
Satu Bulan Kemudian
Pagi hari di mansion Alexander Lemos, Ara terbangun setelah merasa sesuatu yang berat sedang menimpa perutnya. Kemudian ia membuka matanya dan melihat tangan seseorang yang tak lain adalah suaminya sendiri sedang memeluk dirinya dengan posesif.
"Dasar kebiasaan kalau tidur selalu saja memeluk aku seperti ini," batin Ara dengan kesal. Saat Ara ingin menegur suaminya, tiba-tiba ia merasa isi perutnya akan keluar.
"Uwek..." cepat-cepat Ara menepikan selimut yang ia pakai bersama Axton. Dan bergegas ia membuka pintu kamar mandi dengan kasar sampai menimbulkan suara yang sangat keras.
Wanita itu membuka penutup kloset dan mengeluarkan isi perutnya. Rasanya mual sekali, tapi hanya ada cairan bening yang keluar dari mulutnya itu pun tidak banyak.
Ternyata hal itu membuat Axton yang sedang terlelap ikutan terbangun. Siapapun yang mendengar suara keras seperti itu pasti ikutan terbangun termaksud Axton George. Lalu Axton bangkit dari tidurnya, ia segera menuju kamar mandi dan melihat istrinya sedang berlutut di depan kloset yang masih berusaha memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya.
"Hei, what's wrong?" tanya Axton, yang ikut berlutut di dekat Ara. Axton sama sekali tidak merasa jijik saat melihat istrinya mual-mual. Justru dia membantu memijat tengkuk istrinya dengan lembut agar tubuhnya istrinya merasa enakan.
"Kenapa aku bisa tiba-tiba mual sih?" batin Ara, ia tidak merasa menderita asam lambung atau semacamnya. Entah kenapa pagi ini tubuhnya langsung terasa mual-mual.
"Apa sudah?" tanya Axton sedari tadi menemani Ara dengan perasaan khawatir. Ara hanya mengangguk dengan lemah karena tenaganya sekarang sudah terkuras habis bersama dengan muntahannya tadi.
Axton menutup kloset dan menyiram bekas muntahannya Ara. Kemudian ia membantu Ara untuk kembali ke tempat tidur. Wanita itu juga tidak bisa berjalan sendiri karena tubuhnya terasa tanpa tulang.
"Aku akan panggil dokter," ujar Axton seraya menaikkan selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.
Ara menggelengkan kepalanya pelan." tidak usah, aku akan baik-baik saja nanti," ujar Ara, ia tidak perlu di periksa oleh dokter karena merasa dirinya baik-baik saja. Mungkin ia merasa hanya kelelahan saja makanya ia tidak ingin suaminya memanggil dokter buat memeriksanya.
Tapi Axton tidak yakin kalau istrinya baik-baik saja. Ia pun tidak mendengarkan ucapan Ara dan ia berjalan ke arah balkon untuk menghubungi dokter langganan keluarga ini.
"Hallo Daniel, cepat datang ke mansion ku dengan segera," titah Axton dengan tegas.
__ADS_1
"Baik tuan," jawab Daniel, dokter itu memang selalu siap kalau keluarga Lemos membutuhkan dirinya.
Karena dia dibayar oleh keluarga Lemos dengan sangat mahal makanya setiap diperlukan oleh keluarga Lemos maka dia akan selalu siap.
Setelah selesai menghubungi dokter Daniel, Axton kembali menghampiri istrinya dan ia bisa melihat jika istrinya saat ini sedang sangat pucat sehingga Axton tambah cemas takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Perutku mual sekali," gumam Ara yang masih bisa di dengar oleh Axton.
"Apakah masih mau muntah?" tanya Axton, namun wanita itu hanya menggeleng pelan.
"Tunggulah di sini," ujar Axton.
Ia kemudian meminta pelayan untuk membuatkan minuman hangat untuk wanita yang terbaring di kamar mereka.
"Apa yang terjadi pada Ara?" tanya Claudia yang saat ini sedang sarapan bersama dengan suaminya. Claudia tidak sengaja melihat menantunya tiba-tiba turun ke bawah dengan tergesa-gesa dan meminta asisten rumah menyiapkan minuman herbal.
"I don't know mom, Ara habis muntah-muntah tadi," ujar Axton, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Dan hal itu cukup membuat pria itu khawatir.
Axton langsung mengajak Daniel ke kamarnya, baik Alex maupun Claudia juga mengikuti mereka dari belakang. Bagaimana pun mereka juga merasa cemas takut terjadi sesuatu yang berbahaya pada anaknya.
"Siapa yang sakit tuan?" tanya Daniel dengan penasaran.
"Istriku..."
"Cepat periksa dia dengan teliti," titah Axton dengan tegas.
"Baik tuan," jawab Daniel dengan singkat.
__ADS_1
Daniel pun mengeluarkan peralatan medis yang ia bawa tadi, dan ia langsung memeriksa keadaan Ara dan juga informasi yang diberikan Axton kalau wanita itu muntah-muntah tadi pagi bisa dia prediksi jika wanita ini sama sekali tidak sakit. Tapi, untuk memastikan dugaannya dia tetap memeriksa keadaan wanita ini biar dia tidak salah dalam menyampaikan informasi pada keluarga penguasa negara ini karena jika sampai dia salah memberikan informasi yang ada keluarga nya bisa hancur detik itu juga.
"Bagaimana?" tanya Axton pada Daniel, pria itu semakin khawatir karena Ara seperti nya sedang pingsan.
"Aku tidak tahu pasti karena bukan spesialis tentang masalah ini. Tapi, sepertinya nona muda saat ini sedang hamil," jelas Daniel setelah melakukan beberapa pemeriksaan seperti biasa.
"Hamil?" tanya Axton tidak percaya, dia tidak menyangka akan menjadi seorang Ayah. Sedangkan Alex dan juga Claudia ikut merasakan kebahagiaan karena sebentar lagi dia akan memiliki cucu.
"Ya, sebaiknya nona muda segera di bawa ke dokter kandungan untuk di periksa lebih lanjut," ujar Daniel menyarankan. Karena dia sendiri bukan lah dokter di bidang itu makanya dia menyuruh mereka agar membawa Ara ke dokter ahlinya.
"Baiklah, Terima kasih," ujar Axton dengan tulus.
"Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu permisi," ujar Daniel seraya pergi dari sana.
Setelah Daniel pergi dari sana, Axton menemani Ara saat ini. Sedangkan Alex dan Claudia langsung pergi dari sana meninggalkan Ara dan Axton berdua saja di kamarnya. Dan sekarang Axton menunggu Ara sadar dari pingsannya. Ia mengelus perut wanita itu dari balik selimut. Ia tidak menyangka kalau benihnya akan berkembang seperti ini dan sekarang sudah menjadi janin.
"Terima kasih karena sudah mau mengandung anak ku. Dan aku berjanji akan selalu menjaga kalian berdua," ujar Axton seraya mencium tangan wanita itu.
Ia tidak pernah menyangka akan secepat ini menjadi seorang ayah. Sekarang hidupnya sudah sangat sempurna karena memiliki istri yang sangat cantik dan sekarang dia akan menjadi seorang ayah.
Dulu dia tidak pernah bermimpi akan menikah karena yang dia pikirkan hanyalah kerja dan kerja. Tapi, semenjak dia mengenal Ara dia yang dulunya sangat kaku sekarang berubah menjadi laki-laki bucin terhadap istrinya. Dia tidak ingin kehilangan istrinya karena dia benar-benar sudah cinta mati pada Ara. Apalagi sekarang dia akan memiliki seorang anak dengan wanita yang sangat dia cintai. Dia berharap anaknya nanti bisa menjadi anak yang baik dan sayang pada ke dua orang tuanya.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung...
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼