Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 70 )


__ADS_3

Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah gedung tua terbengkalai. Mereka sengaja membawa Ara dan Claudia ke tempat itu agar tidak ada seorangpun yang tahu lokasi mereka karena tempat ini sangat jauh dengan kota.


Saat ini baik Ara maupun Claudia sedang pingsan lantaran memakan makanan yang sudah di campurkan obat tidur oleh seseorang yang sangat benci pada keluarga Lemos.


Tak


Tak


Tak


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan ke dalam gedung tua itu untuk menemui Ara dan juga Claudia yang saat ini masih di tahan oleh anak buahnya.


"Selamat datang tuan Sanders..."


"Selamat datang tuan Sanders..."


"Selamat datang tuan Sanders..."


Itulah sapaan dari para anak buahnya seraya membungkukkan badannya. Sedangkan atasan mereka hanya menganggukkan kepalanya saja tanda menjawab sapaan dari para anak buahnya.


Yah, orang yang telah menculik Ara dan juga Claudia adalah Revan Sanders. Dia adalah orang yang telah menyuruh para pekerja di perusahaan Apple Inc untuk menggelapkan uang perusahaan. Tapi sayang, rencana dia harus gagal gara-gara orang kepercayaan Arrabella sehingga uang yang ingin dia curi masih berada di tangan Ara.


"Di mana mereka?" tanya Revan pada anak buahnya.


"Di dalam tuan," jawab anak buah Revan dengan singkat.


"Buka," titah Revan saat mereka sudah berdiri di depan pintu masuk ruangan penyikapan Ara dan juga Claudia.


"Baik tuan," jawab anak buah Revan seraya membuka pintu.


Cklek


Tak


Tak

__ADS_1


Tak


Terdengar langkah kaki Revan yang ingin melangkah menuju ke tempat keberadaan Ara dan juga Claudia.


Byurr


Revan yang melihat Ara dan Claudia masih pingsan sehingga dia menyuruh anak buahnya untuk mengambil air es yang kemudian diguyurkan secara kasar ke wajah Ara dan juga Claudia. Sementara itu, Ara dan Claudia merasa terkejut akibat rasa dingin yang mereka rasakan dan seketika membuka mata. Mereka begitu terkejut saat melihat seorang pria menyeramkan berdiri dengan memegang ember kosong di depannya.


"Kau siapa?" tanya Ara seraya menatap dengan tatapan tajam.


Dia langsung melihat sekeliling dan baru menyadari jika dia sedang berada di tempat asing dalam keadaan tangan terikat. Begitupun dengan ibunya yang sama-sama terikat di tempat yang tidak layak untuk di tempati karena tempatnya benar-benar sangat kotor penuh dengan debu di mana-mana.


"Wah, beraninya kamu melihat saya dengan tatapan tajam." Dia tidak menyangka wanita ini sangat berani melihat ke arahnya padahal wajahnya bisa di katakan sangat menyeramkan.


"Untuk apa aku takut pada mu, kau dan aku sama-sama manusia." Inilah Ara, dia tidak pernah takut pada siapapun. Bahkan dia tidak peduli jika dia saat ini sedang di culik oleh orang yang tidak dia kenal.


"Apa kau sadar jika kau saat ini sedang berada dalam bahaya?" tanya orang itu dengan seringai liciknya.


"Jika kau ingin membunuh ku pasti sudah dari tadi kamu lakukan. Tapi lihat sekarang, keadaan ku masih baik-baik saja dan aku bisa menebak kalian masih membiarkan aku hidup di karenakan sedang mengincar sesuatu dariku," ujar Ara dengan tatapan sinis.


Mereka tidak pernah menyangka jika ara bisa menebak tujuan atasan mereka menculik dia. Sungguh, mereka merasa kagum atas kepintaran wanita ini. Dan mereka merasa kagum atas keberanian Ara saat melawan para penjahat yang telah menculiknya.


"Amazing, kau benar-benar luar biasa hebat. Tak salah kau terlahir sebagai anak Alexander karena kau benar-benar sangat hebat," sahut Revan.


Mendengar perkataan Revan membuat Ara melihat ke arahnya. Saat dia melihat Revan membuat Ara merasa bingung dan penasaran karena dia tidak mengenal dengan Revan begitupun dengan Claudia yang juga sama seperti Ara yang tak mengenal akan sosok Revan.


"Apa kau Revan Sanders," tebak Ara dan benar saja tebakannya tepak sasaran.


"Wow, hebat juga kau langsung bisa mengenalku." Revan semakin kagum akan sosok Ara karena dia benar-benar sangat luar biasa hebat.


"Ck! Walaupun aku belum pernah melihat wajahmu bukan berarti aku tidak tahu siapa orang yang telah menculik kami. Karena hanya kamu musuh yang saat ini sedang mengincar kami lantaran uang yang seharusnya masuk ke rekening mu harus gagal akibat ulah orang kepercayaan ku," kata Ara.


"Aku pikir anak tuan Alex semuanya bodoh dan mudah di tipu seperti adikmu ternyata dugaan ku malah salah karena masih ada anaknya yang lain yang jauh lebih cerdik dan licik di bandingkan ayahmu," ujar Revan.


"Berhenti memujiku, lebih baik kau katakan apa mau mu menculik kami?" Ara sudah malas mendengar perkataan Revan karena dia sudah terbiasa mendengar pujian seperti itu. Apalagi dia sangat tahu laki-laki yang ada di depannya saat ini pasti memiliki niat yang tidak baik padanya dan juga ibunya.

__ADS_1


"Ternyata kau tidak suka basa-basi ya? Oke, jika begitu biar saya katakan langsung alasan saya menculik kalian," ujar Revan sedangkan Ara hanya terdiam ingin mendengarkan alasan orang ini menculik mereka." Alasan saya menculik kalian hanya satu yaitu merebut semua harta milik Alexander."


Hahahaha


"Dasar bodoh, jika kau ingin harta kami kenapa bukan daddy ku yang kau culik? Ini kamu malah menculik kami yang tidak ada sangkut pautnya dengan harta itu," ujar Ara seraya tertawa terbahak-bahak untuk mengelabui Revan agar percaya padanya.


"Anak ini benar-benar tidak memiliki perasaan. Bukannya menolong ayahnya agar tidak di diculik oleh penjahat ini tapi dia justru malah melakukan sebaliknya," batin Claudia yang kesal pada anaknya.


"Kau pikir aku bodoh tidak tahu apapun? Dengarkan aku baik-baik sebelum aku menculik kalian aku sudah lebih dulu mencari tahu tentang keluarga kalian bahkan aku sangat tahu jika harta itu sudah jatuh ke tangan mu. Aku tidak tahu bagaimana harta itu bisa jatuh ke tangan mu sepenuhnya padahal Alexander masih memiliki anak lain selain kamu. Tapi aku tidak akan peduli bagaimana kamu mendapatkan harta itu karena yang aku pedulikan hanya satu yaitu merebut harta kalian agar jatuh ke tangan ku," ujar Revan dengan seringai liciknya.


Deg


"Kurang ajar, dari mana laki-laki ini tahu masalah itu? Baik aku maupun daddy tidak pernah mengumumkan pada publik jika harta itu jatuh ke tangan ku," batin Ara yang merasa terkejut saat mendengar perkataan Revan.


"Aku tahu kamu pasti penasaran dari mana aku tahu akan harta itu yang sudah jatuh ke tangan mu. Biar kau tidak penasaran aku akan jelaskan dari mana aku tahu masalah itu. Kau masih ingat dengan orang yang kemarin kamu hukum? Yah, dialah yang memberitahukan masalah itu karena dia adalah mata-mata ku dan dia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kalian di ruang kerja mu sehingga aku merubah haluan yang sebenarnya ingin menculik Reagan malah berubah menculik mu." Revan merasa bahagia karena bisa menculik Ara yang artinya sebentar lagi harta keluarga Lemos akan jatuh ke tangan nya.


"Jangan pernah bermimpi bisa mendapatkan harta itu karena aku tidak akan pernah memberikan nya padamu," ujar Ara penuh penekanan.


"Itu artinya kamu lebih memilih mati dari pada menyerahkan harta itu untuk ku." Revan sudah menduga pasti akan sangat susah mendapatkan harta di tangan Ara di bandingkan dengan adiknya. Jika saja harta itu ada di tangan Reagan pasti Revan akan lebih mudah mendapatkan nya di karenakan dia seorang laki-laki yang penakut dan bodoh. Berbeda dengan Ara yang sangat cerdik dan licik pasti akan sangat sulit menaklukkan dia agar mau menyerahkan harta itu padanya.


"Bukannya aku sudah katakan tadi jika kalian pasti tidak akan membunuh ku sebelum aku menyerahkan harta itu padamu? Jangan kau pikir aku bodoh, aku sudah tahu rencana mu itu. Walaupun aku menyerahkan harta itu tetap saja kau pasti akan membunuh kami," ujar Ara.


Deg


"Sial, bagaimana wanita ini bisa tahu rencana ku? Dia benar-benar keturunan Alexander yang sangat susah untuk di taklukkan apalagi dia tidak ada rasa takut sedikitpun berbeda dengan anak ke dua Alexander yang sangat penakut. Tapi sialnya, harta itu tidak ada di tangan nya sehingga aku harus berurusan dengan manusia licik ini," batin Revan dengan kesal.


β€’


β€’


β€’


Bersambung...


🌿🍠🍠||||🌼🌼||||🍠🍠||||🌼🌼||||🍠🍠🌿

__ADS_1


__ADS_2