TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Entahlah


__ADS_3

Pria tua itu pun sedikit gelagapan juga karena Pukulanya mengenai Sean, tapi dia tetap mencoba bias saja di permukaan "Dompet ini milikmu kan?, ambilah, semuanya masih utuh, tapi biarkan aku pergi" ucap Pria tua itu langsung melemparkan dompet Sean ke arahannya


Sean pun langsung menangkapnya dompet nya di udara "Apa Kamu pikir urusanya bisa selesai semudah ini, jangan berpikir aku akan semudah itu melepaskan mu, dan membiarkanmu berkeliaran lagi, dan merugikan orang lain lagi" ucap Sean


"Biarkan aku pergi, aku tidak ingin ada urusan denganmu anak muda" ucap Pria itu


Sean menyimpan dompetnya lagi ke sakunya, "Sudah ku bilang tidak semudah itu" ucap Sean,, diapun kemudian maju lagi ke arah pria itu dan melancarkan seranganya lagi, dia sebenarnya tidak terlalu bernafsu untuk memenjarakan nya, dia hanya penasaran dan ingin terus menjajal kemampuan pria tua itu yang sulit untuk dia kalahkan, dia memang baru kali ini menemukan lawan yang mempunyai tehnik bertarung yang hampir sama dengannya, jadi dia merasa seperti melawan dirinya sendiri


"Tidak mau melepaskan ku ya?, Baiklah" ucap Pria itu


Pertarungan pun segera berlanjut kembali, dan seperti sebelumnya, mereka mampu bertarung imbang hingga keduanya merasa sedikit kewalahan karena serangan mereka sama sama cepat dan kuat, belum ada yang mau mengalah, mereka terus saling serang dan bertahan,


Sampai ketika Tiara datang membantu Sean dengan langsung menendang dada Pria tua itu 'Bak', "Arghhh" pria itu pun langsung terhuyung Beberapa langkah kebelakang, dengan memegangi dadanya, dia memang tidak melihat pergerakan Tiara, karena fokusnya hanya pada Sean


"Ra, kenapa kamu ikut menyerang?," tanya Sean


"Maaf, aku hanya berniat membantu, kulihat kamu kesulitan menaklukan nya" ucap Tiara


"Kalian pasangan yang kompak ternyata,, tapi rasanya aku tidak bisa melanjutkan pertarungan, jadi aku mohon, biarkan aku pergi" ucap Pria tua itu


"Apa kamu takut??, kalau begitu kamu menyerah lah," ucap Tiara


"Menyerah?, kurasa Tidak akan, aku masih ingin hidup bebas" ucap pria tua itu, dia sadar, dia tidak akan bisa lari dari mereka, karena memang kondisi kakinya sedikit bermasalah, dan itu pun membuat larinya tidak terlalu cepat


"Kalau begitu kami akan memaksamu menyerah" ucap Tiara, diapun langsung maju ke depan untuk menyerang pria tua itu


Sean sedikit memberi kesempatan Tiara untuk melawan pria itu sendiri dulu, jika mereka berdua menyerang sekaligus tentu saja mereka akan unggul, karena kemampuan bertarung Tiara juga cukup lumayan, jadi diapun membiarkan Tiara untuk menjajal nya terlebih dulu, kalau dia kesulitan baru Sean maju


Tapi ternyata, itu sedikit di luar perkiraan nya , karena tidak butuh waktu lama untuk Tiara bisa melumpuhkan dan mengunci pergerakan pria itu dengan memelintirkan tanganya kebelakang, kemudian dia menendang kakinya dari belakang, hingga lutut pria itu pun menyentuh tanah, dan dia berlutut menghadap ke arah Sean di bawah kendalinya


Sean pun sedikit tercengang, karena dia saja merasa kesulitan untuk melumpuhkannya, tapi Tiara malah tidak butuh waktu lama untuk menaklukan nya "Bagaimana bisa?, apa kemampuan bertarung ku yang sudah sangat menurun??, atau kamu yang memang sudah bertambah kuat Ra??" ucap Sean merasa tidak habis pikir dengan Tiara


"Aku tidak lebih hebat darimu, dia hanya ragu ragu untuk melawanku, mungkin karena aku ini perempuan,, jadi itu keuntungan buatku kan?" ucap Tiara


"Aku memang tidak memukul wanita" ucap pria itu sambil tertunduk


"Apa dialog mu bisa di ubah, karena itu mirip jargonku, jadi itu tidak lucu jika kamu menirunya" ucap Sean asal, karena dia juga beberapa kali mengatakan perkataan itu saat bertarung dengan Tiara


"Arman Arfandi, itu namamu kan?" tanya pria itu


Sean pun sedikit merenung, dan dia berpikir mungkin dia tau karena sudah melihat kartu identitas nya,, "Kurasa kamu pencopet yang terlalu rajin, apa kamu terbiasa menghapal identitas dari korban mu??" tanya Sean

__ADS_1


"Dan Ibumu Kartina Deandra kan?" ucap pria itu lagi


Sean pun semakin bingung, 'Kenapa dia bisa tau nama Ibu, itu tidak tertera di kartu identitas ku kan??' pikir Sean


"Darimana kamu tau nama ibuku??" ucap Sean


"Karena aku Imran Arfandi" ucap pria itu


Sean pun sedikit kaget mendengar nama itu di sebut, karena itu adalah nama orang yang sedang di carinya, dan itu tidak lain adalah nama ayahnya


"Tidak, tidak mungkin, kau pasti mengarang" ucap Sean


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi itu memang namaku, aku salut pada Ibu mu, ternyata dia bisa menemukan mu yang dulu pernah hilang" ucap Arfandi


Sean pun merenung sejenak, perkataannya memang tidak bisa di sangkal, karena dia tau masalalunya,, dia pun mengeluarkan foto yang di bawanya, dia mencoba membandingkan foto itu d engan wajah pria di hadapannya yang masih di tahan Tiara


Memang terlihat beberapa kemiripan di wajah mereka, hanya saja bedanya, jika di foto masih terlihat tampan, berambut hitam, berbadan tegap dan gagah, tapi pria di depanya sekarang hanya pria tua berwajah sedikit keriput, dan berambut putih,


"Kurasa ibu memberikanku informasi yang salah,, Ayahku pastilah orang yang sangat baik, bukan seorang kriminal" ucap Sean


"Maap Nak, keadaan yang memaksa aku melakukan pekerjaan ini" ucap Arfandi sambil menjatuhkan Air matanya


Tiara pun langsung Melonggarkan kuncian pada tanganya, dan perlahan melepaskan nya, dia pun sedikit merasa segan pada pria di hadapannya itu sekarang, karena pria itu ternyata adalah ayah mertuanya


"Hidup ku tidak semudah itu nak,, bertahan sendirian di negara asing tanpa adanya uluran tangan sanak keluarga itu sedikit sulit, aku juga pernah bertekad, mungkin dengan kejujuran bisa membuatku bertahan hidup dan bisa kembali lagi ke ibumu, tapi nyatanya itu sangat sulit, orang cacad dan terlantar sepertiku selalu di pandang sebelah mata, dan terasingkan" ucap Arfandi


"Jujur saja, aku sedikit kecewa karena sudah mencari mu jauh jauh ke negara ini" ucap Sean


"Maaf kan aku nak" ucap Arfandi


"Tiara, kita pergi,,, biarkan dia di sini, kurasa ibu tidak akan mau bertemu dengan seorang pencuri" ucap Sean


"Tapi, tapi..." Tiara pun merasa ragu


"Sudah, Ayo pergi" ucap Sean langsung berbalik, dan keluar dari gang itu tanpa menoleh lagi kebelakang , saat ini dia memang sedikit kecewa dengan ayahnya,


Sean pun kembali ke Tuktuknya lagi dengan wajah yang suram, Dia berdiam di sana hingga beberapa saat, dan barulah Tira datang menghampiri Sean yang sedang menyandarkan keningnya pada kemudi Tuktuk


"Kenapa kamu lama sekali??" tanya Sean pada Tiara tanpa menoleh


"Maaf, aku membujuknya untuk ikut bersamaku, aku harap kamu bisa memberi dia kesempatan, bagaimana pun dia tetap ayahmu kan?, aku mohon," ucap Tiara, dia merasa sangat bersalah dengan keadaan Arfandi sekarang, karena dia tau ayahnya lah yang menyebabkan dia jadi seperti itu, tapi dia tidak berani mengakui nya langsung pada Arfandi, kalau dia adalah putri Goma

__ADS_1


"Nak, aku mohon, bawa Ayahmu ini pulang ke Indonesia, ayah ingin kembali ketempat ayah di lahirankan,, tidak apa jika kamu dan ibumu tidak ingin menerima ku, tapi setidaknya ijinkan ayah untuk mati dan terkubur di tanah asalku" ucap Arfandi


"Naiklah" ucap Sean dingin,, dia menyuruh mereka naik ke Tutuknya tanpa menoleh


"Terimakasih" ucap Arfandi sambil menghapus air matanya


Tiara juga tidak bisa membendung air matanya, dia menangis karena merasa pilu harus menyaksikan pertemuan ayah dan putranya yang terpisah Sangat lama itu, tapi tidak ada pelukan kerinduan di antara mereka


Arfandi dan Tiara pun segera naik di belakang Sean,


Dan Sean pun segera melajukan kendaraan beroda tiga itu untuk kembali ke hotel yang dia tinggali


Sesampainya di hotel, Sean pun sudah di tunggu Lena dan Rania di lobi, jadi dia pun juga segera masuk dan menghampiri mereka dengan di ikuti Tiara yang memapah Arfandi


"Apa dompet mu sudah ketemu??" tanya Rania yang langsung berdiri dari duduknya


"Sudah, aku bahkan membawa pencurinya kemari" ucap Sean


"Kenapa membawanya kemari, kenapa tidak ke kantor polisi?" tanya Rania heran


"Entahlah" ucap Sean, diapun segera berlalu tanpa mengajak Rania dan Lena


"Ra, ada apa?, kenapa Araman bersikap aneh?" tanya Rania


"Orang yang mencuri dompetnya, adalah ayahnya" ucap Tiara


Rania dan Lena pun langsung mengrahkan pandangan mereka pada sosok pria paruh baya yang berperawakan tegap itu, dan mereka memang melihat ada beberapa kemiripan di mata dan hidung pria itu dengan Sean


"Benarkah?, tapi kenapa Arman malah muram, bukan kah dia harusnya senang ayahnya sudah ketemu" ucap Rania


"Mungkin dia kecewa padaku, karena dia punya ayah seorang pencuri dompet, aku memang Ayah yang buruk" ucap Arpandi dengan menundukkan pandangan nya


Rania pun terdiam sesaat "Ya sudah, aku akan coba bicara padanya, mending sekarang kita naik ke atas, aku akan buka kamar hotel untuk bapak beristirahat, aku yakin Arman akan menerima bapak kalau dia sudah memahami keadaan bapak,, aku yakin bapak melakukan ini hanya untuk bertahan hidup kan?" tanya Rania


"Ya, bapak memang tidak punya banyak pilihan" ucap Arfandi


Rania pun segera memesankan kamar untuk Arfandi di lantai yang Sama dengan mereka, dan setelah itu mereka pun segera naik untuk mengikuti Sean


Rania pun langsung mencari Sean ke kamarnya, tapi dia tidak ada di sana, Tiara juga membuka kamarnya juga tidak menemukan nya, mereka berpikir juga tidak mungkin Sean bisa masuk ke kamar, karena dia tidak punya kunci cadangan kamar mereka


Rania pun mulai memperhatikan lorong Hotel, dan diapun melihat seseorang pria yang berdiri di ujung lorong dengan menghadap ke jendela kaca di depanya

__ADS_1


Jadi Rania pun, segera berjalan ke arahnya untuk menghampiri nya, dan Rania pun berdiri persis di sampingnya dan menatap ke arah yang sama dengan Sean, yang menatap kosong ke luar kaca tersebut


"Ayahmu mungkin bukan sosok ayah yang sama persis dengan yang kamu harapkan, tapi apakah kamu tidak berpikir, kalau keadaan lah yang memaksanya menjadi seperti itu, andai kata dia adalah orang baik, tapi dia tidak sanggup bertahan hidup sendirian di kota ini, apakah kamu masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya hari ini?,, belum tentu kan??, jadi aku sarankan kamu rangkulah dia, aku yakin dia punya banyak beban dan unek unek yang dia simpan selama bertahun tahun di hatinya, yang pastinya dia ingin mebaginya pada seseorang, jadi tampunglah semua Keluh kesah nya, dan ringankanlah beban di hatinya, karena aku yakin, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tetap adalah ayah yang baik seperti yang kamu harapkan" ucap Rania sambil matanya berkaca-kaca


__ADS_2