
Setelah menemani Lena hingga menjelang sore, Rania pun pamit pulang kepada Lena, karena memang dia tidak bisa berbuat banyak untuk sekarang, yang bisa di lakukan Rania hanya menemui pengacara Kartina sekarang untuk membantu Lena dalam persidangan nantinya
Lena pun mulai hari ini resmi menjadi tahanan sementara di ruang tahanan di kantor itu, ruangan kecil seadanya dengan tempat tidur kecil, dan satu toilet kecil, dan dia sendirian di sana karena ini memang tempat sementara sebelum tahanan di pindahkan ke lapas
Lena pun terduduk di tempat tidur yang kecil di sudut ruangan itu "Tidak pernah terbayangkan aku akan berada di tempat seperti ini" gumam Lena memperhatikan kesekeliling tempat yang tidak ada satupun sesuatu yang bisa membuat Lena nyaman di balik tralis besi ini
Sore harinya Gina dan teman-teman dokter Lena pun menemui Lena di kantor
"Ya Ampun Len, kenapa harus seperti ini sih, harusnya kita barengan di sini" ucap Gina memegangi tangan Lena di balik jeruji
"Sudahlah, jangan nangis gitu, kalau kamu di sini menemani ku, nanti Vino juga pasti ingin ikut kesini, aku juga tidak akan lama di sini, pokoknya kamu harus tetap cari laporan operasi itu untukku, dan berikan itu pada kak Rania untuk bahan persidangan nanti" ucap Lena
"Iya Len, aku akan mencarinya sampai ketemu, aku janji" ucap Gina, Mereka pun menemani Lena mengobrol sambil tangis tangisan di sana hingga malam hari, dan sampai akhirnya mereka pun dengan berat hati pamit meninggalkan Lena
Lena pun harus menghabiskan malam ini sendirian di balik tralis besi itu, di kasur kecil itu, di ruangan yang tidak takuti oleh kebanyakan orang, termasuk dirinya, dan hanya ada 2 orang petugas jaga yang terlihat di depan sana yang juga jarang menghampiri Lena
Keesokan paginya sidang awal pun di mulai, dan Lena pun harus merasakan duduk di depan meja hijau untuk pertama kalinya dan mendengarkam tuntutan dari hakim, Rania dan pengacara Kartina pun juga hadir, Gina dam beberapa Rekanya juga menyempatkan hadir di sana
Namun berkas laporan operasi belum bisa Gina temukan, jadi sidang kali ini pum masih harus ditunda, karena pengacara Lena belum benar benar punya bahan yang kuat untuk memenangkan sidang, dan memutuskan menundanya dulu
.
~
Sidang pun berlanjut di kemudian harinya, dan masih belum menemukan titik terang untuk Lena, dan diapun harus kembali lagi masuk ke ruang tahanan sementara yang membosankan itu lagi, meskipun baru tiga hari Lena berada di balik tralis besi itu, tapi dia merasa ini seperti sudah tiga tahun untuknya
Dan Rania juga sealu menemaninya di sana hingga sore hari, sementara Gina hanya bisa menengoknya sore harinya karena tidak bisa meninggalkan tugas, setelah yang menemani Lena pulang, malam harinya Lena kedatangan tamu yang tidak di undang,
Pria itu pun menghampiri tralis tempat Lena di kurung,
"Len,, Coba kalau kamu menikah dengan ku,, aku pasti bisa membantu mu sekarang, dan ngomong-ngomong di mana suami jelek mu itu, kenapa dia tidak menemanimu di sini, kenapa dia malah menghilang saat kamu seperti ini, kasihan sekali kamu" ucap Reno
"Apa kamu kesini hanya ingin memojokan ku?, lebih baik kamu pulang saja sana, aku juga tidak butuh di kasihani olehmu " ucap Lena
"Tidak, sebenarnya aku ingin mengajukan penawaran untuk mu, ceraikan si jelek itu dan menikahlah dengan ku, dan kamu tidak perlu berlama-lama lama di balik jeruji ini" ucap Reno
Lena pun tertegun mencerna perkataan Reno itu "Apa maksudmu?" tanya Lena
"Kamu pasti belum menemukan bukti kuat untuk memenangkan persidangan kan, kalau kamu perlu aku bisa mencarinya untuk mu" ucap Reno
"Jangan bilang kalau kamu yang sengaja mengambilnya" ucap Lena
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi, itu memang kebetulan ada padaku, jadi pilihan mu sekarang hanya dua, teap di sini atau......"
"Aku lebih baik di sini daripada harus hidup dengan orang pecundang dan tidak punya malu seperti mu" ucap Lena geram, dia tidak menyangka kalau Reno bisa melakukan hal semacam itu 'Kenapa dia bisa tau sebelumnya kalau laporan itu akan sangat di butuhkan, ini aneh' pikir Lena
"Baiklah kalau itu pilihan mu, aku pamit, semoga kamu tetap betah di sini Len" ucap Reno
Lena pun tidak ingin menggubris lagi Reno yang menurutnya sangat menyebalkan sekarang
Reno pun segera berlalu pergi dari hadapan Lena ,
Lena pun langsung terduduk di tempat tidur kecil itu lagi dengan tetap mencerna perkataan Reno "Apa ini memang rencana Reno?, tapi masa iya dia bisa memperkirakan sejauh ini, apa meninggalnya pasien itu juga bukan kebetulan?, mustahil kalau Reno benar-benar sengaja melakukanya, itu sama saja dia menghianati tanggung jawab pada profesi nya sendiri" gumam Lena berasumsi
Lena pun kini berbaring lagi di kasur kecil itu, jujur, selama tiga hari ini dia tidak dapat nyenyak tidur, bagaimana tidak, selain dingin, nyamuk nyamuk juga selalu menggangunya,
Keesokan paginya, Lena pun harus menghadiri persidangan akhir, dan akan menerima vonis hukuman kalau dia tidak bisa menang di persidangan kali ini, dan Lena pun memang merasa tidak punya harapan untuk menang setelah tau kalau Reno yang menyembunyikan berkas itu
Dan benar saja, Lena pun di vonis hukuman 1 tahun kurungan, dengan pasal 359 kuhp,, dan keputusan hakim itu pun mebuat Lena menangis di kursi persidangan,
"Len, maaf, aku sudah mencoba semampuku" ucap Rania juga menangis dan langsung memeluk Lena
"Tidak apa kak, o yah, apa ibu masih belum kembali dari luar negri" tanya Lena
"Ibu bilang hari ini mereka akan kembali, ibu Sangat marah pada pengacaranya kemarin karena menurutnya ini masalah spele, tapi tidak bisa dia selesaikan oleh pengacara nya, ini karena pihak penuntut juga punya pengacara yang handal, dan ini juga karena Reno benar-benar tidak mau menyerahkan bukti itu" ucap Rania
"Len, kamu bilang kamu tidak akan lama, kenapa harus satu tahun" ucap Gina yang juga langsung memeluk Lena
Sementara Lena hanya bisa menagis tersedu dengan di peluk oleh 2 orang terdekat nya itu
Lena pun dengan sangat terpaksa harus di bawa petugas ke tempat kurungan sementara nya lagi, dengan di antar Rania dan Gina yang terus menangis untuknya
.
.
.
.
~
Sementara di tempat lain, tepatnya di bandara internasional kota J, terlihat sebuah jet pribadi berwarna putih dengan tulisan KARTIN besar berwarna merah di bagian pesawat nya lending dengan cukup mulus di landasan
__ADS_1
Pintu Jet pribadi itu pun segera terbuka, dan sosok pria tampan berperawakan tegap dan bersetelan jas mahal pun turun dari kapal itu, dia di dampingi oleh seorang ibu karismatik berjilbab hijau toska yang setia menemaninya, dan juga di ikuti beberapa pengawal tegap yang selalu mengawal mereka di belakang
"Bu, apa ada kabar terbaru soal Lena?" tanya Sean Arman
"Ibu belum dapat kabar lagi Arman, yang pasti ibu ingin tau keluarga mana yang sudah berani memenjarakan memantu dari keluarga Arfandi, apa mereka tidak tau mereka berurusan dengan siapa, ibu pastikan mereka akan menyesal jika tidak segera melepaskan Lena" ucap Kartina
"Ibu tenang saja, Arman yang akan mengurus nya, ibu langsung beristirahat saja ke Mansion, ibu pasti lelah kan?, Arman akan segera membawa pulang Lena kembali ke masion secepatnya" ucap Sean
"Baiklah, ibu percayakan padamu" ucap Kartina
Mereka pun segera keluar dari bandara dan segera memasuki mobil mobil yang sengaja menjemput mereka
"Yuda, tolong beri informasi yang jelas tentang masalah dokter Lena" ucap Sean
"Siap tuan, Nona Lena di tuntut oleh seorang pengusaha yang kehilangan anaknya pasca dioperasi, dan dia menyalahkan dan menutut semua dokter yang terlibat di operasi itu, namun nona Lena menanggung jawab tuntutan itu sendirian, dan di persidangan pengacara nyonya Kartina tidak bisa berbuat banyak karena bukti laporan pasien yang harusnya ada, itu di sembunyikan oleh dokter Reno sedari awal, itu yang saya tau tuan" ucap Sean
"Jadi ini berhubungan dengan Reno lagi, seperti nya aku harus benar-benar menyingkirkan orang itu ,, tunggu!!!!, bagaiman dia bisa tau kalau itu bukti yang di butuhkan dan menyembunyikanya sejak Awal??, sepertinya ada yang janggal di Sini" ucap Sean
Sean pun segera menghubungi (S) untuk mencari petunjuk soal masalah ini di rumah Sakit
"(S),, Carikan aku peretasan sistem keamanan dari rumah Sakit tempat kerja Dokter Lena, usahakan hanya yang berhubungan dengan Reno 5 hari lalu, dan segera kirimkan hasilnya padaku" ucap Sean
📲"Segera Tuan" ucap (S)
Setelah beberapa saat Sean pun menerima beberapa video dari peretasan cctv rumah Sakit yang berhubungan dengan Reno, dia pun menelitinya satu persatu,
Sean pun melihat Reno yang masuk ke ruangan dokter Tempat tim Lena berkumpul, tapi sesaat mereka sudah bubar, dia keluar dengan berkas di tanganya, dan melihat lihat sejenak berkas itu, kemudian dia pun pergi dari sana
Sean pun terus mencari lagi potongan video Reno pergi setelah itu, dan Reno pun masuk ke sebuah ruang ICU, dan menemui pasien anak yang belum sadarkan diri di sana, dan dia terlihat menyuntik labu infus seperti dokter normal pada umumnya, tapi yang janggal di sana itu bukan pasien di bidangnya, melainkan pasien yang baru selesai di operasi oleh Lena siang harinya
"Ternyata dia memang selalu punya rencana busuk, aku salut padamu, tapi kamu harus terima akibat nya" ucap Sean
Sean pun menghubungi Agam
.📲"Hallo Tuan, apa ada perintah?" tanya Agam
"Cari dokter yang bernama Reno, dan bawa dia ke markas kecil, bagai mana pun caranya kamu harus bisa membawanya,, tak perduli cara kasar atau halus, yang penting dia meghadapku dengan masih bernafas" ucap Sean
📲"Siap tuan" ucap Agam
Sean pun segera menutup panggilannya "Kita ke markas Agam sekarang" ucap Sean pada Yuda
__ADS_1
"Baik tuan" ucap Yuda yang mengemudikan mobil
Mereka pun pergi menuju ke tempat latihan anak buah Agam yang Sean sebut markas kecil, karena markas besar itu di tujukan Sean ke gedung Redbear yang di sekarang di bawah kepemimpinan Tiara