Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 68 )


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tak terasa sudah dua bulan Ara tinggal di negaranya. Selama Ara tinggal di negaranya tidak sekalipun dia menghubungi suaminya yang ada di indonesia. Seperti yang di katakan oleh Ara jika mereka tidak memiliki hubungan apapun padahal status mereka masih suami istri tapi tetap saja bagi Ara dia masih berstatus lajang sehingga dia tidak memperdulikan bagaimana keadaan suaminya.


Sedangkan orang tua mereka sudah angkat tangan karena mereka sudah lelah menasehati anak-anaknya tapi mereka tetap saja tidak memperdulikan apapun perkataan mereka. Mereka juga sudah menyuruh agar anak-anaknya berpisah saja dari pada menjalani pernikahan yang tidak tentu mau di bawa kemana. Tapi, Ara justru tidak ingin berpisah katanya dia tidak ingin menjadi janda di usia muda. Sungguh, kepala Alex dan Claudia rasanya mau meledak gara-gara melihat tingkah laku anaknya.


Begitupun orang tua Axton yang sudah tidak peduli lagi pada hubungan anak-anaknya karena dia tidak ingin terlalu memikirkan masalah mereka karena bisa saja mereka menderita penyakit jantung gara-gara ulah anak dan menantunya. Mereka hanya bisa berdoa semoga anak dan menantunya bisa jatuh cinta satu sama lain agar pernikahan anak dan menantunya bisa normal seperti pernikahan mereka.


"Ra, sampai kapan kamu hidup seperti ini? Apa kamu tidak kasihan pada suami mu yang ada di sana? Bagaimana pun kamu sekarang sudah menjadi seorang istri yang memiliki kewajiban untuk melayani suami mu," ujar Jennifer yang saat ini sedang berada di ruang kerja temannya.


Dia sudah mendengar semua cerita dari orang tua Ara jika temannya ini meninggalkan suaminya di Indonesia sendirian tanpa menanyakan kabar apapun. Mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal padahal status mereka adalah suami istri.


"Kenapa sekarang kamu seperti mommy saja? Jika kedatangan kamu ke sini untuk membujuk aku agar mau menerima laki-laki itu lebih baik kamu pulang saja," ujar Ara yang tidak peduli jika temannya tersinggung dengan ucapannya yang mengusir dia dari perusahaan miliknya.


"Kau mengusir ku Ra?" Jennifer tidak menyangka niat hati ingin mengingatkan temannya malah mendapatkan perlakuan tidak baik seperti ini.


"Sorry Jen, bukan maksud aku mengusir kamu tapi jujur saja aku tidak suka jika kamu membahas masalah laki-laki yang sangat aku benci," ujar Ara yang sekarang merasa tidak enak hati pada temannya.


"Maafin aku Ra, aku janji tidak akan membahas masalah laki-laki itu lagi," ujar Jennifer.


"Asal kamu berjanji tidak akan membahas masalah laki-laki itu lagi," ujar Ara.


"Oke aku janji," balas Jennifer.


"Ra, apa sekarang kamu tidak akan kembali bekerja di perusahaan Entertainment lagi?" tanya Jennifer dengan penasaran.


"Maaf Jen, aku tidak mungkin bisa bekerja di sana lagi sedangkan perusahaan milikku tidak ada orang yang bisa aku percaya untuk mengurusnya. Jangankan orang lain adik ku sendiri saja tidak mampu mengelolanya sehingga para tikus-tikus dengan leluasa menggelapkan uang perusahaan," jelas Ara.


Mendengar perkataan Ara membuat Jennifer menghela nafas pasrah. Dia bisa mengerti karena tidak mudah menjadi Ara apalagi perusahaan milik ayahnya bukanlah perusahaan biasa yang bisa seenaknya dia tinggal apalagi menyuruh bawahannya agar di kelola. Karena banyak para musuh yang ingin menjatuhkan perusahaan milik temannya. Jadi, wajar jika Ara meninggalkan pekerjaan yang selama ini dia cita-citakan demi bisa mengurus perusahaan orang tuanya.

__ADS_1


"Iya, aku bisa mengerti," ujar Jennifer.





Di Ruang Kerja Axton George


"Apa kamu bisa kerja? Jika tidak bisa, lebih baik berhenti bekerja di perusahaan saya?" tanya Axton dengan penuh emosi.


"Maafkan saya tuan, saya berjanji akan bekerja lebih baik lagi," balas orang itu yang bekerja di perusahaan Axton dengan wajah ketakutan.


"Maaf, maaf yang bisa kamu katakan setelah itu malah mengulangi lagi. Sana pergi, melihat wajah kamu bikin aku kesal saja," ujar Axton dengan sinis.


Axton memijit keningnya yang terasa sakit akibat memikirkan masalah hubungan nya dengan sang istri yang tak ada ujungnya. Sehingga dia melampiaskan pada karyawannya yang tidak bersalah. Bahkan Marcel sang asisten ikut kenak amukan dari Axton gara-gara melakukan kesalahan padahal kesalahan yang dia lakukan hanya masalah kecil tapi karena Axton sedang emosi sehingga dia mengamuk pada mereka.


"Sebaiknya tuan menyusul nona muda ke sana dan kalian bisa bicara baik-baik sekaligus tanyakan padanya tentang hubungan kalian. Jika nona muda tidak ingin menganggap tuan suaminya lagi maka lebih baik kalian berpisah dengan begitu tuan bisa hidup normal seperti dulu walaupun status tuan sekarang berubah menjadi duda perjaka ting-ting." Ingin rasanya Marcel ketawa saat mendengar perkataan nya sendiri tapi dia masih sayang dengan nyawanya. Dia sangat tahu bagaimana kejamnya atasannya jika sedang emosi itu sebabnya lebih baik dia menahan diri demi kebaikan dirinya sendiri.


"Kau..."


"Maafkan aku tuan," potong Marcel sebelum atasannya mengamuk lagi gara-gara ucapannya tadi.


"Aku tidak yakin Ara mau menerima aku sebagai suaminya. Makanya aku tidak ingin pergi ke sana takut dia meminta pisah dengan ku," ujar Axton.


"Apa tuan sudah mencintai nona muda?" tanya Marcel dengan penasaran.

__ADS_1


"Yah, kau benar Cell, aku emang sudah mencintai Ara tapi sayangnya cinta ku malah bertepuk sebelah tangan," balas Axton dengan sendu.


Marcel tidak lagi terkejut saat mendengar perkataan Axton karena sejak awal dia sudah bisa menebak kalau atasannya itu emang sudah lebih dulu mencintai istrinya hanya saja waktu itu dia belum menyadari nya.


"Sudah aku duga kalau tuan emang sudah mencintai nona muda hanya saja tuan selama ini masih ragu dengan perasaan tuan," ujar Marcel.


"Tapi percuma aku mencintai dia Cel, sedangkan dia tidak menganggap aku sebagai suaminya. Bahkan dia tidak pernah sekali pun menanyakan kabar ku." Sungguh, rasanya Axton ingin sekali menangis tapi dia merasa kurang tepat jika menangis disini takut harga dirinya yang selama ini di kenal sebagai laki-laki datar, dingin yang tak tersentuh menangis gara-gara di tolak oleh istrinya sendiri.


"Yang sabar tuan. Siapa tahu suatu saat nanti nona muda mau membuka hatinya untuk tuan." Hanya itu yang mampu Marcel ucapan agar atasannya bisa lebih tenang dan tidak sedih lagi. Dia bisa melihat jika atasannya yang sekarang benar-benar sangat rapuh berbeda dengan atasannya yang dulu yang tidak pernah peduli pada wanita karena dia cuma fokus pada pekerjaannya saja.


"Ini semua salah ku Cel, coba saja aku tidak mencari masalah dengan Ara mungkin kami tidak akan saling mengenal bahkan menikah seperti ini tanpa adanya cinta. Tapi, aku malah bodoh karena jatuh cinta pada wanita yang tidak memiliki perasaan seperti dirinya. Jika saja aku tidak jatuh cinta padanya maka aku pasti tidak akan merasakan sakit seperti ini," ujar Axton dengan penuh penyesalan.


"Lupakan masa lalu tuan. Ini ujian buat tuan aku yakin cepat ataupun lambat jika kalian berjodoh pasti akan di persatuan oleh Tuhan," ujar Marcel seraya menghibur atasannya yang sedang patah hati.


"Amin, semoga saja apa yang kamu ucapkan benar terjadi," balas Axton dengan penuh harap.


"Kasihan tuan Axton. Baru kali ini aku melihat tuan Axton sedih seperti ini mungkin saja dia seperti ini karena baru pertama kali jatuh cinta tapi sayang, dia malah di tolak mentah-mentah oleh istrinya sendiri," batin Marcel dengan tatapan iba.





Bersambung....


🌿🍠🍠||||🌼🌼||||🍠🍠|||||🌼🌼||||🍠🍠🌿

__ADS_1


__ADS_2