Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 45 )


__ADS_3

Di Mansion Axton George



Setelah menempuh beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di mansion Axton George. Mansion yang sangat mewah nan megah dengan interior yang sangat menarik dan elegan.


"Ayo masuk sayang, mulai sekarang kamu akan tinggal bersama dengan Axton. Jika kamu butuh sesuatu bilang saja sama Axton atau nggak sama pelayan yang ada disini," ujar Miranda dengan lembut yang ditanggapi anggukan kepala oleh Ara.


"Ck! Pintar sekali wanita ini mencari perhatian mami. Awas saja kau, aku akan buat kamu hidup menderita biar kamu tahu karena sudah mencari masalah dengan orang yang salah," batin Axton dengan kesal.


"Ya sudah. Mami sama papi pamit pulang dulu, kalian harus hidup akur karena kalian sekarang sudah menjadi pasangan suami istri," ujar Miranda.


"Baik mi," jawab Axton dengan singkat.


"Papi tidak sabar menantikan kehadiran cucu dari kalian," sahut Edwin dengan antusias.


"Siapa juga yang sudi memiliki anak dari laki-laki brengsek ini. Jika bukan karena terpaksa aku juga tidak mau menikah dengan laki-laki ini," batin Ara.





"Dimana kamar ku?" tanya Ara.


"Bi..." teriak Axton dengan suara keras.


"Iya tuan muda," jawab asisten rumah dengan sopan.


"Bawa perempuan ini ke kamar tamu," titah Axton dengan tegas.


"What?" teriak Ara yang terkejut saat mendengar perkataan Axton.


"Apa kau bercanda? Mana mau aku tidur dikamar tamu. Pasti disana sangat sempit dan juga pengap," protes Ara.


"Jika kau tidak mau tidur di kamar tamu lalu kau mau tidur dimana?" tanya Axton dengan kening mengkerut.


"Tentu saja dikamar utama," jawab Ara.


"Jadi kau mau tidur satu ranjang dengan ku? Jika mau, ayo ikut dengan ku sekalian kita melakukan hubungan suami istri seperti yang sudah kamu lakukan dengan pacar mu hingga hamil di luar nikah," ujar Axton dengan tatapan menghina.


Mendengar perkataan Axton membuat Ara kesal setengah mati. Untuk membantah pun dia tidak bisa karena dia sudah terlanjur mengatakan pada semua orang kalau dia hamil diluar nikah. Ini semua salahnya karena mengaku hamil anak Axton padahal mereka baru saja kenal. Wajar saja jika Axton marah dan menghina dia karena sudah menuduh Axton yang menghamili dirinya padahal kenyataannya tidaklah benar terjadi.

__ADS_1


"Aku tidur di kamar tamu saja," ujar Ara seraya pergi dari sana dengan wajah ketakutan. Mana mau dia tidur satu kamar dengan Axton, yang ada kesucian yang selama ini dia jaga bisa hancur di tangan laki-laki yang tidak dia cintai. Lebih baik dia mengalah dari pada harus tidur satu kamar dengan nya.


"Antarkan dia ke kamar tamu," titah Axton pada asisten rumah nya saat melihat Ara yang sudah pergi duluan.


"Baik tuan muda," jawab asisten rumah seraya pergi dari sana.


"Kenapa dia seperti orang ketakutan pada saat aku menyuruh dia tidur satu kamar dengan ku? Bukannya dia sudah biasa tidur dengan pacarnya hingga hamil di luar nikah? Ah... Ngapain aku mikirin wanita murahan itu lebih baik aku pikirkan cara untuk membalas wanita itu karena sudah berani menjebak aku hingga harus menikah dengan nya." Axton benar-benar dendam pada Ara karena sudah menjebak dirinya hingga berakhir dengan pernikahan paksa.


Di Kamar Tamu


"Apa di mansion ini tidak ada kamar lain Bi? Kenapa kamar ini sempit sekali? Mana bisa aku tidur dikamar sempit dan pengap seperti ini. Ini lebih cocok menjadi kamar pembantu dari pada kamar untuk ku," Ara yang sudah biasa hidup bagaikan ratu di mansion orang tuanya. Sekarang harus hidup menderita di mansion Axton laki-laki yang sangat dia benci. Bagaimana tidak, gara-gara laki-laki itu sekarang hidupnya harus menderita seperti ini. Dia sangat yakin laki-laki itu pasti sengaja memberikan kamar kecil seperti ini agar dia menderita.


"Maaf non, hanya ini kamar yang bisa di pakai sedangkan kamar lain tidak berfungsi lagi," balas asisten rumah dengan penuh keyakinan agar Ara tidak curiga dengan nya.


"Cepat bawa koperku ke kamar kak Axton," titah Ara dengan tegas.


"Bukannya nona tidak mau tidur satu kamar dengan tuan muda?" tanya asisten rumah dengan penasaran.


"Jika kamarnya jelek dan pengap seperti ini lebih baik aku tidur satu kamar dengan kak Axton," ujar Ara.


"Cepat bawa barang-barang ku ke kamar kak Axton," titah Ara dengan tegas.


"Baik nona," jawab asisten rumah seraya membawa barang Ara ke kamar Axton.


Tok... Tok... Tok...


"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Axton pura-pura tidak tahu. Padahal dia sangat tahu kenapa Ara bisa berada di depan kamarnya.


"Aku mau kita tukar kamar," ujar Ara tanpa basa-basi.


Hahahaha


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Axton seraya tertawa terbahak-bahak.


"Tentu saja tidak."


"Aku tidak biasa tidur di kamar sempit dan pengap seperti itu. Kamar yang kau kasih lebih layak di tempati oleh pembantu dari pada untuk ku," ujar Ara dengan kesal.


"Terserah aku mau kasih kamu kamar apa. Jika kamu tidak suka tidur di kamar tamu lebih baik kamu pergi saja dari sini beres kan," ujar Axton tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Minggir, aku mau masuk," ujar Ara seraya menyingkirkan Axton yang sedang berdiri di depan kamarnya.


"Hey, siapa suruh kamu masuk? Cepat keluar dari kamarku," ujar Axton seraya menyeret Ara agar keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau tidur disana. Jika kamu tidak suka aku tidur disini lebih baik kamu saja yang tidur disana," ujar Ara seraya berpegangan agar Axton tidak bisa menyeretnya keluar dari kamarnya.


"Dasar wanita gila. Aku yang lebih berhak berada disini dibandingkan kamu. Cepat ke luar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu padamu. Itupun jika kamu sudah siap kita melakukan hubungan suami istri maka kita bisa melakukan nya sekarang," ujar Axton dengan tatapan menggoda.


Mendengar perkataan Axton membuat Ara ketakutan. Mau tidak mau akhirnya Ara terpaksa pergi dari sana sebelum Axton melakukan sesuatu padanya.


"Oke, aku akan keluar dari sini," ujar Ara seraya pergi dari sana.


"Baguslah jika kamu tahu diri," ujar Axton dengan tatapan mencemoh.


"Kenapa tuan muda menyuruh nona muda tidur di kamar sempit seperti itu? Bukannya kalian sudah menikah? Seharusnya nona muda bisa tidur satu kamar dengan tuan muda," ujar asisten rumah dengan penasaran.


"Asal bibi tahu aku terpaksa menikah dengan wanita rubah itu gara-gara dia memfitnah aku menghamili dia diluar nikah. Padahal aku baru saja kenal dengan nya jadi, mana mungkin aku bisa menghamili dia," jelas Axton dengan kesal.


"Apa sebelumnya kalian ada terlibat masalah?" tanya asisten rumah dengan penasaran.


"Ada, saat kami ada di bandara," jawab Axton.


"Nah, mungkin saja gara-gara masalah itu nona muda marah pada tuan sehingga dia berniat balas dendam karena tidak terima dengan perlakuan kasar tuan muda padanya," ujar asisten rumah.


Mendengar perkataan asisten rumah nya membuat Axton terdiam seperti patung. Dia berpikir apa yang dikatakan oleh asisten rumahnya semuanya benar. Karena emang dia yang lebih dulu mencari masalah dengan wanita itu sehingga wanita itu marah hingga menjebak dia agar menikah dengan nya.


Tapi, walaupun Axton sadar dia yang lebih dulu mencari masalah dengan wanita itu tetap saja dia tidak mau mengakui di hadapan siapapun. Bagi Axton Ara lah yang bersalah sedangkan dia tidak bersalah.


"Awasi dia baik-baik. Jangan biarkan dia hidup tenang di mansion ini, aku ingin dia hidup menderita biar dia tahu rasa karena sudah mempermalukan aku di depan semua orang," titah Axton.


"Tapi tuan..."


"Apa kau mau aku pecat?" tanya Axton dengan tatapan tajam.


"Tidak tuan," jawab asisten rumah dengan wajah ketakutan.


"Jika kau masih mau bekerja di mansion ini maka patuhi semua peraturan aku, mengerti," titah Axton dengan tegas.


"Baik tuan," jawab asisten rumah dengan sopan.


"Kau boleh pergi dari sini," titah Axton yang dijawab anggukan kepala olehnya.




__ADS_1


Bersambung...


🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿


__ADS_2