
Mereka semua pun sangat menikmati makan sore sederhana yang sarat akan makna itu, dengan suasana hati mereka yang sangat baik tentunya, karena mereka benar-benar bernostalgia dengan rasa masakan yang dibuat Sean itu, apalagi mereka memasaknya bersama-sama,
Dan setelah mereka menuntaskan makanan yang ada di piring masing-masing,, merekapun segera bersiap melaksanakan kewajiban magrib mereka masing masing,
Arfandi Dan Sean pergi ke mesjid terdekat, sementara para wanita melakunya di mushola Mansion
.
…
Malam harinya, Sean kembali ke kamar Lena, karena sekarang memang waktunya Sean menemani nya, Sean pun melihat kalau Lena sedang mengelus perutnya di Sofa Kamar, dengan mata terpejam, dia sekarang sudah mengganti pakaianya dengan baju tidur tipis yang berbahan sutra
"Len, kamu kenapa, apa perutmu sakit?" tanya Sean
"Aku kekenyangan tau, rasanya begah sekali" ucap Lena
Sean pun langsung tertawa kecil "Salah sendiri,, Kenapa makanya harus sampai kekenyangan, jadi kamu begah sendiri kan" ucap Sean yang mulai duduk di sampingnya, dan menyampaikan satu tanganya di antara bahu Lena
"Ya habisnya masakanmu itu enak, jadi itu salahmu" ucap Lena
"Iya Iya, aku memang selalu salah" ucap Sean
"Jawaban mu itu mulu,, kesannya jadi seperti aku ini sedang menindasmu, harusnya kamu lakukan pembelaan" ucap Lena
"Entah lah, malas kalau harus berdebat dengan mu, takutnya kamu malah baper, O yah, apa kamu serius mau melakukannya malam ini?" tanya Sean
"Ya Serius, apa kamu tidak lihat aku sudah pakai baju tidur seksi seperti ini, ini untuk mengodamu kan" ucap Lena sambil sedikit mengangkat baju tidur seksi yang menutup pahanya
"Iya, seperti nya aku memang langsung tergoda" ucap Sean yang tangannya langsung meraih paha mulus Lena dan mengelusnya, Sean juga segera mencium bibir Lena untuk menandakan kalau dia siap untuk mulai
Dan tentu saja Lena pun segera menyambutnya,
Tangan Sean yang di paha Lena pun perlahan mengelus lebih kedalam lagi, hinga setelah sampai di pangkal nya, Sean pun mencari cari penghalang yang biasanya menghalangi sesuatu yang tersembunyi di sana, namun tanganya tidak mendapati apapun yang menghalangi lembah itu
Sean melepas sejenak ciumanya, "Kamu tidak pakai?" tanya Sean
"Tidak, bukan kah semenjak perutku membesar aku tidak pernah menggunakannya lagi saat tidur, itu sedikit tidak nyaman rasanya, masa kamu baru sadar" ucap Lena
"Iya, kita kesana saja" ucap Sean mengarahkan pandangannya ke tempat tidur
"Ayo, siapa takut," ucap Lena
Sean pun segera membantu Lena untuk beranjak naik ke tempat tidurnya,
Lena pun langsung merebahkan dirinya di sana,
Sean juga naik dan langsung mendekap Lena, di pun langsung menyibak lapisan kain tipis yang sedikit menghalangi itu, Sean menariknya ke atas hingga sampai terlihat perut Lena yang buncit, Sean menarik selimut untuk menutupi bagian bawah Lena, kemudian perhatiannya pun langsung terpusat ke perut Lena
Sean mengelusnya dan sesekali mencium perut Lena itu dengan penuh kelembutan, Sean memang selalu berhati-hati saat berhubungan dengan Lena semenjak kehamilan nya membesar, dia tidak pernah melakukanya dengan terburu-buru
Setelah puas menyapa perut Lena, Sean pun kembali ke wajah Lena dan mencium lembut lagi bibirnya dari samping, sementara Tangannya masih mengelus perut Lena
Sampai ketika Lena melepaskan ciumanya dari Sen dan wajahnya langsung meringis kesakitan
__ADS_1
"Ssssshhhh, Aaaaaw, perut ku sakit sekali sayang" rintih Lena langsung memegang tangan Sean yang masih diperutnyabitu, dia bahkan sedikit meremas punggung tangan Sean
"Benarkah??, apa kamu akan melahirkan sekarang Len?" tanya Sean yang segera meredam hasrat nya karena khawatir pada Lena
"Mungkin saja!!,, Aaaaaww,, saaaakiiit sekali" irih Lena Semakin merintih sambil memegangi perutnya
Sean pun langsung bangkit dengan sedikit panik, dia merapihkan lagi baju tidur Lena seperti semula, kemudian dia segera bergegas Keluar untuk memberi tahukan hal itu kepada ibunya,
Sean lumayan merasa gugup dan tidak tau harus melakukan apa menghadapi situasi semacam itu, karena itu memang kali pertamanya, dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah meminta bantuan Ibu nya
.
Beberapa saat kemudian, Sean pun kembali masuk ke kamar Lena lagi di iringi Kartina dan Darmi, mereka pun langsung menghampiri Lena yang masih merintih di tempat tidurnya
Kartina pun langsung mendekap kepala Lena "Len, apa perutmu mulas sayang?" tanya Kartina
"Iya mah", ucap Lena dengan meringis
"Ya Sudah kita kerumah sakit sekarang, Darmi, tolong kamu siapkan kursi roda" ucap Kartina
"Baik Nyonya" ucap Darmi, diapun segera pergi dengan beberapa asisten rumah yang menunggu di luar
Setelah kursi Roda datang, Lena pun segera di bantu untuk naik ke kursi roda,
Sean pun segera mengambilkan sweater dan bawahan piyama untuk Lena
"Ini pakailah, takutnya kamu kedinginan, dan juga lepaskan cincinmu" ucap Sean
"Iya" ucap Lena, diapun segera memakainya dengan bantuan Sean, dan juga melepaskan cincin kursani yang melekat di jarinya
Jadi Sean pun menyimpan Cicinya itu
Setelah itu mereka pun segera bergegas meninggalkan kamar Lena
Rania dan Tiara juga keluar dari kamar karena mendengar sedikit suara dari luar, dan segera mengikuti Lena pergi ke lift Mansion untuk turun ke lantai dasar
Dan Mereka pun segera membawa Lena ke mobil untuk segera membawanya pergi ke rumah sakit dengan sedikit aroma kepanikan dari Sean dan Kartina
Sean tidak berani untuk membawa mobilnya sendiri, dan dia lebih memilih duduk bersama Lena dan Kartina di kursi belakang, dan mobil pun segera di lajukan sang sopir
"Agak cepat sedikit pak," ucap Kartina sambil terus memegangi Tangan Lena yang masih merintih
"Baik nyonya" ucap sang sopir
Mobil pun segera melaju sedikit lebih cepat dari pada sebelumnya, dan tidak butuh waktu lama, Mobil pun akhirnya masuk ke halaman sebuah rumah sakit besar.
Dan Lena pun segera di bawa masuk ke dalam rumasakit itu dengan di bantu beberapa perawat di sana, dan Lena pun segera di bawa masuk ke ruangan bersalin, Sean terus berada di sampingnya hingga Lena terbaring di ranjang persalinan
"Tenang sayang aku ada di sampingmu, semua nya akan baik baik saja" ucap Sean yang masih sedikit gugup, meskipun sebenarnya Lena sudah terlihat lebih tenang sekarang
"Iya, tapi ini mulasnya tidak ada lagi, mungkin tadi hanya kontraksi palsu" ucap Lena
"Kontraksi palsu?, apa maksudmu??" tanya Sean
__ADS_1
"Itu Artinya pasien tidak benar-benar akan melahirkan sekarang, tapi itu pertanda kalau kelahirannya memang sudah dekat" ucap salah satu dokter yang akan menangani persalinan Lena menjelaskan
"Oh, jadi tidak sekarang dok??" tanya Sean
"Iya pak,, kemungkinan besar kelahirannya nanti, atau bisa juga besok" ucap Sang dokter
Sean pun membuang napasnya kasar "Baiklah" ucap Sean bisa sedikit lega, jujur dia memang khawatir
"Kalau gitu saya tinggal dulu, kalau ada tanda-tanda kontraksi lagi, Anda bisa panggil saya lagi" ucap Sang dokter
"Baik dok terimakasih" ucap Sean
"Sama sama pak" Dokter itu pun segera meninggalkan Ruangan Lena itu
"Haduuuh, untunglah masih ada jeda" ucap Sean
"Kamu tidak perlu sepanik itu sayang, bukan kah kamu bilang semuanya akan baik-baik saja" ucap Lena
"Aku memang bilang begitu, tapi itu hanya untuk menenangkan mu, bukan menenangkan ku" ucap Sean
"Ya Sudah, berarti malam ini kita menginap di sini saja, siapa tau sebentar lagi Lena akan lahiran" ucap Kartina
"Iya bu, kami juga berpikir begitu," ucap Rania
"Ya Sudah, kalian saja yang tunggu Lena di sini, biar aku yang tunggu di luar," ucap Sean yang merasa akan terlalu rame jika mereka semua menunggu di ruangan itu
"Ya Sudah, nanti ibu akan kabari kamu kalau Lena kontraksi lagi" ucap Kartina
"Iya" ucap Sean, diapun segera bergegas keluar dari ruangan bersalin dan langsung menghampiri Arfandi yang duduk di kursi tunggu
"Bagaimana istrimu?" tanya Arfandi
"Seperti nya tidak jadi sekarang, tapi kata dokter mungkin Lena akan melahirkan dalam waktu dekat" ucap Sean
"Oh, ya sudah kita tunggu saja di sini" ucap Arfandi
"Iya" ucap Sean
Sean dan Arfandi pun mengobrol ngalor ngidul di kursi tunggu itu, hingga tidak terasa malam pun mulai larut, Sean mulai merasa kalau matanya sedikit berat, jadi dia menyandarkan dirinya ke sandaran kursi, dan menutup matanya
Tapai tiba tiba ada seorang perawat yang berlari ke hadapan Sean "Pak Arman, pak Arman,, anak Anda sudah lahir pak" ucap perawat itu
Sean pun sedikit bingung dan sekaligus senang "Sudah lahir??, kenapa tidak ada yang memberitahu ku" ucap Sean
"Bayinya selamat pak, tapi ibunya tidak" ucap perawat itu
"A a a Apa maksudmu ibunya tidak" Sean sedikit kaget mendengarnya
"Ibunya meninggal pak" ucap Perawat itu
Sean pun langsung lemas mendengar pernyataan suster itu, itu terdengar seperti suara petir yang menggelegar masuk ke telinganya "Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi, ini pasti salah Suster" ucap Sean merasa tidak percaya
"Kalau tidak percaya, Anda lihat saja keadanya" ucap suster itu, dan kemudian suster itu pun segera berlalu
__ADS_1
Lutut Sean pun mulai terasa lemas, Air matanya keluar tanpa di pinta, perlahan lututnya pun turun ke lantai, dan Sean langsung menangis di sana "Tidak mungkin ini tidak mungkin" triak Sean