
Di Kamar Hotel
"Tolong pikirkan lagi ma, bagaimana dengan anak kita kalau tahu orang tuanya berpisah?" Dia masih kekeh membujuk istrinya agar tidak menceraikan dirinya.
"Jika kau peduli pada anak dan istri mu, maka kau tidak akan selingkuh dengan wanita jaalang ini. Setelah ketahuan berselingkuh baru kau meminta maaf padaku. Ck! Kau pikir aku mau memaafkan laki-laki pecundang dan brengsek seperti kamu. Tidak akan, sampai matipun aku tidak akan mau kembali pada laki-laki tukang selingkuh seperti kamu. Aku akan membuat kalian menyesal karena sudah berani menyakiti perasaan ku," ujar Amelia dengan tatapan penuh emosi.
"Jangan salahkan aku. Tapi salahkan suami kamu yang mata keranjang. Sudah tahu memiliki istri tapi masih saja tergoda dengan wanita muda," ujar Gisela.
"Diam kau jaalang. Lihat saja, aku akan membuatmu merasakan penderitaan lebih besar di bandingkan aku," teriak Amelia dengan penuh kemarahan.
"Kurang ajar, beraninya wanita tua ini menyebutku jaalang. Jika tidak ingat aku sedang terpojok seperti ini pasti aku sudah membunuh wanita tua ini."
"Tunggu dulu, bagaimana aku bisa berakhir di kamar hotel ini dengan laki-laki tua bangka ini? Bukannya aku tadi bersama dengan Reagan? Kenapa sekarang aku malah berakhir di sini?" batin Gisela dengan penasaran.
"Kalian bawa pasangan mesum ini ke kantor polisi," titah Amelia pada anak buahnya dengan tatapan tajam mengarah pada Gisela dan suaminya.
"Baik nyonya besar," jawab anak buahnya seraya menyeret suaminya dan juga Gisela.
"Hey, lepaskan aku. Aku tidak bersalah tapi, laki-laki tua bangka itu yang bersalah karena sudah mengkhianati istrinya," ujar Gisela seraya berontak.
"Dasar wanita ular," umpat laki-laki itu dengan penuh emosi saat mendengar perkataan Gisela yang melampiaskan kesalahan padanya.
"Lepaskan wanita itu," titah Amelia.
Mendengar perkataan Amelia membuat Gisela merasa di atas angin. Dia berpikir Amelia mau melepaskan dia, tapi nyatanya yang dia pikirkan tidak lah benar. Mana mungkin Amelia melepaskan wanita yang sudah bermain api bersama suaminya. Dia akan membuat mereka merasakan penderitaan lebih besar dibandingkan yang dia rasakan saat ini.
"Hey, apa kalian tidak dengar perkataan atasan kalian? Cepat lepaskan aku," ujar Gisela dengan kesal saat melihat mereka masih saja memegang tangannya dengan erat.
"Apa nyonya yakin ingin melepaskan wanita murahan ini?" tanya anak buah Amelia dengan penasaran.
"Mana mungkin aku melepaskan wanita jaalang ini. Aku menyuruh kalian melepaskan dia agar dia bisa mengenakan pakaiannya dulu. Tidak mungkin kita membawa wanita jaalang ini ke kantor polisi dalam keadaan polos seperti ini," ujar Amelia.
"Kurang ajar, kenapa rencanaku malah menjadi berantakan seperti ini? Niat hati ingin menjebak Reagan agar menjadi milikku, kenapa sekarang malah aku yang terjebak?" batin Gisela dengan wajah ketakutan. Dia benar-benar takut jika berakhir di penjara. Bagaimana pun dia tidak akan mampu membayar pengacara karena semua uang tabungannya sudah habis tanpa sisa.
Berbeda dengan anak buah Amelia yang sedari tadi sudah tergoda saat melihat tubuh mulus Gisela. Bagaimana pun mereka laki-laki normal yang akan tergoda dengan tubuh Gisela yang sedang polos seperti itu. Tapi, mereka sengaja menahannya agar tidak di pecat oleh atasan mereka. Itu sebabnya mereka tetap bekerja dengan profesional walaupun harus menahan hasrat yang terpendam dalam diri mereka.
Beberapa menit kemudian
"Sekarang kalian bawa mereka ke kantor polisi. Aku tidak sabar melihat mereka menderita didalam penjara," ujar Amelia setelah melihat mereka sudah mengenakan pakaian.
"Ma, tolong maafkan papa. Papa janji tidak akan menyakiti perasaan mama lagi," ujar laki-laki itu seraya memohon.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi, bawa mereka pergi dari sini," ujar Amelia tanpa peduli dengan permohonan maaf dari suaminya.
"Lepaskan, aku tidak mau masuk penjara," ujar Gisela seraya berontak saat diseret oleh anak buah Amelia begitupun dengan suami Amelia yang juga berontak agar dilepaskan oleh anak buah istrinya. Tapi sayang, tenaganya tidak seberapa dibandingkan dengan tenaga anak buah Amelia.
β’
β’
β’
Di Apartemen Jennifer
Dreet... Dreet... Dreet...
π "Bagaimana dengan mereka?" tanya Ara tanpa basa-basi.
π "Mereka sedang di bawa ke kantor polisi oleh suruhan nyonya Amelia, nona muda," jawab anak buah Ara.
π "Bagus, pantau mereka terus. Jangan beri celah sedikitpun pada wanita itu untuk keluar dari sana. Aku ingin dia membusuk di dalam penjara kalau bisa seumur hidupnya agar dia tidak lagi menganggu adikku," titah Ara dengan tegas.
π "Baik nona muda," jawab anak buah Ara seraya mematikan smartphone nya.
"Tentu saja sukses," jawab Ara dengan wajah bahagia.
"Kau benar-benar hebat Ra," ujar Jennifer yang merasa bangga pada temannya.
"Tentu saja aku hebat, jika tidak hebat mana mungkin aku bisa menjadi orang sukses seperti ini," jawab Ara dengan penuh kesombongan.
"Ck! Menyesal aku memuji nih anak," batin Jennifer dengan kesal.
β’
β’
β’
Di Ruang kerja pribadi Alexander
"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?" tanya Alex dengan penasaran.
"Lancar dad," jawab Reagan dengan singkat.
__ADS_1
"Bagus, pertahankan kinerja kamu. Dan harus kau ingat selalu perkataan daddy, jangan mudah tertipu pada rayuan orang lain."
"Karena kita tidak tahu isi hati mereka seperti apa. Bisa saja mereka memiliki niat jahat pada kita dan akhirnya malah jatuh ke dalam perangkap yang disiapkan oleh mereka," ujar Alex seraya memperingati anaknya tanpa tahu anaknya hampir saja masuk ke dalam jebakan Gisela kalau saja tidak ada Ara yang menyelamatkan adiknya. Jika tidak, saat ini Reagan pasti sudah masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Gisela.
"Baik dad," jawab Reagan seraya menutupi kesalahannya.
Mana berani dia mengakui kesalahannya pada ayahnya. Karena dia sangat tahu bagaimana ayahnya saat marah. Sungguh, sangat menyeramkan. Lebih baik dia menutup rapat-rapat mulutnya demi kebaikan dia sendiri.
"Siapa wanita yang ada di ruangan mu tadi? Untuk apa dia menemui kamu?" tanya Alex dengan penasaran. Seperti yang Alex katakan, walaupun Reagan sudah menduduki posisi Ceo Alex tetap menyuruh seseorang untuk memantau anaknya agar tidak ditipu oleh musuhnya yang menyamar sebagai rekan bisnis agar bisa menjatuhkan perusahaan nya. Tapi tetap saja, mereka tidak bisa mengawasi sepenuhnya disaat Reagan berada di dalam ruangannya.
"Gawat, apa daddy tahu kalau aku menemui wanita murahan itu? Jika daddy tahu, bisa habis aku di tangan daddy," batin Reagan dengan wajah ketakutan.
"I... Itu, dia cuma teman lama aku dad. Dia datang ke sana hanya ingin mengobrol dengan ku karena kami sudah lama tidak saling bertukar kabar selama aku sibuk di kantor," jelas Reagan dengan tenang padahal dalam hati sudah takut ketahuan oleh ayahnya.
Mendengar perkataan Reagan membuat Alex hanya menganggukkan kepala. Setelah itu dia langsung membahas masalah lain sehingga Reagan merasa lega lantaran ayahnya tidak lagi membahas masalah Gisela yang datang ke perusahaannya.
"Bagaimana dengan kartu ATM kamu? Apa Ara sudah mengaktifkan lagi?" tanya Alex dengan penasaran.
"Belum dad," jawab Reagan dengan lesu.
"Kenapa kamu tidak menyuruh kakak mu agar mengaktifkan lagi kartu ATM mu itu?" tanya Alex seraya menatap ke arah anak laki-laki nya.
"Aku takut dengan kak Ara dad. Daddy saja yang bicara pada kak Ara agar dia mau mengaktifkan kartu ATM ku lagi. Untuk apa aku capek-capek kerja di perusahaan sedangkan aku tidak mendapatkan uang sepersen pun. Apalagi sekarang aku sudah di angkat menjadi Ceo walaupun hanya sementara seharusnya aku mendapatkan gaji lebih besar dibandingkan dengan karyawan biasa," balas Reagan.
"Kenapa kamu takut pada kakakmu sendiri? Apa Ara mengancam mu?" tanya Alex dengan penasaran.
"Iya, kak Ara selalu mengancam ku. Makanya aku takut dengan nya," jawab Reagan dengan jujur.
Mendengar perkataan Reagan membuat Alex menahan tawanya. Dia tidak menyangka anak laki-laki yang seharusnya melindungi istri dan kakaknya justru malah menjadi penakut seperti ini. Sedangkan anak perempuan nya justru malah menjadi seorang penyelamat bagi keluarganya.
Dulu dia sangat berharap anak keduanya bisa memiliki sifat seperti istrinya yang baik dan lemah lembut. Tapi sekarang dia benar-benar menyesal pernah berkata seperti itu. Justru dia sangat bersyukur anak perempuan nya bisa menuruni sifat kejam dan liciknya sehingga para musuh diluar sana akan berpikir seribu kali untuk melawan keluarganya.
β’
β’
β’
Bersambung...
πΏπΌπΌ||||πΌπΌ||||πΌπΌ||||πΌπΌ||||πΌπΌπΏ
__ADS_1