
Di Markas Alexander Lemos
Saat ini baik Alex maupun Axton masih berada di markas Alexander. Alex sudah katakan kalau dia akan menghukum siapapun yang telah menyebabkan anaknya menderita seperti ini. Dia akan berikan mereka hukuman yang sangat ditakutkan oleh mereka yaitu kematian. Tapi, sebelum dia membunuh mereka satu persatu maka terlebih dahulu dia akan menyiksa mereka pelan-pelan sama seperti yang mereka lakukan pada anaknya.
"Siapa dulu yang ingin berkenalan dengan pisau kesayangan ku ini hemmm?" tanya Alex seraya memperlihatkan pisau yang selalu dibawa kemanapun Alex pergi.
Alex sengaja membawa pisau kesayangannya karena sebagai bentuk untuk melindungi dirinya sendiri disaat ada bahaya yang sedang mengincarnya.
Tak hanya pisau yang selalu Alex bawa tetapi pistol pun selalu dia bawa sebagai cadangan disaat sedang mendesak. Karena Alex tahu dia adalah seorang penguasa sekaligus pengusaha tersukses di negara ini pasti banyak musuh yang mengincar nyawanya maka nya dia selalu membawa kedua benda itu untuk melindungi dirinya sendiri.
Mereka yang mendengar perkataan Alex langsung ketakutan apalagi saat melihat benda yang sedang dipegang oleh Alexander. Jika dulu Issac hanya mendengar saja bagaimana kekejaman Alexander sedangkan sekarang dia bisa merasakannya sendiri.
Ternyata apa yang dibicarakan oleh orang-orang diluar sana benar adanya bahkan Alex tak peduli baik laki-laki maupun perempuan tetap dia hukum karena sudah mencari masalah dengan nya. Dia benar-benar raja iblis yang sangat menakutkan dan paling ditakuti.
Itu sebabnya sangat jarang ada orang yang berani mencari masalah dengan nya karena jika itu sampai terjadi nyawanya yang menjadi taruhannya mungkin mereka menjadi korban selanjutnya karena sudah berani menyinggung Alexander.
"Ampun, tolong lepaskan kami. Kami janji tidak akan menganggu kalian lagi jika kamu mau memaafkan kami," sahut Audrey dengan wajah ketakutan.
"Ck! Apa pada saat istri dan anakku meminta untuk dilepaskan kalian kabulkan?" tanya Alex seraya menatap dengan tatapan tajam.
Deg
Mendengar perkataan Alex membuat mereka menelan ludahnya sendiri. Mereka baru teringat saat dengan kejamnya memperlakukan Ara dan juga Claudia seperti layaknya binatang. Jadi, wajar saja jika Alexander murka pada mereka.
Tamat sudah riwayat mereka hari ini karena sudah mencari masalah dengan sang penguasa negara ini. Mereka sekarang hanya bisa pasrah karena tidak ada lagi yang bisa menolong mereka dari kemurkaan Alexander. Walaupun mereka meminta bantuan pada polisi tetap tidak ada gunanya karena polisi dari negara ini pun takut dan tunduk di bawah kekuasaan Alexander.
"Kenapa diam? Benarkan apa yang aku bicarakan ini? Kalian pasti hanya melihat dan ketawa saat melihat keadaan istri dan anakku dalam keadaan tak berdaya seperti itu?"
Terdiam, mereka hanya bisa diam karena tidak tahu harus menjawab apalagi. Walaupun mereka mau membela diri pun pasti Alex tidak akan percaya pada mereka karena mereka sangat yakin istri dan anaknya Alexander pasti sudah menceritakan semua yang mereka lakukan pada keluarga Alex di tambah Alex melihat sendiri anaknya sedang dilecehkan oleh Revan maka bertambahlah Alex murka pada mereka saat melihat anaknya sendiri diperlakukan seperti itu tanpa peduli pada teriakan Ara yang menolak pada saat di sentuh oleh Revan.
Brak
"Jawab bodoh," bentak Alex yang sangat murka saat melihat mereka hanya diam saja sejak tadi.
__ADS_1
Mendengar bentakan Alex semakin membuat mereka ketakutan. Sungguh, mereka lebih rela masuk penjara dari pada di tahan oleh Alexander. Jika mereka di penjara setidaknya mereka akan selamat walaupun ada penyiksaan di dalam sel setidaknya nyawa mereka masih selamat dari pada di tahan oleh Alexander. Selain mendapatkan penyiksaan dari Alex nyawa mereka pun berada di ujung tanduk.
"Jangan hukum orang tua ku jika kamu ingin menghukum kami maka cukup hukum aku saja karena aku yang telah merencanakan ini semua sebagai bentuk balas dendam atas sakit hati mama ku dulu terhadap keluarga kalian," sahut Revan.
Plok
Plok
Plok
"Luar biasa, kalian dengar itu? Sepertinya anak kalian sudah tidak sabar meninggalkan dunia ini. Jadi, aku akan mulai dari anakmu dulu karena dia sendiri yang menginginkan nya. Karena aku orangnya sangat baik maka aku akan kabulkan saja keinginan anak kalian," ujar Alex dengan seringai liciknya.
Deg
"Aku mohon jangan bunuh anak ku," ujar Audrey dengan wajah ketakutan sedangkan Revan sedang shock saat mendengar perkataan Alex yang ingin membunuhnya. Dia pikir hukuman yang akan diberikan oleh Alex sekedar penyiksaan saja ternyata dugaan nya malah salah. Menyesal dia mengatakan itu karena jujur saja dia masih ingin hidup tetapi Alex belum tentu membiarkan dia hidup apalagi dengan kejahatan yang dia lakukan terhadap anak perempuannya.
"Bahkan sampai kalian menangis darah pun aku tidak akan pernah mengampuni kalian. Gara-gara kalian lah anak kesayangan ku harus menderita maka sekarang giliran kalian yang rasakan ini..."
"Revan," teriak Audrey dan juga Issac yang sangat terkejut saat melihat anaknya di siksa seperti itu oleh Alex. Sekarang posisi mereka terbalik, jika kemarin Claudia lah yang menjadi penonton saat mereka menyiksa anak mereka sedangkan sekarang giliran mereka yang menjadi penonton menyaksikan anaknya dianiaya oleh Alex tanpa bisa melakukan apapun selain pasrah.
"Ambilkan air yang sudah di campurkan garam dan jeruk nipis setelah itu kalian siram wajahnya," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan," jawab anak buah Alex seraya menjalankan perintah Alex.
Mereka sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan oleh atasan mereka karena sebelum Alex datang ke tempat ini dia sudah menyuruh anak buahnya untuk mempersiapkan apa saja yang dia perlukan.
Jangan tanyakan Axton, dia saja yang melihat bagaimana Alex menyiksa musuhnya ikut ketakutan. Pantas saja semua orang dinegara ini tunduk dan takut pada Alexander ternyata dia benar-benar sangat menakutkan.
Byur
"Aagghhtt!!! pedih, hentikan..."
"Aku tidak tahan," teriak Revan saat anak buah Alex menyiram tubuh Revan yang sedang terluka dengan air garam di tambah dengan adanya jeruk nipis. Siapapun yang ada di posisi Revan pasti akan merasakan hal yang sama seperti Revan.
__ADS_1
"Cambuk dia," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan," jawab anak buah Alex seraya menjalankan perintah Alexander.
Cetar...
"Aagghhtt!!!
Cetar...
"Aagghhtt!!!
Cetar...
"Aagghhtt!!! Sakit, hentikan..."
"Tolong hentikan. Kasihanilah anak kami dia pasti sangat tersiksa sekarang," mohon Audrey dengan terisak.
Dia tidak tega melihat anaknya di siksa seperti itu. Ini semua salah dia, seandainya dia mendengarkan perkataan suaminya maka hidup mereka tidak akan mengalami penyiksaan seperti ini. Benar kata orang penyesalan selalu datang terlambat saat kita ingin memperbaiki nya sudah terlambat seperti yang di alami oleh Audrey dan juga keluarganya.
"Cukup," titah Alex dengan tegas.
Mendengar perintah Alex membuat anak buah Alex langsung menghentikannya. Audrey pikir Alex sudah mengampuni anaknya saat melihat anak buah Alex sudah berhenti mencambuk anaknya tanpa dia tahu ini belum berakhir sebelum melihat mereka mati mengenaskan.
•
•
•
Bersambung....
🌺🌺🌼🌼🌺🌺🌼🌼🌺🌺🌼🌼🌺🌺
__ADS_1