
Di Mansion Axton, semua orang sedang bahagia menyambut kepulangan anak Axton dan Ara dari rumah sakit. Hanya tiga hari di rumah sakit sejak melahirkan, Ara dan anaknya sudah di perbolehkan pulang. Kini rumah itu sudah ramai-ramai, kedua orang tua Axton dan Ara ada di sana untuk menimang cucunya yang sangat mengemaskan. Tak hanya orang tua Ara dan Axton saja yang ada di sana, beberapa kerabat dekat teman-teman Alexander juga sudah datang sejak pagi. Mereka sangat antusias ingin melihat duplikat Axton versi mungil.
Jadi begitu anak mereka masuk ke dalam Mansion, bayi berusia tiga hari itu sudah menjadi rebutan semua orang yang tidak sabar ingin menggendongnya. Ara yang baru melahirkan itu sampai hampir terlupakan. Untungnya ada ibunya, yang peka dan perhatian padanya. Walaupun Claudia sangat ingin menggendong cucunya, tapi dia menyempatkan diri menyambut kepulangan anaknya.
"Sebaiknya kamu duduk saja, jangan kelamaan berdiri," ujar Claudia dengan lembut.
Sebab, Ara masih berdiri di tempat, menatap kerumunan orang-orang yang memperebutkan anaknya. Ara sedikit takut dan bingung. Di sisi lain dia takut bayinya yang baru tiga hari itu kenapa-kenapa karena sudah dikerumuni banyak orang, tapi Ara juga bingung bagaimana mengungkapkan ke khawatirannya tanpa harus menyinggung perasaan mereka.
Kata dokter Tara, bayi sangat rentan terhadap virus. Apalagi baru tiga hari dan baru pulang dari rumah sakit.
"Sayang, ayo duduk." Axton mengusap pundak istrinya yang diam saja. Ara seketika tersadar dan mengulas senyum pada ibunya.
"Aku ke sana dulu mom." Pamitnya untuk duduk di sofa ruang keluarga.
Claudia mengangguk, dia lantas menyuruh asisten rumah anaknya untuk menyiapkan buah-buahan yang sudah di potong untuk Ara sebelum menghampiri cucunya.
Kini Ara dan Axton sudah duduk berdua di sofa, mereka seperti orang yang asing yang tidak terlihat. Semua tamu di Mansion itu malah sibuk dengan anaknya. Sibuk menggendong, memfoto, dan menciumi wajahnya yang tampan itu.
"Sayang, makan dulu buahnya. Aku suapi ya," ujar Axton. Di tangannya sudah ada piring berisi potongan buah dari asisten rumahnya.
Tidak ada jawaban, Ara yang di ajak bicara malah bengong menatap ke arah kerumunan. Dia sedang melamun dengan pikirannya sendiri yang terlanjur khawatir pada anaknya. Maklum dia baru pertama kali punya bayi, kekhawatiran Ara masih berlebihan. Karena tidak mau bayinya sakit. padahal semua orang disana sudah memastikan tangannya bersih dan dalam keadaan sehat dan tidak ada penyakit yang dapat menular bagi anaknya.
Axton mengikuti arah pandangan Ara. Pria itu mengamati raut wajah dan sorot mata Ara untuk beberapa detik, sampai akhirnya Axton bisa membaca kekhawatiran istrinya.
"Apa yang kamu khawatirkan hemmm?" tanya Axton dengan lembut. Tangannya meraih jemari Ara untuk di genggam.
Ara menoleh, sejak tadi hanya memendam kekhawatiran nya sendiri tanpa mengungkapkannya pada Axton. Sibuk bergulat dengan pikirannya, sampai menimbulkan rasa takut yang berlebihan.
"Austin masih rentan, tidak apa-apa kalau di gendong bergilir seperti itu?" tanya Ara tanpa bisa menyembunyikan kekhawatiran nya. Axton tersenyum teduh dengan jemari mengusap pucuk kepala Ara agar istrinya itu lebih tenang.
Yah, anak mereka di beri nama Austin George ikut marga ayahnya Axton George. Mereka sudah mempersiapkan dua nama untuk anaknya yang satu nama anak laki-laki dan satu lagi perempuan karena mereka tidak melihat jenis kelamin sewaktu USG dulu karena mereka ingin itu menjadi kejutan. Dan ternyata waktu lahir anak mereka laki-laki sehingga di beri nama Austin George.
__ADS_1
"Sebelum datang ke sini, aku sudah menyuruh mereka agar cek kesehatan. Aku pastikan mereka tidak akan membawa virus untuk anak kita." tutur Axton.
Detik itu juga Ara bisa bernafas lega. Suaminya sudah menjamin kalau orang-orang yang menggendong Agustin dalam keadaan sehat dan jauh dari virus, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
•
•
•
Menjelang pukul 8 malam, rumah Axton mulai sepi. Para kerabat sudah pulang satu persatu. Tersisa kedua orang tua Axton dan orang tua Ara. Axton tersenyum teduh dengan jemari mengusap pucuk kepala Ara agar istrinya itu lebih tenang.
Sementara itu, Ara dan Axton ada di kamar. Keduanya sempat tidur siang lantaran kelelahan karena harus bergadang saat di rumah sakit. Memiliki bayi memang butuh effort yang luar biasa. Banyak waktu dan tenaga yang harus di korbankan. Tapi semua itu tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Karena tidak semua pasangan di karunia anak seperti yang mereka dapatkan.
Sekarang anaknya sedang tidur pulas setelah di beri asi oleh Ara. Axton semakin siaga menjadi seorang ayah dia selalu menemani Ara setiap kali istrinya itu memberikan asi untuk buah hati mereka.
"Ayo turun, kita makan malam dulu Austin biar di jaga baby sister saja." Axton merangkul pinggang Ara untuk keluar dari kamar. Ara sempat menatap anaknya yang ada di dalam box bayi.
"Mommy nya saja sangat mengemaskan, bagaimana anaknya tidak lucu." Sahut Axton menggoda seraya istrinya.
Ara menahan tawa dan mencubit pinggang suaminya yang akhir-akhir ini sering bermulut manis padanya.
"Dasar mulut manis.!" Cibir Ara seraya menahan tawa.
Axton malah terkekeh, lalu menarik pinggang Ara agar lebih menempel padanya. Keduanya terlihat sangat romantis, Axton terus merengkuh pinggang Ara sampai ke ruang makan. Membuat semua orang yang sudah ada di sana kompak menatap ke arah mereka.
•
•
•
__ADS_1
Tengah malam, Axton di bangunkan oleh suara tangis Austin. Sebelum tangisan putrinya membangunkan Austin yang sedang tidur nyenyak, Axton buru-buru turun dari ranjang dan mengangkat Austin dari dalam box bayi.
"Jangan menangis, ini daddy." Lirih Axton sambil mengayun Austin dalam gendongan nya.
"Anak daddy haus ya?" Axton kembali mengajak bicara, tangis Austin perlahan mereda.
Axton kemudian mengambil botol berisi asi yang memang sudah di siapkan di dalam kamar. Asi-asi itu dalam keadaan hangat dan bisa langsung di berikan pada anaknya jika sewaktu-waktu mereka bangun tengah malam karena lapar atau haus.
Tidak mau membuat Ara terbangun, Axton lantas membawa Austin ke sudut kamar, jauh dari ranjang dan box bayi.
Sambil duduk di sofa dan menggendong Austin, Axton memberikan asi pada putranya itu dengan menggunakan dot.
Austin perlahan kembali tertidur, tapi mulutnya terus menyesap asi. Axton mengulum senyum melihat putranya itu. Walaupun lelah dan mengantuk karena sering bangun tengah malam, tapi Axton sangat menikmati momen tersebut. Momen yang tidak akan bisa dia lakukan lagi jika anaknya sudah besar nanti.
Hanya butuh beberapa menit, Austin sudah menghabiskan asi dalam botol ukuran sedang. Melihat putranya sudah pulas, Axton meletakkan Austin di box bayi lagi dengan hati-hati.
"Tidur yang nyenyak anak daddy." Lirihnya pada bayi Austin.
Jam masih menunjukkan pukul 2 pagi, Axton memilih merebahkan diri di atas ranjang dan memeluk Ara dari belakang untuk melanjutkan tidurnya.
"Terima kasih sayang karena sudah memberikan aku anak yang sangat tampan dan mengemaskan," ujar Axton pelan, tak lupa mengecup pucuk kepala Ara. Pria itu berterima kasih karena Ara sudah memberikan dia kebahagiaan yang lengkap dan sempurna.
Jika saja dia tidak menikah dengan Ara pasti sampai sekarang dia masih sendiri apalagi memiliki anak. Karena yang dia pikirkan dulu hanyalah kerja dan kerja tapi sekarang prioritas dia sekarang adalah istri dan anaknya walaupun kerja tetap dia jalankan karena itu sudah menjadi tanggung jawab dia sebagai pemimpin perusahaan.
<<< TAMAT \>\>\>
Tak terasa akhirnya kisah Ara dan Axton sudah selesai. Mohon maaf jika Author banyak salah selama dalam menulis cerita ini karena Author hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa. Semoga kalian pada suka membaca cerita Author yang receh ini dan Terima kasih banyak bagi pembaca yang sudah berkenan membaca cerita Author dan tak lupa Terima kasih bagi kalian yang sudah mendukung Author dari awal hingga akhir.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1