TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar

TDCWSC 2: Tuan Yang Terdampar
Dendam Dewi


__ADS_3

Leon yang melempar granat dari atas pun tidak menyangka kalau Sean bisa menepis granat yang di lemparkan nya,


"Berikan aku satu granat lagi, kali ini pasti tidak akan meleset" gumam Leon, diapun segera mendapatkan dari anak buahnya, dia pun langsung membuka segelnya lagi dan kembali melemparkannya ke arah bawah tepat ke kubu Sean dan anak buah Agam yang masih belum bangkit


Sean yang berada di bawah pun langsung menoleh pada benda hitam yang mengarah pada mereka lagi, dia segera bangkit untuk mencegah benda itu meledak di dekat anak buahnya, namun kali ini Sean tidak berniat menepis dengan tangan, krena dia rasa tidak akan menguntungkan, jadi dia mengambil ancang ancang untuk menendang granat itu dengan kakinya, 'Pak', seketika granat itu pun berbalik arah keatas menuju ke arah Leon lagi, karena Sean memang menargetkannya kesana


Dan "'Buuuuuuuuummmm" granat itu pun akhirnya meledak di udara sebelum sampai kepada Leon


'cring cring' "Arghh, Sial," lirih Leon yang langsung Tiarap di lantai karena terkena hembusan dari ledakannya yang sampai kepadanya, bahkan efeknya sampai menghancurkan kaca jendela yang ada di dekat Leon "Manusia seperti apa pria itu bisa menangis berbagai serangan,, bedebah" gerutu Leon


.


Sementara di bawah


"Kurasa orang itu punya banyak mainan, Dia harus segera di lumpuhkan, kalau tidak dia akan mempermainkan kita terus menerus, ayo masuk" ucap Sean


Agam dan anak buahnya pun segera bangkit dan segera mengikuti Sean bergegas ke pintu masuk gedung dengan tidak mengurangi kewaspadaan mereka, mereka mengarahkan senjata yang di pegang mereka ke arah depan


Sean pun akhirnya memasuki markas Leon itu, dan terus maju untuk mencari di mana keberadaan Leon, mereka juga masih harus baku tembak lagi dengan sisa anak buah Leon yang masih bersembunyi di dalam,


dan Setelah membereskannya, mereka pun naik ke lantai atas karena Sean yakin Leon ada di atas, jadi dia tidak perlu menyisir setiap ruangan di lantai dasar, dan segera anak buah Agam pun menyisir semua ruangan dia lantai 2, lantai 3, sampai akhirnya mereka naik ke lantai 4 dengan anak buah Agam yang masih belum terluka , beberapa dari anak buah Agam memang ada yang mengalami luka tembak di tangan dan kakinya, sementara bagian tubuh mereka memang terlindungi oleh rompi anti peluru


Dan begitu dia sampai di lantai 4, Sean pun langsung melihat ke sekeliling tempat itu, dan diapun melihat Leon dan beberapa anak buahnya berdiri di belakang Lena yang duduk di sofa Ruangan itu dengan kondisi mulut yang di lakban, dan tangannya yang terikat di depan, Leon menaruh sebuah pistol berjenis desert eagle yang di pegangnya itu di bahu Lena


Sementara Lena meantap ke arah Sean dengan tatapan penuh harap dan menangis ketakutan


"Lena!!!,, kurang ajar kau Leon, jauhkan benda itu dari istriku" ucap Sean sambil melangkah pelan dan menatap tajam pada Leon


"Benda?, apa yang kau maksud ini??" ucap Leon sambil mengangkat pistolnya, "Boleh saja, tapi kau suruh anak buahmu untuk menunggu di bawah Saja " ucap Leon


Sean pun menghela nafasnya "Agam, turun lah" ucap Sean dingin


"Tapi tuan..."


"Aku bisa mengurus mahluk itu sendirian" ucap Sean


"Beb baiklah" ucap Agam


Agam dan anak buahnya pun segera bergegas menuruni tangga yang baru saja dia naiki mereka itu

__ADS_1


"Mendekatlah dan angkat tanganmu tinggi tinggi" ucap Leon


Sean pun melangkah perlahan supaya bisa sedikit lebih dekat pada Leon dan anak buahnya itu, Dewi juga ada di antara mereka


"Jadi apa sebenarnya yang kau inginkan??, apa membunuhku??" tanya Sean


"Tidak aku hanya ingin bermain-main, aku minta kau mematahkan tangan mu sendiri di depan istrimu, itu pasti akan membuat istrimu terkesan," ucap Leon


"Hanya itu saja?" tanya Sean


"Ya,, lakukanlah" ucap Leon


"Kau pria lemah Leon, kau menggunakan istriku untuk meminta ku menyakiti diriku sendiri, kenapa tidak datang padaku dan melakukan nya sendiri" ucap Sean mengolok


"Jangan banyak bicara, cepat lakukanlah apa yang ku suruh, atau aku harus melukai istrimu dulu baru kamu mau melakukannya??" ucap Leon sedikit menaikan nada bicaranya


"Leemah" ucap Sean yang sengaja memancing emosi Leon


"Kau benar-benar memuakan, aku memang lemah, tapi aku tidak bodoh seperti mu yang hanya mengandalkan otot saja untuk bertarung, itu sama sekali tidak berguna, sehebat apapun durimu, kamu tetap tidak bisa apa apa hanya karena seorang wanita kan??, itulah yang namanya lemah" ucap Leon sedikit terpancing oleh omongan Sean, karena dia memang tidak terima jika ada seseorang yang menyebutnya lemah, meskipun itu kenyataan


"Kau memang benar, aku lemah" ucap Sean, Sean pun menggerakkan tanganya ke tengkuk belakangnya, dia memang menyiapkan sesuatu di belakang lehernya itu, karena dia sudah menenduga akan ada hal seperti ini terjadi, Sean belajar dari pengalaman saat Leon menculik Rania dulu, dan dia pun ternyata melakukan hal sama, mengancamnya dengan Lena


Dengan gerakan yang cepat Sean langsung melemparkan pisau tangan itu , dan 'Seeet'


'Cep' hanya sekelebat saja pisau itu pun kini sudah menancap tepat pada punggung tangan Leon


"Aaaaaaa" seketika Leon pun meringis merasa kesakitan di tanganya, dia langsung menjatuhkan pistol yang di peganganya ke sofa yang di duduki Lena, dan dia mundur dari barisan depan kebelakang anak buahnya


Sean sedikit tersenyum sejenak, karena itu sesuai dengan perkiraan nya, keahlian melempar pisau yang di ajari Agam itu ternyata bisa berguna saat ini,


Dan tentu saja anak buah Leon pun tidak tinggal diam, mereka langsung menembaki Sean yang di depan mereka


"Deeeeerrrrrrd derrrrrrd derrrrrrd" suara senapan semi otomatis itu pun langsung bergemuruh di ruangan yang cukup luas itu


Namun Sean tidak memperdulikannya, dan dia langsung melesat ke depan untuk segera melumpuhkan mereka semua, hantaman peluru peluru tajam pun terus menghujani tubuh Sean, namun Sean merasa kalau itu hanya seperti di gigit semut api yang sedikit panas saja


Sean langsung menerjang ke arah beberapa penjaga bersenjata itu Dengan meloncati Sofa yang di duduki Lena, diapun langsung menendang orang yang berada tepat di depanya hingga dia terjatuh kelantai dan Sean langsung menginjak tubuhnya,, Sean pun langsung melesatkan tinjuan mautnya pada tubuh mereka satu persatu dengan cepat


Merekapun tidak sanggup menahan kerasnya pukulan dari Sean itu, bagi Sean, tinjunya itu memang senjata utamanya, sebelum berlatih pada Agam, tinju Sean memang sudah cukup kuat, dia tambah latihan yang di berikan Agam dulu, kekuatanya pun sudah meningkat berkali-kali lipat,

__ADS_1


Tidak sampai, satu menit, ke lima anak buah Leon itu pun kini sudah terkapar di lantai, sementara Dewi entah bersembunyi kemana, Sean tidak melihat nya lagi di antara mereka,


Dewi memang sadar akan Gerakan Sean sedari awal, dan dia mengendap untuk bersembunyi


Sementara Leon yang baru mencabut pisau di tanganya pun menoleh kebelakang nya dan mendapati kalau semua anak buahnya kini sudah terkapar di lantai, dia pun sedikit merasa kaget


"Ka kamu, bukankah kau tidak memiliki kekebalan lagi, apa gerakanmu sungguh secepat itu dalam menghindari peluru" ucap Leon terbelalak


"Tidak perlu memuji, juga kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh mu" ucap Sean


Diapun segera mengayunkan kakinya untuk menendang wajah Leon, dan 'Buk' kaki Sean langsung menghantam keras pada wajah Leon


"Aaaaaarrrgh" Lirih Leon, dia pun sampai berputar di udara saat mendapat tendangan keras dari Sean itu, dan "Braaaaakk" tubuhnya pun langsung menghantam ke lantai cukup keras


"Arghhhhh,, kau memang pandai bertarung, tapi kau tetap manusia lemah Sean," ucap Leon, dia malah menyunggingkan senyum di lantai sambil menyeka darah di sudut bibirnya


"Terserah kau mau bilang apa, tapi kenyataannya kaulah sekarang yang kalah oleh orang lemah seperti ku kan?," ucap Sean


"Belum tentu, aku masih punya Dewi" ucap Leon


Mendengar ucapan Leon Sean pun langsung punya firasat buruk soal itu, diapun langsung menoleh kebelakang, dan benar saja, Dewi sekarang sudah mengarahkan sepucuk senjata api pada kening Lena


"Arman, Kau belum tau rasanya melihat orang yang kau sayangi mati di depan matamu kan,??" ucap Dewi


"Wi, aku mohon jangan lakukan itu, sudah ku bilang dari dulu, buakn aku yang menekan pelatuk pistol saat Ayahmu meninggal, tapi ayahmu sendiri yang menekannya, aku mohon wi, jangan lukai istriku,, aku ingin kita meluruskan masalah kita,, aku menginginkan kita hidup sebagai keluarga lagi, kembalilah pada keluarga kita, aku mohon jangan ikuti jejak ayahmu Wi, aku yakin kamu tidak akan menemukan kebahagiaan meskipun kau bisa membunuhku atau Lena, kau hanya akan mendapatkan penyesalan" ucap Sean


"Tidak,, tidak ,,tidak,, justru aku akan sangat merasa tenang jika sudah bisa melenyapkan orang yang kau sayang didepan matamu sendiri, apalagi kakau bisa sekaligus melenyapkanmu, walaupun aku harus mati setelah nya, kurasa itu impas" ucap Dewi


.


Tiba tiba dari arah tangga Tiara datang dengan wajah sangat khawatir, di datang bersama beberapa anak buahnya dan di susul oleh Agam juga di belakang nya, Tiara pun langsung mencari sosok Sean yang di sana, Tiara merasa khawatir karena dia masih belum tau kalau Sean sekarang sudah mendapatkan kekebalanya lagi


"Sean, kau tidak papa??" tanya Tiara Yang belum memahami situasi seperti apa yang terjadi di sana,


Tapi Sean tidak berniat menggubris pertanyaan dari Tiara, Yang di khawatirkannya sekarang adalah keselamatan Lena yang sekarang hanya bisa terisak di depa Sebuah pistol yang di arahkan Dewi padanya, Lena tidak bIsa bicara karena mulutnya masih tertutup lakban


Dewi pun menoleh pada Tiara sekilas yang di belakangnya, "Hhhh Apa dia kekasihmu juga Arman?, kau memang pria Brengsek, maksudku kau pria hidung belang Arman" ucap Dewi terbata, sebenarnya dia sanagt takut untuk melakukan semua ini,


Tapi Dewi sudah terlanjur mengira kalau Sean lah yang dulu sengaja menembak ayahnya, diapun terus menyimpan dendam di hatinya pada Sean dan Kartina, itulah yang mendorong nya untuk berbuat nekat,

__ADS_1


Kejadian tertembaknya Dirto dulu memang tidak terlihat jelas oleh mata Dewi yang saat itu berada di belakang Sean, dan sebenarnya memang ayahnya lah yang menekan pelatuk saat Sean mencoba merampas senjata di tangannya


__ADS_2