
Di Mansion Axton George
"Apa belum ada tanda-tanda melahirkan?" tanya Alex. Pria paruh baya itu sudah tidak sabar menyambut kelahiran cucunya.
Ara menggeleng pelan. Akhir-akhir ini dia memang sering merasakan kontraksi palsu, tapi tidak sampai ke tahap akan melahirkan. Rasa sakit dari kontraksi palsu itu masih bisa Ara tahan.
"Besok pagi saja ke rumah sakit, ini sudah mendekati HPL. Jangan menunggu sampai lewat." kata Alex yang tampak khawatir. Sebagai orang tua dan calon kakek, Alex tentu ingin yang terbaik untuk anak dan juga cucunya.
Ara langsung melirik suaminya, saat melihat anggukan kepala oleh Axton baru setelah itu Ara menjawab pertanyaan ayahnya.
"Besok kak Axton ke luar kota. Lusa saja kami ke dokter," jawab Ara.
Axton tidak akan pergi ke luar kota karena baginya istri dan anaknya lebih penting di bandingkan dengan pekerjaan. Apalagi dia bisa meminta orang kepercayaan nya untuk mengantikan dia pergi ke luar kota sedangkan dia akan menemani istrinya ke rumah sakit.
"Kita ke dokter besok. Urusan di kantor cabang biar di handle asisten dan sekretaris ku saja," ujar Axton tanpa ragu. Istri dan anaknya menjadi prioritas, walaupun urusan di kantor cabang juga sangat penting.
"Ara tinggal menunggu hari untuk melahirkan, sebaiknya kamu tidak pergi ke luar kota. Jangan sampai kamu tidak ada di samping Ara saat dia melahirkan nanti," kata Claudia mengingatkan.
Axton mengangguk patuh. Setiap suami pasti ingin mendampingi istrinya saat melahirkan buah hati mereka apalagi ini anak pertama bagi mereka.
•
•
•
Pukul 8 pagi, Ara dan Axton sudah ada di rumah sakit untuk bertemu dengan dokter Tara yang selama ini menangani Ara selama memeriksakan kehamilan.
Di antar suster, keduanya langsung di bawa ke ruang pemeriksaan untuk bertemu dokter Tara.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Axton, silahkan duduk." Dokter Tara langsung menyapa Axton dan Ara begitu mereka masuk ke dalam ruangan nya.
"Pagi dok," jawab Ara lantas menjabat tangan dokter Tara. Sementara itu, Axton hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
Keduanya lantas duduk di depan meja dokter Tara.
"HPLnya 3 hari lagi ya?" tanya dokter Tara seraya menatap catatan pemeriksaan rutin milik Ara di laptopnya.
"Iya dok, tapi tidak ada tanda-tanda mau melahirkan." Keluh Ara dengan cemas.
Melihat pasiennya cemas, dokter Tara lantas tersenyum lembut agar tidak membuat Ara semakin khawatir. Mengingat usia Ara masih sangat muda, dokter itu enggan membuat Ara jadi berpikir aneh-aneh tentang melahirkan.
"Tidak apa. Kita lakukan USG dulu ya untuk melihat bayinya," ujar Dokter Tara seraya beranjak dari kursinya.
"Mari berbaring di sana," ujar dokter Tara seraya menunjuk ranjang pemeriksaan.
"Mari saya bantu nyonya." Dengan sigap, seorang suster membantu Ara beranjak ke ranjang dan menuntunnya naik. Axton juga ikut dan berdiri di samping ranjang karena ingin tahu bagaimana kondisi anaknya yang ada di dalam perut istrinya.
Suster membantu mengoleskan gel di atas perut Ara, lalu dokter Tara menempelkan alat USG dan mulai menjelaskan apa yang terlihat di layar monitor.
"Babynya baik-baik saja. Bayi kalian sangat aktif di dalam perut ibunya." Tutur Dokter Tara sedangkan Axton dan Ara hanya tersenyum saat mendengar perkataan dokter Tara.
Namun detik berikutnya, raut wajah dokter Tara berubah cemas.
Wajah Ara seketika pucat, pelipisnya mulai berkeringat dengan detak jantung yang berpacu cepat. Dia lantas menatap suaminya yang juga sedang menatap ke arahnya. Tatapan Ara tampak sendu dan banyak beban.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dok." Tegas Axton seraya menggenggam tangan Ara.
"Jangan khawatir, kalian akan baik-baik saja." Lirih Axton kemudian mengecup keningnya Ara dengan lembut.
Dia tidak ingin istrinya merasa khawatir karena bisa saja itu akan semakin membuat mereka dalam bahaya makanya dia sengaja menenangkan istrinya agar jangan panik.
"Aura, siapkan ruang operasi secepatnya," titah dokter Tara pada asistennya.
"Baik dok." Aura bergegas menelepon ke bagian bedah untuk menyiapkan ruang persalinan sesar.
•
__ADS_1
•
•
Di Ruang serba putih, Ara sedang berjuang untuk melahirkan darah daging Axton. Di Ruang yang sama, Axton terus memanjatkan do'a dalam hati untuk keselamatan istri dan anaknya. Tangan Axton tak pernah lepas menggenggam sebelah tangan Ara. Sesekali mengecup kening Ara dan membisikkan kata-kata indah untuk menyemangati istrinya itu.
Axton menahan rasa gugupnya, dia juga tidak menunjukkan kecemasan di depan Ara agar Ara bisa lebih rileks.
"Sebentar lagi kita akan bertemu dan melihat wajah anak kita. Aku sudah tidak sabar melihat mereka. Pasti anak kita sangat cantik ataupun ganteng karena mirip dengan kita. Apapun jenisnya aku tetap akan menyayangi mereka dengan sepenuh hati," ujar Axton lirih. Dia tidak pernah berhenti mengajak Ara bicara selama proses persalinan. Sesekali bercanda, walaupun tawa Ara tidak bisa lepas.
Beberapa saat kemudian, suara tangisan bayi nyaring dan memenuhi ruang operasi. Axton berdiri dari duduknya untuk melihat anaknya. Matanya seketika berbinar melihat jagoan kecilnya yang telah lahir ke dunia ini.
Yah, setelah melewati proses demi proses akhirnya Ara berhasil melahirkan anaknya yang berjenis kelamin laki-laki. Dan dia sangat mirip seperti ayahnya Axton George tidak ada sedikitpun yang mirip dengan Ara sehingga Ara ikut cemberut saat melihat wajah anaknya yang dominan mirip suaminya.
"Laki-laki, dia sangat tampan," bisik Axton pada Ara yang keliatan penasaran.
"Ini tidak adil, kenapa wajah anak kita lebih mirip kamu di bandingkan aku yang mengandung dan melahirkan," ujar Ara dengan cemberut saat melihat wajah anaknya yang lebih mirip suaminya dibandingkan dia.
"Tidak apa-apa kali ini anak kita lebih mirip aku nanti kita bisa bikin lagi yang mirip kamu," ujar Axton seraya menenangkan istrinya agar tidak cemberut.
"Enak saja kamu mau bikin lagi apa kamu pikir mengandung dan melahirkan enak apa." Ara sangat kesal pada suaminya yang dengan gampangnya mengatakan mau bikin lagi padahal dia baru saja melahirkan tapi suaminya malah menyuruh dia hamil lagi.
"Ya tidak sekarang sayang, nanti setelah kamu sudah pulih," ujar Axton.
"Terserah kau saja," ujar Ara dengan malas.
Rasa haru dan bahagia tidak bisa di bendung. Axton dan Ara sama-sama meneteskan air matanya ketika melihat anaknya yang lahir dengan sehat dan tanpa kekurangan apapun.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung...
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼