
Di Mansion Axton George
Setelah menempuh beberapa jam kemudian akhirnya Alex beserta yang lain sekarang sudah berada di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta yaitu negara Indonesia. Mereka sengaja berangkat mengunakan pesawat pribadi agar lebih cepat sampai di Indonesia.
"Selamat datang di negara Indonesia Lex," ujar Edwin seraya memeluk Alex dengan erat.
"Bagaimana keadaan putriku Ed?" tanya Alex dengan cemas.
"Kau tenang saja Lex, putrimu baik-baik saja kami tidak mungkin membiarkan putri kesayangan mu hidup menderita di negara kami," balas Edwin.
"Bagaimana kabar kamu Clau? Aku lihat semakin hari kamu semakin cantik saja, pantas saja Alex cinta mati padamu karena kamu semakin hari bukannya semakin jelek tapi kamu justru malah semakin cantik walaupun umurmu sudah tidak muda lagi seperti dulu," ujar Miranda seraya memeluk Claudia.
"Terima kasih. Kau juga sangat cantik," ujar Claudia seraya membalas pelukan Miranda.
"Apa ini putramu Lex?" tanya Edwin seraya menunjuk ke arah Reagan.
"Iya, dia putraku," jawab Alex.
"Wah, kalian benar-benar sangat kompak saat bikin anaknya. Lihat saja, yang cewek dia sangat mirip dengan mu Lex sedangkan yang laki-laki dia lebih mirip istri mu," ujar Edwin seraya terkekeh.
"Tentu saja," jawab Alex dengan bangga.
"Sudah cukup bicaranya. Lebih baik kita pergi ke mansion Axton, mereka pasti sedang menunggu kedatangan kita," ujar Miranda yang ditanggapi anggukan kepala oleh mereka.
•
•
•
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya mereka sudah sampai di mansion Axton George. Setelah itu mereka langsung masuk ke dalam mansion tak lupa menanyakan keberadaan Axton dan Ara.
"Selamat siang tuan besar dan nyonya besar," sapa asisten rumah seraya membungkukkan badannya.
"Di mana mereka?" tanya Edwin tanpa basa-basi.
"Mereka ada di ruang keluarga tuan besar," jawab asisten rumah dengan sopan.
"Ayo Lex kita menemui mereka," ujar Edwin yang di tanggapi anggukan kepala oleh Alex.
Di Ruang Keluarga
__ADS_1
"Daddy," panggil Ara seraya berlari ke arah ayahnya. Setelah itu dia langsung memeluk ayahnya dengan erat.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Alex seraya membalas pelukan anaknya.
"Aku sangat menderita tinggal disini dad... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya terisak.
"Apa maksud kamu sayang? Siapa yang bikin kamu menderita?" tanya Alex dengan penuh kemarahan.
"Kak Axton Dad," jawab Ara seraya menunjuk ke arah Axton.
Deg
"Oh Tuhan... Sepertinya aku benar-benar sial menikah dengan wanita licik itu. Aku lupa kalau dia memiliki sifat seperti om Alexander yang sangat kejam dan juga licik. Sekarang aku hanya bisa berdoa agar om Alex tidak membunuh ku karena sudah menyakiti anak kesayangannya," batin Axton seraya menelan ludahnya sendiri.
"Apa yang dilakukan Axton padamu sayang?" tanya Alex seraya menatap ke arah Axton dengan tatapan tajam.
"Apa daddy tahu..."
"Tidak," potong Alex dengan cepat.
"Bagaimana bisa daddy tahu jika daddy malah memotong pembicaraan ku?" tanya Ara dengan kesal.
"Oke, sekarang jelaskan. Apa yang dilakukan laki-laki itu padamu?" tanya Alex lagi seraya membelai rambut pirang Ara dengan lembut.
"Lihat tangan aku dad... Hiks... Hiks... tangan aku sampai terluka seperti ini itu semua gara-gara kak Axton. Tidak hanya itu saja, kak Axton juga membiarkan aku tidur di kamar sempit yang lebih pantas untuk di tempati pembantu. Ini baru satu hari aku tinggal bersama dengan nya tapi hidup ku sudah menderita seperti ini... Hiks... Hiks... Bawa aku pulang bersama daddy. Aku tidak sanggup tinggal satu atap bersama laki-laki kejam itu dad," ujar Ara seraya terisak.
Mendengar perkataan Ara membuat Alex tersudut emosi. Dan tanpa aba-aba dia langsung meninju Axton hingga mengeluarkan darah. Axton yang sedang termenung tidak menyadari saat Alex memukul dirinya hingga jatuh ke lantai.
Bruk
Bruk
Bruk
"Kenapa om Alex memukul aku?" tanya Axton seraya menghapus darah yang keluar dari hidungnya.
"Kau masih bertanya kenapa aku memukul mu. Dasar laki-laki brengsek, beraninya kamu membuat putri ku menderita seperti itu," ujar Alex yang semakin tersudut emosi saat mendengar perkataan Axton yang tidak menyadari telah membuat anaknya menderita.
"Rasakan ini brengsek," teriak Alex seraya memukul Axton.
Bruk
__ADS_1
Bruk
Bruk
"Mi, pi, tolong hentikan om Alex. Jika tidak, aku bisa mati karena dia," teriak Axton seraya memohon pada orang tuanya agar menolong dirinya.
"Kau pantas mendapatkan itu Ax. Mami tidak menyangka kamu bisa berbuat keji seperti itu pada istrimu sendiri. Kau sangat tahu kalau Ara tidak terbiasa tidur di kamar sempit apalagi memasak. Tapi, kamu bukannya meminta bibi agar membuatkan makanan untuk Ara tapi, kamu justru malah melarang bibi agar tidak memberikan makanan untuk Ara, padahal dia sangat kelaparan."
"Mami kecewa padamu Ax, padahal mami sudah ingatkan kamu agar menjaga Ara dengan baik tapi, kamu malah membuat hidupnya menderita." Miranda benar-benar kecewa pada anaknya. Dia sangat malu pada Alex dan keluarga nya, karena dia sudah berjanji akan merawat anak dia dengan baik tapi, kenyataannya anaknya lah yang telah membuat menantunya menderita.
"Oh Tuhan... Kapan anak ku bisa menjadi anak yang baik? Aku sangat yakin ini pasti hanya akal-akalan anak itu saja agar kami membenci Axton. Anak itu benar-benar sangat pintar berakting sehingga mereka pada percaya pada perkataan dia. Semoga saja mereka bisa sadar kalau ini semua hanyalah sandiwara dari Ara saja," batin Claudia.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Miranda seraya memeriksa keadaan Ara. Pada saat Miranda sedang memeriksa tangan Ara tanpa sengaja perban yang sedang dibalut oleh Ara terlepas sehingga Miranda merasa terkejut saat melihat tangan menantunya ternyata baik-baik saja tidak terluka seperti perkataan Ara.
"Apa ini? Tadi, kata kamu tangannya sedang terluka gara-gara tergores pisau. Tapi, ini tangan kamu baik-baik saja tidak terluka seperti yang kamu bilang tadi," ujar Miranda seraya memeriksa tangan Ara dengan teliti.
"Apa?" teriak Alex yang terkejut saat mendengar perkataan Miranda.
"Apa maksud kamu Mir?" tanya Alex.
"Lihat ini Lex, tangan putri kamu baik-baik saja tidak ada luka sedikitpun," balas Miranda seraya menunjukkan tangan Ara yang tidak ada bekas luka sedikitpun.
"Kenapa kamu berbohong pada daddy?" tanya Alex. Sedangkan Ara terdiam seperti patung dengan perasaan cemas. Dia tidak menyangka kebohongannya bisa terbongkar di depan mereka. Padahal dia sudah sangat yakin kalau rencananya pasti akan berhasil tapi sekarang, dia malah ketahuan.
"Kenapa kamu diam saja? Cepat jawab," jawab Alex seraya membentak.
"Aku hanya berbohong soal tangan aku saja dad. Sedangkan masalah lain aku bicara jujur, kalau kak Axton emang menyuruh aku tidur di kamar tamu dan dia juga menyuruh pembantu disini agar tidak memasak makanan untuk ku," jelas Ara dengan jujur tapi sayang, Alex yang terlanjur kecewa pada anaknya malah tidak percaya. Dia tidak mau masuk dalam jebakan anaknya lagi.
"Daddy tidak percaya lagi padamu. Kau selalu menyalahkan orang lain padahal kamu lah yang bersalah," ujar Alex dengan kesal.
"Sudah tahu anaknya sangat licik tapi masih saja percaya padanya," sahut Claudia seraya menyindir suaminya.
"Mana daddy tahu kalau ini semua hanyalah akal-akalan Ara saja," ujar Alex yang tidak mau disalahkan.
"Ck! Anak dan daddy sama saja," ujar Claudia sedangkan Alex hanya diam saja tanpa menyahuti perkataan istrinya lagi.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung...
🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿