Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 51 )


__ADS_3

Di Kamar Hotel


"Kalau begitu tidak masalah jika aku mengambil kesucian mu malam ini," ujar Axton seraya mencium bibir Ara. Tak tinggal diam tangannya pun ikut menjelajahi tubuh Ara hingga tepat berada di buah melon Ara.


Sedangkan Ara hanya bisa melotot karena tidak menyangka Axton serius ingin melakukan itu dengan nya. Ara yang takut Axton mengambil kesucian yang dia jaga selama ini tanpa aba-aba langsung saja dia menendang tepat di atas burung Axton sehingga membuat Axton kesakitan.


"Awwwssstt," ringis Axton seraya mengelus burungnya yang tadi di tendang oleh Ara.


"Burungku," teriak Axton dengan keras.


"Dimana burungmu?" tanya Ara dengan polos.


"Dasar wanita gila. Kenapa kamu menendang burungku hah?" tanya Axton seraya membentak Ara.


"Kau yang gila. Sudah tahu kita sedang berada di kamar hotel malah menanyakan burung," ujar Ara yang masih belum paham maksud Axton.


"Maksud ku burung yang ini bodoh," ujar Axton seraya menunjuk ke arah pusakanya.


Mendengar perkataan Axton membuat Ara melihat ke arah yang di tunjuk oleh Axton." Dasar mesum," umpat Ara seraya memalingkan wajahnya karena malu.


"Ngapain kamu memalingkan wajah? Cepat antar aku ke rumah sakit," ujar Axton.


"Untuk apa ke rumah sakit? Nanti juga sembuh sendiri, jangan lebay deuh jadi orang," ujar Ara tanpa bersalah.


"Apa kamu pikir aku sedang berakting? Lihat ini, aku beneran sakit gara-gara kamu tendang tadi. Cepat bawa aku ke rumah sakit, awas saja jika sampai burungku tidak bisa berdiri lagi akan aku buat kamu menyesal," ujar Axton seraya mengancam.


"Kau pikir aku takut," balas Ara seraya menatap Axton dengan tatapan tajam.


"Kau benar-benar wanita kejam. Apa kau tidak merasa bersalah karena sudah menyebabkan aku sakit seperti ini?" tanya Axton.


Mendengar perkataan Axton membuat Ara terdiam seperti patung. Sebenarnya dia merasa bersalah karena sudah menyebabkan suaminya sakit seperti itu. Hanya saja dia merasa takut jika sampai Axton menjebak dirinya dan akhirnya mengambil kesucian yang selama ini dia jaga untuk laki-laki yang dia cintai.

__ADS_1


"Kau tidak berbohong kan?" tanya Ara dengan tatapan curiga.


"Apa kau tidak lihat aku sedang sakit? Bahkan untuk berdiri saja aku tak mampu," ujar Axton dengan jujur.


"Oke, aku akan bawa kamu ke rumah sakit," ujar Ara seraya menghampiri Axton. Dengan susah payah Ara membantu Axton keluar dari kamar mereka menuju ke rumah sakit terdekat dengan tempat mereka menginap.





Setelah menempuh beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit yang sangat terkenal di Indonesia. Setelah itu mereka langsung menghampiri ke ruangan dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut.


"Ada keluhan apa tuan, nona?" tanya dokter itu dengan sopan.


"Tolong periksa burung suami saya dok," ujar Ara dengan polos.


"Maksudnya?" tanya dokter itu yang tidak mengerti maksud Ara.


"Kamu yang..."


"Sayang, kamu diam dulu, biar aku yang bicara pada dokter bodoh ini oke," potong Ara seraya menutup mulut Axton agar tidak lagi melanjutkan bicaranya.


"Saya benar-benar tidak paham maksud perkataan nona. Apa nona bisa menjelaskan dengan jelas apa maksud nona dengan burung yang sama seperti saya. Jujur saja saya tidak pernah memelihara burung apalagi burung yang sama seperti suami nona. Dan jika nona datang ke sini mau memeriksa burung suami nona yang sakit sepertinya kalian salah tempat. Karena ini bukan tempat dokter hewan," jelas dokter yang berjenis kelamin laki-laki itu dengan bingung pada perkataan pasiennya.


"Astaga, lihat sayang. Kenapa kamu menamai milik mu dengan nama burung. Lihat sekarang, dokter ini malah salah paham pada kita. Seharusnya kamu bisa mencari nama lain yang keren sedikit biar dokter muda ini tahu apa burung yang aku maksud," ujar Ara seraya menyalahkan Axton.


"Apa dokter sudah menikah?" tanya Ara dengan penasaran.


"Dasar wanita gila. Kenapa dia malah menanyakan hal yang tidak penting? Jika saja aku sedang tidak sakit sudah aku cekik lehernya biar mati. Lama-lama aku bisa gila di sini," batin Axton karena mulutnya masih dibekap oleh tangan Ara.

__ADS_1


"Belum nona," jawab dokter muda itu.


"Ck! Pantas saja anda tidak paham apa yang aku maksud dengan burung. Dengarkan aku baik-baik, biasanya aku tidak suka memberitahukan masalah pribadi pada orang lain tapi karena dokter masih muda dan belum menikah pasti belum paham masalah itu."


"Apa dokter tahu burung yang aku maksud adalah alat yang bisa membuat wanita hamil. Apa sekarang dokter sudah paham?" tanya Ara.


Mendengar perkataan Ara membuat dokter muda itu menahan tawanya. Pantas saja wanita ini mengatakan burung suaminya sama dengan dia. Kalau burung itu, semua laki-laki di dunia ini juga pasti akan sama hanya saja bentuknya yang berbeda-beda sesuai keturunan orang tuanya.


"Kenapa burung suami nona bisa sakit?" tanya dokter itu dengan penasaran.


"Hiks... Hiks..." hanya terdengar isak tangis Ara sehingga dokter itu merasa bingung saat melihat pasiennya tiba-tiba menangis.


"Nona yang sabar ya. Ini lap dulu ingusnya," ujar dokter muda itu seraya memberikan tisu pada Ara yang langsung di terima oleh Ara.


"Apa yang dilakukan oleh wanita licik ini? Kenapa perasaan aku tidak enak? Apa dia akan menumbalkan aku lagi," batin Axton dengan cemas.


"Sebenarnya aku tidak mau membuka aib suami aku pada dokter tapi karena dokter bertanya mau tidak mau aku akan menjelaskan kenapa tiba-tiba burung suami aku bisa sakit seperti ini... Hiks... Hiks..."


"Jika nona tidak bisa menceritakan masalah pribadi nona juga tidak masalah," ujar dokter muda itu yang merasa penasaran pada Ara yang tiba-tiba menangis. Dia berpikir mungkin saja masalah yang dihadapi oleh Ara sangat berat sehingga dia bisa menangis seperti ini.


"Jangan dengarkan perkataan wanita ini dok, dia ini agak sedikit gila," sahut Axton setelah berhasil melepaskan tangan Ara dari mulutnya. Dia sengaja bicara seperti itu agar dokter tidak percaya apapun yang akan dikatakan oleh Ara nanti. Karena dia sangat tahu kalau istrinya pasti ingin menumbalkan dia lagi dami kepentingan wanita itu.


Mendengar perkataan Axton membuat dokter muda itu semakin penasaran. Dia belum pernah bertemu dengan pasangan suami istri yang aneh seperti mereka. Jika pasangan lain pasti akan terlihat romantis di manapun mereka berada tanpa peduli pandangan orang lain. Sedangkan mereka bukannya terlihat romantis tapi malah seperti Tom and Jerry yang tidak bisa akur sekalipun.


"Kurang ajar, dasar laki-laki brengsek, berani sekali dia menyebut aku gila. Lihat saja nanti aku akan bikin kamu malu di hadapan dokter ini," batin Ara dengan seringai liciknya.




__ADS_1


Bersambung...


🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿


__ADS_2