
Di Markas Alexander Lemos
"Revan, kamu tidak apa-apa nak?" tanya Audrey dengan wajah cemas.
"Sakit ma," jawab Revan dengan lemas.
Mendengar perkataan anaknya membuat Audrey khawatir. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada anaknya apalagi keadaannya sekarang sangat memprihatinkan.
Gara-gara keegoisan dia anak dan suaminya ikutan merasakan penderitaan. Padahal dia sudah mendengar jika Alexander bukanlah lawan yang mudah di lawan tapi, dia masih saja mencari masalah dengan Alexander dan juga keluarga nya.
"Tolong bawa anak ku ke rumah sakit kasihan dia. Jika dibiarkan lama-lama anakku akan meninggal," ujar Audrey seraya memohon.
"Apa kau tidak mendengar perkataan ku tadi? Jika aku akan membunuh kalian satu-persatu biar tidak ada lagi hama yang mengganggu keluarga ku. Jika aku membawa anakmu ke rumah sakit untuk apa aku repot-repot menyiksanya?"
"Dasar bodoh," umpat Alex.
Deg
Mendengar perkataan Alex membuat mereka ketakutan. Itu artinya mereka tidak memiliki harapan untuk menghirup udara segar lagi. Hanya gara-gara dendam yang tak berdasar hidupnya dan keluarga nya malah hancur akibat ulahnya sendiri.
"Tolong jangan bunuh kami," ujar Audrey dengan wajah ketakutan.
"Siksa mereka," titah Alex dengan tegas tanpa peduli pada perkataan Audrey.
"Baik tuan," jawab anak buah Alex seraya menjalankan perintah atasan mereka.
"Jangan lakukan itu," ujar Audrey dengan wajah ketakutan saat melihat anak buah Alex membawa cambuk. Audrey sudah tahu dia pasti akan di cambuk sama seperti anaknya Revan.
"Aagghhtt!!! teriak Audrey saat tubuhnya di cambuk oleh anak buah Alex sama halnya dengan Issac dan Revan mereka juga ikutan mendapatkan cambuk hingga menjadi lemas.
"Cukup," titah Alex dengan tegas.
Mendengar perkataan Alex membuat anak buah Alex berhenti mencambuk mereka. Sebenarnya anak buah Alex ingin menghukum mereka lebih berat lagi tapi, karena ini perintah dari Alex sehingga mereka hanya bisa menurut saja dari pada mereka yang kenak imbasnya.
"Berikan mereka pada kesayangan ku," titah Alex dengan tegas.
__ADS_1
"Baik tuan," jawab anak buah Alex seraya menjalankan perintah atasan mereka.
Kesayangan yang dimaksud oleh Alex adalah Harimau dan singa. Dia sengaja memelihara binatang itu untuk menghukum para musuh yang berani mengkhianati dirinya.
Setelah itu mereka langsung membawa ketiganya ke tempat binatang peliharaan atasan mereka sedangkan mereka yang dibawa hanya bisa menurut saja karena mereka sekarang sudah sangat lemas dan tak berdaya. Jangankan untuk membalas mereka untuk berjalan saja rasanya mereka tidak sanggup lagi. Awalnya Alex masih ingin menyiksa mereka pelan-pelan tapi, setelah dipikirkan lebih baik membunuh mereka saja biar dia tidak perlu lagi datang ke tempat ini apalagi istrinya bisa saja curiga gara-gara sering pergi dengan waktu yang sangat lama.
Inilah akhir dari kisah Audrey dan juga keluarga nya. Gara-gara dendam dan iri hati baik dia maupun keluarga nya harus meninggal dalam keadaan tak layak.
Inilah sisi kejam Alex yang tak diketahui oleh istrinya. Jika saja Claudia tahu bagaimana sifat suaminya mungkin saja dia sudah ketakutan dan akhirnya pergi meninggalkan Alexander untuk selamanya.
"Kenapa dari tadi kamu hanya diam saja? Bukannya kamu datang kesini ingin menghukum mereka?" tanya Alex pada Axton yang sejak tadi masih terdiam seperti patung.
Axton masih shock saat melihat sendiri bagaimana Alex menghukum para musuhnya. Dia juga sering menghukum orang-orang yang mencari masalah dengan nya hanya saja hukuman yang dia berikan tidak sekejam Alexander. Palingan hukuman yang diberikan olehnya hanya sekedar pukulan dan tendangan setelah itu dia langsung membawa mereka ke kantor polisi.
"Ahh... Aku hanya shock saja. Karena aku belum pernah membunuh orang seperti yang daddy lakukan," jawab Axton.
"Apa kamu takut dengan daddy?" tanya Alex.
"Iya," jawab Axton seraya menganggukkan kepalanya.
"Untuk apa kamu takut, jika kamu tidak bersalah maka daddy tidak mungkin melakukan sesuatu padamu tapi, jika kamu berani menyakiti anak kesayangan ku maka nasibmu akan berakhir seperti mereka," ujar Alex seraya mengancam.
Deg
"Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti Ara," ujar Alex dengan sungguh-sungguh. Mana mungkin dia menyakiti istri yang sangat dia cintai. Dia sudah berjanji akan selalu ada disamping istrinya dan merawatnya hingga bisa berjalan normal seperti dulu lagi. Dia tahu istrinya pasti sangat tersiksa melihat keadaannya yang tidak sempurna lagi maka sebagai suami dia memiliki tanggung jawab untuk membantu istrinya hingga sembuh.
"Baguslah, aku pegang janji mu," ujar Alex.
•
•
•
Di Mansion Alexander Lemos
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di ruangan itu.
Cklek
"Mommy, ada apa mommy datang ke kamar ku?" tanya Ara dengan penasaran.
"Ini, tadi mommy dapat telpon dari suami mu katanya dia ada urusan di luar dan akan pulang telat," jawab Claudia.
"Kenapa kak Axton tidak menelpon aku, ini dia justru malah menelpon mommy?" tanya Ara dengan penasaran.
Axton sengaja tidak menelpon istrinya takut Ara menanyakan berbagai macam pertanyaan yang akhirnya malah keceplosan. Axton sudah berjanji pada ayah mertuanya untuk merahasiakan masalah kedatangan mereka ke markas Alex. Itu sebabnya dia tidak berani meminta izin pada Ara jika dia akan pergi bersama dengan ayah mertuanya untuk menghukum para penjahat yang telah menyebabkan istrinya menderita seperti ini.
"Mommy juga tidak tahu sayang, nanti ketika Axton pulang kemari kamu bisa tanyakan padanya," ujar Claudia yang di tanggapi anggukan kepala.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa sudah ada perubahan atau tidak?" tanya Claudia dengan penasaran.
Mendengar perkataan Claudia membuat Ara menghela nafas setelah itu baru dia menjawab pertanyaan ibunya.
"Tidak ada mom..."
"Kapan aku sembuh mom? Aku tidak sanggup menjadi orang cacat. Sekarang aku merasa menjadi orang yang tidak berguna karena bisanya merepotkan kalian saja. Aku ingin seperti dulu lagi yang bisa berjalan kesana kemari bukannya malah duduk diam di atas tempat tidur seperti ini." Akhirnya Ara mengungkapkan isi hatinya pada sang ibu. Sejak kemarin Ara selalu memperlihatkan keceriaan pada sang ibu agar dia tidak khawatir padanya. Padahal pada kenyataan nya Ara selalu sedih saat mengingat kondisinya yang tidak lagi sempurna.
Mendengar perkataan Ara membuat Claudia ikutan sedih. Tapi, dia juga tidak bisa melakukan apapun selain berdoa pada Tuhan agar di berikan keajaiban untuk anaknya agar bisa berjalan seperti dulu lagi.
"Yang sabar sayang, mommy berjanji akan mencari dokter yang paling hebat dan mommy yakin dokter yang akan menangani kamu terapi nanti pasti berhasil menyembuhkan kamu seperti dulu lagi," ujar Claudia seraya memeluk anaknya.
"Semoga saja aku bisa berjalan lagi," ujar Ara yang di aminkan oleh Claudia.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung...
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼