
Di Kantor Polisi
"Apa kamu sudah menghubungi orang tuamu nak?" tanya Miranda dengan lembut.
"Hah, apa tante?" tanya Ara balik lantaran dia tadi sedang termenung sehingga tidak bisa mendengar perkataan Miranda dengan jelas.
"Tante tanya, apa kamu sudah menghubungi orang tua mu?" tanya Miranda lagi.
"Belum tante," jawab Ara seraya menundukkan wajahnya.
Dia sengaja tidak menghubungi orang tuanya karena malu lantaran dia kabur dari negaranya tanpa pamit pada orang tuanya. Mana berani dia mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya, yang ada dia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya.
Apalagi sampai mereka tahu dia hamil diluar nikah walaupun itu tidak lah benar. Tetap saja dia sudah mengakui itu dihadapan mereka pasti orang tuanya akan percaya pada perkataan mereka dibandingkan perkataan dia yang sering berbohong pada orang tuanya.
"Sebaiknya kamu telpon orang tuamu dulu dan jelaskan kejadian sebenarnya pada mereka kalau hari ini kamu akan menikah dengan anak tante. Dan beritahu pada mereka agar datang ke sini biar kita bisa mulai pernikahan kalian segera," ujar Miranda dengan lembut.
"Orang tua aku tidak bisa datang ke sini tante karena mereka sekarang lagi ada di luar negeri. Jadi, aku tidak mungkin bisa menikah dengan anak tante tanpa kehadiran orang tuaku," jelas Ara seraya mencari alasan agar pernikahan ini batal dilaksanakan. Tapi sayang, lagi dan lagi perkataan nya tidak digubris oleh mereka sehingga mau tidak mau dia terpaksa menerima pernikahan ini walaupun dalam keadaan terpaksa.
"Tidak masalah sayang, walaupun orang tua mu tidak bisa datang kalian tetap bisa menikah. Kamu hanya perlu menghubungi orang tuamu dan mintalah restu pada mereka agar pernikahan kalian bisa berkah sampai kalian tua nanti," ujar Miranda.
Karena tidak memiliki pilihan lain lagi akhirnya Ara terpaksa menghubungi orang tuanya dan menjelaskan masalah ini pada mereka. Walaupun tidak sepenuhnya dia bicara jujur karena takut ketahuan oleh orang tuanya.
Dreet... Dreet... Dreet...
π "Hallo? Ada apa Ra?" tanya Alex.
π "Hallo dad, aku sekarang ada di kantor polisi yang ada di negara Indonesia," ujar Ara dengan perasaan takut.
π "Apa?" teriak Alex seraya memasang wajah pura-pura terkejut. Padahal dia sudah tahu kalau anaknya sedang mengalami masalah dari teman baiknya.
π "Kenapa kamu bisa ada di kantor polisi?" tanya Alex.
π "Nanti aku akan jelaskan masalah itu setelah daddy ada di indonesia. Karena sekarang aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan pada daddy karena aku sekarang harus menikah dengan laki-laki yang sedang terlibat masalah dengan ku," jelas Ara.
π "Apa?" teriak Alex lagi.
π "Kenapa kamu harus menikah dengan laki-laki itu?" tanya Alex.
π "Itu syaratnya agar aku bisa bebas dari sini dad," jawab Ara.
π "Kenapa kamu tidak tebus saja agar kamu bisa bebas dari sana?" tanya Alex.
__ADS_1
π "Aku tidak bisa melakukan itu dad. Yang bisa aku lakukan hanya menikah dengan laki-laki itu agar aku bisa segera pergi dari sini," ujar Ara.
π "Apa yang bisa daddy lakukan?" tanya Alex dengan penasaran.
π "Daddy cukup memberikan restu dan izin agar pernikahan aku sah baik secara negara maupun agama," balas Ara.
π "Baiklah, serahkan ponselmu pada penghulu yang ada disana," ujar Alex.
π "Baik dad," jawab Ara dengan singkat.
"Pak! Ini daddy aku mau bicara," ujar Ara seraya memberikan ponselnya pada penghulu yang ada disana yang langsung diterima olehnya.
Cukup lama mereka bicara akhirnya selesai juga. Dalam pembicaraan itu Alex meminta bantuan pada wali hakim untuk menikahkan putrinya dengan laki-laki yang akan menjadi suami untuk anaknya. Karena dia tidak bisa menjadi wali untuk anaknya lantaran sedang berada di luar negeri. Sehingga dia dengan terpaksa meminta bantuan wali hakim agar pernikahan anaknya bisa segera di laksanakan sekarang juga.
Mengenai berkas-berkas yang diperlukan untuk pernikahan sudah diurus oleh orang tua Axton. Mereka dengan cekatan mengurus itu semua dan langsung siap hari itu juga. Itulah pentingnya memiliki kekuasaan dan uang, masalah apapun bisa mereka lakukan segera walaupun dalam keadaan kepepet sekalipun seperti yang dilakukan oleh orang tua Axton George.
Beberapa menit kemudian
Tak lama kemudian terlihat Ara keluar dengan pakaian kebaya yang melekat di tubuh rampingnya. Miranda sengaja mendatangkan di desainer serta MU agar calon menantunya bisa terlihat cantik dan menarik pada saat menikah dengan anaknya nanti.
Axton yang melihat penampilan calon istrinya membuat dia menganga dan juga terpesona pada Ara yang sangat cantik dan memukau. Setelah itu Ara langsung duduk disamping Axton calon suaminya.
"Apa anda sudah siap?" tanya penghulu pada Axton.
"Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim..."
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Axton bin Edwin dengan anak saya yang bernama Arrabella Anastasya binti Alexander dengan mas kawin berupa satu set perhiasan berlian dan uang 4 milyar dibayar tunai.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Arrabella binti Alexander dengan mas kawin berupa satu set perhiasan berlian dan uang 4 milyar dibayar tunai.
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah..."
"Sah..."
"Sah..."
"Alhamdulillah. Sekarang anda sudah bisa mencium istri anda," titah penghulu itu pada Axton.
Deg
__ADS_1
"Bagaimana ini? Aku tidak mau dicium oleh laki-laki brengsek ini. Tapi, untuk menghindar pun aku tidak bisa," batin Ara dengan cemas.
Mendengar perkataan penghulu langsung saja Axton mencium kening Ara dengan lembut. Sebenarnya dia sangat gugup harus mencium wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Bagaimana tidak, dia selama ini tidak pernah dekat dengan wanita. Itu sebabnya dia merasa gugup saat disuruh mencium Ara dihadapan semua orang. Begitupun dengan Ara yang sama gugupnya sama seperti Axton.
"Sekarang giliran anda yang mencium tangan suami anda," titah penghulu itu pada Ara setelah melihat Axton sudah selesai mencium kening Ara tadi.
Tanpa kata Ara langsung saja mencium tangan Axton dengan lembut." Sekarang kalian sudah bisa tanda tangan surat nikah," titah penghulu.
"Baik," jawab mereka dengan serentak seraya tanda tangan surat nikah.
β’
β’
β’
"Selamat nona muda," ujar Elena seraya memeluk atasannya dengan erat.
"Terima kasih," ujar Ara yang ditanggapi anggukan kepala oleh Elena.
"Selamat ya sayang. Sekarang kamu sudah menjadi menantu mami," ujar Miranda seraya memeluk menantu kesayangannya dengan erat.
"Terima kasih tante," ujar Ara dengan tersenyum.
"Loh, kok masih panggil tante? Sekarang Ara sudah menjadi menantu mami jadi, Ara harus memanggil aku dengan sebutan mami sama seperti Axton," ujar Miranda dengan lembut.
"Baik mi," jawab Ara.
"Nah, gitu dong. Kan enak dengarnya," ujar Miranda dengan tersenyum.
"Selamat ya sayang, sama seperti mami, kamu juga harus memanggil aku dengan sebutan papi," ujar Edwin seraya memeluk Ara dengan sayang.
"Baik pi," jawab Ara dengan singkat.
"Kenapa tiba-tiba papi dan mami malah berpihak pada wanita itu hingga membiarkan aku menikah dengan wanita licik itu? Apa mereka di ancam oleh wanita itu sehingga mereka tidak berdaya dan akhirnya merestui pernikahan ini?" Tapi, jika mereka di ancam kenapa pula mereka terlihat bahagia saat melihat kami sudah sah menjadi suami istri?" Banyak pertanyaan yang ingin Axton tanyakan pada orang tuanya. Hanya saja, dia tidak memiliki kesempatan untuk bicara dengan orang tuanya sehingga dia menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.
β’
β’
β’
__ADS_1
Bersambung...
πΏπΌπΌ||||πΌπΌ||||πΌπΌ||||πΌπΌ||||πΌπΌπΏ