Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 75 )


__ADS_3

Di Gedung Tua


Tak


Tak


Tak


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam gedung tua tempat penyingkapan Ara dan juga Claudia.


"Selamat datang nyonya besar..."


"Selamat datang tuan muda..."


Itulah sapaan dari anak buah Revan Sanders seraya membungkukkan badan sedangkan mereka hanya menjawab anggukan kepala.


"Buka pintu," titah Audrey dengan tegas.


"Baik nyonya besar," jawab anak buah Revan seraya membukakan pintu.


Cklek


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Audrey seraya berjalan ke arah Ara dan Claudia.


"Nyonya lihat sendiri saja bagaimana keadaan mereka." Mereka tidak tahu mau menjawab apa lantaran Ara sama sekali tidak ada raut wajah ketakutan sedikitpun. Dia seolah-olah sedang berada di rumahnya sendiri padahal dia saat ini sedang diculik oleh mereka tapi wanita ini justru terlihat biasa saja.


"Apa sekarang kamu sudah menyerah?" tanya Audrey seraya menatap ke arah Ara.


"Ck! Untuk apa aku menyerah? Kau pikir aku mau menyerahkan harta keluarga ku lantaran takut padamu." Ara berucap dengan tatapan sinis.


Plak


"Awwwsstt." Sudah dua kali Ara di tampar oleh Audrey sehingga membuat dia murka bahkan dia menatap ke arah Audrey dengan tatapan tajam.


"Ara, kau tidak apa-apa nak?" Claudia lagi dan lagi terkejut saat melihat anaknya di tampar seperti ini. Ingin rasanya dia membalaskan perbuatan kakak tirinya tapi dia tidak bisa melakukan nya lantaran kedua tangannya di ikat. Seumur hidup dia belum pernah melukai anaknya tapi sekarang, dengan lancangnya kakak tirinya melakukan itu pada anaknya.


"Tidak apa-apa mom," jawab Ara seraya menenangkan hati ibunya.

__ADS_1


Walaupun saat ini dia merasakan kesakitan karena di tampar oleh Audrey tetap saja dia mengatakan baik-baik saja pada ibunya agar ibunya tidak cemas saat melihat anaknya di tampar oleh kakak tirinya yang terkenal kejam dan tidak memiliki perasaan.


Di mulut Ara mengatakan tidak apa-apa tapi dalam hati sungguh sakit sekali. Jika saja tangannya tidak terikat seperti ini pasti dia sudah membalas wanita ini karena sudah menyebabkan wajahnya terluka.


"Jadi tamparan yang aku berikan tidak sakit ya? Bagaimana kalau aku merusak wajah cantik mu ini hemmm?" tanya Audrey dengan seringai liciknya.


Deg


"Kurang ajar, beraninya wanita lansia ini mengancamku. Jika saja tanganku tidak terikat seperti ini pasti sudah aku bunuh dia," batin Ara dengan penuh emosi.


"Jika kau berani merusak wajahku akan aku bunuh kau detik ini juga," ujar Ara dengan penuh ancaman.


Hahahaha


"Apa yang bisa kamu lakukan dengan tangan kamu terikat seperti ini?" tanya Audrey seraya tertawa-terbahak.


Dia tidak habis pikir dengan wanita ini dalam keadaan terikat saja dia masih berani mengancamnya. Benar-benar wanita tangguh dan pemberani yang tidak ada raut wajah ketakutan sedikitpun.


"Aku mohon kak Audrey tolong bebaskan kami dari sini kami akan berikan apa yang kak Audrey mau asal kak Audrey berjanji akan membebaskan kami dari sini," sahut Claudia sedangkan Ara hanya terdiam lantaran dia tidak tahu harus melakukan apa karena apa yang di katakan oleh Audrey benar adanya. Dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun dalam keadaan tangan terikat seperti ini.


"Ra, kamu mau kan nak menyerahkan harta itu pada kak Audrey?" Claudia sangat berharap anaknya mau menyerahkan harta itu agar mereka bisa keluar dari sini dengan segera. Dia sudah ketakutan di kurung di sini apalagi jika sampai mereka membunuh mereka lantaran tidak menyanggupi keinginan kakak tirinya.


"Sial, kenapa wanita lansia ini masih saja menyinggung masalah harta itu? Mommy juga sudah aku bilang jika wanita lansia ini hanya ingin harta kami saja tapi dia malah tidak percaya. Ah... Aku pura-pura saja menyerahkan harta itu padanya setelah mereka melepaskan tanganku maka aku bisa kabur dari sini," batin Ara.


"Baiklah, aku akan menyerahkan harta itu padamu," balas Ara dengan penuh keyakinan.


Mendengar perkataan Ara baik Audrey maupun Revan sangat senang karena impian mereka untuk menjadi orang terkaya di negara ini akan tercapai.


"Akhirnya apa yang aku inginkan akan terwujud juga," batin Audrey dengan antusias.


"Berikan berkas itu Van," titah Audrey seraya mengulurkan tangannya untuk meminta surat pengalihan harta keluarga Lemos agar menjadi miliknya sepenuhnya.


"Ini ma," jawab Revan seraya menyerahkan berkas pengalihan harta itu pada ibunya.


"Cepat tanda tangan," titah Audrey seraya menyerahkan berkas pengalihan harta pada Ara.


"Ck! Bagaimana aku bisa menandatangani berkas itu sedangkan tanganku kalian ikat seperti ini. Jika kamu ingin aku tanda tangan berkas itu lepaskan dulu tanganku," ujar Ara seraya menunjukkan tangannya yang terikat.

__ADS_1


Mendengar perkataan Ara langsung saja Audrey menyuruh anak buahnya agar membebaskan tangan Ara segera. Audrey yang sedang senang lantaran berpikir harta keluarga Lemos akan menjadi miliknya tanpa dia tahu jika ini hanyalah akalan Ara agar bisa kabur dari sini.


"Lepaskan tangan wanita itu," titah Audrey dengan tegas.


"Baik nyonya besar," jawab anak buah Revan seraya menjalankan perintah Audrey.


"Sial, sakit banget tanganku. Mereka benar-benar kurang ajar karena sudah menyebabkan tanganku lecet seperti ini," batin Ara seraya melihat tangannya yang lecet akibat diikat terlalu keras oleh mereka.


Ara saat ini sedang berpikir bagaimana cara dia bisa terlepas dari sini bersama ibunya. Dia tidak mau pada saat dia kabur dari sini ketahuan oleh mereka sehingga berakhir di tangkap oleh mereka lagi. Dan kemungkinan terbesar adalah dia dan ibunya bisa saja dibunuh lantaran telah menipu wanita lansia itu.


Itu sebabnya Ara tetap berprilaku setenang mungkin agar mereka tidak curiga dengan niatnya yang ingin kabur dari tempat ini. Dan lihat saja, mereka percaya jika Ara akan menuruti keinginan wanita lansia itu sehingga tanpa curiga sedikitpun wanita lansia itu langsung menyuruh anak buahnya agar melepaskan tangan Ara yang terikat tadi.


"Sekarang tanda tangan berkas ini agar harta itu bisa menjadi milikku," titah Audrey yang tidak sabar menanti harta itu menjadi miliknya.


"Baiklah," jawab Ara dan tanpa aba-aba saat berkas itu berada di tangannya dia langsung merobek berkas itu hingga hancur.


Audrey yang melihat berkas yang dia bawa tadi telah dirobek oleh Ara membuat dia emosi. Dia tidak berpikir jika Ara akan melakukan itu pada berkas yang dia bawakan. Dia pikir Ara akan langsung menandatangani berkas itu agar menjadi miliknya tapi ternyata malah terjadi sebaliknya.


"Apa yang kau lakukan hah?" tanya Audrey seraya membentak.


"Apa kau tidak melihat jika saat ini aku sedang merobek berkas yang kau bawakan?" Ara bukannya menjawab pertanyaan Audrey tapi dia justru malah bertanya balik.


"Aku juga tahu kau merobek berkas itu yang aku tanyakan kenapa kamu merobeknya bodoh?" Audrey yang sejak awal menyekap Ara sudah sangat emosi sekarang dia malah bertambah berkali-kali lipat emosi lantaran melihat berkas itu sudah hancur di tangan Ara.


"Karena ingin saja," jawab Ara dengan wajah tanpa bersalah.


Mendengar perkataan Ara membuat Audrey semakin marah. Dia tidak habis pikir wanita yang ada di depannya ini sangat pintar dan licik sehingga dia merasa terkecoh dengan percaya pada perkataannya hingga dia menyerahkan berkas itu tanpa menduga akan di hancurkan oleh Ara. Jika dia tahu akan terjadi seperti ini maka dia tidak akan menyerahkan berkas itu di tangan Ara. Tapi untuk menyesal sekarang pun percuma karena berkas itu sekarang sudah dihancurkan oleh Ara.


β€’


β€’


β€’


Bersambung...


πŸŒΏπŸ πŸ πŸ’πŸ’πŸŒΌπŸŒΌπŸ‚πŸ‚πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΌπŸŒΌπŸŒ»πŸŒ»πŸŒΏ

__ADS_1


__ADS_2