Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 86 )


__ADS_3

Di Ruang Kerja Pribadi Alexander


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.


Cklek


"Katakan," titah Alex dengan tegas.


"Kapan daddy menghukum para penjahat yang mencelakai istriku itu?" tanya Axton dengan penasaran.


"Kenapa kamu tanyakan itu?" tanya Alex dengan kening mengkerut.


"Karena aku ingin datang kesana sekaligus ingin menghukum para penjahat itu," jawab Axton.


"Biar daddy yang menghukum mereka kamu cukup temani Ara saja," ujar Alex.


"Apa aku tidak bisa datang kesana?" tanya Axton yang ingin sekali datang ke tempat penyekapan Audrey dan juga keluarganya.


Mendengar perkataan Axton membuat Alex menghela nafas setelah itu dia langsung menjawab pertanyaan Menantunya.


Dia bisa melihat jika menantunya pasti ingin menghajar mereka karena sudah menyakiti istrinya hingga menjadi cacat seperti ini.


"Siap-siap lah setelah ini kita akan datang ke markas daddy jangan beritahu pada siapapun jika kamu mau datang ke markas daddy karena mereka tidak ada yang tahu tempat itu kecuali Ara. Cuma Ara yang tahu markas daddy tapi kamu tetap tidak boleh beritahu pada dia karena dia sekarang masih sakit daddy tidak mau dia malah ingin menyusul kita ke sana nanti," titah Alex dengan tegas.


"Baik dad, aku berjanji tidak akan beritahu siapapun termasuk sama Ara," jawab Axton dengan antusias.


Alex yang melihat tingkah laku menantunya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin saja menantunya tidak sabar ingin menghukum penjahat yang telah menyakiti istrinya.





Beberapa jam kemudian, saat ini mereka sudah sampai di markas Alexander Lemos. Markas yang sengaja di bangun oleh Alex untuk menghukum para pengkhianat maupun orang-orang yang mencari masalah dengan nya.


Tak


Tak


Tak

__ADS_1


Terdengar langkah kaki Alex dan juga Axton yang sedang menuju ke ruang penyekapan Audrey maupun keluarga nya.


"Selamat datang tuan Alex..."


"Selamat datang tuan Alex..."


"Selamat datang tuan Alex..."


Itulah sapaan dari anak buah Alex seraya membungkukkan badannya. Mereka sangat menghormati atasan mereka karena tanpa tuan Alex mereka bukanlah siapa-siapa. Sudah banyak tuan Alex membantu mereka disaat kesusahan makanya mereka sudah bersumpah akan selalu setia pada tuan Alex.


"Buka," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan," jawab anak buah Alex seraya membuka pintu.


Cklek


Tak


Tak


Tak


Alex langsung menghampiri mereka dengan aura menakutkan siapapun yang melihat Alex pasti akan ketakutan termasuk mereka yang sekarang menjadi tawanan Alex. Mereka sungguh menyesal karena sudah berurusan dengan Alex seandainya waktu masih bisa diputar mereka lebih baik menjauhi Alex dari pada mati seperti ini.


Dia menanyakan itu bukan karena baik pada mereka melainkan dia sengaja menyindir mereka. Karena dia tahu anak buahnya tidak mungkin memperlakukan mereka dengan baik apalagi setelah mereka tahu apa yang telah mereka lakukan pada anak atasan mereka. Jika diizinkan mereka ingin sekali membunuh mereka dengan segera karena sudah berlaku tidak sopan pada anak atasan mereka tapi, mereka tidak berani melakukan nya tanpa seizin atasan mereka.


"Jangan sok baik pada kami, karena kami tahu kalau kamu pasti yang menyuruh anak buahmu memperlakukan kami layaknya seperti binatang," sahut Audrey dengan tatapan sinis.


Hahahaha


Terdengar tawa Alex yang cukup keras. Mereka yang mendengar tawa Alex bukannya senang melainkan ketakutan karena tawa yang keluar dari Alex sungguh sangat menakutkan.


"Ternyata kamu cukup pandai juga karena bisa tahu isi hatiku. Yah, kau benar aku yang menyuruh anak buahku agar menghukum kalian karena aku masih ada urusan di tempat lain dan setelah aku selesai dengan urusan ku maka aku sendiri yang akan menghukum kalian."


"Kalian pantas mendapatkan itu semua karena sudah berani memperlakukan anak kesayangan ku seperti binatang. Aku rasa kalian belum mengenal baik siapa itu Alexander. Jika kalian tahu siapa itu Alexander maka aku sangat yakin kalian pasti tidak akan berani mencari masalah dengan ku apalagi berani menculik anak kesayangan ku dan yang lebih parah lagi anak mu sampai berani melecehkan anakku di depan banyak orang sedangkan kalian hanya melihat saja tanpa ada yang menolong anakku. Kalian semua benar-benar manusia tak punya hati, lihat saja nanti aku akan menghukum kalian lebih berat dibandingkan yang kalian lakukan pada anakku," ujar Alex dengan seringai liciknya.


Deg


Saat mendengar perkataan Alex membuat mereka menelan ludahnya sendiri. Mereka sangat tahu bagaimana kejamnya Alexander makanya mereka sangat takut saat di sandera oleh Alex. Mereka hanya bisa berdoa agar Alexander tidak membunuh mereka tanpa mereka tahu jika ini akhir dari hayat mereka. Karena Alexander tidak akan mengampuni musuh yang berani mencari masalah dengan nya.


"Lepaskan aku," ujar Audrey seraya berontak.


"Apa kamu pikir aku akan melepaskan kalian setelah apa yang kalian lakukan pada anakku? Ck! Ingat baik-baik, siapapun orang yang sudah masuk ke dalam sini maka mereka hanya akan tinggal nama saja," ujar Ara seraya menatap mereka dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Deg


"Jangan bunuh kami, kami minta maaf karena sudah menyakiti anak kamu. Kami janji tidak akan pernah menyakiti anakmu lagi," sahut Isaac Sanders seraya menelan ludahnya sendiri.


Sebenarnya dia sangat takut saat bicara dengan Alexander hanya saja dia tidak memperlihatkan padanya. Dia sangat mengenal baik bagaimana sifat Alexander sebenarnya makanya dia tidak berani mencari masalah dengan nya hanya saja istrinya yang memiliki dendam terhadap Claudia sehingga dia malah ikutan terjebak dan mau membantu istrinya untuk memberi pelajaran pada anak dan juga istri Alexander.


Dia hanya bisa berdoa agar Alexander mau mengampuni mereka. Jika Alexander mau memberikan mereka satu kesempatan pada nya maka dia berjanji akan pergi dari negara ini agar dia dan keluarga nya tidak lagi menganggu istri dan anak Alex lagi. Tapi sayang, keinginan mereka untuk bebas dari sini hanya dalam mimpi saja karena Alexander bukanlah orang yang mudah memaafkan seseorang apalagi orang yang telah menculik dan melecehkan putrinya apalagi pada orang yang tega menyebabkan anaknya lumpuh seperti ini.


Alex sudah bersumpah akan membalaskan orang-orang yang telah menyakiti anaknya hingga lumpuh seperti ini. Dia akan membuat mereka merasakan penderitaan yang lebih berat dibandingkan yang telah di terima oleh anaknya.


"Apa kau pernah mendengar seorang Alexander memaafkan musuhnya?" tanya Alex seraya menatap Issac Sanders sedangkan yang di tatap hanya bisa menelan ludahnya sendiri.


Terdiam, Issac hanya bisa diam tanpa tahu harus menjawab apa karena dia sudah tahu seorang Alexander tidak akan mengampuni musuh yang mencari masalah dengan nya.


"Kenapa diam? Apa kamu sudah tahu jika Alexander tidak akan pernah mengampuni siapapun yang mencari masalah dengan ku?" tanya Alex.


"Iya, aku tahu kamu tidak akan pernah mengampuni siapapun yang mencari masalah dengan mu tapi, tolong untuk kali ini saja beri satu kesempatan untuk kami. Kami janji jika kamu mau melepaskan kami maka kami akan pergi dari negara ini dan tidak akan kembali ke negara ini apalagi menganggu keluarga kamu lagi." Isaac masih saja membujuk Alex agar mau melepaskan mereka. Tapi, dia lupa kalau Alex tidak mudah dibujuk apalagi orang yang membujuknya adalah orang yang menyebabkan anaknya lumpuh seperti ini. Justru Alex akan menghukum mereka lebih kejam dari yang anaknya terima.


"Jika kamu sudah tahu, ngapain minta untuk dilepaskan?" tanya Alex seraya mengejek.


"Kurang ajar, jika saja aku tidak takut pada nya pasti sudah aku bunuh dia," batin Issac dengan kesal.


"Siapa tahu kamu berubah pikiran dan mau melepaskan kami," ujar Issac.


"Tidak akan..."


"Aku tidak sabar ingin membuat kalian menjerit karena merasakan kesakitan saat menerima penyiksaan dari ku bahkan kalian lebih baik mati dari pada menerima penyiksaan dari ku," ujar Alex seraya menyeringai.


Deg


Mendengar perkataan Alex membuat mereka ketakutan. Sungguh, mereka tidak sanggup menerima penyiksaan dari Alex. Tapi, untuk terlepas dari sini pun sangat mustahil karena anak buah Alex sangat banyak di tambah dengan tangan mereka di ikat seperti ini.


"Sial, ini semua gara-gara mama. Coba saja dia mau mendengarkan perkataan ku maka kami tidak akan berakhir seperti ini," batin Issac dengan kesal.





Bersambung...


🌺🌺🌼🌼🌺🌺🌼🌼🌺🌺🌼🌼🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2