
(Zona Reader pria)
…
Mendengar putranya mengeluh soal rindu, Kartina pun tidak bisa menahan tawa kecilnya, "Ya tahan saja dulu rindumu itu, demi bayimu kan" ucap Kartina
"Ya, Baiklah, akan ku coba,, meskipun itu sepertinya akan Sulit" ucap Sean tersenyum kaku
.
Malam hari nya, mereka pun mulai tidur terpisah di karenakan Lena akan merasa mual jika dia melihat Sean, meskipun itu sedikit menyiksa untuk Sean karena dia tidak terbiasa untuk tidur berjauhan dari Lena, tapi dia juga tidak mungkin mengesampingkan kenyamanan Lena
"Jadi bujangan lagi aku, hhhh, ya sudahlah," gumamnya di kamar pribadinya, dia pun merebahkan dirinya di tempat tidur dan mengambil guling untuk di peluknya, diapun langsung mencoba memejamkan matanya, Namun tetap saja dia sulit tidur karena guling itu tidak bisa menggantikan pelukan Lena yang alami, dan Sean pun sedikit kesulitan untuk tertidur malam itu tanpa adanya belaian kasih sayang dari Lena
…
Keesokan paginya, Sean terbangun di kamar pribadinya,, yang pertama ada di pikirannya Adalah Lena, dia pun melihat lihat tempat tidur di sampingnya, "Len, Lena" Sean memangil manggil namanya, namun dia tidak mendapatkan jawaban Lena di sana, "Aiya, aku tidur sendirian kan" gumam Sean baru sadar kalau dia memang tidak tidur dengannya semalam
Sean pun langsung beranjak dari kamarnya, diapun langsung bergegas ke kamar Lena untuk sekedar Melihat nya, Sean langsung membuka pintu kamar nya perlahan, dan kebetulan pintunya tidak Lena kunci,
Dia pun memasukan kepalanya terlebih dulu untuk memantau situasi, dan diapun melihat kalau Lena masih tertidur pulas di tempat tidurnya, diapun segera melangkah menghampirinya dengan mengendap-ngendap, itu dia lakukan supaya tidur Lena tidak terusik olehnya, dan takutnya dia malah merasa mual lagi kalau dia melihat dirinya masuk ke kamarnya
Dan hal pertama yang di lakukan Sean setelah mendekati Lena adalah menarik selimutnya, dia pun sejenak memperhatikan perut Lena yang masih terlihat rata di balik piyama sutranya, dia perlahan mendekatkan wajahnya pada perut Lena dan kemudian menciumnya pelan "Sayang, ini papah, kamu sedang apa di sana?, papah sudah rindu kamu lho" bisik Sean pada perut Lena
"Apa kamu sebal dengan papah?, kenapa begitu??, papah kan selalu melakukanya dengan baik pada mamahmu, papah juga tidak pernah menyakiti mamah mu kan?, jadi jangan lama lama ngambek sama papahnya, ya, papah akan merindukan mamahmu kalau kamu lama lama sebal ke papah" ucap Sean yang terus mengajak ngobrol perut Lena itu dengan berbisik
Tapi tiba tiba Lena pun sedikit membuat gerakan di tidurnya, yang menandakan kalau dia akan terbangun
Sean pun sadar kalau Lena akan segera bangun, jadi diapun segera beranjak lagi dengan mengendap ngendap untuk keluar dari kamar Lena, dan diapun bergegas kembali ke kamarnya,,
…
Pagi harinya, Sean memulai aktivitasnya seperti biasa nya, hanya saja saat dia sarapan dia tidak di temani oleh Lena, karena Lena meminta sarapan paginya di antar ke kamarnya,
Dan Sean pun hanya di temani Sarapan oleh Putri kecil dan ibundanya tercinta,
"Nay, apakah kamu ingin punya adik??" tanya Sean asal pada Nayra yang duduk bersebelahan denganya
"Mau mau, apa papah mau bikin adik untuk Nay?" tanya Nayra
"Iya sayang, sudah,, dalam perut mamah Lena Sekarang sudah ada adik Nay, jadi, Nayra harus bisa menjaga adik Nay dan mamah Lena mulai dari sekarang Ya" ucap Sean
"Benelan pah?, Holeeee,, Nay mau punya adik,,, tapi Nay maunya punya adik laki laki seperti Anju pah" ucap Nayra
"Kalau soal itu papah tidak bisa pastikan, nanti kita lihat saja kalau mamah Lena sudah memeriksakannya ke dokter, ya" ucap Sean
"Iya, sekalang Nay mau bertemu adik Nay" ucap Nayra
__ADS_1
"Ya Sudah selesaikan dulu makan mu, nanti papah antar kamu ke kamar mamah Lena,,, tapi papah tidak bisa menemanimu meneui adik,, soalnya papah Harus ke kantor sayang" ucap Sean
"Iya," ucap Nayra
Setelah selesai sarapan Sean pun langsung beranjak menghampiri Kartina yang masih duduk di kursinya
"Bu, aku langsung berangkat ke kantor setelah antar Nayra ke Atas" ucap Sean sambil memberi salam pada Kartina
"Baiklah, hati hati di jalan kalau gitu,,, O yah,, nanti Siang ibu akan jenguk Dewi di rumah sakit, tapi ibu tidak ada teman kesana, ibu tidak mungkin mengajak Lena kan" ucap Kartina
"Ya sudah, kalau gitu nanti Arman kerumah sakit juga, kabari saja kalau ibu kesana" ucap Sean
"Baiklah" ucap Kartina
Sean pun segera mengantar Nayra untuk naik ke kamar Lena, diapun langsung membukakan pintu kamarnya supaya Nayra bisa masuk sendiri,
Nayra pun langsung berlari ke arah Lena yang duduk bersandar di tempat tidur "Mamah, mamah, papah bilang Nay akan punya adik?" tanya Nayra girang
"Iya sayang, sinih naik, mamah rasanya sangat rindu padamu, kemarin mamah tidak bertemu kamu ya, kamu kemana saja kemarin?" tanya Lena
Sean yang masih mengintip di depan pintu pun hanya tersenyum memperhatikan mereka yang mulai mengobrol di atas tempat tidur, setelah itu Sean pun menutup rapat pintunya perlahan, dan segera pergi dari depan pintu kamar Lena untuk pergi ke kantor,
Diapun segera mengendarai mobilnya untuk pergi ke kantor KARTIN.corp pusat untuk menjalankan tugasnya sebagai pemimpin perusahan besar itu,,
.
.
Setibanya di rumah sakit, Sean turun dari mobilnya dan langsung mencari keberadaan sang Ibu, dan diapun melihat seorang pengawal Kartina yang berjaga di belakang mobil Bentley berwarna hitam, itu adalah mobil ibunya
Jadi Sean pun menghampiri anak buah Agam yang berjaga di dekat mobil itu
"Selamat siang tuan" ucap Anak buah Agam,
"Siang, apa ibu sudah masuk ke dalam" tanya Sean memastikan
"Sudah, kebetulan nyonya bertemu nona Rania barusan, jadi dia langsung masuk bersamanya" ucap penjaga itu
"Oh,, Baiklah, kalau begitu aku masuk" ucap Sean
"Iya silahkan Tuan" ucap sang pengawal Kartina itu
Sean pun segera masuk ke rumah Sakit, dia pun langsung menuju ke ruangan tempat Dewi di rawat, karena pikir nya Kartina pasti langsung ke sana,, tapi sesampainya di pintu ruang rawat Dewi, Sean tidak melihat ibunya ada di dalam,
"Ibu kemana?, apa dia menjenguk Tiara dulu??" gumamnya, diapun segera beranjak lagi dari depan Ruangan Dewi
Sean pun segera bergegas ke ruang rawat Tiara, dan benar saja , ibunya ada di sana, Sean bisa melihatnya dari kaca pintu, namun saat dia akan membuka pintunya dia pun melihat kalau Lena juga ada di dalam, jadi dia sedikit ragu untuk masuk, di takut Lena akan merasa mual lagi kalau dia melihat nya, jadi dia putuskan untuk menunggu mereka keluar saja
__ADS_1
Lumayan lama Kartina mengobrol di dalam, dan enatah topik apa yang sedang mereka perbincangkan, Sean pun sampai merasa sedikit bosan menanti Lena dan ibunya untuk keluar Ruangan, dan akhirnya Sean pun membuka pintu Ruangan itu "Hallooo, ibu, aku sudah menunggumu dari tadi di sini, apa belum selesai mengobrolnya??" tanya Sean yang sudah tidak sabar itu
Seketika semua yang ada di ruangan itu pun langsung menoleh pada Sean, Termasuk Lena, alhasil dia pun langsung menutup mulutnya dan bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam, tentunya karena dia merasa mual melihat Sean
"Orangnya datang juga ternyata" ucap Kartina, diapun beranjak dari duduknya dan lekas berjalan menghampiri Sean yang masih di pintu masuk
"Ibu mau bicara sesuatu" ucap Kartina
"Bukan kah ibu sedang melakukan nya" ucap Sean
"Maksud Ibu ibu mau bicara serius dengan mu" ucap Kartina
"Baiklah, di mana?" tanya Sean
"Di luar saja" ucap Kartina
Mereka pun segera keluar dari ruangan rawat Tiara, dan duduk di kursi tunggu di luar
"Arman, ibu penasaran, kata apa yang di lontarkan Tiara padamu sebelumnya, Rania bilang Tiara sampai tidak mau makan, juga tidak mau minum obat semenjak dia sadar pasca operasi, dia bilang dia akan malu jika dia bertemu lagi denganmu" ucap Kartina
"Begitukah??,, Dia cuma bilang kalau dia mencintai Arman, itu saja" ucap Sean
"Benarkah??" ucap Kartina, diapun tertegun sejenak "Menurutmu bagaimana Tiara itu??" tanya Kartina
"Kenapa memangnya??, Apa itu harus ku jawab??" ucap Sean
"Ya terserah kamu, ibu hanya penasaran saja bagaimana pendapat mu tentang dia, itu saja" ucap Kartina
"Baiklah,, Tiara itu tipe wanita yang kuat, entah itu dari segi pisik, atau pun dari tekadnya, dia cantik, dan memiliki penampilan yang bisa di bilang menarik, dia sebenarnya wanita yang baik juga, hanya saja didikan dari ayahnya yang menjadikannya wanita yang sedikit kasar,," ucap Sean
"Begitu ya, apa kamu tidak berniat menyambut perasaannya itu??" ucap Kartina Asal
Sean pun langsung tersenyum kaku "Entahlah, rasanya itu mustahil bu," ucap Sean
"Ibu merasa sedikit simpati padanya, bukan kah dari dulu dia menyimpan rasa padamu?" ucap Kartina
"Sepertinya begitu, tapi jika aku menerima Tiara, itu sama saja dengan menerima musuh untuk Lena, Andai kata Tiara itu bisa seperti Rania yang bisa akur dengan Lena, mungkin aku tidak akan keberatan jika menerimanya" ucap Sean asal
"Begitukah?" tanya seorang wanita di belakang Sean
Sean pun langsung menoleh ke belakangnya, dan mendapati kalau Lena berdiri di pintu masuk ruangan Tiara, dengan membuang pandanganya ke arah lain
"Len, maksudku tidak seperti itu" ucap Sean ngeles
"Kalau kau ingin menikahinya, nikahi saja" ucap Lena dengan tetap memalingkan wajahnya, karena jika dia melihat ke arah Sean, tentunya dia akan merasa mual lagi
"Len, aku tidak mau itu jika artinya kau akan sangat marah padaku" ucap Sean
__ADS_1