu??" tanya Arfandi cukup terkesima melihatnya


"Ya, ini memang milik ibu, dia memang perempuan yang cukup hebat di dunia bisnis, Anda pasti akan bangga melihat dia yang sekarang" ucap Sean


Wajah Arfandi pun langsung pucat pasi "Benar kah??, apa kamu yakin dia bisa menerimaku yang seperti sampah ini?" tanya Arfandi


"Kita akan tau jawabanya setelah kita bertemu dengannya" ucap Sean


Nampak tersirat keraguan di wajah Arfandi kala mengetahui istrinya memiliki Jet pribadi, dia berpikir itu artinya Kartina adalah orang yang cukup kaya sekarang, padahal dulu mereka hanya orang biasa biasa, dan mengelola perusahaan keluarga yang tidak terlalu besar,, memang ada perasaan bangga di hatinya, tapi tidak di pungkiri, dia juga merasakan ada perasaan minder jika harus menemui nya dengan keadaanya yang seperti sekarang


Merekapun segera menaiki Jet pribadi Kartina itu, dan segera lepas landas untuk terbang kembali ke negara mereka


.



Setelah merka tiba di Bandara Indonesia, tepatnya di bandara internasional kota J, perasaan Arpandi pun mulai campur aduk, antara senang dan takut, dia senang bisa kembali ke negaranya, tapi dia takut Kartina tidak akan menerima kedatangan nya itu, karena dia merasa semuanya sudah berubah sekarang, dia berpikir mungkin Kartina yang sekarang bukanlah Kartina yang dulu dia kenal


Arfandi pun di buat terkesima lagi saat dia keluar dari bandara, karean banyak pengawal berbaju hitam sudah berjajar di samping mobil mobil mereka untuk menyambut dan menjemput kepulangan mereka itu


"Masuklah" ucap Sean membukakan salah satu pintu mobil untuk Arfandi, Sean tidak membiarkan pengawal yang melakukan nya


"Apa ini masih orang orang Ibumu??" tanya Arfandi


"Bisa di bilang begitu" ucap Sean


Arfandi pun merasa keraguan semakin menjadi jadi


"Ayolah, apa Anda akan diam saja di situ, aku akan pegal menunggumu melamun" ucap Sean


"Bebaiklah" ucap Arfandi, meski dia ragu tapi diapun akhirnya masuk kedalam mercy hitam itu


Sean pun melirik ketiga istrinya "Aku akan semobil denganya, kalian ke mobil lain saja, ya" ucap Sean


"Oh, baikalah" ucap Rania, merekapun segera menuju ke mobil lain, dan segera memasuki nya


Dan setelah itu, Sean juga naik ke mobil yang sama dengan Arfandi, Sean tidak memberitahukan kepulangannya itu pada Kartina, dia hanya menelpon Agam untuk meminta anak buahnya menjemput mereka tanpa sepengetahuan Kartina


Dan rombongan merekapun segera menyusuri jalanan Kota J untuk menuju ke sebuah perumahan elit yang terdapat mansion Kartina di dalamnya


Sepanjang perjalanan, Arfandi terlihat tegang dan hanya melamun, entah apa yang sedang di pikirkanya


"Apa kau merasa gugup untuk bertemu ibu kembali" tanya Sean yang memang memperhatikan gelagat nya,


"Lebih dari itu, aku merasa seperti akan di dorong ke jurang ber api olehmu" ucap Arfandi

__ADS_1


"Tidak mungkin aku akan melakukan itu kan" ucap Sean


"Itu hanya kiasan" ucap Arfandi tersenyum kaku


Tidak lama, mereka pun akhirnya memasuki gerbang sebuah Mansion klasik yang cukup mewah, dengan halaman yang cukup luas dengan tatanan pohon pohon palem yang cukup rapih berjejer di pinggiranya,


"Ini kah rumah Ibumu??" tanya Arfandi yang melihat kemegahan Mansion Kartina dari jendela mobil


"Ya begitulah, turunlah, dan temui dia, dan kau akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan mu sebelumnya" ucap Sean


"Aku, aku merasa tidak ada keberanian untuk itu" ucap Arfandi


"Jadi anda tidak mau turun dan masuk untuk menemuinya??, kalau begitu percuma saja aku membawa anda jauh jauh kemari" ucap Sean


"Berikan aku waktu untuk menyiapkan mentalku, atau pinjamkan aku 10 keberanian darimu" ucap Arfandi


"Terlalu berbelit belit, Baiklah kalau anda tidak mau turun untuk menemuinya, aku akan membawanya untuk menemui mu" ucap Sean, dia pun langsung beranjak turun dari mobil


Arfandi ingin menhan Sean, tapi dia tidak sempat melakukanya


Dan Sean pun segera masuk sendirian kedalam Mansion, diapun langsung mencari keberadaan Kartina di dalam mansion, dia tau kebiasaan ibunya di siang hari, dia pasti sedang berada di belakang area Mansion, dan Sean pun langsung mencari nya kesana


Sean pun melihat kalau ibunya sedang memperhtikan Nayra yang sedang berenang di temani salah satu asisten rumah di tengah kolam, sedang kan dia berdiri di tepian kolam


Jadi Sean pun segera menghampirinya


Kartina pun langsung menoleh ke arah datangnya Sean


"Aku tidak kuat jika harus berlama lama pergi bulan madu" ucapSean asal


"Apa kamu kewalahan melawan Tiga istri sekaligus?" tanya Kartina asal, dan dia langsung tertawa kecil


"Tidak juga, Sebenarnya aku bertemu seseorang di sana, dan dia sangat ingin bertemu dengan ibu, jadi aku segera membawanya kemari, tapi dia sedikit malu malu untuk masuk ke rumah dan menemuimu langsung, jadi apa ibu bisa menemuinya di luar??" tanya Sean


"Memangnya siapa dia?, kenapa dia bisa ada di negara T?" tanya Kartina bingung


"Dia bilang dia mantan pacar ibu dulu" ucap Sean


"Ah kamu ngaco saja, ibu tidak pernah punya mantan selagi muda dulu, Ibu hanya pernah berhubungan dengan Ayahmu saja, tidak ada lagi yang lain" ucap Kartina


"Aku tidak tau, yang dia bilang hanya itu" ucap Sean


"Kamu bikin ibu penasaran saja, apa dia punya nama?" tanya Kartina


"Entahlah, tapi mending ibu langsung temui dia saja untuk lebih jelasnya" ucap Sean


"Baiklah,, siapa yang mengaku mantan pacar, berani sekali dia" gumam Kartina pelan


"Nenek, Nayra mau ikut" teriak Nayra dari tengah kolam

__ADS_1


Dia pun langsung di bawa ke pinggiran kolam oleh asisten yang juga ikut berenang bersama nya


"Kamu Dengan ayah saja ya", ucap Sean, dia pun segera mengangkat tubuh Nayra dari kolam, dan menggendongnya, kemudian membungkusnya dengan handuk kering


Kemudian mereka pun segera bergegas untuk ke area depan Mansion,


Setibanya di halaman, Kartina langsung celingak-celinguk mencari seseorang yang di bilang Sean "Mana orang nya, di sini hanya ada istri istri mu kan, kamu pasti hanya mempermainkan ibu saja ya?" ucap Kartina yang hanya melihat ketiga menantunya yang berdiri di depan pintu salah satu mobil


Sean pun memberi isyarat pada Rania, bermaksud menanyakan di mana ayahnya


Rania langsung menunjuk kedalam mobil, dan kemudian dia pun membujuk Arfandi lagi untuk keluar dari mobil, karena dia dari tadi sudah membujuk nya, tapi belum berhasil


Dan akhirnya Arfandi pun mau turun setelah beberapa kali di bujuk Rania, dia pun turun dari mobil dengan menundukkan pandangannya, dia tidak berani menegakan kepala untuk melihat wajah Kartina, dia hanya terus melihat lantai


Sementara Kartina juga sekarang mulai melangkah ke arah Arfandi, dengan terus memperhatikan wajah yang hanya menundukan pandanganya itu


Mereka pun berdiri berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu jauh "Anda siapa, kenapa ingin menemui ku???" tanya Kartina, dia sedikit merasa heran juga karena semua menantunya antusias berdiri mendampingi pria itu


Perlahan Arfandi pun memaksakan diri untuk mengangkat wajahnya yang terasa teramat berat dia lakukan, Arfandi pun langsung menatap wajah Kartina yang nampak tidak asing dimatanya, dan matanya itu pun langsung berkaca-kaca, dan lidahnya pun langsung terasa kelu, dia tidak bisa berkata-kata meskipun dia sangat ingin menyapa wanita yang dulu adalah istrinya itu


Kartina juga menatap lekat wajah pria paruh baya di depannya itu, dia sadar kalau wajah di depanya itu sangat dia kenali, seketika matanya pun mulai lembab, dan tanpa terasa tetesan Air pun keluar dari matanya dan melintasi pipinya


Kartina pun mencoba melangkah lagi supaya lebih jelas lagi melihat wajah itu,, dan diapun sangat yakin kalau wajah itu adalah wajah suaminya yang sudah berpuluh-puluh tahun meninggalkan nya


"Imran" Itu lah kata yang keluar dari mulut Kartina, dia pun terus mendekat kepada Arfandi dengan langkahnya yang mulai gontai,


Sean tau itu akan terjadi, dan dia pun segera memapah Kartina untuk menjaga langkahnya suapaya stabil, karena Sean tau, kalau ibunya sedang merasa sedih, maka langkahnya tidak akan beraturan


Dan akhirnya merekapun Sekarang berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, mereka saling memperhatikan wajah masing masing, yang mungkin tidak setampan dan secantik dulu lagi,


Seketika kenangan masa lalu pun langsung hadir di ingatan mereka, ingatan yang bahkan mereka sendiri mungkin hampir melupakannya, mereka terbayang saat saat mereka mulai memadu kasih waktu mereka muda dulu, sampai akhirnya mereka menikah, dan bahkan sampai mereka memiliki anak yang tampan, kebersamaan itulah yang langsung tergambar di kepala mereka masing masing


Kartina pun perlahan mengangkat tanganya untuk menangkup wajah Arfandi "Kau Imran kan??" tanya Kartina dengan air matanya yang tak mampu dia bendung


Mulut Arfandi pun terasa sangat berat untuk berkata kata, bahkan untuk sekedar mengiyakan, tapi air matanya sudah cukup menjawab semuanya


Kartina pun tanpa ragu lagi langsung memeluk pria di depanya itu dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi, "Kau Kemana saja selama ini?,, kalau kau masih hidup, kenapa kau tidak pernah memberiku kabar sedikitpun,, kenapa?,, kenapa?" ucap Kartina yang mencoba melupakan kerinduan hatinya, dan semakin mempererat pelukannya


"Aku,, aku,,, aku tidak bisa mengabarimu, bukan aku tidak ingin melakukanya" ucap Arfandi yang tidak kuasa untuk membalas pelukan dari Kartina, dia merasa tidak pantas tangan kotornya itu menyentuh Kartina


Sean pun menimpali dengan memeluk keduanya bersamaan


Hingga sampai beberapa saat, mereka meluapkan semua kerindauan mereka dengan sebuah pelukan, sampai Sean pun kali ini lumayan menguras air matanya karena menyaksikan pertemuan kedua orang tuanya itu


Dan bahkan istri istrinya pun saling memeluk satu sama lain dan menangis di belakang, mereka merapatkan kepala mereka masing masing dengan bahu Lena sebagai sandaran, karena Lena paling pendek dan berada di posisi tengah


Sampai akhirnya Sean pun melepaskan pelukannya dari kedua orang tuanya itu "Sudah, sudah, akan lebih baik jika kita segera kedalam sekarang, ya" ucap Sean


Kartina pun perlahan melepaskan pelukannya dari Arfandi, meskipun dia masih ingin memeluknya beberapa saat lagi,

__ADS_1


Sean pun langsung memapah mereka untuk segera masuk kedalam Mansion


__ADS_2