
Di Perjalanan
"Ra, kamu yakin ingin mengusir adikmu jika dia masih berhubungan dengan wanita matre itu?" tanya Jennifer seraya menoleh ke arah Ara yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Saat ini Jennifer sedang mengantar Ara pulang ke mansion nya mengunakan mobil Jennifer. Sedangkan mobil Ara di bawa pulang oleh anak buah Ara menuju mansion orang tuanya.
"Tentu saja. Itu satu-satunya cara untuk menyadarkan adikku yang bodoh itu kalau wanita yang dia pertahankan ternyata hanya mengincar hartanya saja. Karena aku sangat yakin jika adikku sudah jatuh miskin wanita itu pasti akan meninggalkan adikku. Setelah meninggalkan adikku wanita itu pasti akan mencari mangsa baru untuk dia porotin uangnya," balas Ara.
"Bukannya kamu dan wanita itu sama saja. Sama-sama matre yang suka memanfaatkan orang lain," ujar Jennifer seraya mengejek temannya.
Mendengar perkataan Jennifer membuat Ara terdiam seperti patung. Karena apa yang di katakan oleh temannya semuanya benar kalau dia juga sama-sama matre yang kerjaan nya suka memanfaatkan orang lain sama seperti wanita itu.
"Kenapa diam? Baru nyadar, kalau kamu juga sama seperti wanita itu yang kerjaan nya suka memanfaatkan orang lain." Jennifer tidak henti-hentinya mengejek Ara.
"Ck! Jangan samakan aku dengan wanita itu, karena kami sangatlah beda," ujar Ara yang tidak suka disamakan dengan wanita itu.
"Apanya yang beda? Bukannya kalian sama-sama matre dan suka memanfaatkan orang lain?" tanya Jennifer.
"Diamlah Jen. Sebelum aku lempar kau dari mobil ini," ujar Ara dengan penuh ancaman.
Mendengar perkataan Ara membuat Jennifer menelan ludahnya sendiri. Dia sangat takut jika Ara sampai melakukan apa yang dia katakan tadi.
Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai juga di mansion keluarga Alexander Lemos.
"Kenapa berhenti Jen? Kau tahu aku sangat lelah seharian melakukan pemotretan. Cepat antar aku ke mansion, karena aku benar-benar sangat lelah dan ingin istirahat," ujar Ara.
Mendengar perkataan Ara membuat Jennifer memutar bola matanya malas." Apa kamu tidak bisa melihat kita ada di mana saat ini?" tanya Jennifer.
"Tentu saja aku tahu. Kau pikir aku tidak bisa melihat kalau kita saat ini ada di mansion ku," balas Ara dengan wajah tanpa bersalah. Jennifer yang mendengar perkataan Ara ingin sekali menendang bokong Ara karena emosi.
"Jika kau tahu kita ada di mansion mu kenapa juga kamu menanyakan padaku lagi hah?" Jennifer yang sadari tadi menahan emosi akhirnya keceplosan membentak Ara.
"Kau! Beraninya membentak ku, apa kau sudah siap hidup di jalanan?" tanya Ara seraya menatap Jennifer dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Glek
"Mampus, sebelum Ara melakukan sesuatu padaku lebih baik aku memohon maaf padanya. Aku tidak mau jika Ara sampai menghancurkan keluarga ku gara-gara mulutku yang tidak bisa diam ini," batin Jennifer dengan wajah ketakutan.
"Maafkan aku Ra! Aku tidak sengaja membentak kamu tadi. Oh ya Ra, lebih baik kamu segera masuk saja."
"Bukannya kamu ingin istirahat?" Jennifer yang ketakutan langsung mengalihkan pembicaraan agar Ara melupakan masalah tadi. Dan benar saja, Ara langsung melupakan masalah tadi tanpa kata dia langsung masuk ke dalam mansion nya tanpa pamit pada temannya. Sedangkan Jennifer yang melihat kelakuan Ara hanya bisa menghela nafas lega. Untung saja temannya tidak melakukan apapun padanya. Andai saja tadi temannya melakukan apa yang dia katakan tadi bisa hancur hidupnya karena harus hidup dalam kemiskinan.
"Kenapa nona Jenni berani sekali mencari masalah dengan nona muda? Apa nona Jenni tidak takut nona muda menghancurkan nona dan juga keluarga nona?" tanya Elena yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku tidak sengaja bicara seperti itu pada Ara. Entah kenapa setiap aku bicara dengan nya selalu bikin aku emosi?" Tidak hanya Jennifer yang emosi saat bicara dengan Ara. Tetapi, orang lain pun akan bernasib sama seperti dirinya.
"Lain kali jika mau bicara dengan nona muda sebaiknya nona Jenni harus bisa menahan emosi agar nona muda tidak marah pada nona," ujar Elena seraya mengingatkan Jennifer.
"Kau benar, aku harus bisa menahan emosi agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Untung Ara tidak memperpanjang masalah tadi sehingga aku bisa selamat dari amukan Ara," ujar Jennifer dengan perasaan lega.
"Kenapa nona Jenni masih diam disini? Apa nona mau mampir ke mansion nona muda?" tanya Elena dengan penasaran saat melihat Jennifer yang masih diam di halaman mansion Alexander.
"Kau pikir aku supirmu? Cepat duduk di depan," ujar Jennifer dengan wajah kesal saat melihat Elena yang masih asyik duduk di kursi belakang.
•
•
•
Di Mansion Maxim Almero
"Di mana Alex mengadakan ulang untuk putrinya?" tanya Maxim dengan penasaran.
"Di hotel miliknya pa. Kita jadi kan pergi ke acara ulang tahunnya Ara?" tanya Alice yang sangat ingin menghadiri pesta ulang tahun Ara keponakan kesayangannya.
__ADS_1
Walaupun dia selalu berantem dengan Ara tidak membuat dia membenci keponakannya. Karena dia benar-benar tulus menyayangi keponakannya itu.
"Tentu saja jadi. Mana mungkin aku tidak hadir di acara kelahiran putriku sendiri," balas Maxim.
Yah, Maxim sudah menganggap Ara seperti putri kandungnya sendiri. Sama halnya seperti Ara yang sudah menganggap Maxim seperti ayah kandungnya sendiri.
"Apa papa tahu, putri yang sangat papa sayangi masih saja berulah? Dia selalu membuat laki-laki diluar sana patah hati dan kecewa setelah Ara puas bermain-main dan menguras uang mereka," ujar Alice.
"Dari mana mama tahu, jika Ara menguras uang mereka?" tanya Maxim yang merasa terkejut setelah mendengar perkataan istrinya.
"Dari Claudia. Dia selalu curhat padaku tentang kelakuan putrinya yang semakin hari semakin menjadi. Dia tidak tahu lagi harus melakukan apa agar putrinya bisa berubah dan tidak lagi menyakiti perasaan laki-laki yang tulus menyukai dirinya," balas Alice.
"Biarkan saja. Aku yakin cepat atau lambat Ara pasti akan berubah jika dia menemukan laki-laki yang tepat untuknya. Lihat saja diriku, yang dulu juga seorang playboy setelah bertemu dengan mama membuat aku berubah," ujar Maxim yang tidak ambil pusing tentang kelakuan putri angkatnya. Dia sangat yakin putrinya pasti akan berubah dengan sendirinya jika sudah menemukan laki-laki yang tepat untuknya.
"Semoga saja Ara bisa berubah," ujar Alice.
"Dimana Xavier ma?" tanya Maxim dengan penasaran.
"Katanya dia ada di rumah temannya pa," balas Alice yang di tanggapi anggukan kepala oleh Maxim.
Xavier Almero adalah anak dari pasangan Maxim Almero dan Alice Norin yang sekarang berubah menjadi Alice Almero. Xavier adalah anak satu-satunya mereka, sehingga membuat mereka sangat menyayangi dirinya dan akan melakukan apapun agar anaknya bisa bahagia.
Setelah Xavier lahir Alice dinyatakan tidak bisa memiliki anak lagi akibat rahimnya di angkat gara-gara kecelakaan yang terjadi padanya. Sehingga membuat Maxim merasa sedih karena dia sangat mengharapkan akan memiliki anak perempuan seperti Ara. Tetapi takdir malah berkata lain dia justru diberikan bayi laki-laki yang sekarang sudah tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tampan persis seperti dirinya.
Walaupun dia tidak bisa memiliki bayi perempuan seperti keinginan dirinya, dia tetap bersyukur karena Tuhan masih memberikan dia anak yang lahir dari rahim wanita yang sangat dia cintai. Dia juga sangat bersyukur karena Ara mau menganggap dirinya seperti ayah kandungnya sendiri sehingga membuat dia melupakan kesedihan karena istrinya tidak lagi bisa memberikan dia seorang anak perempuan yang diinginkan dirinya selama ini.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung...
🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿