
Di Ruang Meeting
"Kenapa kamu berani mengkhianati kepercayaan yang sudah ku berikan padamu?" tanya Alex dengan tatapan tajam.
Glek
"Sial, ternyata ayah dan anak sama-sama menyeramkan. Aku pikir bisa selamat dan tidak akan ketahuan oleh tuan Alex dan nona Ara lantaran tuan Reagan yang menjabat sebagai Ceo di perusahaan ini tetapi dugaan ku malah meleset dan akhirnya malah ketahuan oleh mereka. Bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari sini? Aku tidak mau mati menganaskan di tangan raja iblis seperti tuan Alex," batin Gio dengan wajah ketakutan.
Braak
"Jawab pertanyaan ku jangan hanya diam seperti patung," ujar Alex dengan penuh emosi.
Terkejut, itulah yang di rasakan oleh Gio maupun yang lain saat Alex memukul meja dengan sangat keras lantaran sedang emosi saat mendengar ada orang yang mengkhianati dirinya.
"Maafkan aku tuan Alex tapi, aku sudah katakan dengan sejujurnya kalau aku sama sekali tidak mengkhianati kepercayaan yang tuan berikan padaku." Walaupun Gio sudah ketahuan oleh Ara dia masih saja menyangkal dan tidak mau mengakui kejahatan yang telah dia lakukan pada Alex. Dia berpikir apa yang dikatakan oleh Ara hanya omong kosong belaka tanpa dia ketahui ini akhir dari hidupnya. Karena Alex tidak akan mengampuni orang-orang yang telah mengkhianati dirinya.
Bruuk
"Lihat ini," ujar Ara seraya melempar bukti-bukti kejahatan Gio yang selama ini dia simpan akhirnya terbongkar di depan mereka semua.
Deg
"Dari mana kamu mendapatkan bukti ini?" tanya Gio dengan wajah ketakutan.
"Kau tidak perlu tahu bagaimana aku mendapatkan bukti itu, yang perlu kamu tahu hari ini adalah akhir dari hidupmu karena sudah berani mengkhianati kami," ujar Ara dengan seringai liciknya.
"Tuan Alex, nona muda tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi," ujar Gio seraya berlutut di bawah kaki Alex.
Buggghh
Buggghh
"Brengsek!!"
"Braakkk!!
"Kurang ajar dasar laki-laki serakah beraninya kamu mengkhianati kepercayaan yang telah ku berikan padamu." Alex yang sudah melihat bukti kejahatan bawahannya tanpa pikir panjang langsung memukul dan menendang Gio hingga jatuh di atas lantai.
"Aargghh, tolong ampuni aku tuan, berikan aku satu kesempatan," mohon Gio dengan wajah ketakutan.
"Apa kau pernah mendengar seorang Alexander mengampuni musuhnya?" tanya Alex dengan tatapan menyeramkan sedangkan Gio hanya terdiam karena takut untuk buka suara.
"Jawab bodoh," bentak Alex dengan penuh kemarahan.
"Ti... Tidak tuan," jawab Gio dengan terbata-bata.
"Jika kau sudah tahu aku tidak pernah mengampuni musuhku lalu kenapa kamu masih berani meminta pengampunan padaku?" tanya Alex.
__ADS_1
"Aku mohon tuan jangan bunuh aku kasihan anak dan istriku jika aku mati siapa yang akan menghidupi mereka." Gio masih berusaha membujuk Alexander agar mau mengampuni kesalahannya.
"Jika kau takut keluarga mu tidak ada yang mengurus biar aku kirim sekalian ke alam lain," ujar Alex dengan seringai liciknya.
Deg
Mendengar perkataan Alex membuat Gio semakin ketakutan. Dia tidak ingin anak dan istrinya menjadi korban gara-gara kesalahannya. Sungguh, dia sangat menyesal karena sudah mengkhianati kepercayaan Alexander.
"Jangan sentuh mereka tuan, mereka tidak tahu apa-apa karena ini murni kesalahan ku," ujar Gio seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Bawa saja pengkhianat ini ke markas daddy biar kita bisa bermain-main disana," sahut Ara dengan seringai liciknya.
"Aku mohon tuan tolong jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup tuan." Gio semakin ketakutan saat mendengar perkataan Ara yang ingin membawanya ke markas Alex. Dia sudah tahu siapapun orang yang dibawa kesana pasti tidak akan kembali dengan selamat.
"Bawa pengkhianat ini ke markas," titah Alex pada anak buahnya dengan tegas.
"Baik tuan Alex," jawab anak buah Alex seraya melakukan perintah atasannya.
"Lepaskan aku, aku mohon tuan jangan bawa aku ke markas," ujar Gio seraya berontak saat diseret oleh anak buah Alexander.
"Siapa lagi di antara kelian yang ingin menyusul pengkhianat itu?" tanya Alex dengan tatapan tajam.
Glek
"Tidak ada tuan," jawab mereka dengan serentak. Mana berani mereka mengkhianati Alex apalagi mereka sudah melihat sendiri bagaimana kejamnya seorang Alexander menyiksa musuhnya.
"Kami tidak berani melakukan itu nona, kami akan selalu setia pada tuan Alex," sahut salah satu para pemegang saham yang ada disana.
"Aku pegang janji kalian. Jika saja aku menemukan kalian berkhianat maka siap-siap menjadi korban selanjutnya," ujar Ara dengan penuh penekanan.
"Kami berjanji akan setia pada tuan Alex," balas salah satu pemegang saham yang ada disana.
"Sekarang kalian bisa kembali duduk biar kita bisa melanjutkan rapat yang tertunda tadi," titah Alex dengan tegas.
"Baik tuan Alex," jawab mereka dengan serentak.
Satu jam kemudian
"Rapat selesai, mulai besok Ara akan resmi menjabat sebagai Ceo baru di perusahaan ini. Apa ada yang keberatan?" tanya Alex.
"Tidak ada tuan Alex, karena nona muda sangat pantas menjabat sebagai Ceo baru di perusahaan ini," balas salah satu pemegang saham yang ada di sana mewakili yang lain.
"Rapat selesai, kalian bisa kembali ketempat kalian masing-masing," ujar Alex.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit undur diri sampai bertemu dilain hari," balas salah satu pemegang saham yang ada di sana seraya pergi dari sana diikuti oleh yang lain.
"Apa yang akan daddy lakukan pada orang itu?" tanya Reagan dengan penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja membunuhnya agar dia tidak lagi mengacau di perusahaan daddy ini," jawab Alex dengan santai.
"Apa?" teriak Reagan yang terkejut saat mendengar perkataan ayahnya.
"Kenapa daddy harus membunuh orang itu, seharusnya daddy bawa saja penjahat itu ke kantor polisi biar polisi saja yang menghukum dia?" tanya dengan cemas.
"Dia pantas mendapatkan hukuman dari daddy karena sudah mengkhianati kepercayaan yang telah daddy berikan padanya," ujar Alex.
"Tapi dad..."
"Dasar laki-laki bodoh, pantas saja mereka berani mengkhianati kita karena kau benar-benar sangat bodoh dan mudah di manfaatkan," potong Ara dengan kesal.
"Berhenti menyebutku bodoh," teriak Reagan dengan kesal saat mendengar perkataan kakaknya yang lagi-lagi menyebutnya bodoh.
"Sudah berani padaku sekarang ya?" tanya Ara dengan tatapan tajam.
Glek
"Tidak kak, aku tidak sengaja tadi," jawab Reagan dengan wajah ketakutan.
"Kali ini aku maafkan kamu tapi jika kamu mengulangi lagi akan aku lempar kau ke jalanan," ujar Ara dengan tatapan tajam.
Glek
"Iya, aku janji tidak akan melakukan itu lagi," jawab Reagan seraya menelan ludahnya sendiri.
"Dad, aku mau ke lokasi pemotretan dulu," ujar Ara.
"Kapan kamu berhenti bekerja di sana? Kau harus fokus bekerja di perusahaan ini jangan sampai kita kecolongan lagi seperti adikmu itu," ujar Alex.
"Aku selesaikan kontrak ini dulu dad, tak lama lagi akan selesai setelah itu aku akan fokus mengelola perusahaan kita," balas Ara.
"Yah, selesaikan secepatnya kontrak mu itu setelah itu fokus pada perusahaan kita dan ingat, tetap waspada jangan beri celah untuk musuh menjatuhkan kita," ujar Alex.
"Daddy tenang saja aku bukan seperti anak bodoh itu yang mudah di manfaatkan oleh orang lain," ujar Ara dengan tanpa perasaan menghina adiknya.
Mendengar perkataan Ara membuat Alex geleng-geleng kepala. Dia benar-benar keturunannya yang tidak memiliki perasaan bahkan pada adiknya sendiri.
"Dasar kakak kurang ajar, jika aku tidak takut padanya pasti sekarang sudah aku lempar dia dari atas gedung ini," batin Reagan dengan kesal.
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1
🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿