
Mereka semua pun akhirnya memasuki tempat acara pernikahan Kartina dan Arfandi, Rania memang memilih sebuah gedung yang memang khusus di gunakan untuk resepsi pernikahan
Dan setelah semuanya memasuki ruangan, acara inti pun langsung di selenggarakan, ya itu akad kedua mempelai, Kartina dan Arfandi pun menggelar akad di panggung resepsi, dan di saksikan oleh puluhan tamu yang datang,
Memang tidak sampai ratusan yang di undang, karena Sean hanya mengundang kerabat dan kolega bisnis Kartina yang masih berada di kawasan kota J dan sekitarnya,
Setelah Acara inti selesai, acara pun berlanjut ke resepsi selanjutnya, Acara pun lumayan cukup meriah meskipun bukan pesta pernikahan yang super mewah, karena Sean mengutamakan acara yang bisa cepat terselenggara,, karena yang terpenting untuk kedua orang tuanya pastinya bisa bersama lagi dalam sebuah ikatan pernikahan, jadi mereka segera bebas tinggal bersama lagi di satu atap
Acara pun berlangsung hinga menjelang malam, memang tidak terlalu panjang, dan tidak bertele-tele, toh yang nikah juga bukan anak muda lagi, jadi tidak banyak maunya,
Namun, saat akan memasuki penghujung Acara, Lena merasa kalau badanya sedikit tidak enak, dia berdiri dari duduknya untuk menghampiri Sean yang masih mengobrol dengan bi Irna dan suaminya di sisi lain acara, dia berniat mengajak Sean pulang lebih awal
"Kak Ran, aku ke sana dulu ya" ucap Lena pada Rania
"Oh, iya, apa perlu ku temani??," ucap Rania yang juga sedang mengobrol dengan Ifan dan Seli yang sedang PDKT
"Tidak perlu" ucap Lena
Lena pun langsung bergegas menuju arah Sean, namun di pertengahan jalan, Lena tiba-tiba merasakan kalau kepalanya sangat pusing, dan pandangannya pun mulai berkunang-kunang, seketika dia menghentikan langkahnya, dan perlahan pandangannya pun mulai kabur dan akhirnya menggelap
Lena pun Akhirnya menjatuhkan dirinya ke lantai panggung
Sean yang mendengar suara orang terjatuh pun sontak menoleh ke asal suara, dan dia melihat kalau Lena lah yang tergeletak di sana "Leeeenn" ucap Sean sedikit berteriak
Sean pun segera bergegas menghampirinya "Len, Lena, kamu kenapa Len?" tanya Sean sambil mencoba menyangga tubuh Lena
Dan seketika semua orang yang masih berada di sana pun langsung menghampiri Lena, termasuk Kartina dan Arfandi,
Rania juga langsung mendekat dengan sedikit panik, dia pun langsung melihat keadaan Lena
"Kurasa Lena kecapean, mending kamu langsung bbawa dia ke rumah sakit saja, takutnya terjadi apa apa pada kandungan nya" ucap Rania
Mendengar masalah kandungan, Sean pun sedikit merasa panik "Be baiklah, aku akan membawanya, bu aku bawa Lena ke rumah sakit dulu," ucap Sean sedikit gemetaran
"Ya Sudah , cepatlah, kasian dia, pasti dia kecapean karena menyiapkan acara ini, ibu jadi merasa bersalah" ucap Kartina
"Tidak, ini salahku, harusnya aku tidak memberinya tugas juga" ucap Sean, dia pun segera mengangkat tubuh Lena itu dan segera membawanya keluar dari gedung resepsi, dengan di ikuti Tiara dan Rania,
Sementara Kartina dan Arfandi berniat menyusul belakangan karena harus membereskan acara terlebih dahulu
Sean pun membawa Lena ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pemeriksaan
.
…
Di ruang pemeriksaan rumah sakit
"Bagai mana keadaan istri saya dok" tanya Sean
"Tidak perlu khawatir pak, Pasien hanya kecapean saja, dia hanya perlu istirahat yang cukup dua sampai tiga hari untuk memulihkan kondisinya," ucap Dokter yang memeriksa Lena
"Apa kandungan nya baik baik saja?" tanya Sean
"Soal kandungan juga tidak ada yang perlu di khawatirkan, kandungan pasien aman aman saja, cuma saya sarankan jangan biarkan dia melakukan pekerjaan yang terlalu melelahkan,, supaya kehamilanya juga tidak terganggu" ucap Dokter itu
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih dok" ucap Sean
"Ya sudah, saya keluar dulu kalau gitu" ucap Dokter wanita itu
"Iya, silahkan dok" ucap Sean
Dokter itupun segera keluar dari ruangan pemerikasaan Lena itu
__ADS_1
"Mungkin harusanya aku tidak mengajaknya meninjau lokasi tadi siang" ucap Rania
"Sudahlah, tidak mungkin bisa di ulang lagi kan, yang penting dia tidak papah sekarang" ucap Sean
Tidak lama Arfandi dan Kartina juga datang untuk menjenguk Lena
"Gimana keadannya Arman??" tanya Kartina yang terlihat khawatir
"Dia memang hanya kecapean saja bu, kata dokter dia hanya perlu istirahat yang cukup" ucap Sean
"Apa bayinya tidak papa??" tanya Kartina
"Dokter bilang kandungannya juga tidak ada masalah" ucap Sean
"Oh syukurlah, kalau gitu bawa dia ke rumah saja, biarkan di beristirahat di rumah" ucap Kartina
"Iya, tapi mungkin nunggu Lena siuman dulu" ucap Sean
"Ya Sudah, kita tunggu saja kalau gitu" ucap Kartina
Sean pun menghampiri Lena yang terbaring lemas di ranjang pemeriksaan, dia pun mengecup keningnya dan duduk di sebelah ranjang itu dengan memegangi tangannya
.
Beberapa saat kemudian, Lena mulai ada pergerakan, dan dia membuka matanya perlahan, karena dia masih merasa sedikit berkunang-kunang di kepalanya
"Len, kamu sudah sadar Sayang?" ucap Sean yang langsung berdiri untuk melihatnya
"Aku di mana ini??" tanya Lena yang tidak mengingat apapun
"Kamu di rumah sakit Len, kamu tadi pingsan" ucap Sean sambil mengelus kepala Lena yang masih terbungkus jilbab putihnya
"Pingsan??, Lena tadi memang merasa tidak enak badan" ucap Lena
"Tidak apa apa, Lena juga senang melakukan nya untuk ibu, kalau istri yang lain dapat tugas, masa Lena enggak, itu tidak adil kan" ucap Lena
"Terimakasih, kamu memang Rawit ku yang baik" ucap Sean tanpa sadar
Lena pun langsung melotot mendengar nya, dan mencubit punggung tangan Sean, dia takut ada orang lain yang mendengar panggilannya itu
"Ups, lupa" ucap Sean sedikit berbisik
Rania yang baru menghampiri Lena pun ternyata memang mendengar percakapan mereka itu
"Apa apa tadi??, Rawit??, apa itu semacam panggilan kesayangan??,, kok aku tidak tau ya" ucap Rania yang memang mendengarnya sekilas
"Ti tidak, kak Sean saja yang ngawur tuh, tidak ada panggilan kesayangan kok" ucap Lena sedikit gelagapan karena merasa sedikit malu
"Iya, aku asal bicara saja barusan" ucap Sean menggaruk belakang rambutnya
"Oh, Rawit?, kenapa harus rawit??, apa karena Lena kecil, atau karena yang lain??" selidik Rania
"Sudahlah, tidak perlu di bahas, mending kita pulang sekarang, Lena juga perlu istirahat lagi kan" ucap Sean
"Oh iya ya" ucap Rania
Sean pun segera membantu Lena untuk bangkit dari tempat tidur Pasien itu,
Dan segera memapah nya untuk naik ke kursi roda, dan setelah Lena duduk,, Sean pun segera mendorongnya untuk keluar ruangan
"Len, kamu sudah sadar Sayang," ucap Kartina yang memang menunggu di luar, diapun segera menghampiri Lena yang di kursi roda
"Iya mah, Lena tidak papa kok" ucap Lena
__ADS_1
"Kamu pasti kecapean karena ikut mempersiapkan acara mamah ya?, terimakasih sayang, tapi harusnya kamu juga tau batasan, sekarang ada bayi di dalam kandungan mu, kamu tidak boleh kecapean, ya" ucap Kartina
"Iya mah, tapi Lena juga senang melakukannya, toh juga tidak akan ada ulangnnya lagi kan" ucap Lena
"Kamu ini ada ada saja, masa ada ulangan, tpi ya sudah lah, acara mamah sangat bagus, mamah sangat berterima kasih pada kalian semua, mamah sangat suka" ucap Kartina
"Sama sama mah, Sebenarnya Arman yang punya idenya, kami hanya menjalankannya saja" ucap Rania
"Iya, terimakasih sekali lagi pada kalian semua, ya sudah, kita pulang sekarang ya" ucap Kartina
" Iya" ucap Lena
Sean pun segera mendorong kursi roda Lena lagi untuk ke mobil mereka, dengan di ikuti semua keluarga inti Arfandi, dan segera membawa Lena pulang ke mansion Kartina
…
Setibanya di masion Sean segera membawa Lena ke kamarnya, dan segera membaringkan Lena di tempat tidurnya
"Cepat pulih ya sayang, dan istirahatlah yang baik, mamah keluar dulu" ucap Kartina sambil mengelus kepala Lena
"Iya, mah" ucap Lena
"Selamat malam juga untuk pengantin baru, semoga malamnya ehhm ehhm" ucap Sean menimpali
"Dasar,,, Anak nakal" ucap Kartina langsung melotot tapi dengan tersenyum, dan mereka pun segera keluar dari kamar Lena, termasuk Rania dan Tiara juga keluar setelah mengucapkan cepat sembuh pada Lena
Dan kini tinggalah Sean dan Lena berdua saja di kamar Lena,
Sean duduk di pinggiran tempat tidur di samping Lena yang sudah terbaring
"Kamu istirahat ya" ucap Sean yang mulai membenahi selimut di tubuh Lena
"Kamu tidak papa kan kalau aku istirahat sekarang?" tanya Lena
"Tidak papah apanya??, Kamu ini sakit kan, ya harus istirahat" ucap Sean
"Bukan kah kamu sudah Rindu?, apa tidak papa kalau tidak melakukan nya??" ucap Lena
"Kamu ini, aku memang rindu, tapi bukan berarti harus melakukannya di keadaan kamu yang sekarang kan, Asalkan ada di dekat mu, rindu itu juga akan pergi, ya mungkin tidak akan semuanya,, tapi kesehatan mu kan lebih penting" ucap Sean sambil meraih pipi Lena
"Baiklah kalau gitu, terimakasih untuk pengertian mu,, tapi ini bayimu minta di elus kamu Katanya" ucap Lena
"Masa??, apa dia bicara padamu??" ucap Sean sambil mendekatkan kepalanya pada perut Lena, dan dia mencoba menempelkan telinganya di perut Lena itu
Lena juga langsung meraih rambut Sean dan mengusapnya
Namun Sean mersa tidak ada suara apa pun yang di dengannya, Sean pun mendongak menatap Lena, "Aku tidak dengar apa apa Len" ucap Sean
"Ya masa iya dia bicara, kamu ada ada saja," ucap Lena
"Oh, kukira kamu tau keinginan nya karena bayimu bicara" ucap Sean bercanda
"Itu keinginanku sayang, masa tidak paham sih" ucap Lena
"Oooh,,, baiklah" ucap Sean, diapun segera mengelus perut Lena yang sekarang sudah sedikit buncit itu, karena usia kandungannya juga sudah hampir menginjak 4 bulan
Lena pun terlihat nyaman perutnya di elus seperti itu oleh Sean
"Hey, dede bayi,,, kamu sudah tidak sebal pada papah kan??, baguslah, kalau gitu mulai sekarang kita baikan,, Oke" ucap Sean pada perut Lena
"Kamu ini, ada ada saja" ucap Lena tersenyum
Sean pun terus mengelus perut Lena itu hingga perlahan Lena pun menutup matanya, dia tidak terganggu dengan tangan Sean yang terus mengelus perutnya itu, bahkan dia merasa sangat rileks dan nyaman
__ADS_1