TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Rangkai Kembali


__ADS_3

Sean pun sesaat merenungi perkataan Rania, dia pun sadar kalau dia memang terlalu berharap lebih pada ayahnya, dan itulah yang menyebakannya kecewa, tanpa memikirkan bagaimana kehidupan yang sudah di lalui Arfandi di kota ini sebelumnya,


"Mungkin yang kamu katakan itu benar Ran, mungkin dia memang cukup sulit menjalani hidupnya di sini" ucap Sean yang mulai bisa membuang egonya


"Iya, dan jika kamu memang putra yang baik, harusnya kamu membantu dia untuk memulihkan martabatnya, dia pasti sudah sangat merindukan pelukan darimu, jadi, temuilah dia" ucap Rania


Sean pun hanya tersenyum, kemudian diapun berbalik badan dan kemudian beranjak untuk menemui ayahnya lagi


Rania juga langsung mengikutinya pergi, dan menuntunnya untuk menuju ke kamar Arfandi, Tiara dan Lena juga masih berada di depan pintu kamar Arfandi setelah mereka tadi mengantarnya


Rania pun segera membukakan pintu kamar Arfandi untuk Sean "Apa perlu ku temani kamu masuk?" tanya Rania


"Tidak perlu, biar aku sendiri saja" ucap Sean


"Ya sudah, baik baiklah padanya, ya" ucap Rania


Sean pun hanya memberi senyum pada Rania, dan kemudian diapun masuk ke kamar hotel yang di tempati oleh Imran Arfandi itu, Sean pun melihat Arfandi juga sedang berdiri di depan jendela dan melihat ke arah luar, dan dia langsung menoleh saat Sean masuk ke kamarnya itu,


"Nak" ucap Arfandi yang segera membalikan badannya


"Aku minta maaf jika aku sudah bersikap yang tidak seharusnya padamu" ucap Sean


"Tidak, aku sadar aku bukan ayah yang baik, dan mungkin tidak layak di hormati olehmu" ucap Arfandi


"Baik buruknya anda, tetap saja Anda adalah ayah kandung ku kan, aku tidak akan bisa menyuruh ibuku untuk mengganti nya dengan orang lain," ucap Sean


"Ya, kau benar, Ibumu pasti sudah menemukan pria yang lebih baik dari pada aku kan?" ucap Arfandi


"Tiadak,, Ibu tidak pernah menikah lagi sampai sekarang" ucap Sean


"Sungguh??, dia wanita yang cantik, tapi kenapa dia tidak mencari pengganti ku, benar benar bodoh" ucap Arfandi tersenyum dengan mata berkaca-kaca,


"Apakah aku boleh memelukmu, pak tua" ucap Sean


Arfandi pun tersenyum mendengar perkatan Sean itu, dengan mata nya yang semakin berair "Kemari lah anak muda, aku memang sangat ingin memeluk mu" ucap Arfandi


Sean pun segera mendekat dan langsung memeluk pria tua di depanya yang tidak lain adalah ayah kandungnya itu

__ADS_1


Tangis Arfandi pun langsung pecah saat dia memeluk putra semata wayangnya itu, dan dia langsung memeluk Sean dwngan sangat erat, "Kau sudah tumbuh besar putraku, Harusnya dulu aku bisa terus menemani ibumu untuk mencarimu,, sayangnya takdir tidak mengijinkannya" ucap Arfandi


"Tidak apa, aku juga tidak akan menyalahkan mu untuk hal itu" ucap Sean


Tidak lama Rania Tiara dan Lena pun juga masuk ke kamar itu


Arfandi yang melihat mereka masuk pun segera melonggarkan pelukannya, dan perlahan melepas nya


Sean juga langsung menoleh pada mereka


"Arman, siapa mereka?, apa mereka temanmu?, atau kau punya saudara perempuan yang di lahirkan ibumu di antara mereka?" tanya Arfandi


Ketiga wanita itu pun segera mendekat ke arah Sean dan Arfandi,


"Cantik cantik sekali, apa di antara kalian ada putriku?" tanya Arfandi, memperhtaikan satu persatu wajah wajah mereka, dan perhatiannya pun langsung tertuju pada Lena dan menatap lekat wajahnya


"Kamu pasti adik Arman kan?, kamu mirip sekali dengan ibumu nak" ucap Arfandi yang mengira Lena adalah putrinya, karena dari segi perawakan dan wajah Lena memang sedikit mirip Kartina


"Tidak,,, Anda tidak punya putri,, Ibu tidak pernah melahirkan lagi semenjak Anda pergi, mereka semua adalah menantumu" ucap Sean sedikit ragu


Arfandi pun sampai tidak tau harus berkata apa saat mendengar kalau mereka bertiga adalah menantunya, dan yang jadi tanda tanya sangant besar di otaknya adalah 'Apa itu artinya Arman sudah menikahi ketiganya?, tapi Kenapa mereka bisa akur??' pikiran itulah yang langsung terlintas di kepalanya


Sean pun langsung menghela nafasnya "Kalau aku mempermainkan meraka, aku tidak akan menikah dengan mereka" ucap Sean


Arfandi sedikit menggelengkan kepalanya "Ayah tidak habis pikir padamu, kenapa kamu bisa punya banyak istri, padahal ayah sangat setia pada Ibu mu dulu, kalau memang kau anaku, harus nya sifat itu turun padamu" ucap Arfandi


"Kalau semua sifat mu turun padaku, mungkin aku juga akan berbakat untuk mencopet" ucap Sean


"Bukan begitu maksudku nak, kamu harusnya bisa menghargai perempuan" ucap Arfandi


"Apa menurutmu aku tidak menghargai mereka??, tanyakan pada mereka, apa aku menghargai mereka atau tidak" ucap Sean


"Tapi,, kamu..."


"Sudah sudah, kalian tidak perlu berdebat masalah kami, harusnya kalian bertemu kangen kan??,, kenapa harus berdebat??,, kurasa kalian memang butuh waktu untuk berdua, Ayah, mungkin Lebih baik kami keluar dulu" ucap Rania


"Iya nak, silahkan, aku akan mencoba memarahi anak nakal ini, tenang saja" ucap Arfandi

__ADS_1


Rania, Lena dan Tiara pun akhirnya keluar lagi dari kamar Arfandi itu, karena mereka merasa kehadiran mereka malah jadi perusak momen


"Kamu mau memarahiku?, apa menurutmu ada yang salah dengan ku??" ucap Sean


"Tidak,,, tadi aku hanya asal bicara saja, O yah, bagaimana caranya kamu bisa punya istri seperti mereka, apa kamu memakai pemikat?, kenapa mereka bisa akur seperti itu?" tanya Arfandi


"Ku kira anda tidak menyukai hal seperti itu, tapi sepertinya Anda cukup tertarik" ucap Sean


"Tadi ada mereka, sekarang hanya tinggal kita berdua, kita ngobrol jujur soal laki laki saja, laki laki mana yang tidak tertarik untuk punya istri cantik kan?, Ini kamu bahkan sampai memiliki tiga," ucap Arfandi


"Anda bisa bermuka dua juga ternyata, kenpa sifat itu tidak ada padaku" ucap Sean sambil menyunggingkan senyum kecil di sebelah bibirnya


"Ayah hanya takut salah bicara saja di depan mereka, dan takut malah membuat mereka tersinggung,, Baiklah, kalau kamu tidak mau cerita soal cara kamu mendapatkan mereka, ceritakan tentang ibumu saja, bagaimana keadaanya Sekarang?, apa dia sering menyebut namaku?, apa dia tau aku masih hidup?, apakah dia sudah menimang cucu sekarang?,, apa......"


"Aku mohon Jangan mengajukan begtiu banyak pertanyan sekaligus padaku,, karean aku akan bingung menjawabnya, waktu kita masih panjang, jadi satau persatu saja, aku akan menjawab semuanya" ucap Sean


"Oh, Baiklah, " ucap Arfandi


Mereka berdua pun mulai menghadap ke arah jendela lagi, dan menatapi pemandangan luar di kota Bangkok di sore yang masih cukup cerah itu,, Sean pun mulai menjawab satu persatu pertanyaan dari Arfandi,


Setelah semua pertanyaan mulai habis, Arfandi pun mulai menceritakan kisahnya, dari awal dia pergi untuk urusan bisnis ke negara itu, kemudian di ikuti Goma yang tidak lain adalah sahabat dekatnya sendiri, mereka berselisih karena diam diam Goma juga menginginkan Kartina,


Hinga akhirnya dia di celakai oleh Goma dengan di jatuhkan dari atas jembatan, setelah Arfandi kalah bertarung oleh Goma, dia kalah Karena waktu itu Goma baru saja mendapatkan cincin kursani pertamanya, kalau tidak, belum tentu Arfandi bisa kalah, karena kemampuan bertarung nya juga tidak bisa di remehkan


Arfandi juga harus kehilangan semua tanda pengenalnya, dan juga fasilitas nya, karean semuanya di bakar habis oleh Goma supaya tidak ada satupun benda yang bisa mengidentifikasi Arfandi, dan goma jugalah yang memberi kabar pada Kartina kalau suaminya kecelakaan dan meninggal di kota itu, dengan mengatasnamakan kepolisian setempat, tapi dia tidak memberitahukan posisi pasti di mana Arandi meninggal pada Kartina,


Kejadian itupun membuat Arfandi harus Masuk ke rumah sakit hingga berbulan bulan dengan kondisi patah kaki kiri, dan terluka cukup parah, tanpa identitas, dan tanpa ada yang tau dia siapa dan dari mana asalnya, bahkan dia harus kabur dari rumah sakit dengan kondisinya yang belum stabil, karena dia tidak bisa membayar pengobatannya sendiri


Dan sampai akhirnya dia hidup sebagai tuna wisma di jalanan, dia pernah meminta minta, dia pernah jadi kuli, dan sampai akhirnya dia jadi seorang pencopet seperti sekarang demi mempertahankan hidupnya, dan berharap ada secercah harapan untuk kembali pada keluarganya di kemudian hari


Lumayan lama dia menceritakan kisah pilunya itu, hingga Sean benar benar menitikan Air mata mendengar kisahnya itu


"Begitulah kisah hidup Ayahmu ini,, benar-benar tidak mudah untuk sampai ke titik ini, jika waktu bisa kuputar kembali, aku tidak akan pernah pergi ke negara ini sebelumnya, dan tidak ingin meninggalkan ibumu" ucap Arfandi


"Aku rasa kita punya kisah hidup yang hampir sama, aku kira hanya aku yang mengalami nasib tragis di keluarga kita, tapi sepertinya Anda mengalami hal yang lebih tragis lagi daripada aku" ucap Sean tersenyum pilu


"Ya, tapi aku tetap bersyukur, karena aku masih di beri kesempatan untuk bisa bertemu dengan mu sekarang, dan mungkin aku tidak harus mati kesepian di negara ini" ucap Arfandi

__ADS_1


"Aku akan mebawamu pulang, kita akan rangkai kembali serpihan keluarga kita yang hancur, akan ku pastikan tidak akan ada seorang pun yang sanggup menghancurkanya lagi,, dan aku sangat yakin, kalau ibu akan sangat senang melihat kepulangan mu, aku yakin masih ada secercah harapan untuk kalian bisa berbahagia di hari tua kalian,, aku yakin itu" ucap Sean


"Teriama kasih, putraku, kuharap juga seperti itu" ucap Arfandi, diapun perlahan memeluk putranya lagi


__ADS_2