
Di Mansion Alexander
Setelah menempuh beberapa jam kemudian akhirnya Ara sudah sampai di mansion orang tuanya.
"Selamat pagi nona muda," sapa asisten rumah yang bekerja di mansion Claudia.
"Pagi, dimana mommy And daddy?" tanya Ara dengan sopan.
"Tuan besar sama nyonya besar sedang berada di ruang tamu nona muda," jawab asisten rumah itu dengan sopan.
"Terima kasih," ujar Ara seraya melangkahkan kakinya ke tempat orang tuanya berada.
"Euh, sayang. Kamu sudah pulang?" tanya Claudia seraya memeluk anaknya dengan sayang.
"Ada apa mommy menyuruhku pulang ke sini?" tanya Ara dengan penasaran.
"Kita tunggu papa Maxim dulu. Karena dia yang ingin bertemu dengan mu. Jika kamu penasaran tanyakan saja nanti pada papamu saat dia berada di sini," balas Claudia yang ditanggapi anggukan kepala oleh Ara.
"Kenapa daddy dan juga Reagan tidak pergi bekerja mom? Sebenarnya ada acara apa sih?" tanya Ara dengan penasaran.
"Jadi mommy tidak mengatakan pada kak Ara kalau om Maxim datang ke mansion ini ingin melamar kak Ara? Pantas saja kak Ara mau pulang ke mansion, jika saja kak Ara tahu dia hari ini mau di lamar oleh anak om Maxim pasti dia tidak akan mau pulang ke sini," batin Reagan seraya menatap ke arah kakaknya.
"Kenapa kamu melihat ke arah ku tanpa berkedip? Apa kamu jatuh cinta pada kecantikan ku? Jika iya, maka buang perasaan mu itu karena kita adalah saudara kandung yang tidak akan bisa bersatu dalam ikatan pernikahan," ujar Ara dengan penuh percaya diri.
"Ck! Siapa juga yang ingin memiliki istri wanita matre dan licik seperti mu?" Reagan berucap dengan kesal saat mendengar perkataan Ara.
"Walaupun aku licik dan matre tapi tetap saja banyak laki-laki diluar sana yang ingin menjadi kekasihku," ujar Ara dengan penuh kesombongan.
Mendengar perkataan Ara membuat Reagan terdiam seperti patung. Karena apa yang dikatakan oleh Ara semuanya benar. Walaupun mereka tahu kakaknya wanita yang sangat kejam, licik dan matre. Tapi mereka tetap saja masih mau pacaran dengan nya. Entah apa yang mereka lihat dari kakaknya sehingga membuat mereka tergila-gila dan tidak ingin kehilangan kakaknya.
"Kenapa kalian setiap kali bertemu selalu saja bertengkar? Apa kalian tidak bisa akur setidaknya untuk hari ini saja?" Alex yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara saat melihat anak-anaknya yang bertengkar didepannya.
__ADS_1
"Salahkan Reagan dad! Dia yang lebih dulu memancing aku agar bertengkar dengan nya," ujar Ara yang melampiaskan kesalahan pada Reagan.
"Kenapa kak Ara selalu melampiaskan kesalahan padaku? Padahal kak Ara sendiri yang mencari masalah dengan ku," ujar Reagan dengan kesal.
"Kau..."
"Cukup," teriak Alex seraya menatap mereka dengan tatapan tajam.
Dia tidak habis pikir dengan anak-anaknya yang setiap hari bertengkar saat bertemu. Padahal dia ingin anak-anaknya bisa akur seperti anak orang lain. Tapi sayangnya, anak-anaknya malah bertengkar sehingga membuat kepalanya pusing saat mendengar pertengkaran mereka.
Berbeda dengan mereka, saat mendengar teriakan ayahnya membuat mereka langsung terdiam. Mana berani mereka melanjutkan pertengkaran disaat melihat wajah ayahnya yang sedang menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Sudah daddy katakan jangan lagi bertengkar tapi kalian masih saja bertengkar. Apa kalian tidak malu sudah dewasa tapi masih saja bertengkar seperti ini?" tanya Alex yang masih menatap ke arah anak-anaknya dengan tatapan tajam.
"Maaf dad," jawab mereka dengan serentak.
"Sudah dad, jangan bahas masalah ini lagi karena sebentar lagi kak Maxim akan datang ke sini. Mommy tidak mau mereka melihat keluarga kita sedang bertengkar," ujar Claudia seraya mengelus punggung suaminya agar tenang.
"Suruh anakmu diam, daddy pusing mendengar mereka bertengkar," ujar Alex.
"Kenapa sekarang malah mommy dan daddy yang bertengkar?" tanya Reagan dengan polos.
"Diam kamu. Ini juga gara-gara kalian makanya mommy sama daddy jadi bertengkar seperti ini," ujar Claudia menyalahkan mereka. Sedangkan mereka hanya terdiam tanpa berani menyahuti perkataan ibunya.
"Permisi nyonya muda, diluar ada tuan Maxim dan keluarga nya yang ingin bertemu dengan nona muda," ujar asisten rumah dengan sopan.
"Suruh mereka masuk," jawab Claudia.
"Baik nyonya muda," jawab asisten rumah seraya pergi dari sana.
"Ada masalah apa sih? Kenapa papa Maxim ingin menemui ku di mansion ini?" Batin Ara yang merasa penasaran.
__ADS_1
"Selamat pagi Lex," sapa Maxim seraya duduk di depan Alexander diikuti oleh yang lain.
"Ada urusan apa ini? Kenapa kalian semua ada di mansion ku?" tanya Alex yang merasa terkejut saat melihat semua teman-temannya ada di mansion nya.
Yah, saat ini baik Maxim, Andre, Daffa dan juga Ryan ada di mansion Alexander. Padahal yang Alex tahu hanya keluarga Maxim saja yang akan datang ke mansion nya. Tetapi, sekarang semua teman-temannya malah datang ke mansion nya. Bagaimana dia tidak terkejut jika mereka datang ke mansion nya tanpa pemberitahuan padanya.
"Hemmm, begini Lex. Seperti yang sudah aku katakan pada mu ditelpon tadi kalau aku datang ke sini ingin melamar anak gadis kamu untuk menjadi menantuku," ujar Maxim seraya menjelaskan kedatangannya ke mansion Alex. Sedangkan yang lain hanya diam saja membiarkan Maxim lebih dulu menjelaskan maksud kedatangannya ke mansion Alexander.
"Apa?" teriak Ara yang terkejut saat mendengar perkataan Maxim.
Dia tidak menyangka kedatangan Maxim kesini ingin melamar dirinya untuk menjadi istri dari anaknya. Jika dia tahu akan adanya perjodohan seperti ini dia tidak akan pulang ke mansion orang tuanya.
"Siapa yang ingin daddy jodohkan dengan anak papa Maxim?" tanya Ara dengan penasaran.
"Tentu saja kamu. Kau pikir daddy memiliki anak gadis lain selain kamu," balas Alex seraya menatap ke arah anaknya.
"Kenapa daddy ingin menjodohkan aku dengan anak papa Maxim? Bukannya daddy sudah tahu kalau aku tidak ingin menikah diusia muda? Karena aku masih ingin merintih karir ku agar semakin sukses di masa depan," bisik Ara yang sangat shock saat mendengar perkataan ayahnya.
"Daddy juga tidak akan memaksamu jika tidak ingin menikah dengan anak Maxim. Itu terserah Ara saja mau menerima perjodohan ini atau menolaknya," ujar Alex yang tidak ingin memaksakan anaknya.
Mendengar perkataan ayahnya membuat Ara bisa bernafas lega. Dia pikir ayahnya akan memaksa dirinya untuk menerima perjodohan ini. Jika saja ayahnya akan memaksa dia untuk menerima perjodohan ini maka dia pasti akan pergi meninggalkan negara ini.
"Terima kasih dad, karena tidak memaksa Ara untuk menerima perjodohan ini," ujar Ara seraya tersenyum.
"Sama-sama sayang. Daddy tidak ingin anak daddy menderita karena menikah tanpa adanya cinta," balas Alex.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung....
🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿