TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Tidak Sopan


__ADS_3

Mobil Sean pun kini sudah terparkir di depan halaman Mansion, dan mereka pun segera turun dan masuk ke Mansion dengan bergandeng tangan


Kartina pun kebetulan sedang berada di ruangan tengah Mansion, dan melihat ke arah mereka yang baru datang


"Sudah baikan sekarang?" tanya Kartina


"Sudah bu, aku kan jago kalau urusan merayu Lena" ucap Sean bangga


Lena pun tersenyum dan memukul pelan tangan Sean "Huuuuu, jago apanya" ucap Lena


"Kalau gitu kalian duduk lah, kita ngobrol sebentar" ucap Kartina


"Kami belum sholat bu, nanti saja Setelah Solat kami turun lagi" ucap Sean


"Oh ya sudah sana kalau gitu" ucap Kartina


Sean dan Lena pun segera bergegas ke kamar mereka, dan melaksanakan kewajiban mereka, setelah selesai, mereka pun kembali turun lagi untuk bercengkrama dengan Kartina di ruang keluarga


Setelah malam sedikit larut mereka pun naik ke kamar mereka lagi


"Kurasa ibu benar, kalau bisa Nay harus kita ajak lagi ke rumaha ini, soalnya sepi juga di rumah sebesar ini tampa adanya anak kecil" ucap Lena sambil terus berggandeng tangan dengan Sean menuju ke kamarnya


"Baiklah, besok akhir pekan kan, kita ke rumah Rania untuk coba ambil Nay untuk menginap, ya mudah mudahan Rania mengijinkannya" ucap Sean, dia pun mengelus perut rata milik Lena yang di sampingnya "Dan aku juga sudah berharap bisa mendengar tangisan bayi di rumah ini dari rahimu Len" ucap Sean sambil terus mengelusnya


"Ya, Lena juga sudah menginginkanya" ucap Lena sambil menangkap tangan Sean di perutnya


(18+🙏)


Mereka pun segera masuk ke kamar, dan membersihkan diri masing-masing terlebih dulu, Sean membersikan diri lebih dulu, dan dia pun duduk di sofa menunggu istrinya yang masih belum keluar dari kamar mandi


Dan tidak lama Lena pun juga keluar dari kamar mandi dengan berbalut jubah handuk yang tipis, dia pun langsung menghampiri Sean yang di Sofa dan berniat duduk di sampingnya, namun sebelum pinggul Lena menyentuh permukaan sofa, Pinggangnya langsung di raih Sean dan di tariknya ke pangkuanya,


Lena pun langsung terduduk di pangkuan Sean itu dengan sedikit kaget "Hey, ini ngapain" ucap Lena langsung memutar wajahanya pada Sean


"Jangan tanya, ikuti saja alurnya" ucap Sean yang langsung meraih pipi Lena dan mencium bibirnya itu dengan Lembut


Lena pun tentunya membalasnya


Sean pun mulai mencari cari sesuatu yang bisa dia mainkan dari Lena, dan tangannya pun mulai menyusup kedalam handuk bagian atas yang masih di kenakan Lena, dan tangannya pun lasung menyentuh benda kenyal nan lembut yang ada di balik handuk itu, sampai beberapa saat tangannya terus terfokus bermain di sana, Sean juga sedikit menyingkap handuk yang di kenakan Len itu dan mengecup benda lembutnya


"Apa menurut kakak punya Lena ini kecil?" bisik Lena di telinga Sean


Bisikan Itupun sedikit membuyarkan konsentrasi nya "Tidak, menurut ku ini cukup" ucap Sean


"Bukan kah laki laki suka yang ukurannya besar?" tanya Lena


"Tidak juga" ucap Sean yang masih tetap fokus dalam aksinya


"Jangan bohong, pasti kamu juga suka melihat punya Tiara yang besar itu kan?" tanya Lena


Pertanyaan dari Lena itu pun sukses meruntuhkan konsentrasi Sean yang sedang asik bermain di dada Lena itu


Sean pun menghela nafas dalam "Len, bisa tidak kalau ngobrolnya nanti saja?" ucap Sean sedikit kesal karena merasa permainan nya terganggu karena Lena terus bicara


"Bukanya kalau pasangan harus saling mengutarakan pendapat, kalau kak Sean merasa ada yang kurang dari Lena, kak Sean bisa bilang saja, kalau itu bisa di perbaiki Lena akan perbaiki" ucap Lena


"Iya, tapi apa soal ini harus di bahas juga?" tanya Sean

__ADS_1


"Tentu saja, kan supaya kak Sean punya kepuasan tersendiri terhadap Lena, jadi kalau menurut kak Sean punya Lena kurang, mungkin bisa Lena tambah nanti" ucap Lena


"Emang bisa seperti itu?" tanya Sean


"Ya bisa saja kalau kak Sean mau" ucap Lena


"Tidak perlu, aku suka apapun yang ada padamu sekarang, juga ini ukuranya sangat pas, dan cukup mantap untuk di genggam, tuh lihat, tidak kurang tidak lebih" ucap Sean sambil memperagakanya


"Syukur kalau gitu, tapi awas saja kalau masih melirik punya Tiara itu" ucap Lena


"Tidak akan sayang, jadi, apa sekarang aku sudah boleh melanjutkannya?" tanya Sean


"Iya" ucap Lena manja, bibir merekapun kembali beradu dengan posisi Lena yang masih di pangkuan Sean


Sean pun melanjutkan aksinya yang sempat tertunda tadi, dan mereka pun melakukannya di sofa itu juga, entah karena terinspirasi dari yang di lihatnya sebelumnya, atau memang Sean berinisiatif untuk mencari sensasi yang berbeda dari biasanya


Pergumulan mereka pun berlangsung cukup lambat namun mampu menuntaskan hasrat di hati masing-masing, sampai permainan mereka itu pun berhenti saat mereka sudah sampai pada puncak mereka masing-masing


.


.


.


Keesokan paginya mereka pun terbangun hampir bersamaan "Pagi sayang" sapa Sean pada Lena yang masih dalam dekapannya


"Pagi" ucap Lena juga tersenyum


"Kita mandi?" Tanya Sean


Mereka pun segera beranjak untuk membersihkan diri mereka,


.


Berhubung hari ini weekend, Sean dan Lena tidak pergi bekerja, dan mereka berniat mengunjungi kediaman Rania untuk mengajak Nayra jalan jalan hari ini


Mereka pun pergi dengan menggunakan Mobil Sean,


"Berapa hari aku tidak bertemu Nay, rasanya sudah sangat rindu padanya, apa Rania memang jarang jarang menjenguk ibu?" tanya Sean


"2 hari lalu, kak Ran membawa Nay ke Mansion, kamunya saja yang tidak ada" ucap Lena


"Begitu kah?, kebetulan sekali" ucap Sean


"Makannya, jangan suka main di luaran kalau tidak ada perlunya" ucap Lena


"Iya iya" ucap Sean tersenyum


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di Rumah yang di tempati oleh Rania dan Nayra, merekapun segera turun dan dipersilahkan masuk kedalam oleh penjaga Rumah Rania


Mereka pun segera Duduk di Ruang tamu berkonsep minimalis yang lumayan luas, dan seorang asisten Rumah pun segera mengabarkan kedatangan mereka itu kepada sang nyonya rumah


"Papaaaah" triak Nay yang baru saja turun dari tangga, dan dia pun berlari dengan langkah kecilnya menghampiri Sean


"Sayang" Sean Pun langsung menyambutnya dan segera menggendongnya "Papah kangen Nayra, Apa Nay kangen Papah?" ucap Sean sambil menciumi pipi gadis kecil itu


"Iya Nay kangen, Nay punya 2 papah sekalang" ucap Sean

__ADS_1


"Iya papah tau, pasti yang satunya lagi papah Roland kan?" tanya Sean


"Bukan, tapi papah Om, mamah Lena sudah menikah dengan papah Om" ucap Nayra


"Papah om?" Sean melirik Lena dan langsung tertawa kecil, dia sadar mungkin Nayra masih mengira kalau Dampar dan dirinya adalah orang yang berbeda, dan alasan kenapa Nayra memanggilnya papah bukan karena dia kenal, tapi dia di beritau Rania waktu di acara Anniversary malam itu


"Aku hanya memberitahu dia kalau kamu ayahnya, untuk prihal wajahmu yang sebelumnya memang sedikit susah untuk memberitau nya" Ucap Rania yang masih berdiri di hadapan Sean dan memperhatikan mereka


"Oh, tidak papalah, yang penting Nay Tetap menganggapku ayahnya kan" ucap Sean


"Jangankan Nayra, aku juga sempat tertipu oleh orang yang mengaku dirinya Dampar Ini" ucap Lena


"Itu bukan salahku, panggilan Dampar itu memang di berikan warga desa nelayan padaku sbelumnya" ucap Sean


"Ya ya, Lena juga sempat bertemu kakak waktu itu di sana ya?, O yah, ngomong-ngomong apa kabarnya gadis belia itu, ap dia sudah sembuh sekarang?" tanya Lena


"Apa maksudmu Rumi?, entahlah, aku memang tidak ada kontak dengan orang yang di sana, sepertinya aku harus menjenguk mereka besok, karena bagaimana pun mereka lah yang menolongku sebelumnya" ucap Sean


"Kalau begitu Lena ikut kesana," ucap Lena


"Nay juga ikut" ucap Nay sambil tunjuk tangan


"Kalau boleh aku ikut juga, aku ingin bertemu dengan orang yang sudah menyelamatkanmu itu" ucap Rania


"Boleh saja, Tapi apa suamimu akan mengijinkannya?" tanya Sean


"Di izinkan atau tidak, tidak ada pengaruhnya, karena entah pria macam apa yang papah nikahkan padaku itu, dia kerjaanya hanya tidur seharian, giliran malam langsung kelayapan, aku merasa kalau d rumah ini tidak ada dia" ucap Rania sedikit Curhat


"Ya tapi tetap saja kamu harus izin padanya jika kamu ingin ikut, kalau tidak, ya tidak usah" ucap Sean


"Baiklah, nanti aku izin" ucap Rania


Setelah Mereka berbincang sejenak, Sean pun mengajak Nayra jalan jalan ke sebuah pusat perbelanjaan di kota J, dan Rania juga ikut serta bersama mereka


Sean sampai kerepotan oleh Nayra yang mengajaknya ke sana kemari, sementara Lena dan Rania hanya mengikuti mereka dengan santai dan sesekali mencari barang yang mereka inginkan


"Nay, apa kamu tidak capek?" tanya Sean pada Nayra yang Sekarang di pangkuannya


"Tidak, Nay Senang papah kembali, Nay juga Senang 2 mamah Nay bisa balengan dengan papah, dan Nay mau main dengan mamah papah Nay sepuasnya di sini, ayo pah kita kesana" ucap Nay menunjuk ke tempat bermain anak yang ada di mall itu


Rania dan Lena pun hanya cekikikan di belakang Sean,


"Salah sendiri, kenapa tidak mau bawa stroller untuk Nay" ucap Lena


"Ya, setidaknya aku bisa puas menggendong dia hari ini" ucap Sean, dia pun menoleh pada Rania sejenak, "Ran,, sepertinya Nayra itu sangat mirip denganmu, kamu juga sangat kuat jika di ajak jalan-jalan, tapi sangat lemah jika di tempat tidur" ucap Sean


Seketika wajah Rania pun memerah karena malu mendengar pernyataan Sean itu


"Ih kakak apaan sih, jangan bahas masalah itu di depan anak kecil, itu tidak baik, juga ini di tempat umum, tidak sopan mengatakan hal seperti itu pada kak Ran" ucap Lena membela Rania


"Iya Iya, bercanda, jangan anggap itu Serius" ucap Sean yang sebenarnya keceplosan " Ya sudah, ayo sayang kita kesana" ucap Sean pada Nayra, diapun langsung melarikan diri dari hadapan 2 wanita itu, dan segera bergegas ke tempat yang di inginkan Nayra


Sementara 2 Wanita yang di belakangnya hanya berjalan santai mengikuti arah perginya Sean


"Maaf ya kak Ran, jangan di masukin hati ucapan kak Sean itu, dia memang gitu bicaranya, cuplas ceplos" ucap Lena


"Tidak apa, aku juga kan sangat tau dia Len, sifatnya memang begitu dari dulu" ucap Rania yang juga tersenyum canggung

__ADS_1


__ADS_2