Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 76 )


__ADS_3

Di Gedung Tua


"Beri pelajaran pada wanita itu biar dia tahu kalau aku tidak main-main dengan ucapan ku," titah Audrey dengan penuh emosi.


Mendengar perkataan Audrey membuat Claudia terkejut dan juga ketakutan. Dia tidak ingin mereka melukai anaknya. Tapi, untuk menolong anaknya pun dia tidak sanggup. Dia hanya bisa berdoa agar ada seseorang yang dapat menolong mereka agar bisa keluar dari tempat ini.


"Aku mohon kak, jangan lukai anakku," ujar Claudia seraya memohon pada kakak tirinya.


"Jangan salahkan aku bila anakmu ini terluka karena dia sendiri yang sudah menentang ku. Jika saja anakmu mau menyerahkan harta itu padaku maka aku pasti akan membebaskan kalian dari sini tapi, anakmu justru malah membuat aku emosi." Audrey tidak peduli pada permohonan maaf dari Claudia karena dia sudah sangat kesal dan emosi lantaran berkas pengalihan harta itu dirusak oleh Ara.


"Kenapa kamu merobek berkas itu Ra?" tanya Claudia dengan kesal.


"Karena aku tidak rela wanita lansia ini mendapatkan harta milikku," balas Ara dengan santai.


Claudia yang mendengar perkataan anaknya semakin kesal. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya yang tidak ada raut wajah ketakutan sedikitpun padahal mereka saat ini dalam bahaya karena bisa kapan saja kakak tirinya membunuh mereka tanpa ada seorangpun yang tahu.


"Berhenti menyebutku wanita lansia," bentak Audrey dengan penuh kemarahan.


Jika tidak ingin harta wanita ini sudah sejak awal dia membunuh wanita ini. Sungguh, dia sangat emosi saat mendengar wanita ini lagi dan lagi menyebut dirinya wanita lansia. Berbeda dengan anak buahnya yang tidak tahan menahan tawa sehingga mereka langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan Ara yang menyebutkan atasannya wanita lansia.


Hahahaha


"Diam kalian," bentak Audrey dengan penuh emosi.


Mendengar bentakan atasannya membuat mereka langsung terdiam seperti patung. Mereka tidak berani menertawakan atasannya lagi lantaran takut padanya.


"Tunggu apa lagi, beri wanita ini pelajaran," titah Audrey dengan tegas.


"Baik nyonya besar," jawab anak buah Revan seraya menjalankan perintah atasannya.


"Jangan sentuh putriku," teriak Claudia dengan wajah ketakutan saat melihat penjahat itu sedang menuju ke arah anaknya.


"Inilah akibatnya karena kamu sudah berani menentang ku." Audrey sangat bahagia saat melihat wajah ketakutan adik tirinya. Tapi, saat dia melihat kearah Ara dia malah emosi karena Ara sama sekali tidak ada wajah ketakutan sedikitpun justru dia malah terlihat tenang seolah-olah tidak terjadi apapun.


"Emangnya apa yang bisa dilakukan oleh anak buah bodohmu itu?" tanya Ara dengan tatapan meremehkan.


"Kau..."


"Lihat saja apa yang akan dilakukan oleh anak buahku padamu. Aku tidak sabar melihat wajahmu hancur ditangan anak buahku," ujar Audrey dengan seringai liciknya.


"Iya, akan aku tunggu," balas Ara dengan santai.

__ADS_1


"Apa yang harus kami lakukan bos?" tanya anak buah Revan dengan bingung.


"Hajar dia bodoh," bentak Audrey dengan kesal saat melihat anak buahnya hanya diam saja di depan Ara.


"Baik bos," jawab anak buah Revan seraya melakukan perintah bos besarnya.


Bugghht


Bugghht


Brakkk


"Aarghhtt!! Kurang ajar, rasakan ini..."


Bugghht


"Awwwsstt..."


"Ampun," mohon anak buah Revan seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Dasar bodoh, melawan satu wanita saja kalian tidak becus," bentak Audrey dengan penuh emosi saat melihat semua anak buahnya kalah dengan Ara. Dia tidak menyangka jika wanita ini ternyata sangat pandai bela diri sehingga anak buahnya terkapar tak berdaya di atas lantai.


"Dasar wanita jaalang," umpat Audrey dengan penuh kemarahan.


Plak


Plak


Plak


"Aarghhtt," teriak Audrey saat Ara dengan kejamnya menampar dia hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Bagaimana rasanya ditampar hemm?" tanya Ara dengan tatapan tak bersalah.


"Kurang ajar, beraninya kamu melukai wajahku," ujar Audrey dengan penuh emosi. Saat Audrey ingin membalas Ara langsung saja tangannya di pegang oleh Ara setelah itu dia hempaskan hingga menyebabkan Audrey terjatuh di atas lantai.


Bruuk


"Awwsstt," teriak Audrey.


"Mama," panggil Revan seraya membantu ibunya berdiri.

__ADS_1


"Kurang ajar, beraninya kamu melukai ibuku." Revan yang sedari tadi memperhatikan mereka dibuat emosi saat melihat ibunya diperlakukan seperti itu oleh Ara.


Tadinya dia yang ingin menghadapi wanita itu sendirian tetapi ibunya malah memaksakan ikut agar bisa membalaskan dendam atas perlakuan keluarga Lemos terhadap ibunya di masa lalu.


"Ck! Apa kau buta sehingga tidak bisa melihat bahwa ibu mu yang lebih dulu menghinaku bahkan dia sudah dua kali menamparku hingga terluka seperti ini. Jadi, jangan salahkan aku bila aku membalaskan perbuatan ibu mu itu," ujar Ara dengan tatapan tajam.


"Itu karena kalian yang lebih dulu menghancurkan hidup ibuku," ujar Revan.


"Ck! Apa yang dikatakan oleh wanita lansia itu sehingga kamu menuduh kami yang lebih dulu menghancurkan hidup ibu mu?"


"Asal kau tahu bahwa ibu mu lah yang lebih dulu menghancurkan hidup kami sedangkan kami hanya membalaskan dia karena sudah menyebabkan keluarga kami menderita," ujar Ara.


Mendengar perkataan Ara membuat Revan terdiam seperti patung. Dia sekarang merasa ragu akan cerita ibunya yang mengatakan bahwa keluarga Lemos lah yang telah menyebabkan ibunya menderita. Berbeda dengan Audrey yang merasakan ketakutan saat melihat anaknya terdiam seperti itu karena dia sangat takut jika anaknya malah berbalik memusuhi dirinya.


"Jangan dengarkan dia Van, kau tahu wanita ini sangat licik. Dia sengaja mengatakan itu agar kamu membenci mama," sahut Audrey seraya menghasut anaknya agar tidak percaya pada perkataan Ara.


"Pantas saja anaknya membenci pada kami ternyata ini semua perbuatan ibunya," batin Ara yang baru menyadari ternyata wanita lansia ini lah yang telah mempengaruhi anaknya agar menghancurkan keluarganya demi bisa membalaskan sakit hatinya karena perbuatan keluarganya yang telah memasukkan dia ke dalam penjara.


"Untuk apa aku pengaruhi anak kamu tanpa aku pengaruhi pun anak kamu pasti lebih percaya pada perkataan mu dibandingkan aku. Aku mengatakan ini agar anak kamu tahu bahwa kamu lah yang lebih dulu mencari masalah dengan keluarga kami bukan keluarga kami yang lebih dulu mencari masalah dengan kamu. Yah, walaupun pada akhirnya anakmu tetap saja tidak percaya pada perkataan ku setidaknya aku sudah mengatakan yang sebenarnya," balas Ara.


"Jika kamu tahu anak ku lebih percaya pada ku untuk apa kamu bicara seperti itu padanya tadi?" Audrey sangat kesal pada Ara karena sudah membongkar rahasianya.


"Yah, siapa tahu anakmu percaya padaku tapi kurasa anakmu sangat bodoh sehingga dia mudah untuk dibodohi oleh mu," ujar Ara dengan wajah tanpa bersalah karena menghina Revan terang-terangan seperti itu.


"Kau..."


"Sudah ma, biarkan wanita ini bicara sesukanya setelah ini dia akan tahu kalau kita jauh lebih cerdik dan licik dibandingkan dia," potong Revan dengan seringai liciknya.


Mendengar perkataan Revan membuat Ara terdiam seperti patung. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu. Dia merasa mereka pasti sedang merencanakan sesuatu hal yang buruk.


"Sial, apa yang sedang mereka rencanakan? Aku harus hati-hati dengan mereka karena musuh yang sedang aku hadapi ini sangat cerdik dan juga licik. Jadi aku harus bisa lebih cerdik dan licik dibandingkan mereka," batin Ara dengan cemas.





Bersambung...


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2