Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 21 )


__ADS_3

Di Apartemen Jennifer


"Ra, ayo bangun," ujar Jennifer seraya membangunkan Ara yang masih terlelap di Apartemen Jennifer.


"Apaan sih Jen? Kau tidak lihat aku masih ngantuk," sahut Ara yang masih setia memejamkan matanya.


"Tapi, ini sudah pagi. Apa kamu tidak pergi bekerja?" tanya Jennifer yang masih berusaha membujuk temannya agar mau bangun dari tidur nyenyak nya.


"Beritahu mereka untuk menunda pekerjaan ku," titah Ara.


"Bagaimana bisa begitu? Bagaimana kalau mereka mencari model lain saat melihat kamu yang tidak bekerja secara profesional?" tanya Jennifer yang sangat kesal pada temannya yang seenak jidatnya menunda pekerjaan.


"Itu tidak akan mungkin terjadi. Karena cuma aku model yang saat ini sedang dicari untuk mempromosikan produk mereka agar cepat laris dipasaran," ujar Ara.


Mendengar perkataan Ara membuat Jennifer terpaksa melakukan perintah Ara untuk menunda pekerjaan sampai Ara siap untuk pergi ke lokasi pemotretan.


Dreet... Dreet... Dreet...


"Ra, bangun Ra! Ada orang yang sedang menelpon mu nih," ujar Jennifer seraya membangunkan Ara.


"Apa lagi sih? Dari tadi kamu selalu saja menganggu ku," ujar Ara dengan kesal.


"HP kamu bunyi tuh," balas Jennifer seraya menunjuk ke arah HP nya berada.


"Angkat saja. Dan katakan aku sedang tidur," ujar Ara yang masih betah memejamkan matanya.


"Ck! Dasar pemalas," umpat Jennifer seraya melangkah ke arah nakas untuk mengambil HPnya Ara.


πŸ“ž "Hallo! Ada apa tante?" tanya Jennifer dengan sopan.


πŸ“ž "Loh, kenapa kamu yang angkat Jen? Di mana Ara?" tanya Claudia dengan penasaran.


πŸ“ž "Ara masih tidur tante," balas Jennifer.


πŸ“ž "Anak itu, tidak di sini tidak disana kerjaannya tidur mulu. Dasar pemalas," umpat Claudia dengan wajah kesal saat melihat kelakuan anaknya.


Mendengar perkataan Claudia membuat Jennifer terkekeh geli. Ternyata bukan dia saja yang mengumpat Ara karena malas bangun tidur. Tapi, ibunya pun sama saja seperti dirinya yang kesal terhadap kelakuan Ara.


πŸ“ž "Apa kalian tidak bekerja?" tanya Claudia dengan penasaran.


πŸ“ž "Kerja tante. Tapi, Ara mengundurkan waktu pekerjaan kami dengan alasan dia masih ngantuk," jelas Jennifer dengan jujur.


πŸ“ž "Apa kamu melakukan perintah Ara?" tanya Claudia.

__ADS_1


πŸ“ž "Iya, tante," jawab Jennifer dengan singkat.


πŸ“ž "Kenapa kamu tidak sekalian saja menyuruh mereka menghentikan Ara agar tidak memakai model yang tidak profesional seperti dirinya?" tanya Claudia dengan kesal.


πŸ“ž "Mana mungkin aku melakukan itu tante, yang ada Ara bisa saja memecat ku," balas Jennifer.


πŸ“ž "Kenapa kamu takut dipecat oleh Ara? Seharusnya kamu bersyukur bisa terlepas dari Ara," ujar Claudia.


πŸ“ž "Bagaimana tidak takut tante orang gajinya sangat besar? Jika aku tidak bekerja dengan Ara mana sanggup aku membeli Apartemen mewah ini dan juga barang-barang branded lainnya," ujar Jennifer.


πŸ“ž "Kau sama saja seperti atasan mu, sama-sama matre," ujar Claudia.


πŸ“ž "Aku berbeda dengan Ara tante, karena aku tidak pernah memanfaatkan orang lain tidak seperti Ara yang suka memanfaatkan orang lain," ujar Jennifer seraya membela dirinya agar tidak disamakan dengan Ara.


πŸ“ž "Ya, tante tahu kamu tidak seperti Ara yang suka memanfaatkan orang lain. Berbeda dengan putri tante yang kerjaannya suka sekali memeras uang orang lain untuk dirinya sendiri," ujar Claudia seraya membenarkan perkataan Jennifer.


πŸ“ž "Kenapa tante menghubungi Ara?" tanya Jennifer dengan penasaran.


πŸ“ž "Oh... Tuhan. Aku sampai lupa mengatakan tujuan ku menelpon Ara gara-gara keasyikan mengobrol dengan mu," ujar Claudia seraya terkekeh.


πŸ“ž "Emangnya tante mau mengatakan apa pada Ara, biar aku sampaikan pada Ara nanti setelah dia bangun dari tidurnya?" tanya Jennifer dengan penasaran.


πŸ“ž "Bilang padanya kalau daddy nya menyuruh Ara pulang ke Mansion dengan segera," ujar Claudia.


Beberapa menit kemudian


"Kau sudah bangun?" tanya Jennifer saat melihat Ara sedang duduk di ruang makan bersama dengan nya.


"Hemmm," jawab Ara seraya memakan sarapan yang sudah tersedia di atas meja makan.


"Tadi mommy mu telpon, katanya kamu di suruh pulang ke mansion orang tuamu," jelas Jennifer seperti yang dikatakan oleh Claudia tadi.


"Untuk apa mommy menyuruhku pulang ke mansion? Bukannya aku sudah katakan pada mommy kalau aku akan menginap beberapa hari di Apartemen kamu?" tanya Ara dengan kening mengkerut.


"Mana aku tahu, kalau kamu penasaran tanyakan saja pada mommy kamu langsung," balas Jennifer.


"Ck! Dasar menyebalkan," umpat Ara dengan wajah kesal.


"Kau yang menyebalkan," balas Jennifer tak mau kalah dengan Ara.


Mendengar perkataan Jennifer membuat Ara terdiam dan melanjutkan memakan sarapannya tanpa peduli ocehan Jennifer. Setelah itu dia langsung bergegas untuk pergi ke mansion orang tuanya.


β€’

__ADS_1


β€’


β€’


Setelah menempuh beberapa jam kemudian akhirnya sampai juga di mansion Alexander Lemos. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam mansion orang tuanya setelah menanyakan keberadaan orang tuanya pada pelayan yang bekerja di mansion tersebut.


"Ada apa mom, menyuruh Ara pulang ke mansion? tanya Ara setelah duduk di depan kedua orang tuanya.


"Tanyakan saja pada daddy mu, dia yang menyuruhmu pulang ke mansion," ujar Claudia seraya melihat ke arah suaminya.


"Ck! Mommy ini pandai sekali membalikkan fakta. Padahal dia yang memaksa aku agar menyuruh Ara segera pulang ke mansion ini," batin Alex dengan kesal.


"Ada apa daddy menyuruh aku pulang ke mansion?" tanya Ara lagi dengan penasaran.


"Kapan kamu siap memimpin perusahaan?" tanya Alex.


"Kenapa daddy malah menanyakan itu sih? Bukannya membahas masalah perjodohan Ara dengan anak temannya," batin Claudia dengan wajah kesal.


"Kenapa daddy tiba-tiba menayangkan itu? Apa daddy tidak mau memimpin perusahaan lagi?" Ara bukannya menjawab pertanyaan ayahnya. Tapi dia malah menayangkan pertanyaan balik pada ayahnya.


"Daddy sudah tua, sudah saatnya daddy pensiun dari perusahaan. Dan sekarang sudah saatnya kamu memimpin perusahaan kita," jawab Alex.


"Bukannya ada Reagan? Suruh saja Reagan yang memimpin perusahaan karena aku tidak tertarik bekerja di kantor," ujar Ara.


"Jika kau tidak tertarik memimpin perusahaan, kenapa kamu malah merebut semua harta daddy?" tanya Alex dengan penasaran.


"Untuk jaga-jaga saja agar Reagan tidak mengambil semua harta daddy untuk dimiliki untuk nya sendiri," jawab Ara.


"Ck! Kau menuduh adikmu yang sudah jelas terlihat bodoh dan polos. Padahal kamulah yang memiliki niat seperti itu dan sekarang terbukti bahwa kamulah yang telah mengambil seluruh harta daddy untuk kamu miliki sendiri. Dasar licik," ujar Alex seraya menatap anaknya dengan tatapan tajam.


"Bukannya daddy juga licik?" tanya Ara seraya membalas tatapan tajam ayahnya.


Mendengar perkataan Ara membuat Alex terdiam seperti patung. Karena apa yang dikatakan oleh anaknya semuanya benar adanya. Mereka sama-sama memiliki wajah yang serupa dan sifat yang serupa. Berbeda dengan anak keduanya yang memiliki wajah dan sifat seperti istrinya yang baik hati dan juga polos.


"Kenapa aku merasa merinding ya saat melihat tatapan mereka yang sama-sama tajam hingga menusuk relung hatiku," batin Claudia dengan wajah ketakutan.


β€’


β€’


β€’


Bersambung...

__ADS_1


🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿


__ADS_2