
Rania pun dengan sangat terpaksa mengikuti keinginan Leon untuk menjemput Lena, karena dia terlalu berat jika harus memberikan Nayra pada Leon,, dan itu memang pilihan yang sangat sangat sulit untuk nya jika harus memilih di antara keduanya, dia tidak tau apa yang akan di lakukan Leon pada mereka berdua nantinya, pastinya itu bukan hal yang baik
Rania berangkat menggunakan mobilnya, dengan di Kawal anak buah Leon dan sekaligus dia yang membawa mobil Rania, dan satu mobil anak buah Leon juga mengikutinya di belakang mobil Rania
.
Setelah Beberapa Saat mereka pun Akhirnya segera tiba di halaman Mansion Kartina, wajah Rania terlihat sangat pucat dengan pikiran nya sedikit kacau, banyak sekali pikiran yang berkecamuk di kepalanya saat ini, dia terus mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nantinya jika Lena di bawa Leon, dia tidak bisa berpikir jernih sekarang karena dia sangat bingung,,
Ingin sekali rasanya dia turun dan berteriak pada semua penjaga kalau ayahnya juga dalam bahaya sekarang,
Tapi bukan Leon jika dia tidak membuat rencana supaya niatnya mulus, dia menyuruh Rania untuk tetap menunggu di mobil, kalau dia berani turun Leon tentunya mengancam akan segera menghabisi ayahnya di rumah, jadi Rania pun hanya membuka kaca mobilnya dan
Dan salah seorang penjaga Mansion Kartina pun langsung menghampiri mobil Rania
Rania pun menyuruh penjaga Mansion itu untuk memberi tau Lena kalau dirinya menunggunya di luar, sesuai dengan yang di instruksikan olehLeon
"Pak, Apa nona Lena ada di dalam?" Tanya Rania pada penjaga yang menghampirinya itu dengan sedikit gemetaran
"Ada di non,, Silahkan masuk saja non" ucap penjaga Mansion itu sambil mebukakan pintu mobil untuk Rania
"Tidak pak, suruh dia keluar saja untuk menemui ku" ucap Rania Dengan berat hati mengikuti setiap instruksi dari Leon
"Baik Non, mohon tungu sebentar" ucap Penjaga itu, kemudian dia berbalik dan masuk ke mansion
Tidak berselang lama Lena pun keluar dengan wajah suntuk nya "Hey kak Ran, Nay ada di dalam, kenapa tidak masuk??" tanya Lena
"Tidak Len, aku sedikit buru buru, em, Len, apa kamu bisa ikut aku sebentar??" tanya Rania
"Sebenarnya Lena sedang tidak enak badan kan, di tambah Tiara barusan juga habis dari sini, jadi mood ku sedang buruk sekarang,, memangnya mau kemana Kak Ran??" tanya Lena yang mengobrol dengan Rania dari kaca pintu mobil
"Oh gitu ya" ucap Rania murung
"Kak Ran, kamu kenapa?, apa kamu kecewa Lena tidak bisa ikut ya??,, Baiklah kalau gitu Lena ikut saja, cuma sebentar kan,??,, tidak tega rasanya menolak kakaku yang cantik ini" ucap Lena sambil membuka pintu mobil Rania dan kemudian duduk bersebelahan dengan Rania di kursi belakang
"Tapi Len..."
"Sudah, ayo berangkat saja, tapi tidak papakan Lena berpakaian rumah seperti ini?" tanya Lena, dia sekarang memang hanya mengenakan kaos panjang dan celana piyamanya, juga jilbab santai berwarna abu abu menutupi kepalanya
"Ti tidak Len" ucap Rania gugup
"Baiklah" ucap Lena
Dan mobil Ranja pun segera melaju meninggalkan Area Mansion, tanpa ada sedikit pun kecurigaan dari Lena, karean yang menjemputnya juga Rania, orang yang sangat dia percaya, namun di tengah perjalanan mereka mencium bau obat yang sangat menyengat di dalam mobil,
__ADS_1
"Kak Ran, Lena merasa pusing" ucap Lena
"Aku juga Len" ucap Rania
Mereka berdua melemas dan perlahan menutup mata mereka bersamaan, dan kemudian tidak sadar kan diri
Sementara sang sopir yang adalah anak buah Leon tidak terpengaruh dengan bau obat bius itu, karean dia ternyata memakai masker khusus , diapun segera menghubungi Leon setelah dua wanita itu pingsan
"2 Kelinci sudah di lumpuhkan bos" ucap sopir itu
📲"Bagus ,, Langsung bawa saja ke dermaga, kita bertemu di sana" ucap Leon yang di sebrang Telpon
"Siap bos" ucap sang sopir, dan diapun menutup panggilannya dan segera melajukan mobilnya lagi untuk membawa 2 wanita yang tidak sadarkan diri itu untuk menuju ke dermaga
...°°°°°...
Sementara di sisi lain, Sean baru saja selesai menutup meeting pentingnya, dan langsung membubarkan Rapat yang dia pimpinya itu
"Elisa, tolong bawakan berkas berkas ini keruangan saya ya" uca Sean
"Baik pak direktur" ucap Elisa, diapun segera mengambil berkas berkas pembahasan meeting yang ada di depan Sean
"Buatkan aku kopi juga" ucap Sean menambahkan
"Kalau kamu yang buat, aku tidak yakin kopinya bisa di minum" ucap Sean asal
"Iiiih, kak Sean jahat, suka gitu ih ke intan" ucap Intan sedikit memanyunkan bibirnya
"Ya Sudah, buatkan untuk Ifan juga sekalian" ucap Sean
"Tidak perlu, aku pernah mencicipi kopi buatan Intan, memang rasanya aneh lho kak, lebih enak kalau elisa yang bikin" ucap Ifan
"Kata siapa? enak kok kopi buatanaku, kalian berdua memang sekongkol, sengaja membuat kudeta untuk menjatuhkan Intan kan" ucap Intan
"Kamu ini, aku hanya menggodamu, malah ngelantur Kemana mana, ya sudah bikinin, aku mau coba, kalau gak enak, bonus mu di kurangi" ucap Sean
"Aku masih magang, mana punya bonus" ucap Intan
"Kalau gitu gajihmu di potong" ucap Sean sambil beranjak dari kursinya
"Mana bisa begitu, gajih Intan masih kecil, tega sekali, kak Arman memang direktur yang jahat" ucap Intan
Sean pun hanya tersenyum dan segera bergegas ke luar raungan untuk ke ruangannya dengan Elisa dan juga di ikuti oleh Ifan
__ADS_1
"Hey, tunggu, masa aku di tinggal, kalian memang sungguh tega menindas gadis imut seperti ku" ucap Intan juga segera beranjak mengikuti mereka keluar dari ruangan Meeting
Sesampainya di Ruangan, Sean langsung mendudukan dirinya di kursi Presdir nya, dan dia langsung mengeluarkan ponsel yang dia mode silent kan saat rapat berlangsung, dan diapun melihat ada beberapa file dari S di layar ponselnya
"S??, ada apa?" gumam Sean, diapun langsung melihat apa yang dikirim kan S padanya itu
Sean pun sedikit tertegun karena S mengirimnya perihal informasi pergerakan Leon yang ada di kota J, termasuk penyadapan lalu lintas panggilanya yang menyatakan "dua kelinci sudah di lumpuhakn" mendengar percakapan Leon itu Sean langsung merasa perasaannya langsung tidak enak
"Jangan jangan,, bagaimana bisa?" pikiranya langsung mengarah pada Nayra dan Lena, diapun segera menghubungi Agam yang masih berjaga di Mansion
"Hallo Agam, apa Lena dan Nayra ada di Mansion??" tanya Sean
📲"Maaf tuan, nona Lena keluar dengan nona Rania tadi, sementara nona Nayra ada di dalam bersama nyonya" ucap Agam
"Begitukah?? kenapa kamu mebiarakan Lena pergi??" tanya Sean sedikit panik
📲"Maaf tuan, memangnya ada apa??" ucap Agam
"Mereka pasti di pancing oleh Leon untuk keluar, segera persiapkan anggotamu, kita akan cari Lena, nanti ku kabari lagi kau harus bergerak kemana" ucap Sean
📲"Baik tuan" ucap Agam
Sean pun menutup panggilannya dan segera menyuruh (S) untuk melacak keberadaan Lena dan Rania, dan hasilnya memang sesuai dengan yang di khawatirkan Sean, Lena dan Rania sedang bergerak ke pulau Yang di tempati oleh Leon
"Sial, kenapa bisa kecolongan seperti ini, dia memang susah di tebak" ucap Sean
Sean pun segera mengabari Agam supaya dia pergi ke dermaga dengan membawa serta anak buahnya kesana,
Dan Sean juga langsung beranjak dari duduknya "Ifan, aku harus pergi dulu sekarang, ada urusan mendesak, tidak apakan?" ucap Sean sedikit panik
"Iya tidak papa, tapi ada apa kak?, apa ada masalah serius??" tanya Ifan yang melihat raut ketegangan di wajah Sean
"Tidak, hanya masalah kecil, kalau gitu aku pergi dulu" ucap Sean tidak terlalu jujur
"Iya Kak" ucap Ifan
Sean pun segera bergegas ke lantai dasar, dan segera memasuki mobilnya, lalu kemudian dia pun langsung melesatkan mobilnya menuju ke dermaga yang ada di pinggir pantai kota J
.
Sesampainya di dermaga Sean pun menunggu Agam dan anak buahnya terlebih dulu sebelum dia bergerak, dan Setelah Agam dan puluhan anak buahnya datang, Sean menyewa beberapa perahu motor dan Speedboat untuk membawa semua anak buah Agam ke pulau yang di tempati Leon sekarang
Sean pun naik ke salah satu perahu motor dan langsung berdiri di bagian depan perahu yang perlahan mulai melaju ketengah Lautan, dia memimpin rombongan untuk menentukan Arah dengan panduan (S) di ponselnya, supaya mereka bisa Samapi ke pulau kecil yang di tempati Leon itu dengan akurat
__ADS_1