
Di Gudang tua
"Hey kalian," panggil Ara pada anak buah Revan.
Mendengar panggilan Ara membuat anak buah Revan langsung menghampiri Ara.
"Ada apa Kamu memanggil kami?" tanya salah satu anak buah Revan yang saat ini sudah berdiri di depan Ara dan juga Claudia.
"Sebutkan berapa dia membayar kalian?" tanya Ara.
"Maksud kamu apa?" tanya salah satu anak buah Revan dengan bingung pasalnya dia tidak paham maksud dari perkataan Ara tadi.
"Itu saja kalian tidak paham. Ck! Dasar bodoh," umpat Ara dengan kesal.
Mendengar umpatan Ara membuat mereka emosi. Mereka tidak menyangka wanita ini sangat berani mengumpat mereka dengan terang-terangan seperti ini padahal dia saat ini sedang menjadi tawanan mereka tetapi wanita ini malah tidak takut terhadap mereka.
"Tutup mulut mu sebelum aku menutup mulut mu untuk selamanya," bentak salah satu anak buah Revan dengan tatapan membunuh.
"Kau jorok sekali. Jika ingin bicara jangan didekat ku karena mulut mu sangat bau," ujar Ara seraya memasang wajah tanpa dosa.
Mendengar perkataan Ara membuat salah satu anak buah Revan segera mencium mulutnya sendiri. Dia ingin membuktikan apa ucapan Ara benar adanya atau hanya akal-akalan nya saja. Sedangkan anak buah Revan yang lain malah tertawa terbahak-bahak. Dia benar-benar salut pada wanita ini karena dia sama sekali tidak takut pada mereka padahal biasanya orang-orang yang mereka culik akan merasakan ketakutan apalagi melihat wajah temannya yang sangat menyeramkan.
"Kurang ajar, beraninya kamu menghinaku. Jika saja bos besar memberikan izin untuk memberikan pelajaran pada kamu pasti sudah aku lakukan sejak tadi," ujar salah satu anak buah Revan seraya mengepalkan tangannya.
"Ck! Apa hebatnya lansia itu sampai kalian takut padanya? Seharusnya yang kalian takutkan adalah daddy ku karena dia lebih hebat dan berkuasa di bandingkan lansia itu," ujar Ara dengan tatapan meremehkan.
"Emangnya siapa daddy kamu sehingga kamu sangat yakin jika kami akan takut pada daddy mu itu?" Mereka tidak mengenal akan sosok Ara maupun Claudia.
"Dia adalah Alexander Lemos sang penguasa negara ini," balas Ara dengan bangga saat menyebutkan nama ayahnya.
__ADS_1
Dia sangat yakin mereka pasti akan takut jika dia menyebutkan nama ayahnya. Siapapun yang mendengar nama ayahnya pasti musuh yang ada di luar sana akan ketakutan karena ayahnya adalah laki-laki terkuat yang ada di negara ini.
Deg
Mereka tidak tahu jika yang sedang mereka culik adalah anak dan istrinya Alexander. Jika saja mereka tahu lebih awal pasti tidak akan mau terlibat dalam masalah ini. Tapi, untuk mundur sekarang pun sudah terlambat karena mereka sudah terlanjur terlibat dalam masalah ini. Mereka hanya bisa berdoa agar Alexander tidak dapat menemukan keberadaan mereka.
"Kau pikir kami takut? Dengar baik-baik, walaupun ayahmu sang penguasa negara ini tidak akan membuat kami ketakutan. Karena kami sangat tahu jika ayahmu tidak akan bisa menemukan kalian disini," ujar salah satu anak buah Revan dengan tenang padahal dalam hati sangat ketakutan.
Dia sengaja bicara seperti itu untuk membuktikan kalau mereka tidak akan takut pada siapapun termasuk ayahnya.
"Ck! Apa kau pikir aku tidak tahu jika saat ini kalian sedang ketakutan gara-gara aku menyebutkan nama daddy ku?" Ara bisa menebak jika mereka saat ini sedang ketakutan terhadap ayahnya hanya saja mereka bicara seolah-olah tidak takut.
Deg
"Sial, bagaimana bisa wanita ini tahu apa yang sedang kami pikirkan? Bagaimana jika tuan Alex dapat menemukan keberadaan kami yang ada nyawa kami bisa melayang di tangannya," batin salah satu anak buah Revan dengan cemas.
"Begini saja, aku akan berikan kalian satu kesempatan untuk bisa lepas dari hukuman daddy yaitu kalian harus bebaskan kami dari sini dan aku akan berikan kalian imbalan lima kali lipat dari pada yang diberikan oleh lansia itu," ujar Ara.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Ara dengan penasaran.
"Itu karena mereka sudah menyandera anak dan istri kami sebagai tanda agar kami tidak bisa mengkhianati mereka," balas salah satu anak buah Revan.
"Sial, jika seperti ini bagaimana aku bisa membujuk mereka. Aku juga tidak bisa membantu membebaskan anak dan istri mereka karena keadaan ku pun sama seperti mereka," batin Ara yang merasa putus asa.
Dia hanya bisa berdoa agar ayahnya segera menemukan keberadaan mereka. Dia merasa kasihan pada ibunya yang sejak tadi sudah lemas tak bertenaga akibat menahan lapar.
"Hey, pesankan pasta untuk kami," titah Ara dengan tegas.
"Kami punya nama jangan panggil hey... hey," ujar anak buah Revan dengan kesal.
__ADS_1
"Apa peduliku! Cepat berikan kami pasta. Ingat, pasta nya harus enak jika tidak enak awas kau," titah Ara dengan tegas.
Mendengar perkataan Ara membuat anak buah Revan melongo. Mereka lagi dan lagi terkejut saat mendengar perkataan Ara. Sungguh, baru kali ini mereka melihat ada tawanan semacam ini. Dia pikir mereka pelayan yang bisa dia perintahkan seenaknya. Apa wanita ini lupa kalau mereka sekarang sedang berada di gedung tua mana ada makanan seperti yang dia inginkan itu. Ingin rasanya mereka merobek mulut wanita ini. Sejak tadi dia selalu membuat mereka emosi. Tapi, mereka tidak berani melakukan apapun pada wanita ini sebelum mendapatkan perintah dari atasan mereka.
"Apa kau lupa nona? Kita sekarang sedang berada di gedung tua dan disini tidak ada makanan yang Anda inginkan," jelas anak buah Revan dengan lembut padahal dalam hati sangat kesal.
"Ck! Dasar anak buah bodoh. Seharusnya sebelum kalian menculik kami kalian tanyakan dulu padaku biar aku bisa persiapkan barang apa saja yang ingin aku bawa ke tempat ini" ujar Ara dengan kesal.
"Hah..." teriak mereka saat mendengar perkataan Ara.
Mereka sangat terkejut dan shock saat mendengar perkataan Ara. Lebih baik mereka diperintahkan untuk membunuh dari pada diperintahkan menjaga wanita cerewet ini. Rasanya mereka ingin sekali menutup mulut wanita ini agar bisa diam karena sejak tadi selalu bicara yang bikin emosi mereka naik.
"Apa wanita ini gila?" tanya anak buah Revan yang merasa terkejut saat mendengar perkataan Ara tadi.
"Bisa jadi. Karena cuma orang gila yang ingin di culik sedangkan orang yang masih waras pasti akan kabur jika ada seseorang yang ingin menculik dirinya," balas temannya seraya berbisik.
"Aku akui wanita ini beda dengan yang lain. Lihat saja perlakuan wanita itu dia sama sekali tidak terlihat ketakutan tidak seperti wanita lain yang setiap hari bisanya menangis dan teriak minta tolong sedangkan wanita ini dari tadi malah terlihat tenang," bisik anak buah Revan.
"Itu karena dalam darahnya mengalir darah tuan Alexander yang tak pernah takut pada siapapun," balas temannya.
"Yah, aku baru menyadari dari wajahnya saja sudah terlihat jelas kalau dia anak kandung tuan Alexander dan di perkuat dengan tingkahnya yang mencerminkan akan perilaku yang sama seperti tuan Alexander," ujar anak buah Revan yang membenarkan perkataan temannya.
β’
β’
β’
Bersambung...
__ADS_1
πΏπ π πΌπΌπ π πΌπΌπ π πΌπΌπ π πΏ